PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 354. Doppelganger atau Artificial Inteligent?


__ADS_3

Hari itu, langsung dilakukan pemeriksaan CT scan pada kepala Dean, Robert dan dokter Chandra. Satu harian dokter Ian memelototi gambar pada layar komputernya. Dia tak menemukan ada cedera pada otak tiga pasien baru itu. Lalu bagaimana mereka bisa melupakan hal-hal yang baru saja terjadi?


Kehilangan memori jangka pendek. Itu yang tertulis dalam buku. Itu bisa disebabkan banyak hal, termasuk trauma bahkan obat tidur.


Dokter Ian tersentak. berapa besar dosis obat bius yang disemprotkan oleh dua penjemput itu? Wajahnya memerah menahan marah.


Dicatatnya semua temuannya itu dalam laporan untuk kolonel.


*


*


Selepas makan malam, kolonel memanggil dua penjemput dan menanyai keduanya, berdasarkan laporan dokter Ian.


Dua orang itu tentu saja jadi terkejut. Mereka tak melakukan kesalahan prosedur sama sekali. Bahkan tak menyakiti orang-orang itu. Bagaimana bisa ketiganya sekarang kehilangan ingatan?


Salah seorang dari mereka, kembali ke tempat pengambilan obat bius semprot di farmasi. Petugas farmasi dibawa serta, bersama berkas keluarnya obat.


Kolonel Jack Meyers memeriksa laporan farmasi. Dan menurut mereka, dosis itu adalah dosis ringan yang bisa ditoleransi oleh manusia, tanpa efek samping.


"Lalu bagaimana menjelaskan kondisi pasien itu yang sekarang mengalami kehilangan memori jangka pendek?"


Kolonel mengucapkan itu dengan keheranan. "Tak ada cedera yang terdeteksi pada CT scan. Bukan juga over dosis obat bius. Lalu apa?" ucapnya lagi.


Tiga orang di depannya saling pandang dengan ketar-ketir. Bila tak ditemukan jawabannya, maka salah satu dari mereka akan mendapatkan hukuman dari kolonel.


"Mungkin pasien memiliki penyakit lain, Kolonel?" cerus petugas farmasi.


"Kurasa asumsi itu yang paling mendekati. Tapi, apa mungkin mereka secara kebetulan memiliki penyakit yang sama?" ujar kolonel lagi.


Petugas farmasi itu terkesiap! Pendapatnya tadi jadi terkesan membela diri. Alangkah tidak mungkin tiga orang berbeda ras dan usia, memiliki penyakit yang sama persis dan kehilangan memori dalam semalam?


"Kolonel, kita belum tahu pulau apa yang mereka tempati selama kurun waktu yang mereka klaim. hidup seperti apa yang mereka jalani. Mungki saja mereka menderita penyakit bawaan dari sana!" ujar salah satu petugas penjemput tanpa berpikir. Yang seorang lagi, ikut mengangguk mendukung temannya.


"Lihatlah laporan pemeriksaan dokter Ian. Juga laporan dari pos. Mereka tak terlihat memiliki penyakit selama di sana. Dan tidak juga ditemukan penyakit berbahaya dalam pemeriksaan lab.

__ADS_1


"Aku ingat, ketika di helikopter. Saat pulau ini sudah terlihat, tiba-tiba pria tua itu berteriak tak mau ke sini. Dia bilang kita orang jahat. Dia tak mau ikut!" cerita petugas itu.


"Lalu, kalian memukulnya?" tanya kolonel Jack.


"Tidak! Salah seorang diantaranya justru memukul tanganku yang memegang jarum suntik. Pukulannya keras, hingga jarum suntik itu jatuh," jawab yang seorang lagi.


"Lalu?" tanya kolonel tak sabar.


"Seperti laporan yang kami tulis. Setelah itu mereka berteriak minta heli berhenti dan ingin turun di situ. Di tengah laut itu. Heli agak bergoyang karena perlawanan ketiganya. Pilot berteriak. Jadi, aku menyemprotkan obat bius dari udara." Pria itu membeberkan kejadian yang mereka alami di dalam helikopter.


Kolonel memejamkan matanya sejenak. Kepalanya mendadak pusing. "Ada apa ini?" pikirnya.


"Kolonel, yang ingin kukatakan adalah, mungkin saja mereka makhluk laut. Dan tak bisa jauh dari tempat asalnya. Itu sebabnya, saat melihat pulau ini, salah seorang dari mereka, berteriak ketakutan," sambung petugas itu.


"Kau ini, sedang membaca dongeng 'kah?" Kolonel mengetuk kepala petugas itu dengan pena yang sedang dipegangnya. Petugas itu meringis mengusap kepalanya.


"Penjelasan yang sama sekali tak masuk akal. Absurd!" celanya kesal.


"Kalian pergilah! Bikin kepalaku makin pusing saja!" usirnya.


Kolonel hanya bisa membuat laporan seadanya. Hingga tengah malam, laporan itu selesai. Langsung dikirimkan pada atasannya di Kantor Pusat Angkatan Laut. Selanjutnya terserah mereka akan membuat pengaturan seperti apa.


*


*


Sebulan berlalu.


Pemeriksaan dokter Ian dan pengamatan cctv tidak menunjukkan bahwa tiga orang pasien itu sedang berpura-pura. Sikap mereka konsisten.


Namun dokter Ian memiliki cara sendiri untuk mengorek informasi bawah sadar ketiga pasiennya.


Dia memberikan buku dan pena untuk ditulisi. Dengan alasan sebagai selingan dan menyalurkan hobby, jika mereka suka menulis.


Namun, dari ketiganya, hanya dua orang yang akhirnya menulisi buku itu. Dokter Chandra menulis setiap kegiatan hariannya selama di kurung.

__ADS_1


Kadang dia juga menulis tentang jurnal ilmiah yang pernah dibacanya. Tulisan jurnal itu begitu detail. Dan ketika dokter Ian mencari jurnal yang sama di internet, dia menjadi sangat terkejut. Tulisan dokter Chandra dan isi jurnal itu seperti sebuah foto copy. Persis sama!


Tapi Robert tak punya hobby menulis. Melalui pengamatan cctv, setiap kali dia membuka buku itu, dia hanya duduk diam tak bergerak beberapa waktu. Lalu menangis sesenggukan dan menutup lagi buku itu.


Dokter Ian tak tau apa yang sedang berkecamuk di pikiran Robert setiap kali melihat buku kosong. Tapi, dia seorang mantan tentara. Mungkin memang tak terbiasa duduk diam dan menulis di meja. Dokter akan memikirkan cara lain untuk Robert.


Yang menarik adalah tulisan Dean. Dia bisa menuliskan beberapa puisi dan cerpen dengan beragam tema. Hingga dokter Ian merasa, bahwa selain sebagai seorang General Manager di jaringan hotel terkemuka di Asia Tenggara, Dean juga seorang penulis. Atau ... setidaknya, dia hobby menulis di waktu senggang.


Dokter Ian mengusulkan pada kolonel, untuk mengijinkan tiga pasien khusus itu keluar dari kamar, dan berada di taman dalam, untuk melihat interaksi keduanya saat bertemu.


Kolonel setuju dengan ide itu. Dia tak menemukan cara lain lagi. Kantor pusat hanya mengatakan untuk terus mengamati ketiganya. Orang-orang dari pusat juga mengamati tiga orang yang sama, di luar sana. Jadi, hingga waktu yang belum ditentukan, maka tiga orang itu akan terus jadi tamu istimewa dan bahan observasi dokter Ian.


Kolonel tak terlalu menyukai observasi atau penelitian terhadap manusia. Tugas mereka di pulau itu adalah meneliti tentang kelautan. Dokter Ian seharusnya hanyalah dokter klinik untuk merawat para pekerja di tempat itu. Jadi kolonel memberi peringatan keras, agar dokter Ian tidak lancang menggunakan obat-obatan untuk tiga orang yang terlihat sangat sehat dan bugar.


Dokter Ian menyetujui persyaratan itu. Dia hanya merasa tertarik untuk meneliti tiga orang di klinik itu. Hanya saja, jika dia ingin mempublikasikan hasil risetnya, maka dia harus punya perbandingan dengan tiga orang lain yang persis sama, yang berada di luar sana.


Dokter Ian mengatakan pada kolonel tentang ide Doppelganger. Bahwa sebenarnya ada orang yang serupa dan persis sama dengan kita, di dunia lain.


"Apa kau mau bilang bahwa mereka berasal dari dunia lain?" Kolonel melotot mendengar ide gila itu.


"Aku hanya mengatakan teori-teori yang beredar di kalangan ilmuwan. Betapa beruntungnya aku punya bahan penelitian seperti ini.


"Hah! Tak ada yang bisa membuktikan bahwa mereka berasal dari dunia lain!" Kolonel menepis dugaan itu. "Dan Nasa bahkan belum menemukan kehidupan setara manusia di angkasa sana. Ingat itu!"


"Lalu, apa lagi penjelasannya? Apa Anda mau bilang bahwa ada sindikat tertentu yang mampu menduplikasi manusia dan menggantikan peran ketiga orang ini. Lalu masuk ke dalam kehidupan masyarakat untuk memata-matai?" debat dokter Ian.


"Itu terlalu futuristik dan tidak ilmiah! Atau, Anda berasumsi bahwa tiga kembaran di luar sana adalah sejenis robot Artificial Inteligent? Wow! Hahahaha...."


Dokter Ian tertawa geli mendengar kata-katanya sendiri. Sementara kolonel justru semakin merasa dipusingkan sejak kedatangan Dean, Robert dan dokter Chandra.


Bukan karena ketiga orang itu rewel. Tapi justru karena ide-ide liar yang terus berkembang, memenuhi pikiran dokter Ian. Entah sejak kapan dia berubah dari seorang dokter menjadi seorang peneliti yang absurd.


"Kau membuatku sakit kepala!" gerutu kolonel Jack Meyers.


******

__ADS_1


__ADS_2