PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 165. Medan Pertempuran


__ADS_3

Pagi hari.


Setelah sarapan, Dean, Alan dan Michael bersama-sama membuka lahan untuk menanam gandum dan sayuran.


Dean menebang beberapa pohon besar. Alan membantu memindahkannya. Dean mengeluarkan gergaji, kapak dan golok besar.


"Michael kau bisa bantu dengan memotong dahan-dahan dan ranting. Biarkan batang kayunya memanjang. Itu akan berguna nanti."


"Kalian membeli semua alat ini di kota?" tanya Michael.


"Tidak. Kami membuatnya sendiri saat di gunung batu." Alan menjawab.


"Bagaimana bisa?" Michael keheranan.


"Bisalah. Sunil dan Nastiti sangat ahli mengolah bijih besi menjadi berbagai alat." Kata Alan bangga.


"Di sana ada bijih besi?" Michael berkata sendiri.


"Ada." Alan meyakinkannya lagi.


"Pantas saja." Michael memperhatikan gergaji di tangannya.


"Ayo kerja."


Alan sudah mulai memotong beberapa bagian dahan dan ranting. Michael segera membantu. Sementara Dean sudah mulai membongkar dan membalik tanah dengan garuk yang tadi malam dibuatnya.


"Alan, cara Dean membalik dan membersihkan gulma terlihat profesional, seperti petani betulan." Puji Michael.


"Itu A. Dia memang bertugas di tanah pertanian. Jadi dia memang profesional di bidang itu. Dia sangat tau apa yang harus dilakukan untuk membuka lahan pertanian." Alan menjawab sambil terus bekerja.


"Hei, kau jangan bengong begitu. Ayo bantu. Kita bekerjasama sesuai porsi dan kemampuan masing-masing." Ujar Alan.


"Oke. Semangat.." Michael kembali sibuk menggergaji dan membersihkan dahan dan ranting.


Menjelang siang, masih ada satu batang pohon lagi yang belum selesai. Tapi Widuri, Nastiti dan Niken sudah menyiapkan juice blueberry dan penganan kecil untuk pengisi perut mereka yang lapar.


Hingga sore mereka berkutat mengolah lahan baru itu. Tempat itu mulai terlihat rapi. Widuri puas melihatnya.


"Yang ini luas sekali. Apa kau rencanakan untuk menanam gandum?" Tanya Widuri pada Dean.


"Ya. Yang ini untuk gandum. Apa bibitmu cukup untuk menanami semuanya?" tanya Dean.


"Tidak tau. Kita coba saja. Jika bibitnya tak seberapa, sisanya kita tanami dengan ubi juga bisa kan." Jawab Widuri.


"Lalu bagian sayuran di mana?" Tanya Nastiti.


"Rencanaku, nanti di sisi ini. Dekat pintu masuk." Dean menunjukkan lokasinya.


"Bagaimana dengan pagarnya? Apakah aman jika kebun kita ada di luar pagar?" Tanya Nastiti heran.


"Setelah semua selesai, kita geser pagarnya menutupi seluruh lahan pertanian kita." Dean sudah memikirkannya.


"Baiklah. Terserah kau saja. Jadu kapan kita bisa mulai menebar benih?" Tanya Nastiti lagi.


"Sore ini aku dan Alan akan menyirami tanah ini. Biarkan dia lembab semalaman. Kalian bisa merendam bibit nanti malam, lalu ditaburi di sana besok pagi." Jelas Dean.


"Oke." Widuri dan Nastiti menjawab serempak. Keduanya percaya bahwa para pria itu akan membereskan kendala agar mereka bisa mudah untuk mulai berkebun.


"Aku jadi ingat Dewi. Jam segini dia sudah memerah susu domba sambil menyuruh kita bergegas mandi." Widuri tersenyum mengingat kenangan manis yang dilaluinya bersama Dewi.

__ADS_1


"Aku merindukannya." Nastiti memeluk Widuri. Keduanya terhanyut pada kenangan.


"Paman, bibi.." Suara Yoshi terdengar. Widuri menoleh ke asal suara.


"Aku membawa orang yang katanya mengenal paman dan bibi." Yoshi menurunkan seorang pria perlahan.


"Indraaaa!"


Tiba-tiba Niken lari dari pelataran dan memeluk Indra. Keduanya berpelukan bahagia.


"Syukurlah kau selamat. Syukurlah." Niken terus menangis di pelukan Indra.


"Aku baik-baik saja. Jangan menangis lagi." bujuk Indra.


"Aku lega karena kau bersama mereka." Indra mengusap-usap punggung Niken, menenangkannya.


"Jadi, kau yang diselamatkan para nelayan?" tanya dokter Chandra.


"Iya. Mereka yang menyelamatkanku. Lalu membawaku ke tabib. Dari situ aku bertemu dengannya." Indra menunjuk Yoshi.


"Oh, baguslah. Dia putri ketua kota ini," dokter Chandra menjelaskan.


"Hai Indra." Nastiti dan Widuri menghampiri.


"Benar-benar tim Dean. Lalu dimana dia sekarang?"


"Mereka sedang membenahi lahan. Kami berencana sedikit berkebun untuk hidup," Jawab Nastiti.


"Wah, hebat sekali. Aku bisa membantu." Indra menawarkan tenaganya.


"Bagus. Semua anggota tim harus berkontribusi." Widuri mengacungkan jempolnya.


"Bukankah tadi dibilang Dean sedang mengolah lahan di sana? Dia langsung terbang menyusulnya."


Dokter Chandra menunjuk, " Lihat."


Sambil berceloteh, Yoshi berjalan masuk pagar. Menggandeng lengan Dean dengan manja. Alan dan Michael mengikuti dari belakang. Indra dan Niken melihat pemandangan itu tak berkedip.


"Lihat paman. Bukankah dia temanmu." Yoshi menunjuk Indra.


"Syukur kau selamat dan kita bisa berkumpul lagi." Ujar Dean hangat. Indra membalas pelukan Dean tak kalah hangat.


"Michael!" seru Indra saat melihat Michael.


Michael tersenyum.


"Marianne juga di sini." tunjuk Michael. Indra menatap keduanya tak percaya.


"Simpan dulu rasa penasaranmu itu. Biarkan mereka membersihkan tubuh lebih dulu."


Dokter Chandra membawa Indra duduk di bangku. Mereka bercerita beberapa hal ringan.


Tim Dean lega karena seorang lagi teman telah ditemukan. Semoga yang lain segera bertemu juga.


******


Dua hari kemudian.


Laras menunjukkan dinding cahaya yang dilihatnya di tepi pantai pada Liam.

__ADS_1


"Ini. Perhatikan, biar ku tunjukkan."


Laras mengambil segenggam pasir dan kerikil. Lalu melemparkannya ke arah dinding cahaya yang dilihatnya. Dinding sebelumnya transparan dan tak terlihat itu, menampilkan bentuk aslinya saat disentuh sesuatu.


"Woaa.. kau benar." Ujar Liam terkejut.


"Jadi, arah mana yang mau kita pilih? Yang ini atau yang dilalui Robert?" Tanya Laras.


"Yang ini saja. Kalau mengikuti Robert kakiku masih sulit untuk dipakai memanjat tebing." Kata Liam.


"Oke. Sekarang kita cari ikan dulu untuk persiapan kita di perjalanan nanti." Usul Laras.


"Ide bagus. Ayo kita cari ikan dulu."


Liam dan Laras mencari ikan dengan semangat. Siang itu mereka membakar semua ikan yang di dapat. Beberapa ikan dipisahkan untuk bekal perjalanan. Selebihnya mereka nikmati.


"Ayo kita jalan. Mumpung belum malam." Ajak Liam.


"Ayo."


Laras bangkit dari duduk dan mengikuti Liam yang berdiri di depan dinding cahaya.


Keduanya berpegangan tangan saat melangkah melewati dinding cahaya itu. Segera Laras terpukau dengan apa yang dilihatnya kemudian.


"Apakah itu kembang api? Woaa.. banyak sekali kembang api beterbangan." Tunjuk Laras ke arah langit yang gelap.


Liam ikut melihat ke atas. Dia terkejut dan punya firasat tak enak. Diikutinya arah kembang-kembang api yang dimaksud Laras. Ketika benda terang itu jatuh, langsung membuat kebakaran. Terdengar suara orang-orang menjerit.


"Sial! Ini medan perang. Itu panah api, bukan kembang api. Merunduk." Liam menarik tubuh Laras agar telungkup di tanah.


"Apa maksudmu medan perang?" tanya Laras tak mengerti.


"Lihat ke atas. Satu pihak di sana, satu lagi di situ. tadi yang sana sudah melepas panah api, sebentar lagi yang di situ akan membalas." Liam menjelaskan.


"Tapi yang paling bahaya adalah... kita berada di tengah-tengah medan pertempuran." Gumam Liam ngeri.


Kenapa bahaya?" Laras masih saja cerewet.


"Karena saat anak panah mereka habis, maka mereka akan maju. Lalu berperang face to face menggunakan pedang. Apa kau sudah bisa bayangkan posisi kita saat ini?" Liam menjelaskan dengan tak sabar.


"Kenapa kita bisa keluar di tengah medan pertempuran ya?" Laras kebingungan.


"Ayo, kita harus menyingkir diam-diam." Liam menarik lengan Laras.


"Kenapa? Kemana?" Laras bingung maksimal.


"Ayo.."


Liam merayap pelan-pelan agar gerakannya tidak diketahui kedua pihak yang sedang saling serang. Ditariknya tangan Laras agar tak terpisah.


"Syyuuuutttt...!


"Aaahhh" Laras menutup wajahnya ketakutan.


Sebuah anak panah berhenti tepat di tanah, di depan mata Liam. Membuat keduanya pucat pasi dan berhenti merayap di tanah.


"Habislah.. kita ketahuan. Ketahuan.." Laras mengoceh tak karuan. Liam terus memeluk punggung Laras, menjaga agar tidak terkena peluru nyasar dari arah manapun.


*****

__ADS_1


__ADS_2