PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 93. Curcol


__ADS_3

Ditemani Nastiti, Dean pergi memeriksa ke gua kelelawar. Mereka terkejut melihat lantai gua dipenuhi bangkai-bangkai kelelawar yang gosong seperti arang.


"Kenapa mereka jadi arang semua?"


Nastiti memeriksa dinding dan langit-langit gua yang biasanya dipenuhi kelelawar yang bergantungan. Tapi sekarang tak ada seekorpun yang tampak.


Dean ikut mengamati.


"Mungkin imbas cahaya biru O yang masuk gua, membuat mereka ikut tewas."


"Tapi kenapa kita baik-baik saja?" tanya Nastiti heran.


"Karena Z menggunakan kekuatan cahayanya meredam cahaya O. Apa kau lupa kalau Z pingsan setelah dia mencari tubuh O?" Dean mengingatkan.


"Yaa, aku ingat sekarang. Kau membawanya setelah Sunil." Nastiti mengangguk.


"Itu lubangnya Dean." tunjuk Nastiti.


Dean mengamati lubang terbuka di langit-langit gua. Dulu hanya terlihat sedikit ruang dil luar lubang itu. Tapi kini cahaya terang jelas membias masuk.


Gua kelelawar itu tak lagi gelap gulita dan lembab. Kelembaban itu hilang karena cahaya panas sinar biru O menguapkan semua kelembaban. Dan ada sinar masuk lewat lubang terbuka di langit-langit gua.


Air yang masuk dari beberapa sisi lubang itu jatuh ke lantai gua dan membentuk ceruk kecil di lantai.


"Air kolam ini mengalir kemana ya?" celetuk Nastiti yang menyadari bahwa ceruk kecil itu tak pernah penuh, apa lagi meluapkan airnya.


Dean menggeleng samar.


"Jelas tidak mengalir keluar, karena di dua sisi gunung tidak ada air yang keluar. Jadi hanya ada satu kemungkinan, dia mengalir ke celah lantai gua batu ini, entah berakhir kemana." Dean menyimpulkan.


"Bisakah kau mengebor dinding batu agar air di sini bisa dialirkan ke lahan kering itu?" tanya Nastiti.


"Aku mau memeriksa ke atas dulu. Dari mana sumber air ini. Kau mau ikut?" Dean menoleh pada Nastiti.


"Oh, baiklah. Aku suka terbang." Nastiti tersenyum lebar.


Dean memeluk pinggang Nastiti, lalu membawanya melesat melewati lubang di langit-langit gua.


"Woww!" Mulut Nastiti terbuka melihat keadaan di bagian atas gua.


Dean tetap memeluknya saat melayang memeriksa kesana kemari.


Nastiti benar-benar takjub melihat bagian atas gua yang masih tersisa kehijauannya. Berbeda dengan sisi gua yang satu, yang dipenuhi kabut asap tipis, serta sisi lainnya merah gersang dan kering.


Dean akhirnya menurunkan Nastiti setelah menemukan sumber air yang masuk ke gua. Air itu jatuh dari dalam kabut hitam. Harusnya, itu merupakan bagian atas gunung ini.


"Aku akan membuat saluran air dari atas sini saja," putus Dean.


"Baiklah, aku akan menemanimu. Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Nastiti basa-basi.

__ADS_1


"Cukup duduk manis saja," jawab Dean enteng.


Nastiti tertawa kecil karena menyadari bahwa Dean sama sekali tak butuh bantuan dalam hal ini.


Membuat saluran air bukan hal yang sulit buat Dean. Dia mulai bekerja mengeruk permukaan tanah sedalam setengah meter. Dimulai dari tempat jatuhnya air, mengalihkan aliran air ke arah tanah gersang di sisi lain gunung. Pekerjaan semacam itu jauh lebih ringan dari pada memahat batu yang keras. Tak lama, saluran air itu selesai juga. Air itu kini jatuh ke arah tanah kering dan tandus. Dean menumpuk batu-batu di sepanjang sisi saluran air itu. Kini tampak kali mungil berkelok-kelok menuju tebing.


"Hebat. Ku rasa tak lebih dari 2 jam, kau sudah menyelesaikannya," Nastiti mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Dean.


"Karena di sini sudah selesai, mari kita lanjutkan ke bawah sana saja," usul Dean.


"Baiklah.. aku akan menikmati penerbangan ini. Pak pilot, tolong pelan-pelan terbangnya. Penumpang mudah mabuk udara," canda Nastiti.


Dean hanya tersenyum, lalu memeluk pinggang Nastiti. Mereka kembali melayang ringan. Dean tidak melesat secepat kilat, karena tau dia membawa orang lain.


Dean menurunkan Nastiti tak jauh dari tempat air itu jatuh memercik. Mereka merasakan udara basah yang dipenuhi butir-butir air.


"Tampaknya aku harus membuat saluran air yang lebih besar," gumam Dean.


Hasil pekerjaan tadi tak seperti yang diharapkannya. Air yang jatuh tak sampai ke tanah, sudah lenyap.diterbangkan udara.


"Kau tunggu di sini dulu. Aku perbaiki lagi pekerjaan di atas," kata Dean.


"Ok. Lanjutkan saja," jawab Nastiti.


Dia sedang tertarik dengan beberapa bunga liar yang muncul diantara rengkahan tanah kering.


"Ya.. ya. Tak kan ku sentuh." Nastiti mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi untuk meyakinkan Dean.


Dean mengangguk, lalu melesat pergi ke atas. Dia harus membuat saluran air lebih besar dari sebelumnya.


Dean memeriksa lagi, air terjun dari kabut hitam itu juga tidaklah besar. Jadi, meskipun dia memperbesar saluran air, itu akan percuma saja. Apa lagi karena tebing gunung ini terlalu tinggi, maka sedikit air yang jatuh itu akan hilang tertiup angin tanpa pernah sampai ke tanah.


Dean mencoba menutup semua celah air menuju gua, agar ada lebih banyak yang bisa dialirkan ke tanah itu. Dean juga memperbesar ukuran saluran air. Sekarang, tak ada lagi yang bisa dilakukannya untuk mengakali minimnya sumber air. Hanya menunggu kemurahan alam saja, agar turun hujan deras sesekali.


Dean memeriksa area atas gunung lebih luas lagi, Berharap ada sumber air lain yang bisa dialirkan ke tanah itu. Tapi dia tak menemukannya. Tapi Dean bertemu Alan dan Sunil di dekat pancuran air dari kolam.


"Alan, Sunil." panggil Dean.


"Kau memeriksa ke atas gunung?" Alan mendongak ke arah suara Dean.


"Ya, aku mencari sumber air lain, tapi tak menemukannya," jawab Dean.


"Kalian memotong semua domba?" tanya Dean, karena melihat ada banyak kulit domba yang dijemur oleh keduanya.


"Kelincinya juga sudah antri," sahut Sunil.


"Baiklah, aku meninggalkan Nastiti sendirian di sana. Aku pergi sekarang." Dean melesat cepat ke arah Nastiti menunggu.


"Bagaimana? Sudah selesai pekerjaannya?" tanya Nastiti melihat Dean muncul.

__ADS_1


"Sudah tak ada yang bisa ku lakukan lagi. Karena sumber airnya juga kecil," sahut Dean.


"Biarkan saja. Meskipun sedikit, tapi tetes air yang berlangsung lama akan kembali melembabkan udara. Titik air di udara akan menguap karena suhu yang kering dan panas ini. Dan kumpulan uap air akan menjadi awan. Pada akhirnya juga turun hujan." Nastiti berteori.


"Kau optimis sekali." Puji Dean tersenyum.


"Kalau begitu, mari kita lanjut periksa dinding transparan yang kami temukan kemarin," ajak Dean.


"Baiklah. Mari kita kembali terbang pak pilot." Nastiti sudah membentangkan kedua tangannya tanda siap diajak terbang.


"Kau yang paling suka bercanda dan menggoda orang. Dan selalu optimis pada hal apapun yang kau hadapi," ujar Dean saat melayang ringan bersama Nastiti.


"Apa kau keberatan dengan itu pak pilot?" tanya Nastiti menggoda.


"Tidak. Menurutku itu sangat bagus. Kau tidak terus mencurigaiku seperti halnya Widuri. Rasanya apapun yang ku buat, selalu salah dimatanya," keluh Dean.


"Yeaaa, pak pilot curcol.. hahaha," Nastiti tergelak dan tubuhnya bergoyang di pelukan Dean.


"Apa kau jatuh cinta padanya?" tanyak Nastiti penuh selidik.


Kali ini Nastiti tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan info tangan pertama.


Dean mendengus sambil tiba-tiba mempercepat terbangnya.


"Aaaaahhh.. toloong. Stop.. aku mual." Nastiti kelabakan.


"Hahaha.. rasain," balas Dean tertawa senang.


Namun. melihat Nastiti memucat, diperlambatnya laju terbang dan mulai turun ke tanah. Nstiti langsung terduduk sambil memegang perutnya yang mual.


"Huekkk.. huekk.."


Akhirnya sarapan yang belum tercerna sepenuhnya itu, keluar dari mulutnya. Wajahnya yang semula pias, mulai memerah lagi. Tampak bintik-bintik air disitu.


"Maafkan aku," Dean berkata lembut penuh penyesalan.


Diusap-usapnya punggung Nastiti perlahan-lahan. Nastiti menyeka mulutnya dengan punggung tangan.


"Air. Aku mau air," bisik Nastiti lemas.


"Ayo kita kembali. Aku akan terbang pelan-pelan," ajak Dean.


Nastiti memandangnya tanpa menjawab.


"Aku janji gak akan bercanda seperti itu lagi," ucap Dean.


Nastiti mengangguk. Bagaimanapun, terbang bersama Dean adalah satu-satunya cara untuk kembali.


***

__ADS_1


__ADS_2