PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 389. Perayaan Pernikahan Yabie


__ADS_3

Dean dan Sunil terbang ke pinggir kota. Mereka turun di sana dan lanjut berjalan kaki.


Sepanjang jalan di kota itu dihias meriah dengan hiasan warna-warni. Rangkaian bunga indah menghias pintu-pintu pagar dan rumah warga.


Dean dan Sunil melihat keramaian itu dengan heran. "Mereka sedang merayakan apa?" tanya Dean pada Sunil. Pria itu hanya mengedikkan bahunya tak mengerti.


Semakin jauh berjalan, semakin ramai. Pasar tutup dan berubah jd tempat hiburan rakyat. Ramai suara musik dan warga yang menari gembira.


Dean dan Sunil mempercepat langkah menuju kediaman Ketua Kota. Pintu gerbang itu terbuka lebar. Namun penjaga lebih ramai dari biasa. Tak luput pula hiasan digantungkan di depan gerbangnya.


"Ada apa di sini?" tanya Dean pada penjaga pintu gerbang.


Penjaga itu terkejut melihat Dean. "Tuan!" ujarnya.


"Sekarang hari pernikahan Tuan Muda Yabie!" jawabnya.


"Aku akan laporkan Anda datang," penjaga yang lain siap berlari.


"Tidak usah. Biar aku langsung masuk." Dean tersenyum cerah. Dia yak sabar untuk bertemu dengan Yabie.


"Pantas saja Kota Mati sepi. Tempat Kang juga sepi. Harusnya mereka semua sedang berpesta di sini!" ujar Sunil sambil berjalan.


Dean masuk ke gerbang kedua yang menjadi batas atara kediaman dan kantor Ketua Kota. Orang-orang ramai di dalam. Venue untuk acara pernikahan ada di sana. Meja-meja hidangan juga tersedia. Tamu-tamu sangat ramai. Terdengar suara tawa dan berbincang-bincang bahagia.


Dean dan Sunil menerobos masuk menuju rumah. Seorang penjaga lagi terkejut melihat kedatangannya.


"Tuan!" sapanya.


"Bawa aku ke sana!" ujar Dean.


"Mari, Tuan," jawab penjaga itu. Dia berjalan cepat mengantar Dean dan Sunil ke ruangan dalam.


Di depan sebuah pintu yang terbuka lebar, penjaga itu memberi salam.


"Tuan Ketua Kota, Tuan Muda, ada tamu jauh yang mengunjungi kota ini," lapornya.


Keriuhan di dalam ruangan, hening seketika. Semua menoleh ke pintu. Ingin tahu siapa tamu jauh uang datang itu. Dan suara terkejut pun terdengar saat mereka melihat Dean dan Sunil tersenyum lebar di depan pintu.


"Waaaahh...."


"Paman! Ini benar-benar kau?' Yabie berlari mendapati Dean. Wajahnya sangat gembira melihat kehadiran Dean dan Sunil.


"Bawa pamanmu masuk!" perintah Ketua Kota. Senyumnya merekah.


"Salam, Saudara Ketua Kota!" sapa Sunil sopan.


"Selamat datang. Aku senang melihat kalian di sini," ujarnya.


"Salam," sapa Dean akhirnya, setelah lepas dari kecerewetan Yabie yang bertanya tentang perjalanannya.


"Di mana Yoshi? Aku tak melihatnya sejak tadi," ujar Dean


"Tadi dia ada di sini. Tapi kehamilan membuat tubuhnya agak lemah," sahut Ketua Kota.

__ADS_1


"Jadi, dia akhirnya menikah?" Dean tak mempercayai pendengarannya.


"Biar kuantar Paman ke sana!" kata Yabie.


"Tidak! Ini hari pernikahanmu. Kau harus tetap di sini menyambut tamu. Yang mana istrimu?" tanya Dean.


Yabie memanggil wanita yang barusan menikah dengannya. Gadis itu sangat cantik dan terlihat pintar.


"Aku seperti pernah melihatnya," gumam Dean.


"Dia putri Tabib Tua yang menolong Indra dan merawat Laras waktu itu!" bisik Sunil.


"Ah, kau benar!" Dean menarik sudut bibirnya menyambut gadis yang sudah tiba di depannya itu.


"Salam, Paman," sapa gadis itu sopan.


"Selamat. Kau jadi keponakanku juga sekarang. Jangan sungkan!" balas Dean.


Sunil dibiarkan berbincang dengan gadis itu. Sementara Dean bertanya tentang Kang, Nastiti dan penghuni Kota Mati.


"Mereka ada di halaman dalam. Ayo kuantar." Yabie menawarkan bantuan lagi.


"Tidak, terima kasih. Aku tahu jalannya," tolak Dean.


"Ketua Kota, aku ingin berkumpul dengan yang lain di halaman dalam. Bolehkah?" ijinnya sopan.


"Pergilah. Pasti banyak yang ingin kalian bincangkan. Nanti kita bisa bicara lagi," angguk Ketua Kota bijak.


Seorang pelayan siap mengantarkan Dean dan Sunil menuju halaman dalam.


"Apa?" Laras tak mempercayai pendengarannya. Semua menoleh ke arah pintu teras dengan ekspresi tak percaya.


"Itu Dean dan Sunil. Mereka kembali!" Liam tertawa senang dan berlari ke arah Dean.


"Ini benar-benar kau! Bagaimana kalian bisa kembali? Kapan sampai?" Rentetan pertanyaan melompat dari bibir Liam.


"Kurasa kau bisa bercerita pada mereka. Aku mau menemui Yoshi lebih dulu." Dean mendorong Sunil untuk menjawab pertanyaan semua orang.


"Hei!" seru Sunil, melihat Dean menghilang.


"Biarkan dia menyapa Yoshi dulu. Atau wanita itu akan ngambek." Liam terkekeh.


"Ahh, baiklah. Apa kabar kalian semua. Aku merindukan tempat ini.


Kang dan Nastiti di mana?" tanya Sunil. Dia tak melihatnya diantara kerumunan.


"Mereka beristirahat di bawah pohon di sana!" tunjuk Kenny ke satu arah.


"Aku akan bercerita nanti. Tapi aku harus menyampaikan pesan penting dulu pada Kang!" Sunil bergegas menghampiri Kang dan Nastiti yang duduk di kursi.


"Kang!" panggil Sunil. Suami istri itu terkejut mendengar suara panggilan keras. Mereka menoleh dan tak percaya dengan penglihatan sendiri.


"Sunil, itu benar-benar kau?" tanya Nastiti tak percaya.

__ADS_1


"Tentu saja aku. Aku sengaja ke sini untuk menemui Kang. Kami sudah ke rumah kalian. tapi tempat itu kosong. Kami mencari ke kota mati. Di sana juga kosong. Akhirnya kami ke kota, mengira kalian semua pergi ke pasar. Ternyata berkumpul di sini." Sunil menjelaskan panjang lebar.


Kang meletakkan jarinya di dahi Nastiti.


"Ada hal penting apa kalian sampai lebih dulu ke rumah?" tanya Nastiti.


"Pulanglah. Ada kejutan menunggumu di sana," saran Sunil.


"Sekarang?" tanya Nastiti.


"Ya, pergi pamitlah pada Yabie," saran Sunil lagi.


"Baik. Mari kita pamit dan pulang lebih dulu." Nastiti menuruti nasihat Sunil. Ini pasti hal yang sangat penting.


"Kami pamit pulang lebih dulu," Nastiti berpamitan pada Laras, Liam, dan penghuni Kota Mati.


"Ada apa?" tanya Laras heran.


"Ada kejutan untuk mereka di rumah. Nanti kuceritakan!" sela Sunil.


Laras mengangguk pada Nastiti. "Hati-hatilah di jalan. Kau sedang hamil!" pesannya.


"Banyak sekali yang hamil," celetuk Sunil.


"Benarkah? Siapa lagi?" tanya Liam.


"Widuri dan Niken di sana. Yoshi dan Nastiti di sini. Anggota keluarga kita akan bertambah. Senang sekali jika ada banyak anak kecil, bukan?" kata Sunil.


"Waahhh ... hebat sekali. Aku ikut senang mendengarnya. Apakah mereka ada di rumah tebing?" tanya Laras lagi.


"Tidak ... Dean dan Indra menjaga keduanya seoerti menjaga telur emas. Tak boleh ke mana-mana!" Sunil terkekeh geli dengan perumpamaan yang dibuatnya.


"Aku tidak mengerti. Kalian tinggal di mana, sebenarnya? Apakah lokasinya dekat, hingga Dean bisa meninggalkan Widuri cuma untuk mengantarkan kejutan ke rumah Kang?" Liam benar-benar kebingungan.


"Nanti kami ceritakan, sekalian di depan semuanya. Jadi tak perlu bolak-balik cerita lagi. Iya kan?" kelit Sunil.


"Ahh ... kau membuat kami penasaran saja!" gerutu Laras.


"Apakah selama perjalanan kalian ada mendapatkan kabar tentang Leon dan Silvia?" tanya Liam.


"Oh, ya. Kami mendengar kabar Silvia dari Leon. Ternyata Leon menumpang kapal yang sama ke Kota Rawa.


"Benarkah!" Liam dan Laras sangat terkejut.


"Apa dia sebelumnya berada di sisi lain pulau ini?" tanya Laras.


"Tidak. Kurasa, untuk mencapai kota itu, kita harus melewati dinding cahaya. Kami menempuh jarak berhari-hari baru tiba di kota pelabuhan lain. Itupun, Leon dan Silvia tidak pula tinggal di kota itu!"


Sunil menceritakan perjalan mereka sejak menaiki kapal dari Kota pelabuhan, hingga ke Kota Rawa.


"Wahh ... kalian sudah melupakanku!"


Dean menyela keasikan kelompok itu mendengar pengalaman Sunil di atas kapal.

__ADS_1


"Tidak. kami hanya tak sabar menunggumu, jadi mendesak Sunil untuk menceritakan perjalanan kalian." Liam tersenyum lebar.


*********


__ADS_2