
Sudah lewat tiga purnama mereka menetap di pulau itu. Menunggu semua perbekalan dapat dipanen. Seperti waktu-waktu sebelumnya. Selama kurun waktu itu, mereka membuat persiapan. Membuat minyak goreng, mengasap ikan tangkapan, menyimpan stok sayuran setiap kali panen. dan mengumpulkan telur burung yang makin banyak ditemukan diantara rerimbunan hutan bakau.
Siang itu, dokter Chandra menyusuri petak ladang gandum yang menguning. Dia diiringi oleh Dean dan Sunil.
"Besok atau lusa, ini sudah bisa dipanen. Lalu jemur dengan baik. Kita sudah harus mencari jalur worm hole lain," ujarnya.
"Baik," jawab Dean.
Perintah itu langsung tersebar. Dan anggota tim lain segera memanen yang bisa dipanen hari itu. Terong, cabai, tomat akan dipetik hari itu seluruhnya. Kemudian dimasukkan dalam penyimpanan yang sudah mereka siapkan hari-hari sebelumnya.
Saat istirahat siang, diskusi kembali dibuka.
"Kita akan memulai pencarian worm hole ataupun teleportasi. Tapi tidak ada yang tau di mana. Perjalanan ini mungkin lama dan sulit. Dan lebih dari itu, tetap tak ada kepastian. Apakah kita akan tiba di bumi yang tepat nantinya. Mungkin saja kita justru terlempar ke tempat yang jauh lebih buruk dari ini. Jadi, siapapun yang ingin menetap di sini, maka tidak ada yang akan memaksa."
Dean mempersilahkan yang lain untuk mengemukakan pendapat.
"Bukankah jika tinggal di sini, berarti kita sendirian?" tanya Indra memberanikan diri bertanya.
"Jika ada yang ingin tinggal, tanah di sini sudah bisa menghidupi. Tapi jika ingin ada teman, kami akan antarkan ke tempat Leon. Tanah di sana cukup untuk dikembangkan dengan baik oleh tiga keluarga." Dean memberikan pilihan.
"Apa kau ingin tinggal?" tanya Niken tak percaya.
"Tidakkah kau merasa lelah? Aku hanya mengkhawatirkanmu," jawab Indra.
"Tidak! Aku ingin pulang!" tegas Niken.
"Oke," Indra mengangguk.
"Apa ada pendapat lain?"
Dean kembali memberi kesempatan. Tapi hingga cukup lama, tak ada lagi yang berkomentar.
"Baiklah. Berarti semua ikut dalam perjalanan selanjutnya, ya?" Dean ingin memastikan
Semuanya mengangguk setuju. Dean mengacungkan jempolnya disertai sebuah senyum senang.
Selama seminggu berikutnya, pekerjaan mereka adalah memanen, lalu menjemur gandum. Kemudian mengumpulkan udang, kerang dan lainnya untuk ikut disimpan sebagai persediaan. Alan juga memetik seluruh buah kelapa muda dan menyimpannya.
*
Malam ini dokter Chandra angkat bicara, setelah makan malam usai.
"Ini hari terakhir kita di sini. Sudah lebih tiga bulan, tanpa tau apa yang terjadi di daratan sana. Tapi jangan pikirkan lagi. Hal itu pasti merambah ke banyak negara. Jadi, kita hanya bisa terbang. Lalu mencari pulau tak berpenghuni sebagai tempat istirahat."
"Baik." Mereka mengangguk patuh.
"Ke arah mana kita mencari?" tanya Alan.
"Belum tau. Jika kalian punya saran, katakanlah," jawab dokter Chandra.
Yang lain terdiam. Mereka juga tak punya ide, mau mencari ke mana. Apakah itu berarti mereka harus menjelajahi keseluruhan bumi?
"Jangan pikirkan lagi. Kita akan menemukannya disaat yang tepat," kata dokter Chandra bijak.
Setelah diskusi yang buntu itu, mereka beristirahat. Tapi masih saja hal itu berkecamuk di pikiran masing-masing. Ke mana arah yang mau dituju? Tak ada yang tau di mana adanya gerbang antar dimensi. Tak ada juga orang tempat bertanya. Namun, semua itu harus dijalani, jika memang ingin pulang ke rumah.
*
*
Pagi setelah sarapan, tim itu sudah siap untuk berangkat. Semua sudah beres, dan tinggal jalan. Namun hati terasa berat meninggalkan pulau indah yang menjadi tempat berlindung sekian lama.
Pulau yang sangat indah ...."
__ADS_1
Alan memandang pulau yang subur di tengah lautan.
"Apa kau pernah membaca legenda tentang burung Phoenix?" Sunil menepuk bahu Alan.
"Yang hidup kembali dari abu?" Alan balik bertanya.
"Itu bermakna siklus kehidupan. Setelah satu kematian, akan tumbuh kehidupan baru. Tangan Tuhan bermain di dunia ini. Jika ada kerusakan, alam akan membenahinya. Lalu memulai siklus kehidupan dari awal lagi," ujar Sunil bijak.
"Dan pulau ini serta pulau Buwan, mungkin akan jadi poin penentu kehidupan berikutnya." Robert juga terlihat optimis.
"Baiklah. Aku sudah mengerti." Alan tersenyum tipis. "Tak ada satupun yang sia-sia. Semua pasti atas kehendak Nya."
"Ayo!" ujar Alan dengan perasaan ringan.
Lima orang itu melesat terbang di langit pagi. Melesat mencari jalan, menguak semua misteri dan menyongsong harapan.
*
*
Sang surya tersenyum malu-malu
Di langit, awan gendut mengenakan jubah kelabunya
Membentangkan awan-awan terbaik hingga batas cakrawala
Siap mengantarkan sang dewa hujan bertemu kekasih tercintanya
Bumi yang indah dan nestapa
Menunggu siraman cinta kekasih abadi
Melahirkan anak-anak kehidupan yang baru
Yang mengundang senyum tawa dan decak kagum
Tapi cinta semesta tak terukur
Cinta tanpa batas rahim bumi
Meluruhkan segala luka
Dan terus menghidupi tanpa bertanya
*
*
"Dean, di mana-mana langit gelap. Apa kita tak perlu mencari tempat beristirahat dulu?" tanya Sunil.
"Tapi kita belum melihat pulau terpencil sepanjang jalur ini. Ayo cari!"
Dean juga khawatir. Jika hanya hujan deras, mereka tak masalah. Yang berbahaya adalah jika hujan itu mengandung petir. Kejadian yang menimpa Sunil telah menjadi momok sendiri baginya. Dia tak ingin siapapun celaka.
Suara gemuruh petir mulai terdengar. Sambarannya mulai terlihat di banyak tempat.
"Penguasa, bagaimana jika kita turun dan beristirahat dulu?" saran Robert.
"Aku akan melindungi kita semua dari virus," ujar Alan.
Dokter Chandra melihat Alan dalam-dalam. Di matanya terlihat jejak kesedihan yang dalam.
Disentuhnya kedua pundak Alan dengan tatapan bangga. Matanya berkilau secemerlang permata.
__ADS_1
"Terima kasih. Kau sangat membanggakanku."
"Penguasa ...."
Dokter Chandra memeluk Alan dengan hangat layaknya seorang ayah.
Dean, Sunil dan Robert tak mengerti apa yang terjadi.
"Mari kita cari tempat istirahat," ujar dokter Chandra.
Kelimanya langsung terbang rendah dan mencari tempat yang sekiranya jauh dari tempat yang ditinggali manusia.
"Itu!" tunjuk Robert ke arah sebuah bukit tandus.
"Ayo!"
Dokter Chandra melesat lebih dulu dan melihat sekeliling.
"Sempurna," gumamnya hampir tak terdengar.
Dean mengeluarkan lempengan batu untuk duduk. Tepat saat rintik hujan mulai jatuh, Alan membuka kubah merah untuk melindungi semuanya dari kebasahan. Dokter Chandra segera duduk di sebelah Alan. Dibantunya agar Alan dapat meminum segelas air abadi sebelum berfokus.
Di luar kubah itu, langit menggelap. Hujan turun dengan derasnya. Dan cahaya kilat, sambar menyambar memekakkan telinga. Di dalam kubah itu semua orang tidaklah merasa tenang. Entah karena apa, mereka sangat khawatir. Ada perasaan aneh yang sulit untuk mereka pahami.
"Berapa lamakah hujan seperti ini?" celetuk Sunil. "Langit hitam merata. Dan petir menggelegar, seperti ingin menghukum manusia."
"Hush!" tegur Dean.
Dia tak nyaman mendengar ungkapan itu. Entah kenapa.
Di samping Alan, dokter Chandra hanya duduk tertunduk. Matanya terpejam. Tak ada yang tau, dia sedang tidur atau berdoa.
Kemudian petir kembali bersahut-sahutanan lagi. Kali ini lebih banyak lagi. Dan sambaran petir itu mulai mendekati mereka.
"Ya Tuhan, kita ada di puncak bukit. Kita jadi sasaran empuk kalau begini!" Ujar Sunil.
Wajah Robert memucat. Dia yang tadi menyarankan tempat ini, karena jauh dari mana-mana. Tapi sekarang ...."
"Alan, lebih baik kita pindah ke tempat la—"
Blaaarrrrr!
Suara petir menggelegar tepat di atas mereka. Tubuh Alan bergetar menerima arus listrik. Matanya terbuka. Senyumnya terkembang. Tapi dia tetap membentangkan kedua tangannya untuk menjaga kubah tetap utuh.
"Alan! Lupakan kami. Kita harus pergi dari sini. Buka kubahmu!' teriak Sunil panik.
Kembali lidah petir menyambar kubah merah, dan Alan dengan senyumnya menantang petir itu untuk terus mendatanginya.
Dean tak tau mesti melakukan apa. Dia hanya bisa menyirami tubuh Alan yang mulai gosong di sana-sini, dengan air abadi.
"Penguasa ...."
Sunil mengharap pada Penguasa untuk membantu Alan.
Dokter Chandra mengangkat kepalanya. Wajahnya telah penuh dengan air mata. Sunil dan Robert terkejut melihatnya.
"Takdirnya telah tiba ...."
*******
Note:
Jangan lupa kasih like, komen dan vote yaa..
__ADS_1
Novel ini sudah akan habis yaa ... Jadi silahkan mampir di novel author lainnya yang gak kalah seru.
KODE NAME: ANGEL K05