
*Dear diary,
Ku kira ini adalah hari ke-20 kami di sini. Aku sudah lupa akan banyak hal.. Lupa waktu, lupa tanggalan, lupa mandi, pun.. lupa kapan terakhir kali makan 3 kali sehari.
2 hari lalu, saat aku menjelajah di gua bawah setelah mandi, aku menemukan bahwa air bekas mandi dan mencuci baju mengali ke sudut gua yang dipenuhi tanah. Ku coba menanam benih wortel dan ubi yang kubawa di situ.
Sungguh mengejutkan saat Dewi dan Nastiti yang bergabung dalam tim juga ingin mandi keesokan harinya, kami menemukan bahwa wortel dan ubi itu sudah tumbuh besar dan subur dan hari ini kami sudah mencabut ubi serta sebagian besar wortel untuk persediaan makanan kami. Ku biarkan beberapa wortel untuk melihat, apakah dia juga bisa berbunga dan menghasilkan benih lagi. Juga menanam kembali benih ubi baru di tanah ajaib itu.
Dean berasumsi, mungkin cahaya dari kristal ungu yang kutinggalkan di dekat gundukan tanah itu, atau cahaya putih susu dari pintu itu yang membuat tanaman tumbuh lebih cepat. Who knows? Aku juga tak ingin berpikir banyak, karena tempat ini memang sudah tak masuk akal sejak awal.
Bagaimanapun, itu sungguh membantu kami sementara ini, karena belum mungkin melanjutkan perjalanan seperti halnya tim 2 dan 3 dua hari lalu. Kami menunggu kaki Sunil yang terluka membaik sebelum melanjutkan perjalanan. Tapi sejauh ini semua tim bersemangat dan optimis tentang dunia dibalik pintu cahaya itu dan kami tak sabar untuk segera melewatinya.
Perbincangan hangat dan seru tentang dimensi dan dunia lain turut membuka cakrawala pemikiranku bahwa selalu ada kemungkinan dari hal yang kita anggap tidak mungkin. Jadi, apakah mungkin, setelah kami melewati itu, kami akan kembali ke Indonesia*?
--
"Hei, masih asik menulis? Lihat, aku berhasil mendapatkan yang ukuran besar," Dewi mendekat sembari menunjukkan kristal cahaya ungu yang berhasil diambilnya.
"Yah,, mumpung kita di sini, bisa menulis dengan nyaman karena gua ini penuh cahaya." Widuri tersenyum lalu menutup buku dan memasukkannya dalam tas.
"Apakah aku tidak disisakan?" Widuri berjalan dan tersenyum lebar pada Nastiti yang masih asik mencungkil kristal yang diinginkannya.
"Kami sisakan satu gua kristal ungu untukmu, hahaa.." Alan lebih dulu menyahut dan tertawa.
"Yaa.. ambil deh seberapa yang kau bisa dapatkan," Nastiti menambahi. Widuri melihat teman-temannya bersemangat untuk mendapatkan kristal itu, termasuk Sunil yang mencungkil kristal di dekat tempatnya duduk.
"Dean, kau sudah 2 kali mondar mandir membawa kristalmu, apakah masih belum cukup?" ledek Widuri saat melihat Dean masuk lagi ke gua kristal ungu.
"Mestinya kau berterima kasih padaku, karena aku membawa kristal-kristal itu untuk menerangi jalan dan kebun kecilmu itu." Jawaban Dean telak membuat Widuri tak bisa membalasnya.
"Oh ya? Aku ingin mencoba menanam beberapa benih sayur yang ku simpan dari paket kiriman." Widuri mengalihkan topik pembicaraan.
"Cobalah. Jadi kita bisa mencoba menu lain besok lusa. Ada bibit apa saja?" Dewi antusias.
"Hmm,, coba ku lihat dulu," Widuri mengeluarkan bungkusan benih alufoil dari saku ranselnya.
__ADS_1
"Ini ada benih sawi, brokoli, kubis, cabe, kale, tomat, lemon dalam bungkus-bungkus kecil. Tidak tau ada berapa biji isinya." Widuri menunjukkan temuannya pada Dewi.
"Kita tanam yang mana dulu?" tanya Dewi lagi.
"Mungkin yang mudah dulu dan coba beberapa biji saja yaa. Sayang benihnya jika tidak cocok dengan suhu hangat dan lembab di sana." Widuri menunjukkan bungkus sawi, cabe dan tomat pada Dewi. Dikeluarkannya juga bibit bawang yang sebelumnya didapat dari kebun di hutan.
"Oke, mari kita tanam," Dewi segera bangkit dari duduk diikuti Widuri. Yang lain melanjutkan kegiatan masing-masing.
"Dean, lihat ini." Alan memanggil Dean.
"Aku menemukan kristal berwarna merah setelah berhasil mencungkil yang ungu besar ini." Alan menunjuk ke arah dinding di sebelahnya.
Dean dan Nastiti mendekat, sementara Sunil memperhatikan dari jauh.
"Yaa, warnanya merah delima!" seru Nastiti heboh. "Itu cantik banget."
Dean memperhatikan dengan seksama dan meraba permukaannya.
"Ini terasa hangat," Dean terlihat serius. Alan ikut meraba permukaan kecil batu merah itu.
"Alan, kau bisa coba ambil jika mau, mungkin itu berharga," Sunil menyela dari tempat duduknya.
"Yah, itu benar Alan. Kita kumpulkan sebisanya sambil menunggu kaki Sunil pulih." Nastiti kembali bersemangat. Dean menepuk pundak Alan sambil tersenyum dan melanjutkan mengumpulkan kristal-kristal cahaya ungu di tempatnya semula.
*
Enam anggota tim 1 berkumpul untuk makan malam. Saat ini mereka mendiskusikan tentang rencana perjalanan melewati pintu cahaya besok.
"Jadi, karena Sunil sudah bisa berjalan lagi, ku fikir kita sudah bisa melanjutkan perjalanan kita besok." Dean memulai pembicaraan.
"Dean, sebentar." Dewi mengangkat tangannya. Dean mengangguk mempersilakan Dewi bicara.
"Sudah seminggu kami turun ke sini. Terus terang saja, tinggal di gua ini tidaklah terlalu buruk. Kita punya cukup bahan makanan. Kita jauh dari gangguan serigala. Dan sesekali masih bisa naik melalui tangga pohon ini untuk memeriksa jebakan kelinci di atas sana.." Dewi ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Jadi menurutmu, lebih baik kita tidak usah melanjutkan perjalanan?" Pertanyaan Dean membuat yang lain terhenyak.
__ADS_1
"Meskipun di sini aman dan nyaman, ini tetap bukan rumah kita. Aku rindu orang tuaku," Widuri menunduk menahan air matanya.
"Ya, aku juga harus pulang dan menjaga kedua anakku," Sunil menambahkan.
"Tapi, kita tak tau apa yang akan kita hadapi dibalik pintu cahaya itu." Dewi berargumentasi.
"Bagaimana jika dibalik itu ternyata dunia yang lebih menyeramkan dibanding di sini?" Dewi mengutarakan kekhawatirannya.
Dean mengangguk mengerti.
"Aku memahami rasa khawatirmu. Aku sudah memikirkan rencana untuk besok. Biar aku yang pertama mencoba melintasi pintu cahaya. Sunil dan Alan memegang tanganku saat aku melangkah. Aku akan memberi tanda lewat tanganku jika situasi berbahaya ataupun aman. Bagaimana menurut kalian?"
"Tapi Dean, jika kau memberi tanda bahaya sementara kami gagal menarikmu kembali, maka kau akan sendirian menghadapinya." Alan tak setuju dengan ide Dean.
"Ya, lalu kita bagaimana?" Nastiti juga tak setuju.
"Aku sudah mempersiapkan gua semampuku untuk jadi tempat tinggal kalian jika nanti ku lihat dibalik pintu cahaya itu bukanlah hal baik untuk kalian. Aku sudah menerangi lorong gua dengan kristal cahaya, kalian sudah punya kebun yang cukup untuk menghidupi, kalian juga punya kapak dan pisau batu yang bisa digunakan untuk menebang pohon dan memotong kelinci. Kalian punya batu merah yang menghasilkan api jika diketukkan. Kalian sudah punya peralatan mendasar untuk bertahan hidup." Paparan Dean membuat rekan-rekannya memandang dengan tak percaya.
"Jadi, kau bekerja keras mencungkil kristal ungu dan menerangi seluruh gua itu karena berencana meninggalkan kami?" Widuri tampak marah.
Dean menghela nafas dan menghembuskannya pelan. 'Kenapa dia selalu salah terima maksudku?' batin Dean.
"Menurutku, Dean bukan berencana meninggalkan kita. Tapi mempersiapkan segalanya untuk kita tetap survive jika ternyata situasi dibalik pintu cahaya itu terlalu buruk." Sunil mencoba menjelaskan. Tapi Widuri masih tampak kesal.
"Kau bisa ikuti aku jika tak ingin ditinggal," Mata dan senyum Dean terlihat jenaka, membuat wajah Widuri memerah menahan emosi.
"Kau..!" Kata-kata Widuri tak selesai, karena rekan tim lainnya langsung tertawa melihat tingkah mereka yang seperti kucing dan tikus. Bertengkar tidak jelas setiap hari.
"Kalian ini lama-lama terlihat seperti pasangan, ribuuut terus gak jelas juntrungannya. Hahaa.." Kata-kata Nastiti membuat tawa makin ramai.
Suasana mencair dan akhirnya diputuskan melakukan seperti rencana Dean. Mereka mempersiapkan ransel masing-masing sebelum beristirahat. Ini mungkin akan menjadi malam terakhir di hutan salju.
Mereka berharap pintu itu adalah jalan menuju ke dunia nyata, agar bisa pulang kepada keluarga masing-masing.
***
__ADS_1