
Malam telah turun kembali. Dean dan timnya merasa sudah cukup beristirahat sejak siang. Pulau juga sudah dibersihkan. Jadi mereka berencana berangkat setelah bersantai sejenak, selepas makan malam.
"Apa semua sudah beres?" tanya Dean.
"Peralatan masak sudah beres," jawab Widuri.
"Oke, kita simpan semuanya. Kalian juga beristirahatlah. Besok kami membutuhkan kalian lagi, untuk gantian berjaga."
"Tentu Dean, kami siap melakukan tugas itu," sambut Niken.
Mereka semua kemudian menghilang ke dalam penyimpanan. Semua peralatan yang tadi dikeluarkan, juga disimpan kembali.
"Kalian sudah siap?"
"Ya, siap!"
"Let's go!"
Keempatnya melesat naik ke atas dan melihat ke sekitar, sebelum kembali terbang.
Mereka melewati banyak pulau besar dan kecil sepanjang jalan yang dilalui. Tapi semuanya gelap gulita. Tampaknya tak ada yang selamat jika pulau itu terlalu kecil.
Sekitar tengah malam.
"Lihat cahaya di sana!" tunjuk Robert. "Sepertinya kita sudah mencapai pulau Jawa," tambahnya.
"Sebaiknya kita terbang lebih tinggi lagi, untuk melihat situasi," ujar Dean.
"Baik!"
Keempatnya kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan utama sudah di depan mata. Tapi untuk menjauhi kecurigaan mereka harus terbang lebih tinggi, agar tak terlihat mata awam.
Dalam setengah jam, mereka mencapai areal pantai. Tempat itu terlihat lebih hidup. Ada cukup banyak lampu darurat dipasang di berbagai tempat. Meski tak ada aktifitas kendaraan saat ini, itu bisa dimaklumi, karena hari sudah larut malam.
Namun yang mengejutkan adalah cahaya yang mereka lihat dari kejauhan tadi. Itu adalah nyala api yang keluar terus menerus dari dalam tanah. Mungkin itu nyala api dari penyimpanan bahan bakar yang meledak akibat suhu panas. Sementara di sekitarnya bangunan terlihat rusak parah.
"Ini Jakarta. Lihat pelabuhan dan teluknya. Meski semua sudah hancur, tapi kita bisa lihat jejaknya."
"Kau benar, Alan," ujar Sunil.
"Mari kita lihat sekitarnya."
Semua kembali terbang melintasi kota yang tak luput dari bencana. Rasanya, hampir semua pohon sudah mati. Namun masih banyak bangunan besar dan kuat yang berdiri.
"Kemungkinan penduduk selamat, dievakuasi ke gedung-gedung itu," kata Robert.
"Menurut kalian, bandara bagaimana?" tanya Sunil.
__ADS_1
Dean menggeleng.
"Sulit untuk dikatakan. Bandara adalah tempat yang terbuka. Serangan panas bisa melelehkan kaca dan besi. Kita bisa lihat di sini. Gedung-gedung tinggi ini selamat karena dibuat dengan beton. Tapi tidak dengan jendela kacanya."
Sunil mengangguk mengerti.
"Mau kemana kita sekarang?" tanya Alan.
"Cari tempat sepi, dan mendarat di sana. Besok pagi kita cari keberadaan keluarga masing-masing," ujar Dean.
"Oke!"
Mereka berkeliling sebentar mencari tempat yang benar-benar sepi, tanpa ada cahaya lampu satupun. Itu agak jauh dari keramaian gedung-gedung tinggi. Mungkin agak pinggiran kota.
"Di sana saja!" ujar Robert.
"Baiklah."
Mereka turun sambil melihat keadaan sekitar. Tapi tempat itu benar-benar lengang dan gelap. Beberapa rumah runtuh dan dindingnya hancur. Mungkin kurang kuat menahan panasnya matahari. Tapi sudah tak terlihat ada jasad manusia di situ. Pasti sudah dievakuasi oleh para petugas. Namun bau bangkai masih tercium kuat. Kemungkinan itu bangkai binatang liar yang berserakan mati kepanasan.
Dengan mata yang tajam, mereka menyisir areal yang dipilih itu. Semua tikus dan burung mati yang terlihat, dikumpulkan lalu dikubur.
"Ah, sekarang jauh lebih baik," ujar Alan. Dia paling tak tahan dengan bau busuknya bangkai.
Robert membakar areal tanah yang mereka pilih, agar tak ada lagi belatung atau cacing yang keluar saat mereka beristirahat nanti.
"Oke."
Dean mengeluarkan empat lempengan batu untuk mereka tidur. Dan empat gelas air minum. Mereka tidur di bawah sinar bulan, tanpa penerangan api sedikit pun.
"Heh. Bangun. Bangun!"
Seseorang menggoyangkan kaki Dean dengan keras.
Dean terbangun dengan rasa terkejut yang besar. Mereka ketiduran karena lelah. Lalu ditemukan orang lain. Langsung dibangunkannya Sunil, Alan dan Robert.
"Kalian siapa? Bagaimana bisa sampai sini?" tanya orang itu.
Dean menilai, orang itu bukan petugas, karena tak mengenakan seragam khas.
"Hei, kok bengong!" bentak yang lain kasar.
Alan maju dengan emosi. Tapi Dean menahannya.
"Maaf, aku agak terkejut dan bingung. Kami dari .... Ini di mana sebenarnya?" kelit Dean.
"Ditanya malah balik bertanya. Bawa saja mereka. Penyusup tak jelas!" hardik yang lain kasar.
__ADS_1
"Hei! Apa maksudmu penyusup? Kami selamat dan berjalan dari Jawa. Mau pulang dan mencari orang tuaku!" bantah Alan keras.
"Di mana rumah keluargamu?" tanya yang lain tak percaya.
"Di Rumah Susun Lembayung, Jakarta Barat," jawab Alan lancar.
Orang-orang itu saling berpandangan dengan ragu. Itu sebabnya temanku bertanya ini di mana. Kami tiba malam tadi. Tempat ini gelap, jadi kami tak tau sudah sampai di mana," tambah Sunil lagi.
"Bagaimana kalian bisa selamat?" cecar orang pertama curiga.
"Hei, apa begitu cara kalian menghadapi orang-orang yang selamat? Terlalu penuh kerugiaan! Lalu bagaimana cara kalian bisa selamat? Jangan-jangan kalian yang penyusup dari daerah lain!" Alan menatap mereka tajam.
"Sudah ... sudahlah. Keadaan lagi begini, kenapa masih ingin cari musuh. Kita sama-sama sedang mencari sanak saudara kan. Kenapa tidak bergabung saja."
Sebuah suara terdengar dari belakang.
"Tapi bang, makin banyak anggota, maka makin dikit jatah kita!" jelas seorang pria, menunjukkan keberatannya.
"Kami tidak akan bergabung dengan kalian. Nanti mencari jalan sendiri saja. Jadi kalian tak perlu khawatir," tampik Alan.
"Ya sudah kalau begitu. Sekedar informasi, ini masih daerah Bekasi," kata orang yang dipanggil Bang, tadi.
"Baik, terima kasih Bang."
Orang-orang itu bergerak pergi dan tak mempedulikan Dean dan timnya lagi.
"Ternyata mereka juga bagian dari orang-orang yang selamat dari bencana," gumam Sunil halus.
"Nah, sekarang sudah pagi. Tampaknya bahan makanan jadi barang langka sekarang. Maka kita juga harus berhemat."
Dean hanya memberi segelas air untuk pengisi perut pagi itu.
"Segelas lagi!" pinta Alan.
"Tenang. Kalau air minum, kita selalu punya. Kau boleh minum sebanyak yang kau mau," seloroh Robert sambil tertawa kecil.
Yah, pagi itu perut mereka hanya diisi dengan air abadi. Tapi itu sudah cukup untuk menambah tenaga.
Dean menanyakan alamat Widuri, dokter Chandra, Indra dan Niken. Mereka mendiskusi area terdekat untuk didatangi lebih dulu. Niken di bagian timur, Indra di Selatan, Widuri di pinggir kota ke arah Depok, dokter Chandra di kompleks perumahan di barat, serta Alan, juga di barat.
Jadi mereka putuskan untuk mencari kediaman orang tua Niken di Jakarta Timur lebih dulu.
"Mulai sekarang kita jalan kaki. Jadi, jangan mengeluh." Dean mengingatkan.
Semuanya mengangguk dan berjalan dengan semangat dan harap-harap cemas. Berharap anggota keluarga tim itu masih selamat.
*******
__ADS_1