PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 263. Kota Rawa


__ADS_3

Kapal merapat ke pelabuhan kota Rawa menjelang sore hari. Kapten sangat sibuk mengurus berbagai hal. Jadi penunjuk jalan yang dimaksud, belum lagi dihubungi.


Tim Dean diminta tinggal di kapal hingga besok pagi, demi keamanan mereka. Dan mereka tak bisa berbuat apa-apa.


Malam hari, seorang kru mengetuk pintu kabin dan menyampaikan pesan Kapten. Dean mengikutinya ke kabin Kapten.


Ada seorang pria bersama kapten. Kulitnya penuh keloid akibat bekas luka. Pria itu membalas tatapan Dean dengan tajam. Dean mengerutkan alisnya sedikit.


Kapten Smith menyuruh Dean duduk. "Ini guide yang ku maksud. Namanya Linch."


"Oh, baiklah. Namaku Dean," kata Dean mengulurkan tangan untuk bersalaman.


Tapi orang itu membuang muka.


"Berapa kau bisa bayar?" tanyanya tanpa sungkan.


Dean diam sejenak.


'Huft, orangnya yang sok merasa penting ini', geram Dean di hatinya.


Dean menatap Kapten tajam sambil memiringkan kepala dan keningnya mengerut.


"Kondisimu juga kurang baik. Istrimu mau melahirkan. Jadi jangan jual mahal. Katakan harga yang pantas. Aku merekomendasikanmu padanya. Jangan buat aku malu. Nanti aku tak punya muka bertemu keluarganya!"


Kata-kata Kapten Smith manjur untuk menghilangkan rona angkuh di wajah Linch. Ketegangan di wajahnya mulai mengendur. Matanya protes ke arah Kapten Smith. Tapi Kapten menggeleng. Orang itu akhirnya menyerah.


"Kita saling bantu di sini. Jadi mari kita bicara dengan baik," ujar Dean.


"Alan, panggil Leon ke kabin kita. Aku sedang mendiskusikan biaya guide. Nanti tanyakan, apakah dia punya uang sejumlah yg diminta."


Dean mengirim pesan transmisi.


"Oke," jawab Alan.


"Jadi bagaimana?" tanya Dean lagi ke arah Linch yang sedang diam. Dia seperti sedang menghitung biaya perjalanan.


"Kalian berapa orang?" tanyanya.


"Apa hubungannya?" tanya Dean ingin tau.


"Ada hubungannya. Semakin banyak, semakin aman. Jika hanya 2 atau 3 orang, maka aku harus mencari jalan alternatif agar kalian aman," jawabnya.


"Apakah kita akan melewati banyak pos pemeriksaan?" tanya Dean.


Linch mengangguk.


"Jika melewati pos pemeriksaan, berarti harus membayar?" tanya Dean lagi.


Linch kembali mengangguk. "Jika anggotamu banyak, kita akan melewati jalur umum, artinya kau tak perlu membayar mahal untuk jasaku."


"Tapi keluar banyak untuk pos pemeriksaan!" potong Kapten Smith.


Linch mengangguk.


"Kami 12 orang. Apa bisa lewat jalur alternatif?" tanya Dean.


Linch sedikit terkejut.


"Dua belas orang?" katanya meyakinkan pendengarannya.


Dean mengangguk mengiyakan. "Dua belas orang!"


"Ku rasa aku akan butuh satu guide lagi untuk menjaga bagian belakang," katanya meragu.


"Katakan dulu, apakah jalan rahasiamu itu aman untuk dilalui rombonganku!" desak Dean.


"Selama kalian mengikuti arahanku dan tidak mengeluh, itu aman. Aku sudah membawa beberapa orang lewat jalan itu dengan selamat," ucapnya dengan percaya diri.


"Berapa yang kau minta?" tanya Dean.


"1000 koin perak!" katanya cepat.


"Apa?" Kapten Smith terlonjak.

__ADS_1


"Jalur itu sangat rahasia Kapten. Jika bocor ke orang lain, aku akan dikejar mereka. Aku mempertaruhkan keselamatan aku dan keluargaku. Lagi pula mereka terlihat cukup kaya." Linch tak lagi menutupi tatapan tamak di matanya.


"Hehehee.... Matamu bermasalah!" ejek Kapten sambil terkekeh.


"Mereka naik kapal ini dengan menjual gabah dan keju. Mereka tak punya uang!" kata Kapten Smith dengan ekspresi lucu.


"Hah... padahal ku kira bisa punya uang cukup untuk persalinan istriku...."


Linch mengacak-acak rambutnya kesal.


"Kapan waktu persalinan istrimu?" tanya Dean melunak.


"Dalam minggu ini," jawab Linch sambil menunduk putus asa.


Dean menimbang-nimbang.


"Alan, tanya Leon. Apakah dia punya 1000 koin perak? Tapi jangan sampai juga uangnya habis."


Dean mengirim pesan transmisi. Dan menunggu beberapa saat.


"Kata Leon, ada. Dia telah menjual 2 gerobak barang, satu kereta dan seekor kuda sebelum naik kapal." Alan menjawab dari kabinnya.


"Bagaimana jika 700 koin perak?" tanya Dean pada Linch.


Pria itu tersentak dari lamunannya. Dia bertanya lewat matanya ke arah Kapten.


"Dia menawar 700 koin perak!" kata Kapten sebal. Dia merasa telah dibohongi Dean yang terlihat tidak puanya uang dan membayarnya dengan gabah.


"Itu uang Leon, Kapten!"


Kapten Smith terkejut setengah mati. Ditepuk-tepuknya telinganya. Bagaimana caranya suara Dean bisa terdengar begitu dekat seakan dibisikkan? Sementara Dean duduk di seberang meja!


Kapten menoleh pada Dean mencari penjelasan. Tapi Dean menatapnya tajam.


"Jangan bertingkah aneh, Kapten. Kita sedang bernegosiasi biaya guide!"


Suara Dean yang ketus langsung masuk ke kepala Kapten. Hal itu membuat Kapten langsung terdiam.


'Keluarga Ketua kota Pelabuhan memang benar-benar aneh' batinnya.


"800 koin perak. Tak kurang lagi. Itupun aku tak bisa mengajak satu guide lain. Jadi kalian harus menjaga rombongan kalian sendiri!" ujarnya tegas.


Dean manggut-manggut sejenak.


"Baiklah. Kita sepakat 800 koin perak dan hanya memakai jasamu saja. Jangan khawatir dengan keselamatan kami. Tunjukkan saja jalan yang benar!" ujar Dean. Dia mengulurkan tangan lagi ke arah Linch.


Linch melihat tangan Dean ragu. Tapi kemudian dia membalas salam Dean.


"Terima kasih sudah membantuku," ujar Dean Hangat.


"Sebentar aku ambil uangnya. Aku akan membayar setengah biaya dimuka. Sisanya setelah perjalanan selesai," ujar Dean.


"Tidak! Bayarkan semuanya sebelum kita berangkat. Aku mengadu nyawa di perjalanan ini. Jadi istriku harus punya cukup uang untuk bertahan hidup beberapa saat, jika aku tak bisa kembali."


Dean kaget mendengar penuturan Linch. 'Apakah perjalanan ini sangat berbahaya?' pikirnya.


"Baik. Jadi kapan kita berangkat?" tanya Dean lagi.


"Sekarang!" jawab Linch pasti.


Meski tak menyangka, tapi Dean akhirnya mengangguk. Dia setuju bahwa gelapnya malam akan mengaburkan keberadaan mereka dari banyaknya mata yang mengintai di kota Rawa.


"Kami akan segera siap."


Dean langsung kembali ke kabinnya.


"Alan, kita berangkat malam ini juga. Bersiaplah!" kata Dean lewat transmisi.


"Hah?! Ok!"


Dean bisa mendengar sedikit suara ribut dari kabin mereka. Pasti kabar tadi telah disampaikan Alan. Dean tersenyum tipis.


"Ah, Dean!"

__ADS_1


Leon bertemu Dean saat keluar kamar.


"Apa kau butuh uang 1000 itu sekarang?" tanyanya.


"Sudah ku tawar. Jadi kau hanya perlu mengeluarkan 800 saja. Apa kau bersedia?" tanya Dean.


"Tentu saja. Untuk apa uang ini? Kita tak membutuhkannya di Indonesia... hahahaa...." Leon tertawa.


"Beritau istrimu untuk beres-beres. Sebentar lagi kita berangkat," ujar Dean.


"Oke!" Leon kembali ke kabinnya.


Dean membuka pintu kabinnya. Mereka sedang memasukkan beberapa barang ke dalam ransel.


"Apa semua sudah beres?" tanya Dean.


"Iya. Mereka tinggal memasukkan barang pribadi ke dalam tas," jawab Sunil.


Dean mengangguk.


"Apa kau sudah makan, Cloudy? Kita akan berjalan jauh. Jadi kau tidak boleh lapar."


Dean memeluk dan mengelus bulu-bulu halus Cloudy.


"Dia sudah makan 3 ekor ikan malam ini. Makannya makin banyak. Lihatlah dia makin bulat sekarang!" ujar Niken.


"Cloudy, jika kau makin bulat, kau jadi lebih mirip beruang ketimbang macan!" ejek Niken pada Cloudy. Cloudy menggeram manja mendengar suaranya.


"Hah, aku ini sedang menyindirmu, bukan memujimu!" Niken jadi tertawa melihat Cloudy yang semakin menggemaskan.


"Kami sudah siap!" ujar Marianne.


"Jangan membawa barang terlalu berat, Marianne. Biar ku bawakan sebagian," kata Michael Khawatir.


Marianne tersenyum dan menggeleng.


"Ayo!"


Dean membawa Cloudy keluar bersamanya.


Leon dan Jane sedang menaikkan barang-barang mereka di punggung kuda.


"Kuda kalian sangat bagus!" seru Robert.


Leon tersenyum. "Aku tau kau mengerti tentang kuda. Aku ingat saat kita di padang bunga dan memiliki banyak kuda karena kau mahir menjinakkannya. Itu juga kuda-kuda yang sangat bagus."


"Yah, lebih gagah ketimbang kuda poni di negeri kurcaci biru. Hahahaa...." Niken tertawa.


Leon menyerahkan uang 800 koin perak ke tangan Dean. Dean mengangguk. Mereka sudah siap berangkat.


Kabin Kapten terbuka. Kapten dan Linch keluar. Dan seperti yang ditebak, dia mundur selangkah ketika melihat Cloudy yang sedang pamer gigi.


"Apakah dia tak berbahaya?" Linch merasakan kengerian yang amat sangat.


"Dia berbahaya bagi orang jahat," jawab Dean.


"Percayalah padaku. Mereka lebih berbahaya ketimbang macan itu," kata Kapten sambil terkekeh.


"Baiklah. Akan ku ingat nasehatmu," ujar Linch.


"Kapten, terima kasih untuk kebaikanmu selama ini." Dean menyalami Kapten Smith.


"Hemm... Aku memang selalu baik pada semua orang," kata Kapten Smith mencoba bersikap berwibawa.


Dean memeluknya hangat.


"Selamat tinggal Kapten!"


Semua melambaikan tangan ke arahnya. Kapten Smith merasa sedikit terharu dan sedih. Tak ada lagi yang bisa memberinya keju bagus dengan harga murah. Dia telah mencoba menjual satu ke tuan kota Levin. Dan mendapatkan keuntungan besar.


Kapten Smith memperhatikan rombongan itu dari atas dek. Orang-orang baik dan bersahaja. Entah apakah bisa bertemu lagi.


"Hah... godaan dinding cahaya itu begitu besar. Bahkan orang-orang baikpun ditariknya juga," keluhnya sedih.

__ADS_1


******


1 Chapter yaa 🙏


__ADS_2