PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 228. Jealous


__ADS_3

Lewat tengah malam, operasi itu akhirnya selesai juga. Yang masih bertahan menunggu hanyalah para pria.


Marianne, Niken, Widuri dan Nastiti sudah lebih dulu masuk kamar karena terlalu mengantuk.


"Bagaimana dengan Vivian?" tanya Robert.


"Operasinya sudah selesai. Mudah-mudahan dia bisa melalui masa-masa kritisnya. Jadi kita hanya bisa menunggu. Jawab Dokter Chandra.


Robert mengangguk lalu membiarkan Dokter Chandra dan tabib beristirahat.


"Kita harus menunggu hingga pagi untuk memastikan tubuhnya pulih atau tidak."


Robert memberitahu Kang keadaan Vivian. Kang mengangguk tenang. Dia sudah berubah jadi manusia lagi.


"Paman, aku harus pulang dan menjaga ayah," kata Yoshi. Dean mengangguk.


"Bilang pada ayah, aku tinggal di sini malam ini," kata Yabie. Yoshi mengangguk. Dia lalu melayang tinggi ke atas dan menghilang dari pandangan.


"Apakah anda ingin diantar pulang malam ini juga?" tanya Dean pada tabib.


"Aku masih harus memeriksanya besok pagi-pagi sekali. Jadi aku di sini saja," balas Tabib.


"Baiklah. Dokter Chandra, anda bisa bawa tabib ke kamar di sana untuk beristirahat," ujar Dean sambil menunjuk salah satu kamar kosong dari 3 log kayu yang ada.


Dokter Chandra mengangguk. Keduanya lalu pergi beristirahat.


"Dean, biar aku dan Kang yang menjaganya di sini. Kalian juga pergilah beristirahat," ujar Robert.


"Baiklah.. Jika butuh sesuatu, kabari saja," kata Dean sambil berlalu. Dia pergi ke kamarnya. Widuri sudah berangkat tidur sejak awal, ditemani Cloudy.


Yang ada di pelataran tinggal Kang, Robert, Sunil dan Yabie. Bangku-bangku telah disusun di tempat semula, mengelilingi meja. Vivian tertidur tenang dalam selimut yang dibawa Widuri sebelumnya.


Yabie duduk di bangku dekat meja besar. Yabie sangat mengantuk. Dia teramat lelah jika membantu operasi. Karena harus berkali-kali mengeluarkan kemampuannya untuk meredakan rasa sakit Vivian. Hal itu menguras tenaganya. Jadi dia berusaha tidur sambil duduk dan menyandarkan kepala ke atas meja.


Kang duduk di seberang Yabie. Dia tak tau harus melakukan apa. Dia ngantuk tapi tak dapat tidur. Dia memandang Vivian dengan ekspresi rumit. Akhirnya Kang juga mengikuti cara Yabie, tidur sambil duduk dengan menyandarkan kepala ke permukaan meja.


Sementara Sunil dan Robert memilih berbaring pada lembaran papan lebar yang kerap dipakai Dean untuk tidur di pelataran.


Rumah di tengah hutan larangan itu mulai sunyi. Udara dingin dini hari tak terlalu terasa, karena Sunil menyalakan sangat banyak obor di sekeliling tempat itu.


*


*


Pagi ini semuanya bangun kesiangan. Bahkan suara camar yang super berisik tak mampu membangunkan mereka.


Sinar pagi menelusup masuk melalui celah pepohonan. Bayang-bayangnya memanjang di tanah. Kehangatan khas matahari menggantikan efek obor-obor yang mulai habis terbakar. Namun kesejukan embun pagi, belum sepenuhnya sirna.


Kakek tabib yang bangun paling awal, terheran-heran melihat tempat itu teramat sunyi. Hanya Cloudy yang menggeram malas melihat sang tabib berjalan. Dia menegakkan kepalanya sejenak, lalu bergulung lagi di tangga kamar Dean.


Tabib tua itu melangkah menuju pelataran. Dan pemandangan di sana terlihat seperti tempat pengungsian. Empat orang itu tidur sembarangan dimana-mana.

__ADS_1


Yabie menyusun cukup banyak bangku dan meluruskan punggungnya di situ. Sementara Kang, bahkan tidur nyenyak di lantai batu hitam. Dengkur keempat orang itu saling bersahutan.


Tabib itu berjalan hati-hati agar tidak membangunkan mereka. Dia memeriksa kondisi Vivian. Gadis itu sedikit demam, tapi masih dapat tidur nyenyak.


Tabib berjalan memasuki rumah besar. Ada 3 pintu di situ. Dia tak tau di kamar mana Dokter Chandra tidur. Tabib membalikkan badan, dan memutuskan untuk menunggu yang lainnya bangun.


"Tabib, apa anda mencari Dokter Chandra?" terdengar suara wanita.


Tabib tua itu berbalik, lalu tersenyum ketika mendapati Marianne menyapanya.


"Ya. Yang mana kamarnya?" tanya tabib.


"Itu, pintu yang di ujung sana," tunjuk Marianne.


"Terima kasih."


Tabib mengangguk dan melangkah ke pintu yang ditunjuk Marianne.


Krieett...


Dibukanya pintu dan melihat Dokter Chandra masih tidur. Di sisi lain ada juga Alan yang mendengkur halus.


"Dokter... dokter.... Sudah pagi. Kita harus memeriksa kondisi pasien. Dia sedikit demam tadi," ujar tabib sambil menyentuhkan tongkatnya ke tangan Dokter Chandra.


???


Dokter Chandra membuka mata karena merasa lengannya digaruk-garuk.


"Tabib?"


Dokter Chandra bangun dari tidurnya.


"Sudah siang. Pasien itu tadi demam. Mau periksa atau tidak?" tanya Tabib tua.


"Oh, ya... mari kita periksa." Dokter Chandra segera turun dari tempat tidur.


"Alan, bangun! Sudah siang!" ujar Dokter Chandra sebelum keluar kamar.


*


*


Pagi itu suasana kembali ramai. Semua orang sudah bangun dan beraktifitas seperti biasa. Tabib sudah diantar Yabie pulang. Vivian juga sudah bangun dari tidurnya. Dean memindahkannya ke kamar yang sebelumnya ditempati tabib. Kang menjaganya di sana.


Dokter Chandra merasa Vivian harus diobservasi sehari lagi sebelum diijinkan pulang. Tabib sudah meninggalkan obat yang harus diminum agar lukanya cepat sembuh.


Marianne, Widuri, Nastiti dan Niken sibuk menyiapkan sarapan yang kesiangan. Widuri telah membuatkan bubur gandum untuk Vivian.


"Nastiti, antarkan bubur ini ke tempat Vivian. Dia pasti sudah sangat lapar," kata Widuri.


"Tidak mau!" tolak Nastiti.

__ADS_1


"Kau kenapa?" Widuri, Niken dan Marianne saling pandang dengan bingung.


"Sini, biar aku yang antarkan," ujar Niken. Diangkatnya nampan kayu berisi cangkir teh dan mangkuk bubur.


Widuri tak lagi memperhatikan perubahan sikap Nastiti. Mereka kembali bekerja menyelesaikan sarapan semua orang.


Makan pagi itu sangat ramai. Alan dan Indra saling menceritakan lelucon lucu yang membuat semua orang tergelak. Mereka juga membahas lagi tentang rencana ke kota mati hari itu. Maka sarapan itu segera diselesaikan. Dean, Indra dan Sunil bersiap berangkat.


"Nastiti, ini obat untuk Vivian. Tolong antarkan," pinta Dokter Chandra lembut.


"Tidak mau! Kenapa sih, menyuruhku terus," sahut Nastiti kesal. Dia sudah hampir menangis sekarang.


Semua orang bingung dengan reaksinya yang tak masuk akal.


"Ada apa denganmu?" tanya Widuri heran.


Nastiti memilih pergi ketimbang menjawab. Widuri ingin mengejar, tapi dicegah Niken.


"Biarkan dia sendiri," kata Niken halus.


Niken merasa perasaan Nastiti yang bergejolak dan membingungkan, membuat emosinya sulit dibendung.


"Biar aku saja yang bawa obatnya," kata Robert dengan wajah buruk.


Dokter Chandra menyerahkan mangkuk obat yang baru dibuat itu ke tangan Robert. Dia berjalan cepat diikuti Kang yang juga berwajah masam.


Niken menjejeri langkah Robert.


"Jangan tersinggung pada Nastiti. Dia juga sedang kesulitan menangani perasaannya. Dia menyukai temanmu, tapi temanmu bahkan tak meliriknya sedikitpun."


"Jadi dia marah?" bisik Robert.


Niken menggeleng dan tersenyum miring.


"Aah, itu jealous," bisik Robert lagi.


Robert tersenyum kali ini. Dan mengangguk mengerti. Niken berhenti melangkah dan membiarkan Robert dan Kang mengantarkan obat.


Kang meletakkan jarinya di dahi Robert. Ingin tau apa yang mereka bicarakan tadi.


"Ohh, bukan apa-apa. Niken cuma bilang kalau Nastiti sedang sakit PMS. Itu sebabnya sikapnya berubah," jawab Robert tanpa berfikir.


Kang meletakkan jarinya lagi.


"Pms itu semacam sakit perut yang dialami wanita. Mereka mengalaminya tiap bulan," jawab Robert asal-asalan.


Kang meletakkan lagi jarinya di kening Robert.


"Kenapa tak dioperasi seperti Vivian?" tanya Kang dalam benak Robert.


"Oh tidak! Sakit perut ini berbeda dengan sakit perut Vivian. Mereka selalu mengalaminya tiap bulan."

__ADS_1


"Bukankah kasihan jika Nastiti harus dioperasi tiap bulan?" Kata Robert lagi sambil tersenyum tak berdaya.


__ADS_2