PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 347. Tak Bisa Lari dari Takdir.


__ADS_3

"Bagaimana rasanya?" tanya Marianne.


"Teh ini terasa pahit," jawab Indra jujur.


"Baiklah, aku akan mengurangi takarannya dan menambahkan sedikit madu, besok!" respon Marianne. Lalu dia kembali ke dapur.


"Aku jadi kelinci percobaan herbal Marianne," keluh Indra.


"Hahahaha...."


Ruang makan jadi penuh gelak tawa. "Tapi kau bisa tenang. Karena Marianne tidak mempelajari racun," goda Robert.


'Hahahaha...."


Tawa gemuruh kembali terdengar.


"Haizz!"


Indra hanya bisa menggaruk kepalanya tak berdaya.


"Aku mau periksa Sunil dulu, sebelum pergi tidur," ujar dokter Chandra.


"Dok, bisa periksa aku juga?" bisik Niken dengan suara rendah. Dia mengikuti dokter Chandra ke lantai atas


"Apa kau merasa tak enak badan?" tanya dokter Chandra sedikit khawatir.


"Ehem ... a-aku ingin bisa hamil secepatnya," tunduk Niken malu.


"Oh, kukira kau sakit. Ayo, biar kuperiksa!" balas dokter Chandra lega.


Niken mengikutinya naik, dengan semangat. Widuri juga mengikuti dari belakang. Dia juga ingin bayinya diperiksa.


Niken dan Widuri duduk menjauh, membiarkan dokter Chandra memeriksa Sunil lebih dulu.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Niken.


"Sudah lebih baik. Entah apakah karena selalu ngemil buah-buahan, ataukah karena sayuran yang selalu ditambahkan Marianne dalam buburku. Aku sudah tiga hari ini tidak merasa mual lagi," jawab Widuri.


"Kukira juga begitu. Karena, sejak Sunil sakit, kau tidak lagi merasa mual jika didekati Dean," timpal Niken.


"Kau benar. Rasa mualku sudah hilang." Widuri mengangguk setuju.


"Apa kalian sudah siap?" Dokter Chandra berjalan menghampiri kedua wanita itu.


"Siap!" jawab keduanya bersamaan.


"Siapa yang duluan?" tanya dokter Chandra.


"Aku!" Niken berbaring di depan dokter Chandra.


Widuri yang duduk di sebelahnya, memperhatikan dengan seksama. Ada cahaya putih yang menyelubungi seluruh tangan dokter Chandra. Lalu tangan itu diposisikan di atas perut Niken. Dokter Chandra memejamkan matanya.


Widuri dapat melihat seberkas cahaya putih kecil yang menyelusup masuk ke perut Niken, karena telapak tangan dokter Chandra tidak menyentuh perut Niken sama sekali. Ada jarak sekitar satu sentimeter diantaranya.


Lalu cahaya putih itu hilang seluruhnya. "Kurasa, hari ini adalah waktu yang tepat," dokter Chandra mengatakannya sambil berpikir.

__ADS_1


"Benarkah?" wajah Niken berseri-seri.


"Jika pemeriksaanku benar, maka harusnya malam ini yang terbaik. Jika tidak yakin, kalian bisa mencoba lagi besok." Dokter Chandra mengulum senyum.


"Baik. Akan kami coba!" sahut Niken senang. "Terima kasih, dok," ujarnya sambil memberi tempat pada Widuri.


Kembali, tangan dokter Chandra diselimuti cahaya putih berkilauan. Seberkas kecil cahaya itu menelusup masuk ke perut Widuri. Widuri dapat merasakan kehangatannya.


"Bagus. Dia sehat. Kurasa kau sudah bisa makan nasi, jika mau. Minta dibuatkan sup penguat pada Marianne. Dia tahu yang harus dilakukannya."


Dokter Chandra mengulas senyum bahagia, melihat dua wanita di depannya diselimuti rasa bahagia.


"Terima kasih dok," kata Widuri senang.


"Baik, aku akan beristirahat di pondok."


Dokter Chandra bangkit berdiri dan berjalan pergi.


"Aku juga mau kembali ke rumahku." Niken pamit buru-buru.


"Semoga sukses!" canda Widuri sambil tertawa kecil.


Malam itu berlalu dalam sunyi yang indah bagi para pasangan. Namun berbeda di pondok mungil itu. Dokter Chandra berbaring sambil termangu. Kegundahan tergambar jelas di wajahnya.


"Tak ada makhluk yang bisa lari dari takdir," desahnya sembari menghela nafas resah.


*


*


Selesai sarapan, dokter Chandra meminta waktu diskusi. Jadi tak seorangpun yang beranjak dari meja makan.


"Tapi, untuk bisa keluar, dan kembali lagi, kita butuh tiga tenaga," sanggah Robert.


"Ya. Untuk itulah aku menawarkan diri menggantikan Sunil," tutur Dean.


"Apa?" tukas Widuri terkejut.


"Aku yang mengajak Penguasa pergi melihat keadaan di luar. Kasihan Sunil jika kita biarkan terlalu lama." Dean menjelaskan alasannya.


"Mereka juga akan melakukan hal yang sama, jika aku di posisi Sunil." Dean mencoba memberikan pengertian pada Widuri.


"Biar aku saja. Mungkin bawaan wanita hamil memang selalu cemas," timpal Indra.


"Sayangnya, Kau tak bisa ikut! Kau yang paling dibutuhkan di sini, ketika tak ada seorang pria pun lagi. Kau harus melindungi tempat ini dengan kemampuanmu!" tolak dokter Chandra tegas.


"Oh, baiklah. Aku akan lakukan tugasku," jawab Indra dengan suara mantap.


Yang lain juga ikut berpikir. Pilihan dokter Chandra adalah yang paling rasional. Karena Sunil sedang sakit, makan dibutuhkan penjaga berpengalaman untuk menjaga dunia kecil mereka dan para wanita. Jadi pilihannya, memang harus Dean yang pergi menemani Robert dan dokter Chandra.


"Baiklah," jawab Widuri lirih. Dia hanya bisa menunduk. Meski hatinya tak rela, tapi Dean benar. Semua orang berkorban untuk tim. Sunil jadi seperti itu, juga karena tim. Alan, Michael justru telah lebih dulu berkorban untuk tim. Jangan sampai Sunil juga menyusul keduanya.


"Terima kasih, Sayang," ujar Dean sambil merengkuh Widuri ke dalam pelukannya.


"Jadi, kapan kita pergi?" tanya Robert.

__ADS_1


"Setelah kita selesai mengurus jasad petugas pintu teleportasi yang tewas itu," sahut dokter Chandra.


"Ah, iya. Petugas pintu teleportasi yang tewas oleh anak panah." Indra mengingatnya.


"Apakah tak bisa jika jiwanya dipindahkan ke tubuh salah satu dari mereka?" tanya Robert mengarah pada Niken, Widuri dan Marianne.


"Petugas itu pria. Nanti jiwa mereka bertolak belakang. Dan jika jiwanya kuat, dia akan menguasai wanita kalian!" dokter Chandra memperingatkan.


"Benar juga." Robert manggut-manggut.


"Dean, aku ingat kau punya panel untuk melihat memori pada lambang bintang seseorang," ujar dokter Chandra.


"Ya, aku memilikinya."


Dean mengeluarkan meja dengan panel batu berisi tanda-tanda khusus di atasnya.


Dokter Chandra mengeluarkan lambang bintang yang disimpannya saat di gua. Lambang bintang itu diletakkan di atas panel. Kemudian keluarlah cahaya kebiruan yang dipancarkan ke langit-langit. Berbagai informasi keluar. Mereka sedikit terkejut melihat rekaman memori orang tersebut.


"Ternyata, dia yang memanen seluruh isi kebun di sini. Bukan adik Penguasa," ujar Indra. Tak heran dia mati dengan panah menancap di dada," umpatnya sinis.


"Aku telah salah sangka tentang adik penguasa," Indra menggeleng penuh sesal.


"Aku juga mengira dia seburuk itu. Ternyata aku yang salah. Mungkin sikapku yang kaku dan sulit memahami jiwa bebasnya, membuat kesalah pahaman meruncing jadi permusuhan." Dokter Chandra juga menunduk sedih.


"Dik, andai bisa bertemu lagi, aku ingin kita bisa berbaikan seperti sebelum aku jadi Penguasa," gumamnya lirih.


Pemeriksaan lambang bintang di dada yang menyimpan memory pemiliknya, selesai sudah.


"Dean, bawa air abadi. Mari kita kembalikan jasadnya seperti semula," perintah dokter Chandra.


Dokter Chandra, Robert dan Indra keluar rumah, dekat kolam air terjun. Dokter Chandra mengeluarkan jasad yang tinggal tulang belulang itu. Lalu menempatkannya di bangku panjang di bawah keteduhan pepohonan.


Dean datang membawa tempayan air abadi. Jasad itu disirami dengan air abadi hingga basah keseluruhannya. Mereka menunggu perubahan fisiknya dengan sabar.


"Dia tampan juga. Namun sayang di akhir hidup, berperangai buruk," komentar Indra.


"Mungkin karena dia pikir, dunia kita sudah tak ada, jadi dia butuh bekal untuk menyambung hidup," bantah Robert.


Dokter Chandra melepaskan kalung penyimpanan pria itu. Dia tercengang, karena di dalam situ ada banyak sekali stok makanan serta tanaman herbal. Dokter Chandra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu.


Diambilnya satu set pakaian yang layak, untuk menggantikan pakaian compang-camping pada jasad itu.


"Dia sudah berpakaian layak. Sekarang mau bagaimana?" tanya Indra tak mengerti.


"Sekarang, simpan saja tubuhnya di dalam penyimpanannya sendiri. Jika putra Dean lahir, mungkin bisa menempatkan jiwanya pada putramu," saran dokter Chandra.


"Itu bagus. Jadi akan ada seseorang yang memahami tentang teleportasi." Robert mengacungkan jempolnya ke arah Dean.


"Terserah bagaimana pengaturan penguasa saja, sahut Dean.


"Oh ya. Di dalam penyimpanannya banyak sekali bahan makanan dan tanaman obat. Beri aku waktu untuk memprosesnya jadi beragam obat, agar bahan-bahan itu tidak mubazir."


"Ya, kami akan siap kapanpun kita mau berangkat," balas Dean cepat.


"Aku ajan mengerjakannya di pondokku," ucap dokter Chandra. Kemudian semua bubar. Sementara menunggu dokter Chandra menyelesaikan obatnya, para pria melakukan pekerjaan ringan lain. Dean memetik buah-buahan segar untuk persediaan di rumah.

__ADS_1


Dokter Chandra mengeluarkan bahan makanan di penyimpanan penjaga pintu teleportasi. Para wanita terpaksa menyibukkan diri mengolah bahan makan tersebut.


******


__ADS_2