PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 198. Rencana Memindahkan Laras


__ADS_3

"Bagaimana dok?" tanya Liam setelah dokter Chandra selesai memeriksa.


"Sepertinya dia membentur sesuatu dengan keras. Dugaanku, benda itu mengenai tulang punggungnya," kata dokter Chandra.


"Jadi itu bukan sekedar memar?" tanya Widuri.


"Kelihatannya tidak. Aku harus memeriksanya lebih dalam untuk memastikan." Dokter Chandra menghela nafas berat.


"Kalau begitu lakukan saja dok," ujar Liam cepat.


"Kalau ini di negara kita, mungkin bisa. Tapi lihat tempat ini. Tidak steril, remang-remang dan tak ada peralatan. Dia bisa menjerit histeris saat aku menorehkan pisau."


Dokter Chandra geleng-geleng kepala melihat sikap Liam.


"Yoshi, tolong tanya tabib tua yang waktu itu merawat Indra. Apakah bisa membantu merawat Laras di tempatnya. Jika dia bersedia, kita bisa melakukan pemeriksaan dan tindakan lebih lanjut di sana," kata dokter Chandra.


"Ya, kita butuh keahlian pengobatan dia juga." Dean setuju.


"Baiklah. Aku berangkat sekarang," jawab Yoshi cepat.


"Aku akan menemani kakak." Yabie berjalan mengikuti Yoshi ke pintu rumah.


"Tunggu!" panggil Widuri. Yoshi dan Yabie menghentikan langkah mereka.


"Yoshi, bisakah kau mengurangi sedikit rasa sakitnya? Setidaknya agar dia tidak sampai pingsan karena kesakitan," pinta Widuri.


"Tidak. Kita perlu Yoshi ke tempat tabib. Jika dia melakukan itu, dia akan melemah di sini," cegah Dean.


"Apa aku bisa menggantikan kakak?" tanya Yabie.


"Kau bersedia? Terimakasih Yabie," ujar Widuri haru.


"Tidak apa bibi. Temanmu juga keluargaku." Yabie menoleh pada Yoshi.


"Apa kakak bisa mencari jalan sendiri ke sini?"


"Ya. Kau lakukan saja tugasmu," sahut Yoshi. Dia lalu melanjutkan langkah keluar rumah.


Yabie mendekati tempat tidur. Laras berbaring miring membelakangi pintu. Laras menggenggam tangan Liam dengan erat. Bibirnya terus mendesis menahan nyeri yang amat sangat.


Dengan perlahan Yabie mendekatkan telapak tangannya ke punggung Laras. Liam mengawasi dengan khawatir.


Tanpa menyentuh kulit Laras, Liam mengalirkan sedikit energi penyembuhannya. Entah itu bisa menyembuhkan penyakit itu atau hanya mampu meredakan rasa nyeri saja. Semua orang akan bersedia melakukan apapun untuk meringankan penderitaan Laras.


Perlahan wajah Laras yang memerah karena panas tinggi, berangsur normal. Tubuhnya basah oleh keringat. Liam dengan tekun melap wajah Laras yang basah. Dia sudah tidak mendesis lagi kini.


Setelah Yabie selesai, dokter Chandra mengangsurkan secangkir air pada Liam.


"Beri dia minum air ini."


Liam mengambil cangkir itu. Dibantunya Laras untuk menghabiskan air di cangkir.


"Semoga segera ada kabar dari tabib tua itu," gumam dokter Chandra.


Mereka keluar dan membiarkan Laras beristirahat dengan nyaman. Tinggallah Widuri dan Liam saja yang menemani Laras.


Saat itulah dokter Chandra menyadari kehadiran anak-anak di tempat itu.


"Siapa mereka?" tanyanya pada Dean.


"Mereka warga desa yang menolong Liam dan Laras. Tapi sayangnya seluruh warga desanya tewas ketika melawan tentara musuh. Tapi Pemimpin desa itu telah lebih dulu menyembunyikan Laras, Liam dan anak-anak ini," jelas Dean.

__ADS_1


"Jadi mereka adalah penerus yang tersisa?" dokter Chandra tak bisa berkomentar lagi. Dia bisa membayangkan kebingungan anak-anak kecil itu.


Dean memperkenalkan Yabie dan dokter Chandra pada Kenny dan Mattew. Dari Kenny, dokter Chandra dan Yabie mengetahui bagaimana mereka sampai di kota mati ini.


"Jadi kalian tak punya tempat tinggal lagi. Kalian ingin tinggal di sini? Tanyakanlah pada Yabie. Dia pemilik tempat ini sekarang," kata dokter Chandra.


"Bagaimana jika kalian tinggal di desa? Ayah Yabie adalah penguasa kota," usul Dean.


"Itu lebih baik. Kalian bisa hidup bermasyarakat," tambah dokter Chandra.


"Tuan, bisakah kami menyewa dan tinggal di kotamu ini? Kau bisa sebutkan bagaimana cara kami membayar kontribusinya." Mattew bertanya langsung pada Yabie.


"Paman, aku tidak mengerti hal seperti ini. Paman saja yang urus," ujar Yabie.


"Hemm.. Biar aku pikirkan dulu kesepatan yang sama-sama baik untuk semua pihak." Dean menjeda kalimatnya.


"Tapi aku perlu tegaskan. Kota mati ini berada dalam.wilayah kekuasaan ketua kota. Sementara tanah kota ini milik Yabie. Jadi, ku rasa kau paham maksudku."


Dean memandang Mattew lurus. Dia merasa Mattew adalah orang yang pintar. Tidak sepolos Kenny.


"Aku mengerti. Kami menyewa lahan tuan Yabie dan mengakui ketua kota serta berbakti sebagai warga kota," jawab Mattew.


"Bagus! Nanti kami diskusikan dulu dengan ketua kota. Kontribusi apa yang harus kalian selesaikan."


Dean mengangguk puas dengan pemahaman Mattew.


"Tapi, bolehkah saya tau, dari mana sumber air yang ada di rumah ini? Saya ingin mengalirkannya untuk kebun-kebun kami."


Mattew tak melewatkan kesempatan untuk bertanya langsung pada pemilik lahan.


"Oh, dari sini," kata Yabie sambil melangkah ke halaman belakang. Yang lain mengikuti.


"Aku duduk di sini saja boleh kan?"


Yabie melewati dapur, melewati bedengan yang baru dibuat, lalu berhenti di depan tembok samping kolam ikan.


Dia menyentuh satu batu di samping kolam. Lalu terdengar bunyi derit batu saling bersentuhan. Tembok belakang itu bergeser ke samping dan membuka celah yang cukup untuk dilalui satu orang.


Mereka ternganga melihat itu. Tak ada yang menyangka tembok itu adalah pintu tersembunyi.


"Apakah kita sudah keluar dari tembok kota?" tanya Dean.


"Tidak. Ini pintu yang berbeda. Ayo lihat saja," Yabie masuk dengan santai, diikuti yang lainnya.


Dean terpaku melihat pemandangan di depannya. Itu adalah hamparan ladang gandum yang siap panen. Dibatasi saluran air kecil, tampak padang rumput terhampar. Yabie membuat pagar-pagar di padang rumput yang luas itu. Di situ ada kawanan domba dalam satu kelompok. Ada juga kawanan sapi di kelompok lainnya.


Dean terbang melintasi ladang gandum, lalu mengawasi padang rumput itu. Dia serasa mengenali kontur tanah itu.


Dean mencoba mengingat, harusnya ada pohon mapel di belakang padang rumput. Dean terus terbang jauh meninggalkan Kenny Mattew dan anak-anak yang shock melihatnya tiba-tiba terbang.


"Di-dia bisa terbang. Hebat!" seru salah satu gadis remaja dengan tatapan terpesona.


"Aku juga bisa," kata Yabie. Lalu dia terbang kesana-kemari seperti kupu-kupu.


"Hah?!"


Orang-orang itu kini benar-benar terkejut. Benarkah teman-teman Liam adalah manusia biasa seperti mereka?


"Apa yang kalian lakukan di sini?" sebuah suara menyadarkan anak-anak yang sedang terpukau itu.


"Itu. Mereka bisa terbang," jelas seorang bocah dengan wajah yang exited banget.

__ADS_1


"Yoshi, panggil adik dan pamanmu kembali," Widuri menahan kesal.


"Ya, bibi." Yoshi segera melesat cepat menyusul adik dan pamannya.


"Woaaaa...!"


Anak-anak itu berseru dengan kagum.


"Dia juga bisa terbang. Hebat sekali."


Wajah-wajah yang awalnya terkejut itu, kini justru berseri-seri.


"Bibi, bawa aku terbang. Aku juga mau terbang," kata seorang gadis cilik dengan wajah gembira. Tangannya sudah terulur ke arah Widuri.


Widuri garuk-garuk kepala dengan bingung. Lalu dia berjongkok dan merangkul gadis kecil itu.


"Bibi tidak bisa terbang seperti mereka. Bibi sama sepertimu," jelas Widuri lembut.


"Tapi bibi bisa menaruhmu di pundak agar kau bisa melihat lebih jauh. Mau?" tawar Widuri saat melihat mata bocah itu menyiratkan kekecewaan.


Gadis kecil itu mengangguk senang. Laras meminta bantuan Kenny agar anak itu bisa duduk di pundaknya.


Laras berjalan di padang rumput sambil memegang kedua tangan kecil itu di sisi kepalanya. Laras berlarian berputar-putar di dekat pagar domba. Bocah-bocah lain ikut bermain berlarian. Mereka terlihat bahagia. Menjerit dan tertawa gembira.


Laras berhenti setelah melihat Dean, Yoshi dan Yabie kembali. Gadis cilik itu diturunkan.


"Kalian bermainlah. Tapi jangan jauh-jauh. Kami mau memeriksa Laras lagi," kata Widuri.


"Tidak. Mereka harus masuk dan pintu ditutup lagi," kata Yabie.


"Kenapa?" tanya Dean.


"Di hutan itu banyak binatang buas," ujar Yabie pasti.


Widuri heran. "Bagaimana kau tau?"


"Karena aku yang melepas mereka di sana." Yabie menganggukkan kepalanya meyakinkan semua orang.


"Sudah. Kita bahas itu nanti. Ayo bawa semua anak-anak masuk," perintah Dean.


*


*


"Jadi, bagaimana kita membawa Laras ke sana?" tanya dokter Chandra.


"Kita harus membuat tandu. Lalu aku dan Yabie bisa mengangkatnya ke kediaman tabib," jawab Dean.


"Baiklah. Kita cari kayu yang cukup kuat untuk penyangga lalu kain untuk alas Laras berbaring.


"Tidak ada kayu. Tidak ada kain. Tapi ada ini," Yabie menunjuk tumpukan kulit yang jadi alas tidur di sudut ruangan.


Dean mengangguk. "Sekarang kita tebang pohon dulu. Ayo Yabie," ajak Dean.


'Ya Tuhan, mau berapa lama lagi Laras menunggu Dean menebang pohon untuk jadi penyangga tandu?' batin Liam.


Dia sedih memikirkan rasa sakit yang diderita Laras dari waktu ke waktu. Tapi Liam harus bisa menunjukkan wajah optimis di depan Laras.


"Sabar ya. Kau akan dibawa ke tempat pengobatan. Kau pasti akan sehat lagi." Liam kembali memompakan semangat pada Laras.


*******

__ADS_1


Note: Para readers terkasih, author akan senang sekali jika setelah membaca, kalian bersedia meninggalkan jejak like 👍 dan komen di sini. Terimakasih banyak.


__ADS_2