PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 74. Transisi Dua Dunia


__ADS_3

"Waahh ... pemandangan sungai di sini indah sekali!"


Gilang terpesona melihat keindahan aliran sungai itu. Kepalanya menoleh ke kiri kanan memperhatikan pohon-pohon mapel beraneka warna.


"Ya, di tempat ini kita seakan mengalami musim gugur." Leon menambahkan.


"Benar-benar indah."


Dokter Chandra menimpali celoteh mereka. Hingga mereka sampai di dekat tebing batu tempat air hangat jatuh dan membuat uap panas menguar naik dan menyebar ke segala arah. Udara mulai lembab dan hangat.


"Apakah kolamnya ada di atas sana?" tanya Liam.


"Ya." Robert menangguk lalu menapaki bebatuan besar di dekatnya. Keempat temannya ikut menanjak naik lewat batu-batu itu.


"Hati-hati batunya licin dok," Gilang mengingatkan dokter Chandra yang ada di belakangnya.


"Oke," sahut dokter Chandra.


"Woaaaa.. Amazing," segera terdengar suara Leon dari atas, membuat dokter Chandra makin penasaran.


"Hahaha ... ini surga."


Liam berlari dan melompat ke tepi kolam. Dia segera melepas sepatu dan menginjak bebatuan indah di tepian. Kakinya merasa hangat. Dia tersenyum lebar hongga menampakkan giginya. Berputar-putar di air setinggi betis sambil merentangkan tangan dengan kepala menengadah dan mata terpejam.


"Luar biasa." Gilang terpana, sementara dokter Chandra tak mampu berkata-kata. Namun wajahnya menunjukkan kekaguman.


"Benar, ini surga tersembunyi." Robert sependapat dengan Liam.


"Lalu dimana lorong mapel yang kau katakan itu?" tanya dokter Chandra penasaran.


"Ada di balik tebing batu itu," tunjuk Robert ke tengah kolam.


"Gilang, kau ikut denganku," ajak Robert yang berjalan memutar tepian kolam melewati beberapa pohon mapel.


Robert menyusuri tepian kolam dan memperkirakan lokasi lorong mapel yang dilihatnya kemarin. Tapi dia tak menemukan adanya pohon mapel yang berjajar membentuk lorong.


"Aneh," kata Robert dengan kening berkerut.


"Aneh apa? Kau cari apa?" tanya Gilang tak mengerti.


"Kemarin aku melihat lorong mapel dari kolam di bagian itu. Tapi di sini tak ada pohon mapel yang membentuk lorong." Robert menjelaskan.


"Hemmm.." Gilang menganggukkan kepala.


"Jadi, coba kau di sini dulu, aku masuk kolam dan mencoba melihat apakah kau kelihatan dari lorong di sana," usul Robert.


"Oke, aku tunggu di sini," Gilang setuju.


Robert melepas sepatu dan bajunya di tepian, lalu mencebur dan berenang ke tengah kemudian berbelok ke balik tebing batu di tengah kolam. Liam mengikuti dari belakang. Leon masih sibuk memilih batu-batu cantik di tepian. Sementara dokter Chandra masih mengawasi Gilang.


"Gilang, kau dengar aku? Aku tak melihatmu di sini," teriak Robert dari balik tebing batu.

__ADS_1


Liam yang tepat berada di sisi tebing batu itu, ikut melihat lorong mapel di tepian kolam tak jauh dari situ.


"Gilang, kau tak kelihatan di sini. Coba geser ke sana sedikit," Liam memberi aba-aba.


Dokter Chandra menyusuri tepian kolam dan melihat Robert serta Liam sedang melihat ke arah Gilang berdiri.


"Tapi kenapa Gilang tak terlihat oleh mereka?' pikir dokter Chandra heran.


"Apa kalian bisa melihatku?" tanya dokter Chandra pada Robert dan Liam. Namun tak mendapatkan tanggapan dari mereka.


"Hei, Leon. Kau bisa mendengarku? Tanya pada Robert, apa dia bisa melihatku di sini?" teriak dokter Chandra pada Leon di tepi kolam.


"Dimana Robert?" Leon balik bertanya.


"Di balik tebing batu itu. Kau teriak saja dari situ dan bertanya," perintah dokter Chandra.


"Liam, apa kau melihat dokter Chandra berdiri di situ?" tunjuk Leon ke arah dokter Chandra.


"Tidak. Aku tak melihatnya." jawab Liam.


"Mereka tak melihatmu dok," teriak Leon.


"Apa kalian mendengar suaraku Liam?" teriak dokter Chandra lagi.


"Hei, apa kau tak mendengar suara teriakan dokter Chandra tadi?" Leon benar-benar heran melihat Liam yang diam saja tidak menyahuti.


"Tidak ada!" sahut Liam meyakinkan.


"Mereka tak melihat dan mendengarmu dok. Kembali saja. Gilang, kau juga kembali saja," teriak Leon memanggil kedua temannya.


"Aneh sekali? Kau bisa mendengar teriakanku, tapi mereka tidak. Padahal aku melihat mereka tepat di depanku." Dokter Chandra tak habis pikir dengan hal ini.


"Menurutku, dunia di balik tebing batu itu mungkin bukan bagian dari dunia ini lagi," kata Leon asal.


"Tapi Robert bisa kembali dari bagian kolam itu kemarin. Dan kau masih bisa bicara dengan Liam kan." Dokter Chandra membantah.


"Entahlah. Aku tidak tau," jawab Leon.


"Mungkin itu bagian transisi antara dua dunia yang berbeda?" gumam Gilang yang terdengar oleh kedua temannya.


"Hemm, bisa jadi pendapatmu itu yang benar." Dokter Chandra memuji.


"Liam, coba panggil Robert ke sini dulu," teriak dokter Chandra.


Tak lama Robert dan Liam kembali ke tepian. Dokter Chandra mengatakan tentang pendapat Gilang serta kenyataan bahwa Robert dan Liam tak bisa melihat dia dan Gilang, juga tak mendengar suaranya meski dia berdiri tepat di depan Robert di tepian kolam itu.


"Hemmm. Jadi benar, bahwa lorong pohon mapel itu adalah bagian dunia lain yang hanya bisa dilihat dari dalam kolam di balik tebing batu itu." Robert menyimpulkan dan ditanggapi dengan anggukan kepala teman-temannya.


"Kalau begitu, kita mandi-mandi saja dulu. Bagaimana pun, kita tak bisa masuk ke sana tanpa persiapan matang. Karena kemungkinan besar kita takkan bisa kembali lagi. Sama seperti ketika kita melintasi dinding cahaya di hutan salju, waktu itu," putus Robert.


"Baiklah.. kita bersenang-senang dulu saja." Gilang sudah melepas sepatu dan bajunya lalu berlarian masuk ke kolam dan berenang.

__ADS_1


"Aku mendapat banyak batu cantik," kata Leon membuka kedua telapak tangannya.


"Waahh, kau memang paling cepat. Hahahaa," Liam mulai berenang mencari-cari batu warna warni di dasar kolam.


Kelima pria itu asik berenang, mencuci pakaian, berendam dan mengumpulkan bebatuan hingga matahari melewati puncak kepala.


"Kelamaan main air. Perutku jadi lapar. Mari kita pulang," ajak dokter Chandra yang kemudian menepi.


Baju-baju basah dikumpulkan dalam keranjang. Mereka beriringan pulang dengan wajah puas. Temuan ini harus dibicarakan dengan para wanita dan Indra.


Hati mereka dipenuhi harapan lagi untuk mencari jalan keluar dari tempat itu dan menemukan anggota tim lain yang terpisah.


Sampai di pondok, wajah dokter Chandra semakin cerah melihat Indra sudah mulai duduk di depan pondok pria.


"Haha! Kelihatannya pasien lebih cepat sembuh jika dirawat dengan cinta," goda dokter Chandra yang disambut gelak tawa yang lainnya.


Indra meringis mendengar suara-suara meledek itu.


"Apa yang kalian temukan di kolam air hangat itu?" tanya Indra.


"Ini. Ada sepenuh kolam," Leon menunjukkan harta temuannya pada Indra.


"Wuihh cantik banget batunya. Bisa dibikin jadi mata cincin atau lainnya," seru Indra kagum.


"Kau benar kawan. Jika batu ini diasah dengan halus, dia akan lebih cantik lagi." sahut Liam setuju.


"Laras, apa kalian masih menyimpan benang-benang Marianne?" tanya Robert.


"Ada. Sebentar ku ambilkan," Laras masuk pondok wanita lalu keluar menjinjing tas ransel milik Marianne.


"Ini," Laras menyerahkan tas pada Robert yang duduk di bangku.


Robert sedang melihat beberapa batu miliknya.


"Menurutmu, mana yang paling cantik?" tanya Robert pada Laras.


Laras mengamati sejenak lalu menunjuk sebuah batu warna hijau.


"Ini cantik. Tapi yang itu juga cantik. Semuanya cantik sih," jawab Laras tergelak bingung.


Robert memilih benang warna warni koleksi Marianne. Dia memilih satu warna lalu mulai membuat ikatan-ikatan dari beberapa helai benang. Memasukkan batu yang telah di pilih Laras ke dalamnya. Robert membuat banyak simpul dan kepangan di sepanjang benang. Dan tak lama pekerjaan itu selesai.


"Ini untukmu." Robert menyerahkan sebuah kalung sederhana dari simpul tali temali dengan liontin batu yang dipilih Laras.


"Ini cantik sekali," puji Laras.


Dengan segera dipakainya kalung itu di leher dan jatuh dengan manis di dadanya.


"Terimakasih Robert," Laras tersenyum manis.


Sejenak aroma musim semi menghampiri hati Robert. Namun segera ditepisnya, karena menyadari bahwa Laras telah menyimpan seseorang di dalam hatinya. Dihelanya nafas dengan perlahan dan mengangguk pelan menyahuti Laras.

__ADS_1



***


__ADS_2