
Robert, Indra dan dokter Chandra menilai kapal yang fitunjukkan oleh ketua desa.
"Menurutku ini sedikit sempit untuk diisi 4 orang." Kata dokter Chandra.
"Tapi jika kita duduk manis, masih bisa muat kok. Coba duduk di sebelahku dok." Kata Indra.
"Nanti kita duduk di bagian ini, ini, ini dan ini. Lalu mengayuh perahu." Jelas Indra.
"Hemm, ku rasa Indra benar. Lagi pula akan ada wanita yang tubuhnya lebih kecil, jadi ini cukup memadai." Robert sependapat.
"Dan kita tak bisa menggunakan layar, karena ketinggiannya yang tak sesuai tubuh kita. Yang ada leher bisa terjerat tali-temali." Indra tersenyum
"Robert, tanya mereka apakah ada dayung yang cukup besar untuk kita pakai mengayuh." Kata dokter Chandta.
"Oke."
Robert turun dari perahu, menemui pemilik kapal. Mengatakan hal-hal yang mereka butuhkan. Mereka berdiskusi cukup lama, karena memikirkan cara membuat 8 dayung pengayuh perahu. Juga harus mencari satu kapal lain dengan ukuran sebesar itu, karena mereka butuh 2 kapal.
"Hei kalian. Jika kalian katakan ingin pergi bunuh diri ke tempat cahaya itu, maka aku pasti akan menjual kapalku dengan senang hati." Sebuah suara mengganggu diskusi ketiga orang itu.
Robert menoleh ke arah belakangnya. Pak tua pembuat perahu berdiri dengan tatapan licik di situ.
"Apa maksudmu pak tua?" Tanya Robert.
"Lain kali katakan dengan jelas tujuanmu membeli perahu atau kapal. Selama bukan dia yang beli, maka itu tak masalah." Jawabnya dengan pandangan sinis kearah ketua desa.
"Bukankah sudah ku katakan bahwa itu untuk mereka. Kau yang memilih untuk tidak mempercayai perkataanku." Bantah ketua desa.
"Tapi pak tua. Tadi ku lihat milikmu hanya perahu kecil. Itu tak muat diisi 4 orang sepertiku." Ujar Robert.
Pak tua itu tersenyum. "Aku punya yang lebih besar dari kapal itu." Pembuat perahu menunjuk kapal si nelayan.
"Oh ya? Tapi kami harus melihatnya lebih dulu. Dan satu lagi. Buatkan kami dayung pengayuh untuk 2 kapal ini." Kata Robert lagi.
Pak tua itu mengangguk dan berjalan ke arah sisi lain pantai itu. Ketua desa, ketua pengawal, si nelayan, Indra serta dokter Chandra mengikuti dari belakang.
Garis pantai itu kini menjorok masuk ke balik barisan pohon kelapa. Tak ada perahu di bagian pantai ini. Pantai ini benar-benar kosong dan sepi.
"Kenapa di sini tak ada yang menambatkan perahu?" Tanya Indra heran.
"Bagaimana orang berani menambatkan perahu di sini. Si tua itu akan mengamuk jika melihat perahu lain di tanahnya." Sindir ketua desa.
"Ya, ini tanahku. Jadi terserah padaku." Balas pembuat perahu tak mau kalah.
"Mereka sungguh musuh bebuyutan." Bisik Indra ke dokter Chandra. Tapi dokter Chandra tak menanggapi.
Kini mereka melihat beberapa kurcaci biru bekerja membangun sebuah kapal. Dan itu cukup besar.
"Apakah ini galangan kapal anda?" tanya Robert.
"Apa itu galangan kapal?" Pembuat perahu balik bertanya.
"Galangan itu artinya tempat untuk membangun perahu atau kapal laut." Indra menjelaskan.
"Oh, begitukah kalian menyebutnya?" Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Robert.
__ADS_1
"Apakah itu kapal besar yang kau sebut tadi? Itu bahkan belum setengah pengerjaan." Tebak ketua desa.
"Ikuti saja aku." kata pembuat perahu.
Mereka melewati galangan dan para pekerja yang hilir mudik. Ada yang sedang membetulkan perahu tua. Ada yang menghaluskan kayu. Ada yang mengangkat bilah-bilah kayu panjang ke atas kapal yang terlihat sangat besar untuk ukuran mereka.
Pak tua pembuat perahu sampai di depan pintu besar yang tertutup. Dikeluarkannya rangkaian kunci dari tali pinggangnya. Diambilnya anak kunci yang paling besar, lalu memasukkannya ke lubang kunci di pintu itu. Terdengar bunyi klik yang cukup keras. Lalu dia bergeser ke samping kanan dekat dinding. Tangannya masuk dalam sebuah kotak kayu dan menarik sesuatu. Kembali terdengar bunyi klik, lalu bunyi berderit dan menggesek dari balik pintu.
Pintu besar yang ternyata betdaun dua, bergeser ke samping kiri dan kanan. Ternyata ini sebuah garasi. Sekarang mereka dapat melihat alas kayu beroda yang di atasnya ada sebuah kapal besar dan kuat. Lebih besar sedikit ketimbang kapal nelayan yang dilihat tadi.
"Woaa.. Ini kapal yang sangat bagus." Nelayan itu terkagum-kagum. Dia melihat ke semua sisi kapal.
Robert, dokter Chandra dan Indra juga harus mengakui bahwa pembuat perahu ini sangat ahli di bidangnya. Pak tua berjalan ke bagian belakang garasi. Entah apa yang dilakukannya, tapi kini kapal itu bergeser sedikit ke dekat pintu agar mereka bisa melihat dengan jelas.
"Tampaknya pak tua ini memahami beberapa sistem mekanis sederhana. Sangat cerdas." Gumam dokter Chandra. Robert mengangguk setuju.
Kini mereka memeriksa keseluruhan badan kapal. Pendapat dan pengalaman Indra sebagai mantan pelaut, sangat dibutuhkan sekarang. Mereka naik ke atas untuk memeriksa dengan rinci. Indra benar-benar memeriksa dengan teliti. Termasuk tempat duduk mereka nanti. Karena kapal ini didesain dengan perahu layar dan memiliki kabin bawah, maka butuh beberapa penyesuaian agar mudah dikendalikan dengan kayuh.
Dan karena postur tubuh mereka yang tinggi, maka tali-tali pengait kain layar jadi terasa sangat mengganggu. Robert yang paling tinggi dari kedua temannya, sudah 3 kali lehernya terjerat tali layar. Dia hanya bisa menggerutu dan disambut tawa geli yang lainnya.
"Kalian sudah memeriksa semuanya. Bagaimana pendapat kalian?" Tanya pak tua itu dengan sikap sombong.
Robert menoleh pada Indra.
"Berapa harganya?" Tanya Indra.
Pak tua itu sedikit kecewa karena melihat bahwa ketiga orang besar itu tak terlihat kagum sama sekali.
"250 koin perak." Katanya tanpa berpikir lagi.
"Kau sengaja memberi harga yang tak masuk akal. Kau hanya ingin memamerkan kapalmu. Dasar tua bangka." Ketua desa tak bisa menahan emosinya. Ketua pengawal menahan tubuhnya agar tidak menerjang si pembuat kapal.
"Mahal sekali." Celetuk si nelayan. Hatinya langsung ciut mendengar harga semahal itu.
Indra, Robert dan dokter Chandra berdiskusi. Koin perak mereka sudah mepet. Mereka berencana memberi sedikit uang untuk ketua desa dan ketua pengawal sebagai balasan keramahan dan jerih payah serta bantuan yang mereka berikan. Sebelumnya mereka juga telah memberi sedikit uang untuk membetulkan roda kereta yang patah di desa di punggung bukit.
Robert bertanya pada ketua pengawal, berapa perbandingan nilai koin emas dengan perak.
"1 koin emas sama dengan 1000 koin perak." katanya yakin. Robert mengangguk.
"Tolong anda berikan harga yang lebih masuk akal." Kata Robert.
"Tidak, jangan tawar lagi." Sahutnya ketus.
Indra berbisik-bisik pada Robert.
"Kami mau bagian dek dirubah sedikit agar kami bisa duduk dengan nyaman untuk mengayuh, sudah termasuk 8 dayung pengayuh. 4 untuk kapal ini, 4 untuk kapal si nelayan. Dan kami mau itu selesai besok." Bagaimana?" Robert masih bernegosiasi.
Pak tua itu berpikir sejenak. Berbicara sebentar dengan seorang pekerjanya.
"Banyak juga yang mesti dirubah. Dengan dayung itu mungkin baru akan selesai siang atau sore hari." Jawabnya dengan kening mengerut.
"Setuju." Wajah gembira Robert, Indra dan dokter Chandra tak bisa ditutupi.
"Oh iya, itu tali-tali dan kain layar. Kami tak memerlukannya. Anda simpan saja." Tunjuk Indra ke arah tali-temali yang hanya akan menjerat leher mereka.
__ADS_1
"Akan kami bereskan." Sahut pembuat perahu tua itu.
"Kami akan membayar dengan koin emas. Apakah anda punya kembaliannya?" Tanya Robert lagi.
Mulut ketua desa dan nelayan itu serempak terbuka.
"Mereka sangat kaya," bisik si nelayan. Ketua desa mengangguk.
"Mereka tamu sang raja." Jelas ketua desa. Diliriknya ketua pengawal yang berdiri dengan tenang.
'Mereka bahkan dikawal oleh 4 pengawal kerajaan. Dan desa terpencil ini mendapat kehormatan melayani tamu kerajaan.' Ketua desa merasa bangga dalam hatinya.
"Jangan menipuku. Tunjukkan dulu koin emasmu." Kata pembuat kapal arogan.
Ketua pengawal menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal. Wajahnya merah padam menahan malu. Tua bangka ini sungguh arogan, berani menghina tamu kerajaan.
Pak tua itu sedikit kaget. Dia sesaat lupa bahwa rombongan orang besar itu datang dari kota kerajaan diantar para pengawal istana.
Robert menenangkan ketua pengawal. Ini semata-mata bisnis. Jadi memang harus terbuka. Pak tua itu hanya terbiasa bersikap arogan. Jadi Robert tak memasukkannya ke hati.
Robert mengeluarkan kantung uang yang diberikan Glenn. Dibukanya tali pengikatnya. Lalu dua jarinya masuk dan memilih dari beberapa koin yang ada di situ.
"Lihat kantung uangnya. Itu kain yang mahal dan ada sulaman lambang keluarga yang indah." Bisik si nelayan pada ketua desa.
"Ini koin emasnya." Robert menunjukkan uang koinnya.
Pak tua itu memeriksa sebentar. Setelah yakin itu asli, koin itu dikembalikan pada Robert.
"Baik. Besok saja anda membayarnya setelah kayu pengayuhnya selesai dan kami akan menyingkirkan semua tali layar malam ini." Putusnya.
Robert mengangguk dan tersenyum. "Besok kami akan kembali."
Keenam orang itu kembali ke pantai dimana kapal si nelayan ditambatkan.
"Jadi, bagaimana dengan anda?" Robert ingin menuntaskan pembicaraan dengan si nelayan yang tadi belum selesai.
Nelayan itu menunggu Robert menyelesaikan kalimatnya.
"Apakah anda ingin menjual kapal hari ini atau ingin pergi melaut dulu? Kami mungkin baru akan pergi besok sore." Tanya Robert memastikan.
"Besok saja. Jadi saya masih bisa melaut malam nanti." Jawabnya.
"Oke. Jadi apa anda setuju harga 140 koin perak?" Tanya Robert.
"150 koin perak. Besok tali-tali layar itu akan saya rapikan. Anda sudah lihat berapa harga kapal baru. Entah apakah saya bisa membeli kapal lagi atau tidak." Keluh nelayan itu
Namun dia tersenyum dalam hati, karena tau orang-orang besar itu kaya, jadi dia tak mau menjual terlalu murah.
Robert tercenung sejenak. Nelayan itu ada benarnya. Untuk ukuran kapal si nelayan, maka harga barunya mungkin sekitar 200 koin perak.
"Baiklah.. Besok saya bayarkan. Jadi kami kembali dulu. Sampai jumpa besok." Robert menyalami nelayan itu.
Kelima orang itu kembali ke kediaman ketua desa. Masih harus bersabar menunggu sehari lagi. Semoga semua rencana hari ini berjalan lancar. Dan mereka bisa melanjutkan perjalanan lagi.
*****
__ADS_1