
Fajar baru menyingsing di ufuk timur saat Alan dan Sunil masuk kamar dan membangunkan Dean serta Michael. Mereka berdua sudah sangat mengantuk dan lelah.
"Bangun, sudah pagi." Sunil menarik kaki Michael.
"Ahhh, masih ngantuk." Michael kembali bergelung dan memeluk lututnya.
"Sudah pagi. Kami juga ngantuk."
Kali ini Alan menepuk tangan Dean. Dean mengerjapkan mata untuk membiasakan pandangannya. Lalu menguap lebar.
"Aahh kau ini. Sikat gigi sana." omel Alan. Dia langsung naik ke tempat tidur, menggantikan Dean yg sudah duduk.
"Heh, ayo bangun." Dean menepuk wajah Michael, lalu bangkit dan keluar kamar.
Pelataran batu itu sudah bersih dan rapi sekarang. Hanya tersisa bekas-bekas gosong di beberapa tempat akibat sambaran cahaya panas yang dikeluarkan O dan Z tadi malam. Dean hanya menggeleng melihat itu.
Dia menuju tepi halaman, mematahkan ranting kayu kecil, lalu menuju kamar mandi sambil menggigit-gigit ranting kayu itu dan menggosokkannya ke giginya.
"Aahh, sial. Hanya ranting ini yang bisa digunakan untuk menggosok gigi. Setelah kembali ke peradaban, aku harus segera ke dokter gigi." keluh Dean.
"Dean, apa kau masih lama?"
Terdengar suara Michael memanggil dari luar.
"Ya, sebentar aku keluar."
Tak lama Dean keluar dengan wajah yang segar dan rambut basah. Michael segera melewatinya untuk masuk kamar mandi. Dean bersiul-siul saat berjalan menuju dapur. Ditambahnya kayu pada tungku, lalu memasak air di teko.
"Kau sudah bangun?" Widuri menyapanya.
Dean menoleh.
"Ya.. baru saja," jawabnya sambil tersenyum.
Nastiti dan Marianne juga menyusul bangun dan keluar kamar. Mereka kemudian memulai aktifitas pagi seperti biasa.
"Dean, kemarin Alan membawakan buah blue berry. Apa kau tau dimana rumpunnya tumbuh?"tanya Nastiti.
Widuri menuang air panas ke dalam cangkir yang berisi beberapa blue berry yg sudah dihancurkan dengan sendok. Nastiti masih menghancurkan blue berry di cangkir lain. Pagi ini mereka menyajikan teh rasa blueberry sebagai teman sarapan. Sementara Marianne mengoleskan selai blue berry pada roti yang baru dipanggang.
"Ya, aku tau tempatnya. Kalian mau memetik blue berry lagi?" tanya Dean balik.
"Ya." Nastiti dan Widuri mengangguk.
"Selesaikan sarapan. Ku temani kalian ke sana." Dean mengangguk.
"Lalu aku?" tanya Michael.
"Kau temani wanita tua ini di sini," Marianne tersenyum.
__ADS_1
"Aku bosan jika hanya duduk diam," keluh Michael.
"Kau bisa lanjutkan berlatih memanah. Atau kau mau berlatih pedang?" tanya Dean.
"Boleh juga. Apa kau punya pedang?"
Michael tertarik. Dia sangat ingin belajar bela diri. Tidak harus sehebat Alan dan Sunil yang sampai menggetarkan tanah dan menimbulkan sambaran petir, asalkan bisa untuk menjaga dirinya sendiri, itu sudah bagus.
Sssyuuhhh.. Tiba-tiba sebilah pedang sudah melayang di tengah meja. Semua menjerit kaget.
"Kau senang sekali mengagetkan orang ya?" omel Widuri.
"Bagaimana kau melakukan itu? Apa itu sihir?"
Michael tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tau Dean kuat dan hebat, bisa terbang dan membawa beban berat. Mahir mengukir dan memotong kayu. Tapi dia baru lihat kemampuan sihir Dean yang seperti ini.
Ppfffttt.. Nastiti menahan tawanya.
"Itu bukan sihir, tapi Dean punya tempat penyimpanan. Dia menyimpan pedang itu di sana." Widuri menjelaskan.
"Ohh, baiklah. Aku mengerti," sahut Michael.
Dia sudah asik memegang dan menimbang-nimbang berat pedang itu. Matanya berbinar cerah.
"Apa kau juga bisa bermain pedang, Dean?" tanya Michael. Dean mengangguk.
"Ajari aku ya.." Michael membujuk Dean dengan kerjapan matanya.
Dean beranjak ke halaman. Mematahkan dua tangkai kayu. Mengayun-ayunkannya sebentar dengan kedua tangan lalu bersiap. Michael turun ke halaman.
"Latihan jangan pakai pedang dulu. Ambil ini," saran Dean sambil melemparkan sebatang kayu yang sudah dipilihnya. Michael menangkap bilang kayu itu dengan sigap.
"Ikuti gerakanku. Lakukan beberapa jurus ini berulang-ulang sampai tanganmu tidak lagi kaku memegangnya. Jika jurusnya sudah hafal dan gerakanmu lancar, kau bisa lanjut berlatih dengan pedang." Dean menerangkan.
"Baik. Aku siap."
Michael dan Dean berdiri berhadapan. Michael memasang kuda-kuda seperti yang ditunjukkan Dean. Dia mengikuti gerakan-gerakan yang diajarkan Dean. Awalnya gerakannya kaku seperti robot. Beberapa kali bilah kayu itu justru memukul tubuhnya sendiri. Tapi Michael tak menyerah. Dia bersiap dan memasang kuda-kuda lagi, lalu mulai mengayunkan bilah kayu itu ke kanan, kiri, atas dan bawah.
"Yah, kau latih gerakan itu dulu. Setelah kami kembali dari memetik blue berry, kita bisa lanjutkan langkah berikutnya." kata Dean.
"Oke, siap!" Michael makin bersemangat mendengar akan mendapat jurus lain lagi nanti.
Dean, Widuri dan Nastiti pergi bersama Dean sambil membawa keranjang untuk wadah buah. Di pelataran, Marianne memperhatikan Michael yang sedang berlatih gerakan pedang. Diperhatikannya pedang di meja. Pedang itu terlihat tajam, berwarna putih keperakan. Memiliki beberapa ukiran pada bilahnya dan gambar bintang pada gagangnya.
"Ukiran ini, seperti familier," gumam Marianne. Dia berusaha mengingat-ingat, tapi dia tak mengingatnya sama sekali.
*
Dean, Widuri dan Nastiti kembali dengan keranjang penuh buah blue berry. Kedua wanita itu sangat gembira. Mereka juga menemukan buah anggur liar dan beberapa bunga cantik yang dengan segera dimasukkan dalam cangkir batu berisi air. Meja bulat besar itu terlihat lebih semarak kini.
__ADS_1
Alan dan Sunil akhirnya bangun karena suara berisik teman-temannya. Ditambah teriakan Michael setiap kali dia melakukan gerakan menebas.
"Kalian bersemangat sekali pagi ini. Apa ada kabar bagus?" tanya Sunil.
Marianne menyodorkan roti dan selai yang sudah mendingin untuk sarapan keduanya. Mereka makan dengan lahap.
"Alan, kau berjanji membawaku ke kota. Apa kau lupa?" todong Nastiti.
"Ah, iya. Tapi kita harus menetik buahnya dulu kan." jawab Alan sambil makan.
"Ini, sudah kami petik. Selesai sarapan, kita berangkat." Nastiti tak memberi Alan kesempatan untuk menolak.
"Aku juga mau ikut ke kota. Dean, apa kau mau menemaniku?" tanya Widuri.
Dean mengangguk. Alan tak punya alasan lagi untuk menolak pergi.
"Kau bisa lanjutkan melatih jurus baru tadi. Nanti kita lanjutkan lagi." Dean menyelesaikan latihannya dengan Michael.
Widuri dan Nastiti dibawa terbang oleh Dean dan Alan. Mereka pergi ke kota. Dean mencari jalan memutar agar arah mereka tak terdeteksi jika tiba-tiba terlihat oleh penduduk kota. Mereka akhirnya turun di kaki bukit dan melanjutkan jalan menuju batas kota.
Widuri dan Nastiti takjub melihat bentuk bangunan kayu dan batu yang ada. Jalanan yang diperkuat dengan bebatuan, serta gaya berpakaian mereka. Beberapa pedagang menarik bagal pembawa beban serta kereta penumpang yang ditarik keledai. Juga kuda yang berlalu lalang diantara orang-orang.
"Kota ini sangat kuno. Mungkin seperti kota-kota abad pertengahan, atau mungkin lebih tua lagi," bisik Widuri pada Dean. Dean mengangguk.
Di keramaian pasar, Widuri dan Nastiti menawarkan buah-buah segar yang mereka bawa dengan ditukar barang lain. Tapi tak banyak yang tertarik. Kebanyakan orang ingin menukarnya dengan ikan. Sementara mereka butuh rempah bumbu dan bahan makanan pokok.
Hari sudah tinggi, tapi 2 keranjang buah itu masih penuh. Selain itu, obrolan warga di pasar tak jauh dari gempa dan suara petir malam sebelumnya. Dean dan Alan hanya saling pandang mendengarnya. Alan menunduk dengan wajah penuh rasa penyesalan.
"Bagaimana ini? Mereka tak tertarik buah ini," keluh Nastiti.
Widuri berpikir sejenak, kemudian dia mulai berteriak mempromosikan buah yang mereka bawa.
"Ayo, dibeli. Buah enak, segar baru dipetik dan menyehatkan. Sangat baik dimakan ibu hamil, bisa menyehatkan bayi karena mengandung asam folat. Menyehatkan kulit wanita agar tetap cantik dan kelihatan muda karena mengadung anti oksidan dan vitamin C. Bisa menyehatkan mata, jantung dan menguatkan ingatan jika dimakan secara rutin. Penting untuk para pelajar dan pejabat. Agar selalu sehat dalam menjalankan tugas. Ayo dibeli, mumpung masih ada..."
Widuri terus mengulangi kalimatnya dengan suara tinggi. Nastiti juga mengikuti. Akhirnya orang-orang mulai tertarik datang dan bertanya tentang manfaat buah itu. Mereka menjawab dengan ramah dan melayani pembelian dengan cepat. Mereka bahkan mengijinkan calon pembeli untuk mencoba rasa buah yang mereka jual, serta resep membuat selai, salad serta teh dengan menggunakan bahan itu.
Dalam 1 jam saja, 2 keranjang buah itu sudah kosong. Dean dan Alan kagum melihat kegigihan dan kemampuan marketing keduanya.
"Kalian hebat," puji Dean tulus.
"Ayo kita cari rempah dan bahan makanan lain," Nastiti tampak puas dengan penjualan hari ini.
Mereka akhirnya berkeliling pasar dan membeli beberapa kebutuhan. Lalu kembali pulang melalui bukit kecil yang sebelumnya mereka lewati.
"Apa kau mendengar gossip panas di pasar tadi?" tanya Widuri pada Dean yang sedang memeluknya terbang.
"Hem, ya. Itu jelas gara-gara O dan Z." Dean menjawab dengan mimik kesal.
Widuri diam. Dia tak menyangka jika getaran pertarungan O dan Z akan terasa hingga ke kota. Berapa kuat itu sebenarnya?
__ADS_1
*****