
"Dean, apa aku boleh ikut bicara?" tanya Leon.
"Tentu saja. Kau juga anggota tim ini!" kata Dean menegaskan.
"Baiklah, terima kasih," ujar Leon.
"Menurutku, lebih baik kita langsung mencari pintu teleportasi saja. Dari pada pergi mencari informasi ke kota koloni ini."
"Tapi kan kita belum tau tujuan akhir pintu teleportasi itu. Kalau tersasar lagi, bagaimana?" tanya Indra.
"Bukankah selama ini kita juga berjalan dalam ketidakpastian? Jika kita tau worm hole kemarin berakhir di sini, pasti kita tak kan masuk. Jika kita tau dinding cahaya di Kota Rawa ternyata membawa kita ke dunia monsters, kita lebih baik tetap di Kota Pelabuhan!" Kali ini Marianne ikut bicara.
"Marianne benar. Sejauh ini, kita memang berjalan dalam ketidak pastian. Jadi untuk apa buang-buang waktu mencari informasi ke kota?" imbuh Niken.
"Bener. Lagi pula, orang-orang ini bukan hanya tidak tau tujuan pintu teleportasi ini. Tapi juga tidak tau bahwa ada teleportasi yang hanya satu arah," Indra mendukung pendapat istrinya.
"Jika satu arah saja, seperti saat kita datang, berarti ini jalur worm hole lagi dong?" ujar Alan.
"Jika worm hole lagi, berarti kita akan berpindah cukup jauh lagi. Antar planet lagikah? Langsung ke Bumi Satu atau Bumi lainnya ya?" Dokter Chandra menebak-nebak.
"Kenapa kalian tidak ingin ke kota koloni?" tanya Dean.
"Buang-buang waktu. Kita sudah mengetahui kalau pengetahuan mereka tentang teleportasi dan worm hole di sini, minim. Jadi percuma ke sana!" jawab Michael.
"Jika bertemu dengan penduduk koloni ini lagi, belum tentu sebaik para penjaga di sini. Yang pertama kali ketemu saja, kita langsung dikurung tanpa bertanya. Robert dan Sunil sampai hampir mati!" Alan berkata dengan geram.
"Satu hal lagi," potong Widuri.
"Jika seandainyapun kita bisa diterima baik di kota itu, belum tentu mereka memberi kita kesempatan untuk naik pesawat kembali ke Bumi Satu. Itu perjalanan yang mahal, dan kita tidak punya uang. Dan aku khawatir, bahwa mereka ini sebenarnya sudah dibuang oleh keegoisan pemimpin manusia di Bumi Satu!" kata Widuri pedas.
Mereka mengangguk-angguk, mengerti sepenuhnya jalan pikiran Widuri. Jika pemimpin di Bumi Satu tidak egois, dia pasti akan menarik pulang tim pertama setelah mendapat laporan ketidak layakan tempat ini. Entah apa tujuannya hingga terus mengirim manusia ke sini. Sementara di Bumi Satu manusia justru berkurang sangat banyak akibat bencana.
"Dan hal lainnya ...," tambah Dokter Chandra.
" Jikapun kita menaiki pesawat, maka kita hanya akan kembali ke Bumi Satu yang keadaannya sama sekali berbeda dengan tempat tinggal kita. Sementara jika kita mencoba worm hole, kita masih punya kesempatan untuk kembali melintasi waktu. Jadi masih ada kemungkinan kembali ke masa kita. Bagaimana menurut pendapat kalian?"
Anggota tim itu mengacungkan jempol pada Dokter Chandra. Pria itu telah mengutarakan pemikiran yang tidak mampu mereka keluarkan.
"Benar Dean. Lebih baik kita mencoba pintu ini saja. Dari pada buang-buang waktu percuma," ujar Leon.
"Apa tidak ingin memeriksa pintu teleportasi lain?" tanya Sunil.
"Ku rasa tidak perlu lagi. Sebab, pintu manapun yang kita pilih, kita tak kan bisa kembali lagi!" Leon berkata tegas.
__ADS_1
Dean manggut-manggut. "Baiklah. Jadi, apakah mencoba teleportasi ini adalah keputusan bersama?" tanya Dean meyakinkan.
Anggota timnya mengangguk kompak. Mereka ingin secepatnya pergi dari dunia yang buruk ini tanpa merasa perlu untuk mencari tau hal lainnya. Mereka sudah lelah dengan perjalanan buruk sejak di Kota Rawa.
"Oke. Aku akan coba bicara dengan mereka berempat," Dean akhirnya setuju dengan keputusan timnya.
Dean menghampiri keempat penjaga yang baru selesai sarapan. Dia berdiskusi lama dan alot dengan mereka. Anggota tim lain hanya melihat dari kejauhan.
A few moments later.
Dean kembali. Tapi wajahnya biasa saja. Tidak terlihat senang, juga tidak merasa buruk. Robert dan yang lain jadi penasaran apa hasil pembicaraan Dean tadi.
"Jadi bagaimana?" tanya Alan tak sabar.
"Yah ... intinya, mereka minta imbalan jika ingin memasuki tempat itu," lapor Dean.
"Hah ... imbalan apa? Apa mereka mau buah kelapa? Atau blueberries? Atau apel yang kita bawa dari Kota Pelabuhan?" Alan sedikit kesal.
"Hemm, di penyimpanan Ma, ada ini. mungkin bisa membantu?" Michael mengeluarkan beberapa perhiasan berkilau ukuran kecil.
Yang lain terkejut melihatnya. Itu perhiasan yang sangat bagus. Alangkah sayangnya jika diberikan pada para penjaga itu.
"Apa tidak ada yang lebih kecil dan lebih jelek dari itu?" tanya Leon. Michael menggeleng.
Michael kembali menggeleng. "Tidak ada."
"Apa ada alternatif lain?" tanya Dean.
"Aku cuma punya buah kelapa dan keju selain sayur-sayuran," sungut Alan.
"Baiklah. Kita coba ini saja."
Dean meraih perhiasan indah itu dari tangan Michael. Kemudian berjalan ke arah empat penjaga yang menunggu tak sabar.
Dean membuka tangannya.
"Kami hanya punya ini."
Mata keempat penjaga itu bersinar. Mereka belum pernah melihat benda indah dan berkilau seperti itu. Itu pasti sangat mahal.
"Boleh saja. Tapi —"
Dean mengangkat tangannya memotong omongan orang tersebut. Dean menatap tajam.
__ADS_1
"Jangan paksakan keberuntungan kalian. Kami bersikap baik hanya pada orang baik. Jika kami mau, kami sangat bisa memasuki pintu teleportasi itu meski tanpa persetujuan kalian!" kata Dean tegas.
Orang yang tadi berbicara, langsung diam. Dilihatnya anggota tim Dean menatap mereka dengan pandangan serius. Mata orang asing itu bercahaya merah, biru dan oranye. Seperti siap menghancurkan mereka kapan saja jika bertingkah macam-macam.
"Baiklah. Benda ini terlihat bagus. Apa fungsinya?" tanya salah satu penjaga untuk mengurai ketegangan yang meningkat.
"Ini pin, dibuat dengan material paling mahal di tempat kami. Biasanya ini digunakan untuk menghias jubah kebesaran saat menghadap penguasa tertinggi."
Dean memasangkan salah satu pin itu di atas baju pelindung si penjaga. Dan itu terlihat sangat bagus. Tiga temannya sangat senang. Mereka akhirnya mengangguk setuju dan mengambil pin lain seorang satu.
"Alan, apakah kau masih punya empat buah kelapa muda?" tanya Dean melalui transmisi suara.
"Ada," jawab Alan.
"Bawa ke sini!" perintah Dean.
Alan berjalan ke arah Dean dan para penjaga. Lalu dia mengeluarkan empat buah kelapa muda. di depan para penjaga yang terkejut.
"Ini, buah kelapa. Buah ini ada di bumi tempat asal kami. Ini persediaan kami yang terakhir. Tapi ku pikir, kalian pasti belum pernah mencobanya. Jadi ini ku berikan untuk dinikmati," ujar Dean.
"Benarkah?"
Salah seorang meraih satu buah dengan penasaran. Tapi kemudian kecewa karena buah itu sangat keras. Berbeda dengan apel yang pernah mereka makan.
Akhirnya Alan turun tangan membantu membuka buah kelapa dan mengajari cara menikmatinya.
"Waahhh ... rasanya luar biasa. Baru pertama kali aku menikmati buah seperti ini," kata satu penjaga.
"Rasanya manis dan menyegarkan. Dan lembut seperti jelly," sambung yang lainnya.
"Baiklah. Saya rasa kita sudah mencapai kesepakatan. Jadi kami akan segera berangkat," kata Dean.
"Hemm, berhati-hatilah. Kami tidak bertanggungjawab jika kalian mendapat masalah di sana. Karena tidak ada seorangpun yang sudah dikirim itu, yang pernah kembali!"
Penjaga itu mengingatkan.
"Oke. Terima kasih untuk keramahan kalian." Dean membungkukkan kepalanya sedikit, tanda hormat dan terima kasih.
Para penjaga itu terpaku. Seumur hidup, belum pernah ada orang yang menghormati mereka meski telah bekerja keras di perbatasan berbahaya. Tapi orang-orang asing ini memiliki sikap yang sangat berbeda. Mereka kuat, tapi tetap bersikap ramah dan sopan.
Dean dan timnya bersiap di depan pintu teleportasi.
******
__ADS_1