PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 404. Kebenaran Yang Tersembunyi


__ADS_3

Tiga orang itu saling pandang dengan heran. Tapi kemudian Dokter Chandra tersenyum bijak.


"Jika papa membawamu sekarang, keluarga akan mencarimu. Perjalanan ini entah akan butuh waktu berapa lama. Tanpa jam, kami tak bisa menghitung secara akurat perbedaan waktu di sini dengan di sana. Kadang kami pergi saat pagi, dan sampai di satu tempat, malam hari."


"Dan karena di tempat kami tak ada kalender, kita takkan tahu berapa hari berlalu sejak kau pergi. Itu bisa menghebohkan semua orang. Keluarga akan lapor polisi serta membuat berita kehilangan di televisi. Kasihan mamamu!" Dokter Chandra membeberkan alasan dia tak bisa membawa Dyah ikut serta.


"Tapi aku harus melihat bukti bahwa tempat itu ada. Bahwa cerita kalian benar. Aku ingin mempercayainya, jadi beri aku bukti!" bantahnya dengan keras kepala.


"Dok, bagaimana jika pintu ini kita tinggalkan di sini. Jadi Anda bisa berkunjung dan bertemu dengannya sesekali!" saran Sunil.


"Tapi rumah ini kosong. Meninggalkan pintu ini di sini, berarti mengundang bahaya datang ke dunia kecil yang damai!" Dokter Chandra mengutarakan argumennya.


"Aku akan tinggal di sini!" ujar Dyah cepat.


"Tinggal di sini bagaimana maksudmu? kau harus pulang dan menjaga mama di rumah!" Intonasi suara Dokter Chandra meninggi.


"Dok, tenang.... Mari kita duduk dulu." Sunil membawa Dokter Chandra kembali ke sofa.


"Menurutku, kau mulai mengerti dan mempercayai cerita kami kan?" desak Sunil pada Dyah.


"Aku ingin percaya. Jadi beri aku bukti tak terbantahkan!' ujar gadis itu tetap pada pendirian dan logikanya.


Dokter Chandra terkekeh geli. "Sunil, tak perlu bersusah payah menjelaskan. Jika sekolah hukum. Jika kau ingin dia percaya argumenmu, maka hanya ada satu cara. Beri dia bukti yang mendukung ucapanmu. Hehehehe...."


Sunil dan Robert terdiam. "Apa yang membuatmu sulit percaya?" tanya Robert. Akhirnya dia bisa mendapatkan ketenangannya kembali.


"Cerita kalian cacat logika! Tidak logis dan tidak ada pembuktian ilmiahnya. Bahkan NASA belum bisa membuktikan tentang perjalanan melintasi ruang dan waktu ataupun dunia lain yang bisa ditinggali selain bumi!" bantahnya.


Robert menggeleng. "Bagaimana kalau kukatakan, kami bisa terbang?" Robert langsung terbang melayang-layang di ruangan itu, hingga kepalanya membentur plafon ruang tamu.


"Hah!" Dyah mundur karena terkejut.


"Bagaimana kalau kukatakan tanganku bisa mengeluarkan api?" ujarnya sambil membuka kedua telapak tangan dan keluarlah api di situ.


Kali ini Dyah benar-benar terperanjat dan jatuh ke lantai saat Robert terbang didekatnya sambil menunjukkan tangannya yang berapi.


"Jangan keterlaluan!" Dokter Chandra memperingatkan Robert. Diangkatnya Dyah dengan jarinya dan didudukkan di sofa sebelahnya.

__ADS_1


Gadis itu makin ketakutan. "Apakah kalian ... sejenis hantu?"


"Meskipun ketakutan, tapi mulutnya masih saja melontarkan kata-kata yang menjengkelkan!" kata Robert pedas. Dia sudah kembali duduk di dekat Sunil.


"Berbeda dengan Anda yang kalem, pendiam dan ramah pada orang lain!" Ucapan Sunil ditujukan pada Dokter Chandra.


"Dia pasti akan terkejut kalau kita bilang bumi ini kembar lima!" Robert tergelak.


"Kau memang tak masuk akal!" cerca Dyah pada Robert.


"Putrimu mungkin akan lebih sewot lagi kalau kubilang Angel menikahi pangeran Elf! Hahahaaa...." Robert sudah tak dapat menahan tawanya yang terpingkal-pingkal.


"Apakah dia selalu segila ini?" Mata Dyah melotot pada Robert.


"Jangan terlalu bermusuhan! Nanti kalian justru saling jatuh cinta, seperti Dean dan Widuri!" Sunil tersenyum lebar melihat dua orang muda itu saling melotot, lalu membuang muka.


"Dok, tak lama lagi, kau mungkin perlu menikahkan pasangan ini!" gurauan Sunil memanaskan telinga Robert.


"Sudah ... sudah! Tenang sedikit. Di sini rumah saling berdempetan. Jika kita terlalu berisik, tetangga akan terganggu!" Dokter Chandra mengingatkan.


"Dia tidak gila! Semua yang dikatakannya memang benar! Kapal kami berlayar dari negeri para kurcaci untuk mencari dunia lain yang dihuni manusia. Tapi kapal itu karam! Jika tak ditemukan oleh kelompok Sunil, kami pasti sudah tewas semua!" jelas Dokter Chandra dengan nada tenang dan meyakinkan.


"Tentang Bangsa Elf, peri bunga, Orc, para kurcaci, Demon, hingga The Fallen Angel, ataupun naga, semua itu nyata. Kami melihatnya sendiri. Kami berteman dengan mereka di dunia asing. Papa bahkan melakukan operasi ginjal pada pangeran Elf!" Dokter Chandra membeberkan apa yang terjadi.


"Saat kau memutuskan untuk mempercayai segala keajaiban itu, baru kau boleh ikut ke sana!" ujar Dokter Chandra tegas.


"Foto pernikahan Angel dan Glenn harusnya bisa jadi bukti bahwa kita berkata benar. Sayangnya, semua lukisan Niken dan kameranya, hilang saat kapal kita karam!" keluh Robert.


Gadis itu kini terdiam. Perasaannya mengatakan bahwa pria tua itu benar ayahnya. Tapi sulit untuk membuktikan sesuai logika. Dan sekarang mereka akan pergi, karena dia tak percaya. Bagaimana mungkin dia melepaskannya?


Pencarian pesawat yang sudah masuk hari keempat, belum juga menemukan titik terang. Jika perkataan mereka benar telah melintasi ruang dan waktu, maka dia takkan bisa bertemu papanya lagi. Tapi, ingin menerima pun, tidak sesederhana itu. Dia saja sulit percaya, apa lagi orang lain? Gadis itu kebingungan. Dia tak ingin kehilangan papanya lagi, tapi tak tahu harus berbuat apa.


"Ke sini, Nduk!" Dokter Chandra memanggilnya untuk mendekat, setelah melihatnya diam dan bingung.


Gadis itu duduk lebih dekat. "Apa kau ingat perkataan papa saat kau lulus masuk jurusan incaranmu itu?" tanya Dokter Chandra.


Dokter Chandra mengetuk dahinya lembut, ketika putrinya menggeleng. Dyah mengusap-usap dahinya cemberut. "Jangan pernah lupakan pesan orang tua!" omelnya.

__ADS_1


"Papa ingat waktu itu bilang, 'Kamu harus membuka lebar mata dan menajamkan perasaan untuk menemukan kebenaran, yang tersembunyi dari pandangan umum' ... ya tidak?" Dokter Chandra mengingatkan kembali nasehatnya.


Dyah terdiam. Kata-kata itu familier. Itu memang pernah didengarnya. Dan itu bukan quote dari medsos yang dibacanya. Itu benar kata-kata papanya.


Mata bulat gadis itu makin membulat, menelisik wajah tua tak terawat, kumis dan rambut yang sudah memanjang, serta kusut. Tangannya dengan penasaran menyibak helaian rambut Dokter Chandra yang jatuh menjuntai menutupi wajah. Kepalanya sampai miring-miring cuma untuk bisa melihat dengan jelas, dari berbagai sisi.


"Kebiasaanmu ini!" Dijawilmya hidung putrinya gemas. "Sini peluk papa, kalau tidak percaya." Dokter Chandra mengulurkan tangannya. Tapi gadis itu masih ragu-ragu.


"Sini!" Dokter Chandra menarik bahunya dan mendekapnya di dada.


" Papa tahu, kamu sudah merasa ini papa, ya 'kan? Cuma kamu sangat menjunjung tinggi logika. Padahal dulu, sebelum mulai kuliah sudah papa ingatkan, bahwa ada juga kebenaran yang tak mudah terlihat oleh pandangan umum."


Dokter Chandra menyelubungi dirinya dan Dyah dengan cahaya putih kemilau. Tangannya menyentuh dahi putrinya, hingga sebuah cahaya muncul dan memancar, kemudian menelusup masuk ke tubuh Dyah.


Dokter Chandra tersenyum saat selubung putih itu hilang. Sementara Dyah masih kebingungan. "Kau harusnya bisa terbang sekarang. Cobalah ... agar kau bisa mempercayai keajaiban, meskipun belum pernah melihatnya," ujar Dokter Chandra.


Robert dan Sunil terkejut dengan pernyataan itu. Bagaimana Dyah bisa terbang? Kecuali—


"Penguasa!" seru Robert dan Sunil khawatir.


Kali ini Dyah yang terkejut mendengar panggilan itu.


"Tenang ... aku hanya membagikan satu bagian jiwaku, padanya," ujar Dokter Chandra.


"Tapi ... Anda akan menjadi lemah! Bagaimana kita akan kembali?" bantah Robert.


"Seorang ayah yang membagi hidupnya untuk anaknya, tidak akan pernah menjadi lemah. Keluarga adalah kekuatan terbesar seorang pria, untuk berjuang dan menjalani hidup!" nasehat Dokter Chandra tenang.


Dyah terpana mendengarnya. "Apa maksudnya Papa membagi sebagian jiwanya untukku? Apa yang kau maksud dengan membuatnya lemah? Apa Papa akan mati?"


Dyah mengguncang-guncang tangan Robert. Beralih ke Dokter Chandra berganti-ganti, dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan menbagi jiwamu untukku, jika itu akan melemahkanmu. Maafkan aku ... aku tak tahu apa yang sudah Papa alami. Dyah tak ingin bukti apapun lagi. Dyah percaya pada Papa!"


Gadis itu menangis berurai air mata. "Papa jangan pergi lagi ... jangan mati.... Huhuhuuu...."


*******

__ADS_1


__ADS_2