PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 417. Cahaya Biru Keemasan


__ADS_3

Setiap satu jam, Dokter Chandra memeriksa Widuri. Dia merasa terheran-heran dengan perkembangan pesat bayi dalam kandungan Widuri.


Entah karena firasat atau apa. Saat ke Jakarta, istrinya mendesak Dokter Chandra untuk membeli beberapa peralatan medis yang bisa digunakan saat darurat. Termasuk tabung oksigen yang kini telah berdiri di belakang tempat tidur Widuri. Selangnya terhubung ke hidung Widuri, untuk memberinya bantuan.


Selain semua alat-alat yang baru pertama dilihat, stetoskop yang terus bergantung di leher Dokter Chandra, telah menarik perhatian para pelayan klinik yang bolak-balik masuk ruangan untuk mempersiapkan persalinan darurat.


Mereka lebih heran lagi melihat alat itu diletakkan di telinga dan dada Widuri. Sesekali juga ditempatkan di perutnya yang membuncit itu. "Apakah itu alat mereka untuk mendengar bayi?" bisik para pelayan klinik yang penasaran itu.


"Kalian sudah selesai?" tegur Tabib Tua yang tiba-tiba muncul.


"Belum, Tabib!" Dua pelayan wanita itu segera melanjutkan pekerjaan menyusun peralatan yang tadi mereka rebus dengan air mendidih.


"Jika sudah selesai, bawa kain-kain dan alas, serta mangkuk untuk di bawah sana!" perintah Tabib.


"Baik!" Seorang pelayan, merapikan lagi meja alat, dan menutup semuanya dengan kain bersih. Kemudian keduanya keluar ruangan.


"Bagaimana pendapat Anda tentang kehamilannya?" tanya tabib.


"Aku tidak tau apa pemicu kehamilannya berlangsung cepat. Seharusnya tiga bulan lagi. Tapi sekarang, kita tinggal menunggu jam!" gerutu Dokter Chandra.


"Perubahan fisik yang begitu cepat, pasti menyakiti Widuri. Perutnya meregang kencang sekali. Menunjukkan dorongan kuat dari dalam, sementara tubuh ibunya tak memiliki kemampuan seperti itu!" Tabib menunjuk kulit perut Widuri.


"Yabie, bisakah kau membantu meringankan sedikit rasa sakit bibimu?" panggil Dokter Chandra lewat teleportasi.


"Aku datang!" sahutnya.


Satu menit berikutnya, Yabie masuk ruangan. Dokter Chandra menjelaskan kondisi Widuri. Menunjukkan betapa bahayanya perut Widuri sekarang. Dan karena tak bisa berbicara, Widuri tak bisa mengatakan rasa sakit yang dialaminya.


Yabie mengerti. Dia harus membantu Widuri meredakan rasa sakit, dan membuatnya rileks, agar tubuhnya bisa menyesuaikan dengan kecepatan pertumbuhan bayi dalam perutnya.


"Bibi, ini Yabie. Bisa mendengarku? Aku akan membantu mengurangi rasa sakitmu. Bibi harus tenang dan rileks, Atau itu akan bahaya bagi sepupuku!" bisik Yabie di telinga Widuri.


Setelah lima menit bantuan Yabie, Dokter Chandra memeriksa Widuri kembali kembali. Dia sedikit lega. Debaran jantung Widuri mulai teratur sekarang. Bola mata yang sebelumnya bergerak-gerak di bawah kelopak mata tertutup rapat itu, sekarang sudah tenang.


"Bagus. Lanjutkan!" ujar Dokter Chandra.


"Kurasa aku tahu apa yang terjadi!" Marianne tiba-tiba muncul. Dia melangkah cepat ke arah bed Widuri. "Bagaimana keadaannya?"


"Kami sedang menunggu waktunya persalinan!" sahut Dokter Chandra.


"Melahirkan?" Marianne terkejut.

__ADS_1


"Sayangnya kita tak ounya USG utk melihat apa yang terjadi pada bayinya, hingga bisa begitu," keluh Dokter Chandra.


"Biar kupanggil Kang. Matanya bisa melihat menembus penghalang!" Marianne tak menunggu persetujuan lagi. Dia langsung terbang dan melesat keluar ruangan.


"Ya Tuhan, aku melupakan Kang!" sesal Dokter Chandra. Dia makin gelisah. Langit di luar sudah pekat.


Kemudian tiba juga Yoshi dan suaminya. "Bagaimana Bibi?" tanyanya begitu masuk ruangan.


"Masih belum sadarkan diri!" jawab Dokter Chandra.


Yoshi melangkah ke tempat tidur. Di sana, Yabie tetap setia mendukung Widuri, untuk meredakan rasa sakitnya.


"Biar kugantikan!" kata Yoshi.


"Tidak! Kakak sedang hamil!" tolak Yabie.


"Aku tidak apa-apa. Kau kelelahan. Beristirahatlah sebentar!" desak Yoshi.


"Jangan!" larang Dokter Chandra.


"Ada yang aneh dengan kehamilannya. Dan kau juga sedang hamil. Aku tak ingin melihat satu lagi wanita hamil, pingsan di sini!" katanya tegas.


Yoshi akhirnya mengalah. Dia duduk di kursi dekat pintu masuk.


"Bagaimana Widuri?"


Dean sudah berdiri di depan pintu ruangan dengan wajah panik. Dia menyerbu masuk, setelah melihat tabung oksigen besar, berdiri di belakang tempat tidur istrinya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya cemas.


Ditatapnya Yabie yang menunduk dan sedang membantu meredakan rasa sakit Widuri. Dilihatnya juga tiga meja berderet, ditutupi kain putih. Dean bisa menduga, akan terjadi hal besar pada istrinya.


"Kami sedang menunggu sedikit lagi, waktu pertumbuhan bayimu. Setelah itu, kami akan mengoperasinya, agar lahir ke dunia!" terang Dokter Chandra.


Dean meletakkan kedua telapak tangannya di dahi. "Apa salah Widuri, hingga jadi begini?" gumannya sambil menahan tangis. Dean melangkah ke sisi kepala Widuri. Menumpu lututnya di lantai dan berjongkok setentang telinga istrinya.


"Sayang, aku kembali. Maafkan aku yang lemah dan tidak berada di sisimu tadi. Apa kau bisa mendengarku?" bisik Dean dengan suara serak. Bulir airmatanya telah jatuh di pipi istrinya yang terbaring diam.


"Apa kau bisa berjanji tidak akan meninggalkanku?" Aku merindukanmu...." Dean membuang muka dan menyeka wajahnya yang basah.


"Sayang, aku hanya membutuhkanmu. Jika bajingan kecil itu menyakitimu, lebih baik dia tidak usah hidup saja. Aku cuma ingin kau selamat. Jangan biarkan dia menyakitimu. Lawan!" kata Dean tegas.

__ADS_1


"Kau dengar aku? Kita tak boleh punya anak yang bahkan tega menyakiti ibunya sendiri. Lawan dia! Kau ibunya. Dia yang harus patuh padamu!" bisik Dean tegas.


"Jika dia ingin hidup saat lahir di dunia, maka dia harus berhenti menyakitimu. Atau aku tak segan membunuhnya, begitu dia lahir!" ancam Dean.


Semua yang mendengar jadi terkejut dan melihat Dean dengan cara yang aneh.


Yoshi ikut mendekat. Didekatinya telinga Widuri yang sebelah lagi. "Iya, Bibi. Bibi harus memberinya pelajaran sejak dia belum lahir. Hukum dia. Jangan biarkan dia menyakitimu. Aku cuma ingin bibiku selamat. Aku tidak butuh sepupu yang jahat!" timpal Yoshi.


Dokter Chandra tersenyum. "Sungguh keluarga yang aneh," pikirnya.


Dokter Chandra memeriksa kandungan Widuri lagi. Dia bisa merasakan tendangan-tendangan di kulit perut Widuri. "Bayinya sangat aktif. Entah apakah bayi itu merespon kata-kata Dean dan Yoshi, atau memang bergerak secara alami.


"Aku membawa Kang!" Marianne menerobos masuk ke kamar, sambil memegang tangan Kang. Marianne tak membiarkannya menggunakan wujud naga, setelah mencapai perbatasan desa.


"Ada apa?" tanya Kang.


"Dia menggedor pintu rumah dan menculik kami berdua. Dia hanya bilang lihat Widuri!" protes Kang.


"Sesuatu terjadi pada Widuri. Kami tak tau apa penyebabnya. Tapi kandungannya berubah seperti ini. Dan dia sudah hampir melahirkan sekarang!" jelas Dokter Chandra.


"Itu karena cahaya biru keemasan yang keluar dari balik batu yang kian gali! Robert telah menceritakan seluruh kejadian. Itu tak mungkin salah!" Marianne sangat yakin dengan kesimpulannya.


"Cahaya biru keemasan apa maksudmu?" tanya Dokter Chandra bingung.


"Mereka menggali dinding bukit, untuk mendapatkan batu gilingan untuk gabah. Tapi sebuah cahaya biru keemasan, terbang keluar dari balik dinding batu. Tak lama, terdengar jeritan Niken!"


Marianne menjelaskan apa yang diceritakan Robert, Sunil dan Indra sebelumnya. Itulah yang membuatnya langsung menyusul ke Kota Pelabuhan.


"Kang, bisakah kau melihat sesuatu pada bayi Widuri?" pinta Dokter Chandra.


"Tadi aku memeriksanya dengan cahayaku, tapi ditolak. Aku tak bisa lagi mengetahui apa yang terjadi," tambahnya pula.


"Akan kucoba!" sahut Kang.


Kang melihat perut Widuri. Matanya yang tajam, menyipit. Kemudian alisnya bertaut dan keheranan.


"Yang dikatakan Marianne benar. Ada cahaya biru keemasan bergulung-gulung di perut bayi itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu!" kata Kang terus terang.


"Mungkin perlu ditanyakan pada Kakek, yang pengalaman hidupnya jauh lebih banyak?" katanya terus terang.


*******

__ADS_1


__ADS_2