
Setelah 3 hari, Robert akhirnya bisa berjalan tanpa tongkat. Meski sedikit nyeri, itu dia harus membiasakan kakinya. Atau gaya berjalannya akan berubah nanti.
"Bagaimana Kang? Apakah para wanita itu ada mengganggu selama aku istirahat?"
Kang menggeleng. Disentuhnya dahi Robert sejenak. Robert mengangguk dan mengikuti langkah Kang. Kang masuk rumah dan turun ke gudang di bawah. Kang meniup lantai dengan mulutnya. Segala debu berhamburan ke pinggir tembok.
'Hah, pantas kau tak butuh sapu. Tiup saja, selesai,' batin Robert geli.
Lalu Kang mengibaskan tangannya. Keluarlah segunung batang bunga kecoklatan di lantai batu. Kang duduk di lantai. diambilnya segenggam batang tanaman itu yang kecoklatan. Diaturnya searah dan ditambahnya hingga tebal yang diinginkannya. Lalu diikat dengan batang bunga lainnya. Begitu dilakukannya untuk yang kedua kali.
Akhirnya Robert mengerti caranya. Dia ikut duduk di lantai dan membantu mengikat tanaman-tanaman itu.
"Kang, apa kau sudah memanen semuanya? Kenapa kau hanya mengikat yang bunganya merah kecoklatan? Tanaman apa ini?" tanya Robert memecah kesunyian.
Kang menyentuhkan jarinya lagi ke dahi Robert. Mengirimkan lebih banyak informasi tentang bunga putih di lembah.
"Soba? Ini namanya soba? Baiklah. Ternyata ini bisa jadi aneka masakan ya? Menyenangkan sekali membayangkan makan mie buatanmu. Kau yakin itu benar-benar enak?" tanya Robert.
Kang mengangguk. Mereka terus bekerja mengikat tanaman yang bunganya merah kecoklatan. Sementara yang masih putih cantik dipisahkan.
Sampai menjelang baru semua pekerjaan itu selesai. Kang mengambil kayu panjang. Menyangkutkannya pada tempat yang sudah diaturnya. Lalu ikatan-ikatan bunga soba itu digantung berjajar pada kayu.
Robert melihat itu dengan takjub. Ini stok yang sangat banyak. Belum lagi ladang gandum yang tak lama lagi bisa dipanen.
'Jika Kang selalu bisa panen sebanyak ini saban tahun. Apakah dia bisa menghabiskan semuanya?' pikir Robert tak percaya.
Semua ikatan bunga sudah tergantung rapi. Robert akan melangkah naik ke tangga. Tapi ternyata Kang belum selesai. Ditiupnya lantai batu itu begitu rupa. Hingga anginnya berputar-putar seperti tornado kecil.
Angin itu mengumpulkan semua tanaman yang berserakan. Kang mengumpulkan batang bunga putih yang tersisa lalu diikat jadi satu. Diarahkannya pada Robert. Robert mengerti bahwa dia diminta membawa ikatan itu.
Lalu Kang mengambil wadah anyaman bambu lebar. Meraup dan mengumpulkan semua biji bunga yang rontok. Sekarang ada cukup banyak biji bunga soba di atas tampah. Kang tersenyum puas.
Mereka kembali naik ke atas rumah setelah lantai gudang itu kembali bersih.
Kang menampi biji soba di tampah sambil meniup semua debu kotoran yang terbawa. Biji-biji itu sudah bersih sekarang. Kang pergi ke arah belakang rumah. Dia kembali dengan alat yang tak dimengerti Robert.
Alat itu diletakkan di atas sebuah tong kayu kecil. Semua biji soba dimasukkan sekaligus ke dalan kotak yang ada. Kang memutar tuas pada alat. Terdengar bunyi gesekkan dari dalam. Dan tak lama, biji-biji soba tadi berjatuhan ke dalam wadah di bawahnya.
Setelah proses itu selesai, Kang menunjukkan biji soba pada Robert.
"Menakjubkan. Ini adalah alat untuk membersihkan kulitnya? Apa kau membuatnya sendiri?" tanya Robert takjub.
__ADS_1
Kang menyentuh kening Robert sambil tersenyum.
"Hahh.. ku kira kau yang membuat. Ternyata ini milik pendeta di kuil. Aku sudah merasa sangat bangga padamu," Robert mengatakan kekecewaannya.
Tapi Kang hanya tersenyum lebar. Biji soba yang baru di proses itu kembali ditampi Kang. Setelah beberapa tiupan, semua sisa kulitnya telah hilang. Kang mengambil air dan merendam semuanya di wadah itu.
Setelah itu Kang kembali ke rutinitasnya. Robert membantu memberi makanan pada semua binatang peliharaan. Sementara itu Kang memerah susu sapi dengan senyum tak lepas dari wajahnya.
Langit sudah memerah. Kang memotong dua ekor ayam untuk makan malam mereka dan sisanya untuk dibumbui dan dikeringkan.
Kang meninta Robert menggiling sebagian biji soba dengan penggiling batu. Sebagiannya lagi dikukus.
Proses memasak yang panjang membuat makan malam mereka jadi lebih larut. Tapi Robert sungguh puas dengan hasilnya.
"Ini benar-benar enak Kang. Baru ini aku mencicipinya. Nasi soba, tumis mie soba dengan daun mudanya. Dan Ayam bakar penuh bumbu. Sangat lezat." Robert tak henti memuji.
Kang tersenyum senang sambil menikmati tehnya. Mereka masih duduk di halaman rumah. Malam itu bulan cukup besar, meskipun belum purnama penuh. Bintang-bintang di kejauhan menambah semarak langit yang biru gelap. Suara jangkrik menjadi musik yang indah. Dan kunang-kunang terbang di dekat rimbunan semak dekat kebun sayur.
"Malam yang indah." celetuk Robert sambil bersandar ke dinding rumah.
"Aku merindukan teman-temanku. Entah kapan bisa bertemu mereka lagi. Entah bagaimana nasib mereka sekarang."
Tiba-tiba Robert menghadapkan wajahnya ke arah Kang dan bicara serius..
"Kang, kita harus berbaikan dengan para wanita itu. Jadi kita bisa memeriksa. Apakah di tempat mereka ada celah menuju dunia lain atau tidak."
Kang terdiam. Dia tak mempercayai para wanita licik itu. Kang menggeleng teguh. Wajahnya dingin. Robert terkejut melihat ekspresi yang tak pernah dilihatnya. Selama Robert mengenal Kang, dia selalu ramah dan tersenyum. Dia bahkan tak ragu membawaku ke ruang bawah tanah dekat pemakaman.
Robert meletakkan jari Kang di dahinya, ingin tau apa yang dipikirkan Kang. Robert tak menduga jawabannya.
"Yahh, kepercayaan itu memang sulit diraih. Aku mengerti kenapa kau tak percaya pada mereka. Setelah selama ribuan tahun kau gembira mengintip mereka di lembah, sekarang kau kecewa karena ternyata mereka licik. Dan juga kejam?"
"Tapi kelicikan mereka masih kalah denganku. Aku terang-terangan mengelabui mereka. Kenapa kau tak membenciku?"
Kang menggeleng. Diletakkannya jari di dahi Robert. Dan Robert langsung tak berkutik.
"Baiklah.. kau menang. Kau sudah membaca semua memoriku. Dan kau tidak menganggapku jahat. Terima kasih Kang. Aku sangat terharu."
Ekspresi Robert yang berlebihan itu membuat Kang tertawa tanpa suara. Tapi matanya yang menyipit menunjukkan bahwa dia hampir tak bisa menahan tawa.
"Kang, kau dilarang tertawa. Bahaya. Rumah kita bisa terbakar." Robert mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan Kang.
__ADS_1
Tapi Kang yang sudah terpancing, justru makin kesulitan menahan diri melihat ekspresi Robert yang ingin menenangkannya. Kang sampai bergulingan di lantai tanah depan rumah.
"Hahahaa.." wuuushhh.. seberkas nyala api melompat.. Robert terkejut dan menghindar.
"Oh syukur tak kena," Robert mengusap dadanya yang berdebar keras karena terkejut.
"Kau lucu sekali.." wuushhh.. kembali seberkas nyala api yang seperti mesin pembakar menyambar ke arah atap. Atap teras terbakar. Tapi Kang masih bergulingan tak bisa menahan tawa.
"Hentikan Kang, rumah kita bisa terbakar." Teriak Robert sambil menghindar.
"Hahahaa..." Wwuuushhh.. Kembali api menyambar.. kali ini ke arah Robert yang telah menghindar dari bawah teras.
Robert bergulingan ke arah kolam ikan di samping rumah. Dengan gerakan cepat diciduknya air kolam dengan wadah gerabah yang ada di situ. Dari jarak 3 meter, air itu disuramkannya ke arah Kang yang masih bergulingan di tanah sambil tak henti tertawa. Api sudah menyambar ke mana-mana.
"Kang bantu aku memadamkan api. Atau apimu yang ku padamkan lebih dulu." Robert berteriak dengan kesal.
Kang masih terbengong setelah tersiram air kolam.
"Kang! Cepat!"
Teriak Robert lagi. Dia sibuk menyiram dinding rumah dengan air kolam. Beberapa ekor ikan ikut terlempar ke arah api dan menggepar di tanah.
Kang akhirnya tersadar dan segera membantu Robert. Dirubuhkannya teras yang terbakar agar tidak merembet mengenai rumah.
"Syukurlah. Sekarang lihat kebun sayur kita yang hangus terbakar."
Robert berlari dengan mangkuk air di tangan untuk menyiram meberapa perdu yang tumbuh lebih dekat ke rumah. Kang membantunya.
Posisi bulan sudah bergeser jauh saat semua usaha penyelamatan itu selesai. Tak ada lagi pohon, perdu dan kebun yang terbakar.
Robert berbaring di tanah becek dan bau amis ikan. Tapi dia tak peduli. Dia lelah sekali.
Kang berbaring di sebelahnys sambil tersenyum canggung. Robert menepuk bahu Kang dengan senyuman.
'Biarlah. Pasti Kang sudah lama tak tertawa. Mungkin juga ini tawa pertamanya. Dia gembira sekali tadi. Sedikit kerusakan sepadan dengan kebahagiaan Kang,' batin Robert dengan hati ringan.
Robert bersiul-siul santai. Dia menunjukkan beberapa bintang yang diketahuinya di langit sana. Kang mendengarkan penjelasan dan cerita Robert dengan takjub.
Ilustrasi Bunga Soba (Buckwheat)
__ADS_1