PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 121. Penyelidikan


__ADS_3

Saat makan malam, semua sangat antusias mendengar cerita Sunil dan Dean yang bertemu tuan ketua kota.


"Tak disangka, kau bertemu keponakanmu di dunia ini Dean," kata Michael.


Dean mengangguk. Ditolehnya Widuri. "Apa besok kalian ingin ke pasar lagi?"


"Tidak. Besok kami mau membuat kendi-kendi untuk wadah jus anggur dan juga selai blueberry." Widuri melirik Nastiti.


"Ya. Besok kita buat kendi dari tanah liat dulu. Kita sudah membeli cukup gula tadi siang. Setelah jadi baru kita jual ke pasar." Nastiti memastikan rencana mereka.


Dean mengangguk. " Baiklah."


"Besok apa rencana kalian?" tanya Michael pada Sunil.


"Belum ada rencana. Mungkin membantu mereka berdua menyiapkan tanah liat yang bagus dan tempat pembakarannya." Kata Sunil.


"Kalau begitu, besok kita latihan lagi ya Dean?" tanya Michael penuh harap.


"Mungkin besok ada yang ingin ku kerjakan," jawab Dean.


"Baiklah, mari kita beristirahat lebih cepat malam ini. Besok pekerjaan berat sudah menanti."


Nastiti mengumpulkan piring-piring kotor. Widuri membantu membereskan meja. Marianne mencoba berdiri untuk ikut membantu kedua wanita itu. Dia berjalan dengan perlahan dan hati-hati.


"Kau sudah tak menggunakan tongkatmu Marianne?" Mata Dean mengerjap tak percaya.


"Yah, sudah sejak siang tadi aku belajar berjalan tanpa tongkat." Marianne tersenyum.


"Ini kemajuan yang pesat." Sunil sangat gembira.


"Tapi harus tetap hati-hati." Michael mengingatkan.


"Ya, akan ku ingat. Terima kasih karena kau sudah menjagaku selama ini." Ucap Marianne tulus.


Michael menggeleng. "Kita satu tim. Tentu harus saling menjaga."


"Alan, kita berjaga lebih dulu saja," kata Dean.


"Siap!" Alan menjawab cepat.


*


Saat para wanita menyibukkan diri membuat sarapan, Dean dan Alan sedang menggali tanah yang menurut mereka cocok untuk dibuat gerabah. Mereka mencampur dengan air dan mengaduknya hingga cukup lembut. Lalu tanah liat yang sudah diolah itu ditumpuk di halaman depan pelataran.


"Ku kira ini cukup untuk membuat sekitar 10 kendi ukuran sedang," gumam Dean.


"Hahaha..."


Alan tertawa mendengarnya.


"Menurutku, ini sama banyaknya dengan satu truk batu bata."


"Ya sudah. Sana pergi mandi. Ingat rencana kita tadi malam," kata Dean.


"Oke, aku pergi mandi. Jangan lupa isi air kamar mandi. Kau sudah menghabiskan banyak air untuk mengaduk tanah liat itu." Kata Alan.


Dean melayang perlahan ke atas pepohonan, lalu terbang cepat ke laut. Tak lama dia tampak mengisi tempat penyimpanan air di atas kamar mandi.


Sunil dan Michael belum bangun saat anggota tim lain sarapan. Mereka baru tidur setelah langit terang di ufuk timur.

__ADS_1


"Kalian mau kemana?" tanya Widuri.


Dean dan Alan bingung harus menjawab apa. Mereka merencanakan ini berdua saja tadi malam. Tepatnya ini rencana Dean dan Alan diharap dapat membantu.


"Aku mau ke kediaman tuan kota sebentar. Ada yang ingin ku tanya." Dean menjawab cepat.


"Oke. Berhati-hatilah," pesan Widuri.


Dia merasa Dean merahasiakan sesuatu sejak gadis Yoshi itu datang. Tapi Widuri tak ingin mendesak. Biarkan Dean bercerita sendiri jika dia mau.


Dean dan Alan mengangguk. Lalu keduanya melayang ke atas dan melesat cepat. Menghilang dari pandangan Widuri dalam sekejap.


"Baiklah, bahannya sudah disiapkan. Mari kita bermain lumpur," Nastiti tertawa ceria.


***


Dean dan Alan berhenti terbang setelah area pondok mereka tak lagi terlihat. Dean mengambil jalan memutar untuk melihat lokasi dimana Bi menghilang.


"Apakah itu Dean?"


Setelah cukup lama memeriksa, akhirnya mereka menemukan sesuatu. Keduanya turun perlahan menuju area yang sedikit lega. tak ada pepohonan di area seluas kurang lebih 100 meter persegi.


"Tapi aku tak melihat kubah seperti yang dikatakan tuan kota," kata Dean ragu.


"Yah, itu hanya tanah kosong tanpa satupun tanaman." Alan menyahuti.


"Baiknya kita periksa bagian lain hutan ini lebih dulu. Jika tak ada keanehan lain, kita bisa kembali untuk memeriksa tempat ini." Dean memutuskan.


"Ayo,"


Alan mendahului terbang sambil matanya dibuka lebar untuk melihat sedikit petunjuk. Dean menyusulnya. Keduanya terus bergetak hingga sangat jauh dari lokasi pondok mereka.


"Lihat Dean. Di sana tempat tinggal kita."


Alan menunjuk titik kecil berkilau pada dinding tebing. Dean memperhatikan dan setuju dengan Alan.


"Kau benar. Ini sudah sangat jauh. Tapi kita bahkan tak melihat petunjuk apapun yang mirip kubah transparan." Dean membenarkan.


"Menurutku, tak mungkin lokasinya sampai sejauh ini." Kata Alan.


"Tapi makin ke sini, hutannya makin lebat dan pohonnya besar-besar." Dean juga kebingunan. Minim petunjuk, jadi sulit untuk mencari lokasinya.


"Mari kita lanjutkan pemeriksaannya. dulu," ajak Dean.


Keduanya kembali memeriksa. Jauh dan semakin jauh dari pondok.


"Tak ada apapun. Kita kembali dulu saja dan memeriksa area kosong itu lebih dulu." Dean membuat keputusan.


"Baiklah. Ayo kembali." Alan mengikuti di belakang Dean.


"Apa kau mau langsung turun untuk memeriksa?" tanya Alan setelah keduanya berada tepat di atas lahan kosong itu.


Dean tak langsung menjawab. Dia terbang menuju sebatang pohon. Lalu dipatahkannya sedikit ranting pohon itu.


Dean berdiri di pinggir area kosong. Alan berdiri di sisinya. Dilemparkannya ranting pohon tadi ke arah lahan kosong.


"Trakk.. zzztttt... trakkk..


Terdengar bunyi gesekan dan kilatan saat ranting itu mengenai sesuatu. Akhirnya terlihatlah cahaya yang membentuk kubah transparan di lahan kosong itu.

__ADS_1


"Wahh, ternyata di sini. Kubah itu berkamuflase dengan baik. Jika bukan karena dilempari ranting, kita mungkin akan terjebak masuk dan tak bisa keluar lagi." Kata Alan.


Dean memperhatikan ke dalam kubah. Matanya mencari-cari sesuatu. Dia tak menemukan apapun. Tempat itu benar-benar terlihat kosong dari luar.


Mata Dean terlihat sedih. Bagaimanapun, kejadian itu telah lama berlalu. Dirinya, O dan Z saja sudah tewas. Bagaimana Bi bisa bertahan jika bertarung dengan monster dengan setengah kekuatannya.


"Dean, mungkinkah ini juga dunia lain? Perlukah kita masuk ke sana?" tanya Alan tak yakin.


"Meskipun itu dunia lain, Lebih baik tak membawa masuk mereka yang tak punya kekuatan lebih. Sangat berbahaya." Dean tak setuju.


"Kau benar. Bahkan Duke saat itu terluka parah bukan?" Alan membantah idenya sendiri.


"Tentang itu, aku sedikit meragukannya." Dean berpikir serius.


"Jika ini adalah dunia lain dimana yang masuk tak bisa keluar, lalu bagaimana Duke itu bisa ada di luar?" Dean berpikir keras.


"Mungkinkah dia diselamatkan Bi dan dilempar keluar?"


"Hemm, mungkin saja. Tapi ketua kota dan 3 orang lainnya tak ada yang melihat apapun keluar dari tempat itu." Dean menunjuk ke kubah yang kembali tenang dan hampir tak terlihat lagi.


"Kau teliti sekali," puji Alan.


"Tak ada yang bisa kita lakukan di sini. Aku akan mengelilingi tempat ini dulu sebelum kembali."


Dean segera terbang menjauh sebelum Alan sempat bereaksi. Alan menyusulnya dan mengitari tepi kubah itu serta memperhatikan dengan teliti keadaan di dalamnya.


"Dean, kau lihat itu?"


Alan menunjuk sesuatu yang bergerak di bawah sana. Dean mengamati dengan seksama.


"Itu tampak seperti manusia bukan?" tanya Dean.


"Mungkinkah itu makhluk yang mengintip pondok kita waktu itu?" Alan berspekulasi.


Dean dan Alan terbang rendah dan perlahan. Mereka ingin memastikan makhluk apa itu, tanpa mengejutkannya.


"Seperti seorang pria Dean. Tapi kenapa dia tak mengenakan pakaian?" Alan mengamati dengan perasaan heran.


"Astaga!"


Dean dan Alan sangat terkejut melihat makhluk itu menembus batas kubah transparan tanpa menimbulkan reaksi sama sekali.


"Bagaimana dia bisa masuk ke situ? Apakah di situ ada pintu?" Dean sangat penasaran.


"Dean, mungkin dia monster pembunuh itu. Jika ini kediamannya, maka tak heran jika dia bisa keluar masuk." Alan mencegah Dean yang sepertinya sangat ingin ikut masuk.


Keduanya turun semakin rendah dan mengamati tempat dimana makhluk itu menembus dinding.


"Tak terlihat apapun di sini." Dean terus memeriksa.


"Dia juga tak terlihat di dalam. Mungkin dinding ini bukan transparan Dean." Alan mengerutkan keningnya.


"Menurutku juga begitu. Apa yang kita lihat dari luar, bukan cerminan keadaan di dalam sana. Dinding ini adalah jebakan sempurna untuk manusia serta binatang. Makhluk apapun yang masuk, tak kan bisa keluar lagi. Jika itu hewan buruan, maka akan jadi sumber makanan pemiliknya."


"Ckckckkk.. Pemiliknya adalah makhluk cerdas." Alan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Cukup untuk hari ini. Kita kembali dan bicarakan ini dengan yang lainnya." Dean berhenti memeriksa.


Keduanya melayang naik lalu terbang kembali ke pondok.

__ADS_1


*****


__ADS_2