PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 229. Pernikahan Indra dan Niken


__ADS_3

Hari terlewati dengan damai di kompleks rumah di tengah hutan terlarang. Tak ada lagi yang menyuruh Nastiti mengantar sesuatu ke tempat Vivian. Dia dibiarkan melakukan hal lainnya.


Kang juga kembali ke dunia kecilnya untuk mengurus ternak dan tanamannya. Namun Robert tinggal untuk menjaga Vivian. Karena Robert melihat hampir semua pria pergi bekerja di kota mati, jadi dia tak ingin Vivian jadi beban tambahan untuk tim ini.


Alan, Michael dan Nastiti mengurus kebun bersama. Niken dan Marianne mengebut membuat hiasan baju pengantinnya. Widuri mencuci banyak kain yang tadi malam digunakan untuk operasidengan obat pencuci yang diberikan tabib. Sementara Dokter Chandra duduk di meja. Secara berkala dia memeriksa Vivian dan menyiapkan obatnya untuk siang hari.


Saat Sore tiba, semua pria kembali dari kota mati. Mereka terlihat lelah dan kotor. Setelah beristirahat sejenak, mereka pergi mandi di laut, di bawah tebing dan mengajak para wanita. Bahkan Cloudy dibawa serta.


Robert menolak ikut dan duduk bersama Dokter Chandra dan Marianne yang sedang menyiapkan bahan-bahan masakan. Tak lama Kang kembali. Seekor domba hidup, gemetar dalam cengkraman kaki depannya. Robert melepaskan domba itu, memeluk dan mengelusnya untuk menenangkan.


Kang mengeluarkan banyak bahan makanan di papan kayu lebar yang jadi tempat berbaring Dean. Termasuk seekor domba yang sudah dipotong, dikuliti dan dibersihkan.


"Apa ini?" tanya Dokter Chandra.


Kang mendekati Robert dan menyentuh keningnya.


"Ini hadiah Kang untuk semua orang di sini. Domba itu baru dipotongnya. Dan ini domba yang waktu itu Dean masukkan ke tempat itu untuk percobaan. Jadi dia mengembalikannya," jelas Robert.


"Kau tak harus membawa hadiah. Kau teman Robert, jadi teman kami juga," kata Dokter Chandra.


Kang menggeleng. Robert tersenyum.


"Terima saja Dok. Di sana ada cukup banyak gandum dan lainnya. Semua milik Kang. Dia tak kan bisa menghabiskannya sendirian.


"Baiklah... terima kasih Kang. Tapi baiknya gandum ini kita pisahkan dan berikan pada tabib sebagai bayaran untuk bantuannya," ujar Dokter Chandra.


Marianne mengangguk dan memisahkan ikatan gandum kering itu dari yang lainnya.


"Ini apa? Aku baru sekali ini melihatnya," kata Marianne.


"Itu soba. Sejenis sereal juga. Tapi itu belum dibersihkan. Jadi nanti bisa diolah seperti biji gandum, oat atau beras." Robert menjelaskan.


"Baiklah. Akan kita coba untuk besok. Dan sebagiannya bisa dijadikan bibit untuk ditanam lagi." Marianne terlihat sangat senang.


"Apa kalian tak ingin mandi ke laut? Pergilah...," kata Dokter Chandra.


"Ayo Kang. Aku akan mengajakmu merasakan sensasi mandi di laut," ujar Robert bersemangat.


Kang mengangguk, lalu menarik Robert untuk naik ke punggungnya. Keduanya menghilang di balik pepohonan.


Dokter Chandra membantu Marianne merapikan semua bahan makanan. Hari ini Marianne memutuskan untuk membuat tumis buncis dan sate domba serta ubi panggang yang sudah lebih dulu disiapkannya. Selain itu masih ada bubur gandum dan sayuran untuk Vivian. Dia belum bisa makan makanan berat yang mungkin akan mengiritasi luka di ususnya.


*


*

__ADS_1


Pertemanan dengan Kang berjalan dengan baik. Semua menyambutnya hangat jika datang. Perasaan Nastiti juga sudah lebih baik sejak Vivian dibawa pulang dan dikembalikan pada kelompoknya. Kang juga telah 2 kali datang mengobati Laras.


Tapi berbeda dengan Yoshi dan Yabie. Meski awalnya antusias ingin mengenal Vivian, tapi setelah operasi itu, keduanya tidak menunjukkan gelagat ingin membuka jati diri sebenarnya pada Vivian. Mereka juga tak lagi menunjukkan ketertarikan untuk mengenal Vivian lebih jauh. Dean juga tak tau kenapa. Tapi dia tak mendesak. Yoshi pasti tau apa yang seharusnya dia lakukan. Pasti ada rahasia yang hanya keluarga Yoshi yang tau.


Itu juga yang jadi penyebab kenapa mata Vivian ditutup saat dibawa keluar kamar untuk diantar pulang.


Yoshi hanya mengatakan bahwa itu adalah saran ayahnya. Demi keamanan semua orang. Jadi mereka menurutinya.


Sementara Robert dan Kang memiliki pemahaman berbeda. Mata Vivian harus ditutup agar tidak mengetahui pintu keluar masuk dunia kecil mereka. Jadi mereka mengikuti saran Yoshi.


*


*


Hari ini acara pernikahan Indra dan Niken.


Kota mati sudah dihias dengan indah. Terutama gedung serbaguna yang dibangun terbuka seperti pendapa 2 lantai. Bangunan itu lebih mirip bangunan moderen. Dan lantai bawah sepenuhnya dibangun dengan batu bata. Pilar-pilar penyangga berbentuk lengkungan. Pintu masuk juga melengkung membentuk arch. Bentuk yang sama juga dipakai sebagai bukaan jendela di hampir seluruh dinding. Gedung itu sudah dihiasi rangkaian bunga dimana-mana. Sangat indah.


Pohon apel kecil di halaman itu sudah mulai tumbuh dengan baik. Anak-anak itu rajin menyirami semua tanaman yang ada di kota mati.


Semua sudah siap. Indra menunggu dengan cemas. Dia telah berada di kota mati sejak kemarin bersama Liam dan Laras. Ketua kota, Yoshi dan Yabie juga telah datang. Kenny dan Mattew akhirnya bertemu dengan ketua kota. Bersama anak-anak, mereka telah siap untuk memberikan pertunjukan di acara pernikahan ini.


Kang dan Robert akan datang bersama Pengantin wanita dari kediaman Dean.


"Mereka datang!" teriak seorang anak sambil berlari.


"Mereka hampir sampai," teriak anak lainnya memberi tau.


Lalu masuklah rombongan Dean dan kawan-kawannya. Mereka masuk lebih dulu dan ikut berbaris untuk menyambut Niken.


Indra tak sabar untuk melihat Niken. Dia dapat mendengar jantung berdentam keras sejak pagi. Seakan jantung itu pindah tempat ke dekat telinganya. Dia merasa sangat gugup.


Di halaman, Dokter Chandra menggandeng tangan Niken.


"Kau siap?" tanyanya lembut.


Niken mengangguk. "Terima kasih Dok," ujar Niken dengan mata merah.


"Tarik nafas dan tenangkan dirimu. Bayangkan senyum Indra yang sudah menunggumu sejak tadi," bisik Dokter Chandra lembut menenangkan.


Niken kembali menghela nafas panjang, satu.. dua kali lagi, untuk mengusir rasa gugupnya. Lalu dia tersenyum.


"Aku siap," katanya yakin.


"Baiklah.... Ayo."

__ADS_1


Dokter Chandra membimbing langkah Niken. melewati halaman yang sudah ditata dengan indah. Tak ada kesan kota mati di situ.


Dean dan Alan memang telah bekerja keras untuk membasahi seluruh area itu selama 2 hari. Mereka bolak balik mengambil air di laut dan menyirami kota mati. Itu dilakukan untuk mengendapkan semua partikel debu halus yang selama ini beterbangan di udara kota.


Langkah itu berhasil merubah suhu kota mati yang sebelumnya terasa sangat kering, seperti di gurun, jadi sedikit lebih lembab. Udara jadi lebih segar dengan aroma tanah yang khas sehabis hujan. Namun tidak sampai becek, karena kota ini telah ratusan tahun tak diguyur hujan. Mungkin butuh waktu satu hingga 2 minggu siraman, baru tanah di sini akan jenuh air.


"Tet.. tet.. 🎶... 🎶"


Musik mengalun. Anak-anak itu memainkan sejenis suling dengan irama asing. Tapi tak ada yang mempermasalahkannya. Mungkin memang begitu cara di kampung mereka menyambut pengantin datang. Dan musik itu menciptakan kesyahduan dalam benak pendengarnya.


Niken dan Indra berdiri saling tersenyum dan bergenggaman tangan. Setelah saling mengucapkan janji, Indra mengeluarkan sebuah cincin yang sejak dia berangkat dari Indonesia telah disiapkannya untuk calon istri yang akan dilamarnya di Singapura. Cincin itu tersimpan dengan baik di saku celananya. Tidak hilang, bahkan saat dia tenggelam di laut. Sekarang cincin itu jadi milik jodohnya yang ternyata adalah Niken.


Ketua kota mengesahkan keduanya sebagai suami istri. Indra langsung mencium Niken di depan semua orang.


"Wooaaaaa...."


Suara riuh tetamu menyoraki keduanya, lalu tertawa bahagia. Dean, Alan dan Sunil berjalan menuju meja dan mengeluarkan hidangan yang disimpan di ruang penyimpanan mereka.


"Saatnya makan...!" teriak Michael.


Dia sudah lapar, karena acara sarapan telah diskip oleh para wanita. Yang lain juga menyerbu meja hidangan.


Semuanya makan dan ngobrol dengan bahagia. Kenny dan Mattew menari diiringi musik yang ditiup anak-anak. Melihat atraksi keduanya, Robert juga mengajak Nastiti untuk menari, mengikuti irama. Nastiti sangat gembira.


Lalu Robert menarik Kang untuk ikut menari bertiga. Dengan kaku Kang menggerakkan kakinya melompat ke kanan kiri sambil tersenyum. Ini pengalaman pertamanya menari dan berada di pesta pernikahan.


"Jaga dia sebentar Kang, aku mau minum," bisik Robert. Kang mengangguk.


Robert meninggalkan Kang menari dengan Nastiti. Mereka menari gembira, meski gerakannya berbeda dengan Kenny dan Mattew. Tapi Niken bisa melihat pancaran bahagia dari Nastiti yang menari dengan sepenuh hati.


Begitu bersemangat melompat-lompat, hingga Nastiti jatuh karena kakinya keseleo. Kang segera meraih dan memeluknya agar tak membentur lantai.


"Ahh...!"


Semua terkejut melihat kejadian itu. Musik dihentikan.


Kang menggendong Nastiti menuju bangku panjang. Dia memeriksa kaki Nastiti dengan matanya, lalu tersenyum. Tampaknya tak ada cedera serius di kakinya. Mungkin hanya akan menyisakan sakit sedikit. Dia mengurutnya pelan dan hati-hati.


"Terima kasih Kang, kakiku sudah lebih baik," ujar Nastiti lembut.


Saat itu matanya melihat ke dalam mata Kang yang juga sedang memandangnya. Hanya keduanya yang mengetahui percikan api yang tercipta diantara keduanya, hingga membuat pipi mereka memerah seketika.


"Akhirnya Kang mengetahui siapa pasangan sejatinya," gumam Niken bahagia.


"Apa maksudmu?" tanya Indra bingung.

__ADS_1


"Tak ada apa-apa. Mungkin tak lama lagi kita akan mengadakan pesta pernikahan lagi." Niken tersenyum misterius.


******


__ADS_2