PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 47. Luka Dean


__ADS_3

Di awal pagi yang masih terlihat remang-remang, teriakan Dean yang keras membangunkan semua temannya.


"Aaarrgghhh!" teriaknya sambil memegangi kepalanya.


Sunil yang sebelumnya tidur di sebelahnya terbangun karena terkejut. Dengan sigap disambarnya tombak yang tergeletak di sampingnya.


"Ada apa?" Sunil tampak waspada memperhatikan sekitarnya.


"Ada apa?" tanya para wanita ketakutan.


Alan mengamati mulut gua, menantikan apa yang sekiranya akan mengganggu mereka. Tangannya menggenggam tombak dengan erat.


"Aarrghhh."


Mereka menatap Dean yang bergelung sembari memegari kepala. Nafasnya tak beraturan.


"Dean, ada apa denganmu?" Widuri berlari ke arah Dean, meraih kepalanya untuk memeriksa.


"Beri aku cahaya!" teriak Widuri panik.


"Ambilkan juga kain untuk kompres, dia demam tinggi," tambahnya lagi.


Nastiti mengambil pasminanya lalu dibasahi air kolam dan diperas hingga tak meneteskan air lagi. Digunakannya untuk mengompres kepala Dean.


Widuri meletakkan kepala Dean di atas pangkuannya. Alan memegangi kristal cahaya lebih dekat agar Widuri bisa melihat dengan jelas.


"Dewi, ambilkan kain untuk perban. Basahi sedikit untuk membersihkan luka."


Dewi segera mengerjakan perintah Widuri dan membongkar ranselnya mencari kain-kain untuk pembalut luka.


"Ada apa dengannya?" Sunil bertanya khawatir.


"Aku tidak tau pasti. Entah ini luka lama saat pesawat jatuh yang terinfeksi kembali, ataukah luka baru. Tapi ini terlihat bernanah."


Widuri membersihkan nanah di kepala Dean dengan seksama dibantu Dewi. Mereka lalu membalut luka itu agar tak terkena kotoran yang membuatnya mudah terinfeksi.


"Berikan air minum untuknya, biar demamnya cepat turun," saran Alan.


Nastiti segera beranjak ke perapian dan mengambil panci berisi air hangat untuk minum Dean. Dean sedikit tenang sekarang. Widuri membiarkannya tidur di pangkuannya sambil sesekali membalik kain kompres.


"Kenapa tiba-tiba kepalanya bisa bernanah ya?" Sunil mengambil duduk di atas batu.


Semuanya kembali merasa lega setelah melihat Dean tak lagi kesakitan sambil memegang kepalanya. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing sambil trs berpikir. Adalah sangat berbahaya jika pemimpin kelompok menderita sakit. Mereka akan terjebak di hutan itu tak tau harus bagaimana. Jadi demi kebaikan, mereka harus mencari tau penyebabnya.


"Saat pesawat jatuh, kepala Dean memang terluka. Tapi selama kita di hutan salju, dia terlihat baik-baik saja tak ada mengeluh sakit atau apa. Dokter Chandra juga tidak mengatakan apapun" Widuri mengatakan yang dia tau.


"Mungkinkah cuaca dingin justru menjauhkan luka Dean dari infeksi?," duga Alan.


"Bisa jadi. Dan karena di sini cuacanya hangat, lukanya yang belum sembuh jadi rentan?," tebak Nastiti.


"Mungkin saja. Lagi pula seharian kemarin kita bolak-balik memasuki gua kelelawar itu mengambil bebatuan. Kemungkinan besar luka Dean terkontaminasi kotoran kelelawar." Sunil menyimpulkan.


"Kalian ingat tidak? 2 malam lalu Dean juga berteriak dalam tidurnya. Sore itu aku dan Dean pertama kali memeriksa gua. Mungkinkah dia berhalusinasi karena kelelawar?" Sunil menggeleng tak mengerti.

__ADS_1


"Berhentilah berasumsi. Apapun penyebabnya, yang paling penting adalah menyembuhkan luka Dean dulu." Widuri menegaskan.


"Hari ini biarkan Dean beristirahat. Alan dan Dewi bertugas mencari makanan. Sementara Sunil dan Nastiti mengumpulkan batu-batu di gua. Kerjakan hingga tengah hari saja. Apa kalian setuju dengan pengaturan ini?" tanya Widuri.


"Ya, kami setuju," teman-temannya mengangguk paham.


Mereka mulai sibuk menyiapkan sarapan agar punya cukup tenaga sebelum bertugas. Dean tampak tenang pagi itu. Pelan-pelan Widuri memindahkan kepala Dean ke atas tumpukan kain yang dibuatnya sebagai ganti bantal.


Ketika keempat temannya berlalu untuk mengerjakan tugas, Widuri mulai memukul batang-batang gandum dengan kayu tombaknya. Itu membuat bulir-bulir tua itu terlepas dengan mudah dari tangkainya.


Widuri mengumpulkan semua bulir gandum lalu mulai mengetuk kulitnya dengan batu agar pecah dan terkelupas dari kulitnya. Dilakukannya itu dengan hati-hati agar tak membuat Dean terbangun.


"Apa yang kau kerjakan?"


Nastiti bertanya sambil lalu saat membawa keluar bebatuan dari gua kelelawar. Sunil mengikuti dari belakang. Mereka menumpuk batu-batu tak jauh dari mulut gua.


Sunil mengambil sebongkah batu hitam lalu menghantamkannya ke arah tumpukan batu besar di gua. Batu hitam itu pecah berkeping-keping. Nastiti membantu Sunil mengumpulkan pecahan bebatuan itu dan menambahkan beberapa ke perapian untuk menjaga api tetap menyala.


Nastiti memperhatikan pekerjaan Widuri.


"Apakah itu gandum yang kemarin sore kau bawa pulang?" tanyanya penasaran.


"Ya," Widuri tak mengangkat kepalanya.


"Bisa dibuat apa itu? Bubur gandum?" tanya Nastiti lagi.


"Gandum bisa dibuat apa saja. Bubur, roti, sereal," jawab Widuri.


"Aku sudah lama tak makan roti. Apa kau bisa membuat flatbread Widuri?" tanya Sunil gembira.


"Bukankah sebuah keajaiban bisa membuat roti dari bahan yang dipanen sendiri? Itu sangat hebat Widuri. Aku tak sabar menantikannya," Sunil bersemangat.


"Yeaahh.. aku jadi ikut membayangkan alangkah enaknya makan flatbread dengan saus sayuran. Yummyy.." Widuri memejamkan matanya membayangkan kenikmatan itu.


"Waahh kau membuatku lapar saja. Ayo Nastiti, kita lanjutkan mengambil batu lagi sebelum digoda makanan," Sunil meninggalkan Widuri sambil terus tersenyum.


"Buat makanan enak ya.." Nastiti melambai meninggalkan Widuri.


"Yaa.. siapkan nyali kalian memakannya. Hahahaa," tantang Widuri sambil terkekeh geli.


Widuri melanjutkan pekerjaannya menghaluskan biji-biji gandum untuk dijadikan tepung. Cukup lama dia mengerjakannya hingga Sunil dan Nastiti kembali membawa bebatuan lagi.


"Dimana biji gandum tadi?" tanya Nastiti heran melihat Widuri tak lagi duduk di atas batu besar.


"Sudah jadi tepung, tapi masih kasar. Sedang ku jemur di luar gua sebentar." jawab Widuri.


"Ahh," keluhan kecil Dean menghentikan pembicaraan mereka dan beralih menatapnya.


"Apa yang kau rasa sekarang?" tanya Sunil mendekati untuk membantunya duduk tapi didahului oleh Widuri.


"Apa aku sakit?" tanya Dean heran.


Ketiga temannya mengangguk yakin.

__ADS_1


"Luka di kepalamu bernanah membuatmu demam tadi malam." Sunil menjelaskan.


"Tapi sudah dibersihkan dan dibalut Widuri. Ett, jangan pegang dengan tanganmu yang kotor," Nastiti mencegah Dean dari menyentuh kepalanya.


"Kami membiarkanmu tidur agar cukup istirahat," Widuri menambahkan.


"Dimana Alan dan Dewi?" tanya Dean sambil mengambil panci air untuk minum.


"Mereka mencari makanan di luar. Widuri, kami kembali ke dalam gua," Sunil berlalu diikuti Nastiti.


Widuri mengambil beberapa apel yang tersisa untuk Dean sarapan. Dean menerimanya.


"Terima kasih sudah merawat lukaku," Dean menggigit apel sambil memperhatikan Widuri yang berjalan ke mulut gua.


"Tak masalah." Sekejap bayangan Widuri menghilang lalu kembali muncul sambil memegang selembar kain di tangannya.


"Apa itu?" tanya Dean ingin tau.


"Butiran gandum kasar. Aku ingin membuat roti, tapi ini tidak sehalus tepung terigu," Widuri menunjukkan isi kain itu.


"Roti dengan bahan seperti itu justru lebih sehat, mengandung lebih banyak serat," jelas Dean pada Widuri.


"Kau hanya membujukku," kata Widuri.


"Tidak. Di banyak negara, roti terkadang juga dicampur biji-bijian dan menggunakan tepung gandum yang sedikit kasar untuk memperkaya rasa dan lebih menyehatkan." Dean meyakinkan Widuri.


"Baiklah. Kita coba seadanya saja. Sunil ingin flatbread. Lagi pula tak ada yeast untuk membuat roti mengembang," Widuri menyesalkan.


"Kau bisa membuat yeast sendiri. Nanti ku ajari," kata Dean meyakinkan.


"Benarkah? Ajari aku," kata Widuri senang.


Widuri memindahkan tepung ke dalam panci mereka satu-satunya setelah memindahkan sisa isinya ke 2 mangkuk kayu milik Eugene.


Dean meraih tasnya dan mengeluarkan botol air plastik dan menyodorkannya pada Widuri.


"Gunakan air asin ini sedikit untuk menambah rasa."


Widuri meraih dan menuangkan sepertiga isinya ke dalam tepung. Dia mengaduknya dengan tangan cukup lama hingga adonan itu lembut. Widuri menutupnya dengan kain dan membiarkannya begitu saja.


"Terima kasih Dean," kata Widuri sambil mengembalikan botol pada Dean.


"Pegang saja untuk masak. Andai aku punya botol lain, akan ku isi juga dengan air asin dari kolam air hangat di gua itu. Tapi aku hanya punya itu, jadi simpan saja," tolak Dean.


"Kita harus menemukan sumber garam lagi," Widuri bergumam cukup untuk terdengar di telinga Dean.


"Ya, kita harus mencari sumber garam." Dean mengiyakan. Dicobanya berdiri untuk keluar dari gua.


"Kau mau kemana? Istirahat saja hari ini," Widuri mencegah Dean melakukan pekerjaan.


"Aku ingin buang air, apa ingin kau larang juga?" goda Dean enteng sambil berlalu.


"Huh! Terserah!" Widuri berteriak keki. Disahuti suara tawa Dean dari mulut gua sebelum bayangannya menghilang.

__ADS_1


"Orang ini benar-benar mengesalkan. Kalau sakit terlihat kasihan sekali. Tapi setelah sehat, kembali ke sifat aslinya yang menjengkelkan," gerutu Widuri panjang-pendek.


***


__ADS_2