PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 415. Widuri Pingsan


__ADS_3

Hari ketiga pembuatan penggilingan grain. Empat pria terbang mengelilingi bukit. Mencari bagian yang mungkin bisa dipotong, untuk dijadikan alat penggiling.


"Bagaimana kalau sisi ini?" Robert menunjuk bagian bukit yang ditutupi rambatan tanaman.


Dean berhenti untuk memeriksa. Disibakkannya rambatan tanaman liar yang menutupi permukaan batu besar. Dipukul-pukulnya batu itu dengan telapak tangan, untuk memperkirakan kepadatan batu tersebut.


Kepala Dean sedikit miring saat dia mendengarkan suara yang muncul. Dia merasa suara itu sedikit aneh.


"Ada apa?" tanya Robert.


"Tidak tau. Tapi aku merasa sedikit aneh. Ayo kita coba tarik dulu. Kalau tidak bisa, maka artinya batu ini satu kesatuan utuh dengan bukit," jawab Dean.


"Maksudmu, ini mungkin---"


"Mari kita lihat dulu!" Dean memotong ucapan Indra.


"Oke!"


Empat pria itu mengerahkan tenaga untuk menarik bongkahan batu besar tersebut. Dan itu bukanlah hal yang mudah. Lebar batu itu sekitar dua meter lebih dan tingginya tak kurang dari tiga meter. Bentuknya yang membuat gendut, makin menguras tenaga saking beratnya.


"Kurasa batu ini menyatu dengan bukit. Kita tak mungkin menariknya lepas!" kata Indra. Mereka beristirahat sejenak.


"Sepertinya Indra benar, Dean. Kita harus memotongnya," timpal Sunil.


Dean kembali mengetuk-ngetuk batu itu. Dan dia kembali memiringkan kepalanya sambil memejamkan mata, menajamkan pendengaran.


"Kita coba lagi. Jika masih tak bisa, maka terpaksa dipotong saja!" tawar Dean.


"Oke deh. Ayo! Kita coba lagi!" Indra menyemangati teman-temannya.


Keempat pria itu kembali berkonsentrasi, mengerahkan tenaga untuk menarik lepas bongkahan batu raksasa itu.


Setelah sepuluh menit yang menjengkelkan, akhirnya terdengar suara bergeser.


"Dia bergerak!" seru Sunil dengan mata tak percaya.


"Ternyata pendengaran Dean benar. Kita saja yang mudah putus asa!" Sesal Robert.


"Mengeluhnya nanti saja. Kita lepaskan dulu batu ini dari tempatnya!" ajak Indra.


Sekarang empat orang itu lebih bersemangat ketimbang sebelumnya. Dean memberi aba-aba, agar daya tarik mereka serempak dikeluarkan.


"Satu ... dua ... Tiga!" ujarnya.


Keempatnya mengerahkan tenaga secara serempak. Dan trik itu terbukti berhasil menggeser sedikit bongkahan batu itu.


Selama satu jam, mereka menggeser kedudukan batu itu sedikit demi sedikit. Sekarang terlihat ada cekungan yang ditutupi oleh batu itu. Tapi cekungan itu masih rapat. Mereka tak dapat melihat satu celahpun.


"Sulit sekali. Sebenarnya lubang apa yang ada di belakang sana?" keluh Indra.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan, ini hanya retakan batu biasa. Meskipun kita tarik keluar semuanya, tetap tak ada apa-apa di baliknya," asumsi Robert.


"Belum pernah kita menarik batu sampai selama ini!" Indra ikut mengeluh.


Dean beristirahay dan menyandarkan tubuhnya ke bongkahan batu. Peluhnya bercucuran. Dia harus mengakui, belum pernah dia mengalami kesulitan seperti ini.


"Biar kupotong dulu sebagian batu yang menjorok ini, untuk mengurangi beratnya!" Dean menemukan solusi.


"Hah ... kenapa tidak dari tadi?" celetuk Indra.


Tiga temannya bergeser dan memberinya ruang untuk bekerja.


Dean memotong batu keras itu dengan kemampuan A. Bisa ditebak, bahkan memotongnya pun, tetap tidak mudah.


"Lihat itu! Biasanya Dean memotong batu dan kayu semudah mengiris tahu. Sekarang dia kesulitan juga!" komentar Indra.


"Dean, mungkinkah batu ini memiliki kandungan biji besi? Mungkin itu sebabnya kau sulit memotongnya!" duga Robert.


"Sunil, apa kau ingat bagaimana kita mengolah bijih besi saat di gunung batu?" tanya Dean.


"Kita membakarnya!" jawab Sunil cepat.


"Biar kucoba!" Indra mendekati batu itu.


Tangannya diarahkan dan keluar api yang membakar bagian terluar baju itu. Setelah beberapa lama, batu itu berubah warna jadi merah membara.


"Biar kubantu!" Robert mengikuti cara Indra. Kini keduanya berjonsentrasi membakar batu dengan api yang super panas.


Selama satu jam, Indra dan Robert memanaskan batu. Kemudian mereka berhenti karena kelelahan. Sunil terbang menuju rumah panggung. Dia mengambil air abadi untuk teman-temannya.


"Ternyata tak bisa dipotong. Tapi harus dilelehkan!" gumam Dean.


Dipandangnya batu itu dengan takjub. Ada banyak sekali lelehan besi terserak di tanah. Nanti mereka bisa memanfaatkannya untuk membuat sesuatu.


"Ini, minumlah dulu!" Sunil menyodorkan kendi air abadi.


Semuanya duduk dan melihat hasil pekerjaan mereka. Sudah setengah dari batu yang menonjol keluar itu yang berubah jadi konsentrat besi.


"Jika harus dilelehkan, artinya tidak bisa dijadikan batu gilingan!" kata Indra tiba-tiba.


"Benar juga. Sudahlah. Kita cari batu lain saja. Biarkan ini untuk stok biji besi. Mungkin nanti kita akan membutuhkannya!" usul Sunil.


"Aku penasaran dengan apa yang ada di baliknya!" ujar Dean ngotot.


"Baiklah. Sebentar kita coba untuk menariknya lagi. Kami istirahat dulu. Tanganku masih terasa panas," tawar Robert.


Dean mengangguk. Kemudian dia terbang ke laut. Tak lama dia kembali sambil membawa air yang melayang di atas kepalanya.


"Tolong minggir dulu. Aku akan menyiram batu itu agar cepat mendingin!" kata Dean.

__ADS_1


Tiga temannya menyingkir, memberinya ruang. Lalu air laut itu dilemparkan Dean ke arah batu yang masih merah membara. Seketika terdengar suara benda pecah, diiringi bunyi mendesis benda panas terkena air.


"Dia retak! Lihat!" tunjuk Robert ke arah batu yang sekarang mulai mengepulkan asap dan berwarna kehitaman.


Bongkahan batu itu mengalami retakan di mana-mana. Namun ada tiga retakan besar yang membagi bongkahan batu menjadi tiga bagian.


"Jika begini, mungkin akan mudah ditarik!" duga Indra.


Mari kita coba!" ajak Sunil.


"Sebentar. Kita berdua saja yang mencoba menariknya. Mereka biar istirahat dulu!" kata Dean.


Dean mengumpulkan konsentrat besi yang membeku di tanah. Itu untuk nanti. Sekarang dia fokus pada batu itu.


"Ayo!" Dean memulai. "Satu ... dua ... tiga!" serunya.


Sunil dan Dean menarik batu itu bersamaan. Dan seperti dugaan, Retakan itu terlepas. Sunil sampai jatuh ke tanah, sebab tak menyangka batu yang diincarnya akan terlepas dan dia terkena pukulan balik dari gaya tarikan yang dikerahkannya.


"Kau tak apa-apa?" Indra dengan cepat menahan batu yang terbang dengan cepat ke arah Sunil jatuh.


"Hei, Apa itu!" seru Robert. Tangannya menunjuk ke satu cahaya Biru keemasn yang melesat keluar dari balik bongkahan batu.


Dean juga melihatnya. Dia mendongak melihat cahaya itu menari dari kepala ke kepala mereka berempat. Kemudian dia melesat cepat dan menghilang. Itu bahkan lebih cepat dari kecepatan cahaya.


"Menurutmu apa itu?" tanya Indra.


"Aaaaaaaaaa...! Tolooooongggggg!"


"Niken! Itu suara Niken!" Indra bergegas bangkit dan terbang untuk melihat istrinya.


"Mari kita lihat!" Robert ikut terbang. Dean masih melihat sekilas lubang gelap di belakang batu yang kini sudah terbuka itu. Tapi kemudian dia ikut menyusul teman-temannya. Sunil menyusul juga.


"Dean, Widuri!" seru Indra lewat transmisi suara. Dean mempercepat terbangnya. Dilihatnya Widuri tergeletak pingsan di tanah, dekat kolam. keranjang kain terserak di dekatnya.


"Sayang ... kau kenapa?" Panggil Dean.


Dibopongnya tubuh istrinya yang belepotan tanah basah, ke dalan rumah.


"Apa yang terjadi?" tanya Dean dingin.


"Aku tidak tahu. Aku sedang menyiapkan jus untuk siang, sementara Widuri menjemur pakaian. Kemudian kudengar teriakannya, sebelum jatuh. Aku lari keluar, karena dia tak menyahut saat kupanggil," jelas Nastiti sambil mengikuti Dean ke lantai dua.


"Apa yang harus kita lakukan? Dokter Chandra tak ada di sini!" kata Robert.


"Kita bawa saja dia ke klinik Tabib Tua di Kota pelabuhan. Aku khawatir kandungannya kenapa-kenapa jika dia jatuh seperti ini," usul Sunil.


"Baik, akan kubawa dia. Tolong beri minum air abadi dulu," ujar Dean.


Indra segera terbang ke lantai satu dan mengambilkan seteko air abadi, serta gelasnya. Dean mencoba meminumkan air itu sambil berharap putra dan istrinya baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku pergi dulu. Tolong sampaikan pada Dokter Chandra untuk menyusul, jika dia kembali!" ujarnya. Dean telah menyimpan Widuri dan teko air abadi dalam penyimpanan. Kemudian dia terbang ke arah gua, untuk menggunakan pintu teportasi.


*********


__ADS_2