PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 412. Istri Dokter Chandra


__ADS_3

Keesokan pagi, kembali Dokter Chandra, Dean, Robert, Yabie, Liam, dan Laras, pergi ke Jakarta.


Astrid telah mengantarkan sepuluh paket solar cell, kulkas, serta kipas angin, seperti yang diinginkan Dean.


"Pak, jumlah itu terlalu besar, jadi saya hanya bisa ambil secara bertahap. Selain saya pakai untuk membeli semua itu, saya ambil sepertinganya dulu. Semua ada di tas ini. Termasuk rincian belanja."


Astrid menyerahkan tas yang sejak tadi dipegangnya.


"Terima kasih. Kau bisa ambil bagianmu," kata Dean.


"Baik, pak. Tapi jumlah masih sangat banyak. Jika ada yang ingin anda beli lagi, katakan saja. Menggesek kartu itu jauh lebih mudah ketimbang menarik uang cash dalam jumlah besar," tawar Astrid.


"Ada yang memesan camera. Kau cari yang bagus. Lalu set komputer, printer, kertas-kertas, kertas foto dan lain-lainnya. Oh ya, ada yang mau membangun sekolah di sana. Bisakah menyediakan kapur tulis? Buku-buku dan alat tulis?" tanya Dean.


Astrid terus mencatat. "Apa lagi, Pak?" tanyanya.


"Sementara itu dulu," tandas Dean.


"Baik, nanti saya carikan," kata gadis itu. "Saya harus segera kembali," tambahnya.


"Bisakah kami ikut keluar untuk membeli keperluan?" tanya Laras.


"Bisa. Di depan sana ada pusat perbelanjaan. Apakah itu cukup?" tanya Astrid.


"Ya! Itu cukup," sahut Laras.


Dean menyerahkan sedikit uang pada Liam, untuk mereka membeli keperluan pernikahan.


"Terima kasih, Dean," lirih Liam terharu. Dean hanya mengangguk.


Dokter Chandra menyerahkan catatan alamat dan ponselnya untuk mereka memesan taksi.


Astrid, Liam, Laras dan Yabie pergi untuk berbelanja. Rumah itu kembali lengang.


"Kupikir, air terjun yang kita punya itu bisa jg dimanfaatkan untuk pembangkit listrik," cetus Robert.


"Ahh, kenapa aku melupakannya!" seru Dean terkejut. "Apa kau bisa membuat turbin listrik sederhana?" tanya Dean.


"Mari kita pelajari dulu. Buka laptopmu!" kata Robert.


Hingga saat Liam, Laras dan Yabie pulang, Dean, Robert dan Dokter Chandra masih berdiskusi tentang rencana-rencana mereka. Termasuk membuat klinik untuk Dokter Chandra. Dan itu berarti harus membeli beberapa peralatan kesehatan.


*


*


Seminggu berikutnya, mereka telah dua kali pulang pergi ke Jakarta, untuk membeli berbagai keperluan. Keluarga Laras sudah dihubungi, dan dapat menerima pilihannya untuk tetap tinggal di sana.


Istri Dokter Chandra akhirnya curiga pada sikap kedua anaknya yang kerap menginap di rumah teman. Akhirnya diputuskannya untuk membuntuti Dyah yang pagi itu buru-buru pergi dan mengatakan, mungkin akan menginap di rumah teman.


Yang mengherankan, Dimas juga ikut-ikutan menginap di rumah teman dan kabur bersama kakaknya. Wanita paruh baya yang masih cantik itu, khawatir dengan pergaulan putra-putrinya sepeninggal papa mereka.

__ADS_1


Alangkah herannya wanita itu ketika melihat mobil itu memasuki kompleks, di mana rumah yang mereka beli, tak pernah ditempati. Benar saja, dilihatnya mobil Dyah memasuki halaman.


"Apa yang mereka sembunyikan di sana? Apa mereka selalu menginap di sini jika minta ijin menginap?" pikirnya heran.


Wanita itu turun dari taxi. Pandangannya terpaku melihat perubahan itu. "Apa mereka yang mengecat ulang? Merapikan halaman? Ada apa sebenarnya?" gumamnya kebingungan.


Dengan hati-hati, dibukanya pengait pintu pagar dan masuk ke halaman. Makin dekat ke rumah, makin terdengar suara-suara orang sedang berbincang. Dan itu bukan suara anak-anaknya.


"Apa mereka menyewakan tempat ini? Atau itu suara pekerja yang sedang merenovasi? Pakai uang apa Dyah membayarnya?"


Wanita itu memasuki garasi yang pintunya hanya ditutup saja. Pertanda Dyah dan Dimas merasa aman di sini. Dia terus melangkah ke pintu masuk. Tak ada siapapun di ruang tamu.


Istri Dokter Chandra terus melangkah ke dapur, yang ramai dengan suara-suara.


"Ayo, kalian sarapan dulu, sebelum berangkat ke sekolah!"


Suara itu mengejutkan istri Dokter Chandra. Tas tangan yang dipegangnya, terlepas dan jatuh ke lantai. Gemerincing suara tali metak yang menyentuh lantai, mengangetkan semua orang.


"Mama!" seru Dyah dan Dimas terkejut. Sedetik kemudian, keduanya menghambur memeluk wanita itu. Tapi mamanya tidak mempedulikan.


"Siapa kau? Siapa kalian! Kenapa ada di sini!" teriaknya marah.


Dokter Chandra yang sedang memegang alat masak, meletakkan peralatan masak kembali di dapur.


"Tenang, Nyonya. Kami bukan orang jahat," kata Dean menenangkan wanita paruh baya yang marah itu.


Istri Dokter Chandra menoleh padanya. Pandangannya terasa sangat menusuk. Itu membuat Dean terdiam. Dia menoleh pada Dokter Chandra sambil mengangkat bahu, tanda menyerah. Dean tak ingin berdebat.


"Sayang, tidak seperti itu!" bantah Dokter Chandra.


Wanita itu kembali tertegun. Bagaimana bisa, ada orang yang wajah, perawakan bahkan suaranya mirip dengan suaminya? Wanita itu tak percaya.


"Ini akan lebih sulit dari pada memberi bukti pada Dyah," geleng Dokter Chandra.


Sesungguhnya mereka sudah lelah harus terus memberi bukti, pengertian dan bercerita ulang pada orang lain, lagi ... dan lagi.


Dokter Chandra melambaikan tangannya dan sebuah selubung cahaya putih, muncul dan memerangkap istrinya.


"Kalian sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Setelah itu cepat kembali!" perintah Dokter Chandra.


"Mama bagaima?" tanya Dimas.


"Mamamu butuh lebih banyak bukti dan pendekatan pribadi!" senyum Dokter Chandra.


Anak-anak itu tertawa terkekeh, dan mengabaikan mama mereka yang melotot marah.


"Kalian urus dulu keperluan. Sementara aku mengurus Nyonya!" ujar Dokter Chandra jenaka.


"Oke, Dok. Jangan khawatirkan kami!" balas Robert.


Dokter Chandra masuk kamar dan menutup pintu. Dean dan Robert saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Kalian sudah selesai? Kami ikut hingga ke jalan besar!" ujar Robert.


"Tak masalah," angguk Dyah. "Hey, apa kau akan terus memandangi daging itu?" ejeknya pada Dimas.


"Entah kenapa, aku merasa daging yang dibawa dari dunia kecil itu sangat enak!" kata Dimas.


"Semua daging akan kau sebut enak. Karena kau karnivora!" cibir kakaknya.


"Enggak kok, memang sangat lezat!" ujarnya sambil mencomot seiris daging lagi, sebelum berdiri.


"Minum dulu sehabis makan. Mulutmu berminyak!" omel Dyah.


Dimas membiarkan kakaknya mengambilkan air minum dan menyeja mulutnya.


"Ayo!" ajak Dyah.


Mereka pergi meninggalkan rumah dengan kedua orang tua mereka di dalam kamar.


Sore hari.


Ketika Dean dan Robert kembali dari berbelanja, dilihatnya suami istri itu sudah akur. Dimas tertidur di sofa dengan nyenyaknya. Tapi tampaknya Dyah belum kembali.


"Sore semuanya!" sapa Robert.


"Ah, kalian sudah kembali?" Dokter Chandra menyahuti.


"Ya, beberapa keperluan sudah ada, tapi beberapa lainnya harus indent," jelas Robert.


Dokter Chandra memgangguk. "Sayang, ini perkenalkan Dean. Dan yang itu, Robert," kata Dokter Chandra.


"Salam kenal, Nyonya," sapa Dean dan Robert hormat.


"Salam kenal. Maafkan ucapanku sebelumnya," sahut istri Dokter Chandra.


"Itu bukan hal besar," timpal Dean.


"Apa kalian ingin kembali, sekarang?" tanya Dokter Chandra.


Robert dan Dean mengangguk. "Jika Anda masih ingin di sini, kami bisa kembali berdua." Dean menawarkan solusi.


"kurasa, aku akan tinggal.di sini hingga besok!" ujar Dokter Chandra.


"Baiklah kalau begitu." Dean dan Robert berjalan ke kamar, di mana pintu teleportasi ditaruh. Dokter Chandra menyusul keduanya.


"Kami berangkat, Dok!" pamit Robert. Keduanya menyelubungi diri masing-masing, sebelum melompat ke lorong teleportasi dan lenyap di sana.


"Kenapa kau tidak kembali?" tanya istrinya.


"Aku masih rindu ...." tatapan Dokter Chandra penuh arti. Istrinya buru-buru mengalihkan pandangan dengan wajah bersemu merah.


********

__ADS_1


__ADS_2