
Berhari- hari tim Dean memperkuat pulau kecil itu sedikit demi sedikit. Batu-batu pinggir pantai ditumpuk lebih tinggi. Dibuat sedikit jarak dengan tumpukan batu besar dan keras yang jadi pondasi pulau. Dibuatkan pula dermaga lebar untuk tempat menyandarkan perahu.
Bahkan pasir timbul yang menghubungkan pulau, kini sudah jadi jalanan berbatu yang kuat. Di kiri kanannya ditanami bakau, agar air tak menggerus jalan yang dibangun. Meski jalanan masih sedikit tertutup air saat pasang naik, tapi kuda-kuda mereka masih bisa berlari dengan aman.
Bergantian Dean, Robert, Indra dan Sunil membawa tanah untuk menimbun bagian terluar pulau. Kemudian mereka mencari bibit tanaman bakau di pulau yang pertama mereka kunjungi. Anggota kelompok itu bekerja keras menanam bakau di sekeliling pulau, agar tempat mereka hidup tidak terus habis tergerus ombak laut.
Peran Dean sangat terasa dalam perubahan di pulau. Keahliannya memotong batu-batu cadas, sangat dibutuhkan. Beberapa pohon kelapa yang kecil-kecil sudah mulai menghijaukan pulau yang dulunya gersang.
Dean juga mengajarkan mereka untuk membuat garam sendiri. Mengumpulkan air hujan untuk konsumsi, serta membuat alat sederhana menyuling air laut menjadi air tawar.
Mereka menata bukit itu dengan rapi. Beberapa bagian datar ditambah, lalu ditimbun dengan tanah. Dokter Chandra mengatakan bahwa bidang itu untuk digunakan sebagai tempat menanam sayuran yang mereka butuhkan. Bagian tebing dibuat berjenjang. Ditanami dengan rumput liar untuk pakan ternak.
Bidang lainnya lagi adalah tempat memelihara berbagai ternak. Mereka diajarkan membuat keju dari susu yang dihasilkan. Dan keju bisa dijual. Robert mengajarkan pemeliharaan ternak yang berkaitan erat dengan kesuburan kebun sayur mereka. Agar kotoran ternak tidak dibuang sembarangan, tapi digunakan untuk menyuburkan tanah kembali.
Setiap keluarga mendapat seekor kuda untuk membawa hasil panen atau tangkapan ikan ke pasar.
Aslan masih pergi menjual domba ke pasar. Dengan cara itu mereka dapat mengumpulkan uang yang dibutuhkan Dokter Chandra.
Setelah kerja keras, dalam satu bulan, pulau itu sudah berubah jadi pulau indah, jika dilihat dari pulau utama. Itu bukan lagi tempat kumuh dan menyesakkan. Tapi pulau penuh harapan.
Anggota kelompok itu lebih bahagia dan penuh harapan. Sekarang mereka benar-benar tunduk dan patuh pada Dokter Chandra, orang-orangnya, juga Aslan.
Kediaman Aslan diperbaiki. Kayu-kayu lapuk itu digantikan dengan batu bata, yang dibuat di dunia kecil. Sekarang, di rumah itu ada dua kanar. Tempat penyimpanan, tempat menaruh pintu teleportasi, sekaligus kamar Dokter Chandra.
Makam ibu Aslan juga diperbaiki agar lebih rapi. Diberi pagar agar ternak peliharaan tidak masuk dan menginjak-injak. Di sisi kiri dan kanannya, ditanami Dean dengan pohon apel dan pir yang dibawanya dari dunia kecil. Makam itu sekarang semakin teduh.
Siang ini, Dokter Chandra dan Robert serta Sunil, duduk mengelilingi meja panjang. Disamping tempat itu, ditanam Dean sebatang pohon mapel cantik yang belum terlalu tinggi. Mereka menikmati air kelapa muda. Aslan keluar dari rumah. Dia mengenakan pakaian baru yang dibelikan Dean.
"Lihatlah ... kau jadi sangat tampan sekarang!" sambut Robert. Aslan tersenyum lebar
"Kemarilah!" panggil Dokter Chandra.
Aslan duduk di bangku kosong di pelataran itu. Sekarang, di situlah tempat mereka makan dan berbincang. Dekat dengan dapur luar yang kini sudah diberi atap.
"Kami sudah putuskan untuk membawamu ke dunia kecil. Sudah waktunya untuk memakamkan ibu dan nenekmu di sana," ujar Dokter Chandra.
"Aku sudah menunggu hari itu, Kakek!" Mata Aslan berbinar.
"Kau lega?" tebak Dokter Chandra.
"Ya. Aku kira, Kakek melupakan hal itu." Aslan menunduk.
"Tentu saja tidak. Tetapi, akan tidak baik jika kita mengabaikan mereka yang sangat kesulitan di sini. Itu sebabnya kita bantu dulu mereka. Agar bisa bertahan, saat kita tinggalkan.
__ADS_1
"Apakah kita takkan kembali ke sini lagi?" tanya Aslan ingin tahu.
"Kau bisa putuskan hal itu, nanti. Yang penting sekarang, kita makamkan nenek dan ibumu dulu. Kau masih bisa kembali jika tak betah di sana," jawab Dokter Chandra.
"Baik, Kakek." Aslan mengangguk patuh.
"Sekarang kabarkanlah bahwa besok pagi, kita akan pergi untuk beberapa waktu. Agar mereka tidak mencarimu, dan membantu menjaga rumah serta ternakmu.
Ingatkan agar tidak ada seorangpun yang masuk tanpa ijin. Kita akan menghukumnya jika tidak patuh!" tegas Dokter Chandra.
"Baik, akan kusampaikan." Aslan segera berdiri dan keluar halaman.
"Tidak bisakah Penguasa melindungi kamar tempat pintu teleportasi itu?" tanya Robert.
"Bisa. Tapi aku juga ingin melihat kepatuhan mereka," jawabnya.
Robert dan Sunil mengerti. Kepatuhan adalah kata sederhana, namun sulit untuk dilakukan oleh orang-orang tertentu.
"Apakah semua keperluan di dunia kecil, sudah tercukupi? Kalian masih ada waktu untuk membeli sesuatu siang ini," saran Dokter Chandra.
"Dean tak meminta yang lainnya lagi, Dok. Bahkan dunia kecil kita sudah sangat semarak. Dinding rumah Indra yang dicat ungu dan pink oleh Niken, sangat eyecatching diantara kehijauan hutan di belakangnya," Sunil tertawa.
"Marianne sangat senang daat kita membelikan mesin jahit, beraneka benang serta setumpuk kain warna-warni. Dan yang paling penting, seperti keinginan Dean. Kita sudah punya kasur empuk serta bantal untuk tidur lebih nyaman." Robert tersenyum lebar.
"Ahh ... aku ingat. Aku tak menemukan pohon bambu di sini. Sayang sekali. Andai ada, kita bisa membawanya ke dunia kecil. Menumbuhkannya hingga subur. Karena bambu dangat banyak manfaatnya," ujar Dokter Chandra kecewa.
"Kita juga tak menemukan tanaman tebu. Gula mereka di sini, didapat dari impor," tambah Robert.
"Ya, sayang sekali." Dokter Chandra mengangguk.
"Kau sudah kembali." sapa Robert, melihat Aslan membuka pintu pagar.
"Ya, aku sudah katakan bahwa aku hanya pergi sementara, ingin mencari pengalaman sedikit." sahut Aslan.
"Mereka tak menahanmu?" tanya Sunil.
"Tidak. Mereka mendorongku untuk menambah pengalaman dan pengetahuan, agar bisa memimpin kelompok ini, nanti." Aslan tertunduk lesu.
"Kenapa kau justru lesu?" goda Sunil.
"Karena aku ingin ikut Kakek dan tinggal di bintang!" ujarnya lantang.
"Jangan buru-buru. Kau lihat dulu, baru buat keputusan," nasehat Robert.
__ADS_1
*
*
Gerimis menggantikan hujan lebat yang jatuh sejak sore. Tempat penampungan air tawar sudah penuh. Robert bahkan berkali-kali mengangkut air itu untuk mengisi bak kamar mandi. Jika tak ada hujan, maka bak itu diisi dengan air laut saja. Tong air untuk minum juga sudah diisi penuh, di dapur. Mereka bahkan sengaja bermain di bawah hujan, untuk menyegarkan tubuh.
Udara yang makin dingin, membuat pulau itu sunyi lebih cepat. Tak ada yang ingin berlalu lalang di jalanan basah.
"Saatnya kita berangkat!" ujar Dokter Chandra.
"Oke!"
Sunil, Robert dan Aslan bersiap. Makanan untuk ternak sudah disiapkan. Pintu rumah ditutup dan dikunci dari dalam. Semua jendela juga sudah ditutup rapat.
Ketiganya memasuki kamar dan berdiri di depan pintu teleportasi. Dokter Chandra menyelubungi bagian dalam rumah, dengan cahaya putih tipis. Harusnya tak ada siapapun yang bisa merusak penghalang itu. Kecuali orang yang punya kekuatan lebih.
Kemudian sebuah bola cahaya menyelubungi keempat orang tersebut. Kemudian melayang, memasuki pintu teleportasi. Cahaya putih itu lebyap ditelan cahaya biru pintu teleportasi.
Sekarang Aslan mengetahui kenapa dia dilarang keras memasuki pintu itu. Di dalam lorong penuh cahaya itu, bola yang menyelubungi mereka, terombang-ambing dan terus membentur dinding lorong. Dan hempasan serta tabrakan itu sungguh menyakitkan.
Dia mengikuti ketiga orang di depannya yang duduk di bawah bolah cahaya. Memejamkan mata dan berkonsentrasi. Itu juga bukan hal mudah. Perutnya terasa dikocok hingga mual. Dokter Chandra mengalirkan sedikit energi untuknya, agar mualnya reda. Kemudian menberinya pil dan sebotol air.
Meski merasa perjalanan itu sangat lama, tapi sebagai pengalaman pertama mata Aslan tak bisa menyangkal bahkan tempat itu menakjubkan.
"Kakek, tempat ini apa namanya? Ada banyak sekali cahaya," tanya Aslan.
"Namanya lorong teleportasi. Atau kau boleh juga menyebutnya sebagai lorong antar dimensi," jawab Dokter Chandra.
Aslan manggut-manggut. Mulutnya setengah terbuka karena takjub.
"Kakek, ada cahaya yang sangat terang di sana!" tunjuknya.
"Itu pintu keluar. Kita hanpir sampai. Bersiaplah!" sahut Dokter Chandra.
Melihat semua orang berdiri, Aslan ikut berdiri juga. Bola cahaya putih mereka terasa disedot kencang ke arah cahaya terang dan menyilaukan itu.
Terdengar teriakan saat bola itu ditarik dengan kencang untuk keluar dari liring teleportasi itu.
"Aduuhhh ...."
Bola cahaya putih itu dilemparkan keluar dan membentur dinding gua.
*******
__ADS_1