PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 294. Hujan Hitam


__ADS_3

"Jangan coba-coba!"


Seorang penjaga menodongkan senjata ke arah Alan yang berjalan mendekati pintu teleportasi.


"Apa kalian tau ke mana tujuannya?" tanya Alan tak peduli.


Digenggamnya laras senapan itu dengan tangan kiri lalu mendorongnya kesamping. Dia terus berjalan mendekat.


Semua penjaga di ruangan itu terkejut melihat hasil perbuatan Alan.


Laras senapan yang panjang itu jadi melengkung. Bagian yang tadi digenggam Alan, terlihat merah membara. Mata mereka terbelalak melihat kemampuan Alan. Hal itu membuat mereka gentar.


"Orang-orang asing ini punya kemampuan tak biasa. Apakah seperti itu kemampuan manusia Bumi Satu di 1540 tahun yang lalu?" bisik salah seorang.


Yang ditanya hanya bisa menggeleng tak tau.


"Tapi tadi mereka membawaku terbang," bisik orang yang diculik sebelumnya.


Teman-temannya terkejut tak percaya. Namun, dia mengangguk dengan pasti. Mengusir keraguan di hati yang lain.


"Hei, apa kalian tau kemana arah teleportasi ini?" tanya Alan sekali lagi.


"Kami tidak tau. Dan tak ingin mencari tau. Kenapa? Apa kalian ingin masuk ke sana?" Salah satu penjaga bertanya balik.


"Jika boleh, kami akan mencobanya," jawab Alan.


"Hahahaha ...."


Para penjaga di situ tertawa keras.


"Yang masuk ke sana hanya berakhir mati! Kalian masih berani?" tantangnya.


Dean tersenyum menengahi.


"Untuk itu, kami harus mendiskusikannya dulu. Banyak hal harus dipertimbangkan sebelum menerobos jalur teleportasi yang belum diketahui ujungnya."


"Apakah biasanya hujan turun lama atau sebentar?" tanya Dokter Chandra mengalihkan pembicaraan.


Menyadari sesuatu, seseorang pergi ke arah pintu masuk. Dia membuka jendela kecil untuk mengintip yang ada di samping pintu. Dia melihat keadaan di luar.


"Masih hujan!" ujarnya.


"Boleh kami lihat seperti apa hujannya?" Dokter Chandra berjalan mendekati jendela kecil itu.


Kali ini, tak ada sesiapapun yang berani menghalangi. Apa lagi lancang menodongkan senjata. Yang dilakukan Alan tadi jadi pelajaran berharga untuk mereka. Jangan memprovokasi orang-orang asing ini.


Dokter Chandra menggeser penutup kaca. Dia sedikit terkejut melihat air hujan yang turun. Benar-benar hitam pekat dan seperti lumpur.


"Berapa banyak polusi yang menutupi langit dunia ini?" pikirnya.


Michael ikut melihat ke jendela kaca kecil itu.

__ADS_1


"Kalau hujannya seperti ini, aku tak ingin lagi bermain air serta berlari di bawah guyuran hujan. Kotor sekali!" gerutunya.


"Seperti apa warna airnya? tanya Alan yang masih berdiri dekat pintu teleportasi.


"Airnya hitam dan kental seperti oli bekas. Menjijikkan!" sahut Michael.


"Sayang sekali. Pada hal, saat aku kecil, suka sekali bermain bola di bawah guyuran hujan." Alan menggeleng kecewa.


Para penjaga saling berpandangan. Mereka, meski dibayar berapapun, tidak ada yang bersedia berada di luar ketika hujan turun.


"Apakah mereka benar-benar berasal dari Bumi Satu,1540 tahun yang lalu?" salah seorang penjaga bergumam.


"Apa yang terjadi pada bumi setelah bencana besar terjadi?" tanya Sunil.


Para penjaga itu berpandangan. Kemudia yang lain mengangguk. Salah seorang petugas itu akhirnya bersedia menjelaskan.


"Menurut buku, terjadi kehancuran total di bumi. Hanya segelintir manusia yang bisa selamat. Selama beberapa tahun, manusia kembali hidup dalam masa-masa suram dan gelap. Tak banyak teknologi yang bisa dipakai. Sedikit manusia yang selamat itu memilih satu pemimpin agar kehidupan bisa kembali normal."


Dokter Chandra menunduk dan memejamkan matanya menahan perasaannya.


"Satu pemimpin di seluruh bumi? Berarti sudah tak ada lagi Indonesia ...."


Yang lain saling berpandangan. Ingatan masing-masing melayang pada keluarga yang ditinggalkan di bumi. Apakah ada anak keturunan mereka yang selamat dalam bencana besar itu?


Michael duduk lesu di lantai.


"Ini menyedihkan ...."


Kelihatannya benar, mereka berasal dari Bumi Satu di 1540 tahun yang lalu. Jadi Dean dan timnya dibiarkan duduk di tengah ruangan besar itu untuk menenangkan diri.


*


*


A few moments later.


"Hujan sudah berhenti!" teriak seorang penjaga yang mengintip ke luar.


"Apa kita sudah bisa keluar?" tanya Alan.


Seorang penjaga menjawab.


"Sisa hujan masih tergenang. Butuh waktu hingga semua air hitam itu terserap tanah."


"Dan sekarang sudah sore. Jika malam sebaiknya tidak berada di luar. Atau makhluk penghuni dunia ini akan memakanmu. Jadi kita harus terjebak di sini, setidaknya hingga besok pagi," sambung yang lainnya.


"Sayangnya, aku lupa membawa makanan dari mess," timpal yang lain.


Dean meminta pendapat anggota timnya. Akhirnya semua setuju untuk berbagi makanan yang ada. Juga, mengeluarkan teman-teman lainnya dari ruang penyimpanan.


Para penjaga itu langsung berdiri dan mengarahkan senjata api mereka pada tim Dean yang secara tiba-tiba menjadi lebih banyak.

__ADS_1


"Bagaimana kalian bisa jadi banyak? Siapa kalian sebenarnya?" tanya yang satu.


"Apa kalian mau menguasai tempat ini? Kami akan mempertahankannya meski taruhan nyawa!" ujar yang lain.


"Meski dibayarpun, kamu tak mau tinggal di bumi yang buruk ini!" kata Alan pedas.


Anggota tim yang wanita bersiap untuk membuat makan malam. Mereka tak mempedulikan keributan di sekitarnya. Sesekali Widuri melemparkan seiris daging pada Cloudy yang berbaring malas.


"Apakah itu kucing, seperti yang di buku?" tanya salah seorang penjaga.


"Apa kalian tak pernah melihat kucing?" tanya Michael heran.


Para penjaga itu menggeleng.


"Bumi Satu hanya mengirimkan binatang ternak. Itupun dalam jumlah terbatas. Karena di Bumi Satu, jumlah mereka juga berkurang. Jadi, para ilmuwan dan peternak memelihara dan mengembang biakkan mereka untuk kita untuk konsumsi."


"Oh ... ya, ini jenis kucing. Tapi bukan kucing rumah yang imut dan lucu. Cloudy jenis kucing besar yang ganas. Jika dia diganggu, dia bisa melukai bahkan memakanmu!" jelas Michael bangga.


"Iya kan, Cloudy?"


Michael mengelus-elus leher dan kepala Cloudy. Macan abu-abu ibu mengaum manja menunjukkan gigi-giginya yang besar dan runcing.


Para penjaga yang awalnya tertarik, jadi mundur menjauh. Mereka sedang membayangkan kucing besar buas itu menggigit dengan gigi-giginya yang runcing dan tajam itu.


"Menyeramkan. Bagaimana mereka bisa memelihara hewan buas seperti itu? Apa tidak takut berakhir jadi santapannya?" gumam seorang penjaga.


"Dengan kemampuan mereka, apa yang harus ditakutkan? Lihat 'kan tadi senjata itu dibengkokkan seperti jeli," bantah yang satu.


"Dan, jika benar mereka petualang dunia yang bisa selamat dari bencana besar, artinya mereka sangat kuat. Hingga mampu bertahan hingga usia ribuan tahun," timpal yang lainnya.


"Mereka menjelajah dunia dengan terbang. Ku pikir mereka mungkin mencari jalan pulang. Tapi seperti yang mereka katakan tadi, tak tau jika bumi kembar lima! Akhirnya tersesat di sini."


Keempat penjaga itu berbisik-bisik berdiskusi. Hingga harumnya aroma makanan mengalihkan perhatian. Mereka melihat Dean dan timnya yang asik mengobrol tanpa mempedulikan keempat penjaga yang kelaparan itu.


"Makan malam sudah siap. Ayo semua berkumpul," panggil Widuri.


Piring segera dibagikan. Bahkan Cloudy mendapat bagian. Tapi masih ada empat piring yang tersisa.


"Hei, apa kalian tidak lapar?" tanya Alan jahil.


"Itu jatah mereka, Alan. Bagikan!" Niken menyentil dahi Alan.


"Aduhh ... sakit tau!" protes Alan.


Tapi Niken cuma mencibir ke arah Alan. Dia menyodorkan piring pada seorang penjaga.


"Ini makanan kalian. Ambillah ...."


Para penjaga itu sangat senang. Mereka tak perlu menahan lapar sepanjang malam. Ternyata manusia Bumi Satu sangat baik. Meskipun memiliki kekuatan lebih, tapi tidak bersikap semena-mena.


******

__ADS_1


__ADS_2