PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 98. Pengobatan Felix


__ADS_3

Di teras samping kediaman tuan Felix, Robert dan anggota timnya sudah merasa bosan bersantai. Tapi Glenn dan dokter Chandra masih belum kembali dari memeriksa tuan rumah. Jadi mereka asik bercanda sendiri saja. Robert malah memejamkan matanya sambil bersandar di bangku kayu. Tempat ini indah, tapi membosankan. Karena mereka tak punya kegiatan. Kecuali Niken yang sudah asik dengan kertas dan pena.


"Tuan muda datang."


Teriakan pelayan terdengar dari pintu yang terbuka.


Robert membuka mata dan menoleh. Tampak Glenn diikuti dokter Chandra melangkah mencari tempat duduk kosong. Glenn mengangguk ke arah dokter Chandra.


"Ehem.." dokter Chandra berdehem sebelum lanjut bicara.


"Sepertinya hari ini aku tak bisa ikut dengan kalian jalan-jalan menikmati kota ini. Ayah Glenn tidak sehat, aku ingin memantau keadaannya sementara waktu."


Robert mengangguk mengerti.


"Apa kau bisa tinggal di sini untuk sementara Robert? Kau punya lebih banyak pengetahuan tentang herbal," tanya dokter Chandra.


"Hemmm, baiklah. Tak masalah. Akan ku bantu sebisanya," balas Robert.


"Boleh tau sakit apa?" tanya Silvia.


"Sebenarnya belum ada kesimpulan final. Jadi, apa kau bisa membantu?" tanya dokter Chandra pada Silvia.


"Waduh dok, saya ini baru mahasiswa kedokteran. Bukan dokter beneran." Silvia tertawa.


"Saya justru ingin belajar dari dokter." Silvia berkilah.


"Glenn bisa kita diskusikan dulu temuan saya? Robert dan Silvia mungkin bisa memberi masukan." saran dokter Chandra.


"Baik, kita bisa diskusi di ruang baca ayah," jawab Glenn.


"Randal.." panggil Glenn.


"Saya tuan muda," jawab Randal cepat.


"Kau bawa yang lain melihat situasi kota sebelum kembali ke kediamanku." Perintah Glenn.


"Ya tuan muda."


Randal berdiri dan bersiap di pintu. Glenn juga berdiri, diikuti semua orang.


"Maafkan saya tak bisa menemani kalian jalan-jalan. Randal akan menunjukkan keindahan kota kami. Selamat bersenang-senang."


Glenn menundukkan kepalanya sedikit. Robert mengangguk ke arah teman-temannya. Dan mereka memahami situasinya.


"Terima kasih untuk undangannya," Laras tersenyum dan mengangguk.


Mereka mengikuti Randal melangkah menuju pintu keluar.


Glenn mengajak Robert, dokter Chandra dan Silvia ke ruang baca tuan Felix.


Dokter Chandra menjelaskan situasi yang ditemukannya. Menunjukkan catatan itu pada Robert dan Silvia.


"Bagaimana pendapatmu Silvia?" tanya dokter Chandra.


"Hemm, kemungkinan ginjal, liver, lihat prostatnya tidak dok? Kemungkinan TB juga. Luka lama tak kunjung sembuh. Bisa jadi itu karena diabetes, atau infeksi?" Silvia membaca catatan rinci dokter Chandra.


Glenn terkejut mendengar istilah-istilah asing yang sangat banyak.


"Apakah penyakit ayah banyak?" tanyanya ingin tau.


Dokter Chandra mengangguk.


"Tak ada peralatan penunjang untuk menegakkan diagnosa yang tepat. Jadi kita harus melakukan pemantauan. Dugaan saya sama dengan Silvia. Ini sudah komplikasi."


"Jadi pengobatan yang mana dulu sebaiknya?" tanya dokter Chandra pada Silvia.


"Ginjal dan liver dulu mungkin dok?" jawab Silvia ragu.


"Sebaiknya begitu. Karena saya curiga ginjal yang kiri itu tidak cukup baik. Mudah-mudahan bisa dicoba dengan herbal."


"Jika tak bisa?" tanya Glenn cemas.

__ADS_1


"Di dunia kami, jika satu ginjal tidak dapat diobati sementara yang satu masih sehat, maka yang sakit harus diangkat dan dibuang. Karena ayahmu sudah merasakan nyeri sampai sini," dokter Chandra menunjukk pahanya.


"Pasti sakit banget itu.." Silvia bergidik.


"Diangkat dan dibuang? Apa maksudnya?" tanya Glenn panik.


"Dioperasi. Tubuh pasien dibedah, dibuka sedikit, bagian yang rusak dipotong, diangkat dan dibuang. Lalu bagian yang dibuka itu ditutup kembali, dijahit dan diobati." jawab dokter Chandra tanpa ragu.


Glenn membelalakkan mata dengan kening berkeringat. Wajahnya pias. Dokter Chandra menepuk lembut pundaknya.


"Tenang, operasi adalah langkah terakhir. Kita coba atasi dulu dengan obat herbal seperti yang biasa dilakukan tabib," dokter Chandra menenangkan Glenn yang mulai panik.


"Kau tau obat herbal apa untuk membersihkan ginjal dan liver?" Dokter Chandra mengalihkan pertanyaan pada Robert.


"Bayleaf. Daun salam. Bisa untuk kedua organ. Dibuat teh saja." jawab Robert yakin.


"Daun seledri juga bisa dok," timpal Silvia.


Dokter Chandra mengangguk.


"Tapi karena tubuh pasien sudah agak bengkak, maka asupan cairan harus dijaga.


"Untuk antisipasi diabetes, maka asupan gula juga harus dijaga. Bisakah kau buat rencana dietnya Silvia?" tanya dokter Chandra lagi.


"Baik dok," jawab Silvia cepat.


"Sekarang untuk TB nya. Apa kau tau herbal apa yang cocok Robert?" tanya dokter Chandra.


"Licorice," jawab Robert cepat.


"Kasih wedang jahe komplit aja dok," usul Silvia.


"Baik, mari kita lihat apakah semua bahan ini tersedia."


Dokter Chandra menoleh pada Glenn yang mematung mendengar diskusi ketiga orang itu.


Dokter Chandra mencatat bahan-bahan herbal untuk dimasukkan dalam diet yang harus disusun Silvia.


"Ini menu dietnya. Semua herbal yang kami ketahui, sudah dimasukkan dalam resep ini. Juga pantangan yang tak boleh dimakan atau diminum sembarangan."


Dokter Chandra menunjukkan catatan Silvia pada Glenn.


"Sebentar saya catat," kata Glenn.


Dokter Chandra membacakan catatan itu agar Glenn mudah menuliskan dengan huruf mereka.


Beberapa saat kemudian, hal itu selesai juga.


"Mari kita ke ruang obat untuk mengambil bahan-bahannya," ajak Glenn.


Keempat orang itu keluar dan melangkah menuju ruang obat. Beruntungnya mereka menemukan sebagian besar bahan yang dibutuhkan.


"Yang tidak ada ini, bagaimana?" tanya Glenn sedih.


"Mari kita cari di dapur," usul Silvia.


"Ya, mungkin yang tertinggal ini ada di dapur. Karena di dunia kami, ini adalah bumbu masakan." Dokter Chandra tersenyum.


"Benarkah?" Wajah Glenn kembali cerah penuh harapan. Beriringan mereka menuju tempat penyimpanan persediaan dapur. Seorang pelayan membantu mencarikan bahan-bahan yang diminta Glenn. Semua yang dibutuhkan tersedia lengkap sekarang.


"Kau bisa membuat satu contoh resep Silvia?" tanya dokter Chandra.


"Bisa dong," sahut Silvia cepat. Dia senang sekali bisa ikut serta dalam hal ini.


"Bisa menggunakan dapurmu sebentar?" tanya Silvia pada Glenn.


"Kita bisa merebus obat di ruang obat," kata Glenn.


"Obat ini, tidak berbentuk obat. Tapi dimasukkan dalam menu diet pasien," jawab Silvia.


"Kalau begitu, silahkan."

__ADS_1


Glenn yang tak mengerti kata diet, mengikuti saja. Dia ingin tau obat seperti apa yang dibuat di dapur.


Dibantu seorang pelayan yang sama bingung dengan tuan mudanya, Silvia mulai merebus ayam. Memasukkan semua bahan segar dan rempah-rempah yang dipilihnya.


Tak lama tercium bau harum semerbak memenuhi dapur. Glenn terpana melihat "Obat" yang diletakkan Silvia dalam mangkuk.


"Itu.... obat ayah?" tanya heran.


"Ya. Semua bahan obat sudah dicampur di dalam sup itu. Minum obat tak harus pahit. Dalam bentuk ini juga bagus. Lagi pula kita harus menakar jumlah air, garam dan gula yang masuk." Dokter Chandra menjelaskan dengan sabar.


"Mari kita antar pada ayah," Glenn merasa senang.


Bagaimanapun, dia tau bahwa ayahnya sudah mulai bosan meminum ramuan obat 3 kali sehari.


Mereka berempat melangkah menuju lantai 2. Seorang pelayan membantu membawa mangkuk tertutup itu dengan baki.


"Katakan obat ayah sudah siap." perintah Glenn pada pengawal di depan pintu.


"Tuan muda membawa obat," teriaknya ke arah dalam.


Kriettt.. Pintu terbuka.


Glenn melangkah masuk, diikuti dokter Chandra, Robert dan Silvia yang membawa baki. Glenn mengambil alih baki dan menyerahkan pada ibunya yang duduk di tepi tempat tidur.


"Makanlah selagi hangat ayah," desak Glenn.


Baki itu diletakkan di meja kecil di depan tuan Felix. Ibu Glenn membuka tutup mangkuk dan terkejut melihat isinya.


"Ini obat?" tanya tuan Felix ragu.


Glenn mengangguk. Lalu sambil menunggui ayahnya menghabiskan sup obatnya, Glenn menjelaskan apa-apa saja yang sudah tidak boleh dikonsumsi ayahnya agar sakitnya tidak makin parah.


Dokter Chandra mendekat. Ditunjukkannya pada Glenn kondisi tubuh ayahnya. Bengkak dan kuning samar-samar terlihat di mata Felix. Juga luka di punggung akibat perang terakhir yang tak kunjung sembuh.


"Robert, bisakah kulit willow digunakan untuk meredakan rasa nyerinya?" tanya dokter Chandra.


"Jika tak ada rencana operasi, itu bisa saja. Karena seperti juga aspirin, kulit willow bisa membuat darah lebih encer. Takutnya nanti pendarahan saat operadi dok." jawab Robert.


Dokter Chandra mengangguk.


"Kalau begitu, lebih baik jangan. Cukup yang sudah ada saja."


Tuan Felix menghabiskan sup itu. Bibirnya tersenyum lembut.


"Ini obat paling enak yang pernah ku nikmati. Siapa yang memasaknya?" tanya tuan Felix.


Glenn mengangguk pada Silvia.


"Saya yang membuatnya," jawab Silvia sambil menunduk.


"Terima kasih," tuan Felix mengangguk senang.


"Jadi menurut dokter saya sakit apa?" tanya tuan Felix pada dokter Chandra.


"Kesimpulan saya, anda punya masalah hati dan ginjal. Juga batuk tak kunjung sembuh yang kemungkinan itu tuberkulosis. Melihat luka di punggung yang tak juga bisa sembuh, ada kemungkinan juga diabetes. Tapi semua itu baru diagnosa awal. Tanpa peralatan yang memadai, hanya seperti ini kesimpulan saya saat ini."


"Bagaimana bisa luka di punggung berubah jadi berbagai penyakit?" tanyanya heran.


Doktet Chandra menjelaskan semuanya secara runtut. Tuan Felix, istrinya juga Glenn jadi memahami kenapa penyakitnya jadi berkembang.


"Baiklah, Obat sudah diberikan. Selanjutnya kami akan memantau perkembangannya." Dokter Chandra merasa tugasnya hari itu sudah selesai.


"Ayah beristirahatlah. Kami keluar dulu."


Glenn menunduk diikuti yang lain. Mereka keluar. Glenn membawa ketiga tamunya ke sayap bangunan kiri. Menyusuri lorong panjang kediaman itu.


"Kalian bisa istirahat di sini."


Glenn menunjukkan 2 kamar tamu untuk Silvia, Robert dan dokter Chandra.


"Terima kasih," Silvia mengangguk dan masuk kamar. Dia sangat lelah dan butuh istirahat.

__ADS_1


***


__ADS_2