PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 346. Mendapat Kemampuan Membaca


__ADS_3

"Bantu buka mulutnya," perintah dokter Chandra.


Robert membuka sedikit mulut Sunil. sebutir pil obat yang harum rempah, meluncur masuk. Lalu dokter Chandra memeriksa seluruh tubuh Sunil dengan tangan yang bercahaya putih.


Robert menunggu dokter Chandra selesai dengan pemeriksaannya baru bertanya. "Apa Sunil tak perlu diberi air minum sedikit?"


"Nanti dia bisa tersedak. Dengan mrmbiarkan pil obat tetap di mulutnya, maka itu akan lumer secara perlahan," kilah dokter Chandra.


"Oh, aku tidak tahu ada cara seperti itu." Robert tak lagi merasa khawatir.


"Dia sudah baik-baik saja. Seharusnya bisa segera sadar. Jadi kita tunggu saja kapan dia mau bangun," kata dokter Chandra.


"Penguasa, apakah pil yang sebelumnya kuminum juga buatan Anda?" tanya Dean.


"Ya." Dokter Chandra mengangguk.


"Apakah obat itu tidak cocok untuk Sunil, maka Anda tidak memberikan itu padanya?" sela Indra.


"Ya, itu obat yang berbeda. Itu sebabnya aku ingin membuat obat yang lain untuknya. Hanya saja, setelah usaha yang lama, baru kita menemukan tanaman obatnya," jelas dokter Chandra.


"Indra, apa kau bersedia belajar membuat obat?" tanya dokter Chandra.


"Bolehkah? Apakah itu mudah?" tanyanya antusias.


"Membuat obat sama sekali tak mudah. Tapi kau memiliki api yang sudah bisa kau kendalikan dengan baik. Itu dasar yang bagus. Tinggal mempelajari jenis-jenis tanaman obat dan khasiatnya. Apa kau mau belajar?" desak dokter Chandra lagi.


"Ya, aku bersedia. Tentu saja!" Indra merasa senang.


"Kau pelajari buku ini!" dokter Chandra menyerahkan sebuah buku kuno tentang tanaman obat.


Indra senang sekali. "Terima kasih Penguasa," ujarnya sambil menundukkan kepala.


"Coba buka!" kau kata Niken penasaran.


Indra membuka bukunya. Matanya bersinar kemerahan. Di sana ada banyak gambar tanaman herbal beserta penjelasannya.


"Aku tak mengerti satu hurufpun," keluh Niken.


"Kemarilah," panggil dokter Chandra.


Niken mendekat. Dokter Chandra menyentuh dahi Niken. Seberkas cahaya kecil, masuk ke dahinya.


"Kau cobalah baca buku itu," saran dokter Chandra.


Niken mengikuti sarannya dan mencoba membaca buku yang dipegang Indra. "Waahh ... aku bisa membacanya sekarang!" seru Niken gembira.


"Apa kalian juga ingin bisa membaca tulisan Bangsa Cahaya?" tanya dokter Chandra pada Widuri yang duduk bersebelahan dengan Marianne.


"Aku mau," Marianne lebih dulu menjawab.


"Tentu."

__ADS_1


Dokter Chandra melakukan hal yang sama pada Marianne. "Ini buku tentang menerapkan obat pada masakan."


Marianne menerima buku itu dan membukanya. "I-ini ... aku bisa membacanya sekarang. Buku ini sangat bagus!" Marianne sangat gembira dengan pemberian itu.


"Kau cocok dengan itu. Beberapa penyakit ringan, bisa disembuhkan hanya dengan makanan dan minuman yang mengandung herba tertentu," jelas dokter Chandra.


"Terima kasih," ujar Marianne.


"Aku ingin sekali. Tapi aku tak tahu apa bakatku," Widuri menunduk.


Dokter Chandra tersenyum lebar. "Ke sini," panggilnya.


Widuri mendekati tempat duduk dokter Chandra, menggantikan Marianne. Dokter Chandra kembali melakukan hal yang sama pada Widuri.


"Ahh...." Widyri mengusap dahinya yang terasa hangat.


Lalu ada beberapa buku di depan Widuri. Kau pilihlah yang kau suka. Atau, yang menurutmu mungkin bisa kau ajarkan pada putramu, kelak," tawar dokter Chandra.


"Senuanya menarik!" mata Widuri berbinar.


Dokter Chandra dan yang lain tertawa melihatnya menginginkan semua buku yang ada.


"Baiklah. Kau bisa baca yang manapun yang kau sukai. Ajarkan ilmu itu pada anak-anak nanti," ujar dokter Chandra tersenyum. Dia tampak lega.


"Bangsa Cahaya sudah musnah. Hanya jiwa-jiwa kita yang tersisa, dari jutaan yang dulu pernah ada. Sedikit ilmu, jika hanya kusimpan, maka habislah sudah dia bersama hancurnya bintang-bintang. Tetapi, jika kubagikan pada keluarga-keluarga kita, maka kuharap akan ada generasi yang bisa meneruskan ilmu itu di masa depan," terang dokter Chandra.


Yang lain kini mengerti pemikiran Penguasa yang jauh melampaui pemikiran yang lain. Mereka sepakat dengan itu.


"Sudah sore. Aku siapkan nakan malam dulu." Marianne berdiri. Niken dan Widuri juga mengikutinya ke lantai bawah.


Dia dapat melihat jejak kelelahan di wajah dokter Chandra yang terus tersenyum itu.


"Baiklah. Aku ikuti saranmu." Dokter Chandra berbaring tak jauh dari Sunil.


Dean, Indra dan Robert membiarkannya. Ketiganya turun ke bawah dan membereskan hal-hal yang tertunda.


Robert segera mendapat tugas untuk memerah susu sapi sore itu. Sementara Dean dan Indra harus mengambil kayu bakar, karena persediaan berkurang. Mereka bekerja dengan semangat. Harapan kembali tumbuh, karena Sunil telah mendapatkan obatnya.


*


*


Selepas makan malam, Dean mengikuti Dokter Chandra yang berjalan menuju pondok kecil di seberang rumah panggung.


"Ada apa kau mengikutiku?" tanya dokter Chandra.


"Tentang tawaranku sebelumnya. Jika anda besok ingin pergi melihat keadaan di luar, aku bersedia menggantikan Sunil." Dean mengingatkan dokter Chandra apa yang telah mereka bicarakan sebelumnya.


"Aku tau. Tetapi, itu sebelum kau terluka. Dengan keadaanmu yang seperti itu, bagaimana kau bisa kuat menarik kembali gerbang teleportasi? Lukamu bisa semakin pa—"


"Ini sudah tidak sakit," bantah Dean.

__ADS_1


"Tunggu sehari lagi. Semoga lenganmu bisa sepenuhnya pulih!" tegas dokter Chandra.


"Baiklah." Dean mengangguk.


*


*


Keesokan paginya, kehidupan di tempat itu kembali normal. Niken dan Indra sangat antusias menpelahari semua tanaman obat itu. Mereka masuk ke kebun obat yang ada di gua.


Dokter Chandra meminta bantuan Dean untuk membuat bedengan kecil-kecil di halaman pondoknya. Kemudian dibawanya Marianne je gua, dan memilih beberapa bibit tanaman yang bisa dimanfaatkan Marianne sebagai tambahan dalam masakan dan minuman.


"Dean, aku membutuhkan beberapa kayu dan papan. Bisakah kau membantuku?" tanya Dokter Chandra, setelah Dean selesai menbuat bedengan kebun herbal di halaman.


"Bisa! Akan kulakukan segera. Robert, bantu aku!" panggil Dean.


"Oke!"


Ketiganya terbang ke arah hutan, untuk menyelesaikan permintaan dokter Chandra.


Hingga sore menjelang, Mereka asik dengan kegiatan masing-masing. Marianne membuka bukunya dan menandai tiap jenis tanaman, dengan tanda sederhana yang mudah diingatnya.


"Akhirnya selesai juga," ucap Marianne puas. "Kita akan makan makanan sehat, sekarang," ujarnya tersenyum lebar.


"Selama ini kita juga hanya makan makanan sehat saja," bantah Widuri.


"Ah, kau benar. Tapi aku akan membuat yang lebih menyehatkan lagi," tekad Marianne.


"Kenapa tiba-tiba aku merasa kita akan dicekoki jamu tiap hari?" canda Niken..


"Hahahaha ...."


Tawa berderai para wanita adalah musik merdu di dunia kecil itu.


"Semoga tempat ini segera diwarnai dengan suara-suara merdu para malaikat kecil itu," gumam dokter Chandra sambil tersenyum simpul.


Dean dan Robert telah kembali, membawa tumpukan kayu dan papan yang sudah dipotong rapi.


"Simpan itu di bawah kolong pondokku!" kata dokter Chandra.


Dean turun dan melihat ke kolong pondok yang hanya setinggi satu meter. Dia tak berpikir lagi ketika melihat dokter Chandra sudah menyiapkan alas untuk meletakkan papan kayu dan balok-balok itu


"Pekerjaan kalian sangat cepat dan rapi," puji dokter Chandra. "Terima kasih."


Robert dan Dean mengangguk.


"Aku harus memerah susu dulu, Dean." Robert terbang menuju padang rumput yang dipenuhi ternak.


Langit senja sebentar lagi akan menyapu dunia kecil tersembunyi itu ke dalam kesunyian yang gulita.


******

__ADS_1


Note:


Terima kasih banyak sudah membersamai novel pertama saya hingga sejauh ini. Begitu banyak kekurangan yang terus dimaklumi. Terima kasih banyak 🙏


__ADS_2