PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 416. Selamatkan Istri dan Anakku


__ADS_3

Dean sampai di rumah lamanya di hutan pada sore hari. Sudah berjam-jam berlalu. Tubuhnya bergetar karena sangat khawatir. Istrinya masih pingsan di dalam kalung penyimpanannya.


"Yabie! Di mana kau? Aku mau ke tempat Tabib Tua, mertuamu. Bibimu jatuh dan pingsan!" panggil Dean lewat transmisi suara.


"Aku di rumah ayah. Aku segera menyusul ke sana!" sahut Yabie


Dean melesat terbang ke arah puncak bukit di mana tabib itu membuka klinik.


"Paman di mana?" tanya Yabie.


"Sebentar aku sampai!" sahut Dean.


Saat Dean mendarat, Tabib dan putrinya serta Yabie, telah menunggu.di pintu.


"Tolong istriku!" mohon Dean dengan suara tertahan. Widuri yang pingsan, kini ada dalam pelukannya.


"Bawa ke dalam!" perintah tabib.


Dua pelayanan di klinik sudah bersiap-siap di dalam ruangan. Dean membaringkan Widuri di tempat tidur. Tabib tua itu segera memeriksa denyut nadinya.


"Denyutnya tidak teratur," ujarnya.


"Apa artinya, itu?" tanya Dean pada istri Yabie.


"Ada sesuatu yang menyebabkannya pingsan. Biarkan ayah memeriksa lebih teliti. Paman duduklah dengan tenang. Ini diminum dulu. Wajah paman pucat pasi!" bujuk istri Yabie sambil mengangsurkan secangkir minuman hangat ke tangannya.


"Apakah dia akan baik-baik saja? Apa bayinya akan baik-baik juga?"


Yabie merasa sangat sedih, melihat mata pamannya seperti kehilangan cahaya. Belum pernah dia melihat Dean selemah dan se-tak berdaya itu.


"Bibi pasti akan baik-baik saja. Sepupuku juga akan sangat sehat!" katanya yakin.


Dean hanya diam mematung. Pandangannya tak lepas dari tempat tidur Widuri.


Setelah selesai memeriksa, tabib itu berbalik. Dean segera menghampirinya. "Bagaimana dengan istriku?" tanyanya tak sabar.


"Menurut pemeriksaanku, tidak ada yang salah dengannya. Putramu juga baik-baik saja, meskipun---"


"Meski apa?" potong Dean.


"Aku baru mau jelaskan, sudah kau potong. Duduklah dengan tenang!" tegur tabib.


"Lalu kenapa dia masih belum bangun juga?" lirih Dean.


"Di mana Dokter Chandra? Kurasa dia mungkin bisa memeriksa dan menenangkanmu!" kata tabib.

__ADS_1


"Dia sedang pergi!" sahut Dean bingung.


"Jika Widuri baik-baik saja, bukankah harusnya dia sudah siuman dari pingsannya?" tanya Dean.


"Itu sebabnya tadi kukatakan. Mungkin hanya Dokter Chandra yang bisa menjelaskan penyebab pingsannya istrimu!" jelas tabib.


"Bisakah dia menunggu hingga Dokter Chandra datang?" tatapannya sayu pada Widuri yang tergeletak.


"Aku tak bisa mengobati orang yang sehat. Jadi aku hanya akan membuatkan sesuatu, agar dia bisa segera siuman!" ujar Tabib Tua.


Dean mengangguk. Dia pasrah, karena tak ada hal lain yang bisa dilakukannya lagi. Berharap Dokter Chandra segera kembali dan menyusulnya. Dia memandangi Widuri dengan sedih. Digenggamnya tangan wanita itu penuh kasih.


"Kau harus kuat dan sadar lagi. Kasihan bayi kita kalau kau terlalu lama pingsan," bisiknya lembut.


Dean mencoba mendengarkan detak jantung istrinya. Memang tak beraturan. Berdebur kencang, seoerti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Dicobanya meletakkan jari di dekat hidung Widuri untuk merasakan helaan nafasnya. Helaan nafasnya terasa memburu kencang.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang?" bisik Dean pedih. Wanita itu seperti sedang tidur dan bermimpi buruk. Namun tak ada yang tahu bagaimana membangunkannya.


"Penguasa, kumohon ... cepatlah kembali!" Dean mencoba mengirim pesan transmisi setulus hatinya yang sedang menangis.


"Aku sedang dalam perjalanan!" balas Dokter Chandra.


"Penguasa!" seru Dean terkejut. Tapi wajahnya berubah cerah. Harapannya kembali tumbuh.


"Akan kutunggu di depan. Jika paman butuh sesuatu, panggil saja!" Yabie menawarkan bantuannya.


Dean mengangguk. Dia sedang tak ingin jauh dari Widuri. Yabie dan istrinya keluar. Tabib tua itu memberi beberapa instruksi pada dua pelayannya. Kemudian keduanya keluar. Tabib itu mendekati Dean lagi.


"Biar ku-cek sekali lagi," katanya.


Dean memberinya tempat untuk memeriksa. "Semoga ada perubahan," harapnya dalam hati.


Dean memperhatikan dahi tabib yang sedikit mengerut. Kecemasannya kembali lagi. "Sayang, kumohon, bertahanlah. Penguasa akan segera tiba!" bisiknya halus di telinga Widuri.


Tabib memiringkan kepalanya alis matanya sampai bertaut heran. "Kurasa, dia bisa mendengar bisikanmu. Denyut nadinya sedikit berubah. Panggillah dia, berikan semangat dan keberanian!" saran Tabib Tua itu.


"Benarkah?" mata Dean membulat. Tapi dia tak butuh jawaban. Sedikit saja harapan ... walaupun hanya sedikit, dia akan memperjuangkannya!


"Sayang ... jika kau bisa mendengar suaraku, genggam tanganku sebagai tanda. Bisa kah?" bisik Dean lagi.


Dean dan tabib, memperhatikan tangan Dean yang menggenggam tangan kiri Widuri. Perlahan jari halus Widuri bergerak-gerak. Tidak sampai menggenggam, tapi dia merespon bisikan Dean.


"Dia mendengarkanmu! Coba bimbing dia kembali!" saran Tabib Tua.


"Sayang, kau mendengarku! Jawab pertanyaanku dengan gerakan jarimu. Oke? Aku akan membantumu!" bisik Dean lagi. Kali ini dia menjadi lebih bersemangat, sebab lagi-lagi Widuri menggerakkan jarinya dalam genggaman Dean.

__ADS_1


"Apa kau merasa sakit?" tanya Dean. Dean menunggu. Namun tak ada jawaban dari Widuri. Setelah menunggu hampir lima menit, Dean menggeleng pada tabib yang duduk di bangku depan tempat tidur Widuri.


"Dokter Chandra sudah datang!"


Yabie melapor dari depan pintu, disusul Dokter Chandra yang langsung terbang ke dalam ruangan. Jelas dia khawatir dan terburu-buru datang.


"Bagaimana?" tanyanya.


"Dia pingsan! Tidak tahu kenapa...." Dean terlihat tak berdaya.


"Biar kuperiksa!"


Dokter Chandra mendekat. Meletakkan tangannya di atas perut Widuri yang membuncit. Alisnya juga bertaut heran.


"Aku tidak tahu sebabnya. Tapi kurasa dia akan melahirkan dalam waktu dekat!" simpul Dokter Chandra.


"Apa?" Dean sungguh terkejut mendengarnya. Perhitungan kami, dia masih akan menunggu tiga bulan lagi!" tambah Dean.


Dokter Chandra tak menggubris kata-kata Dean. Dia sedang berkonsentrasi memeriksa bayi Widuri. Seberkas cahaya putih kecil, menyelusup masuk ke perut Widuri. Tapi tak lama, cahaya itu kembali melesat masuk ke dalam tangannya.


"Aneh! Cahayaku tertolak untuk memeriksa keadaan bayimu lebih lanjut," lirih Dokter Chandra. Belum pernah dia mengalami hal seperti itu, setiap kali memeriksa calon bayi Widuri, Niken, bahkan Yoshi!


"Tabib, khawatirku, Widuri akan melahirkan dalam waktu dekat. Tolong buat persiapan. Jika dia masih belum sadar hingga waktu melahirkan, maka kita harus melakukan operasi Caesar padanya!"


Dokter Chandra mengeluarkan alat-alat bedah dari penyimpanannya. Semua masih di dalam kotak kemasannya. Berarti itu baru dibelinya. Dia memilih beberapa alat dan diserahkan pada Tabib Tua.


"Rebus semua alat ini. Kita mungkin akan membutuhkannya nanti," ujarnya.


Tabib mengangguk. Diterimanya semua peralatan yang baru pertama dilihatnya itu. Setelah itu Sang Tabib segera keluar ruangan untuk mempersiapkan segala sesuatunya.


"Tapi, Dok!" Dean tak dapat mengungkapkan apa yang sedang dipikirkannya.


"Tolong selamatkan dia! Selamatkan istri dan anakku!" lirih Dean yang kini merasa tak berdaya. Tubuhnya yang telah lelah bekerja, ditambah hatinya juga lelah. Membuat kondisinya drop. Badannya limbung dan terhuyung.


Dokter Chandra segera menggerakkan tangannya mengirimkan caya putih untuk menjaga agar Dean tak sampai jatuh ke lantai.


"Yabie!" bantu pamanmu!" seru Dokter Chandra lewat transmisi suara.


"Ya, Penguasa!"


Yabie masuk dan terkejut melihat pamannya juga tak sadarkan diri. Dia mengambil alih tubuh Dean dan membawanya keluar ruangan.


"Ayo, bawa Paman ke ruangan lain!" ajak istrinya. Yabie mengikuti langkah istrinya keluar ruangan.


*******

__ADS_1


__ADS_2