
Meski gelisah, tapi semalaman itu mereka akhirnya bisa tertidur.
Klang! Klang!
Petugas memukul pintu jeruji besi.
"Bangun!"
Robert terbangun. Rasanya dia belum lama tidur. Robert mendengar kunci otomatis sel itu dibuka. Seorang petugas masuk ke dalam sel. Seorang lagi terlihat berdiri di luar.
Tubuh Robert ditarik dan didorong keluar. Dia hampir saja jatuh dan membentur jeruji akibat dorongan keras itu. Robert berusaha menyeimbangkan tubuhnya, segera setelah dia menyentuh jeruji itu. Lalu dia keluar tanpa disuruh
"Michael!" suara Robert terdengar keras di benak Michael.
"Ya?!" jawab Michael bingung. Dia barus saja bangun.
"Aku dibawa petugas!" kata Robert.
"Apa?? Kenapa?"
Michael segera berdiri dekat pintu. Dia melihat Robert berjalan digiring dua orang petugas.
"Tidak tau. Aku akan coba mengabarkan jika mungkin," ujar Robert
Lalu terdengar suara sel yang terbuka dan tertutup otomatis.
Michael kebingungan. Dean tak bisa dihubungi. Alan kehilangan kekuatannya, lalu Robert dibawa pergi
"Alan. Alan... bangun...."
Michael mengguncang tubuh Alan
"Hemmm... ada apa? Kenapa kau tidak tidur?" Alan menjawab masih dengan mata terpejam.
"Robert dibawa dua petugas barusan!" bisik Michael.
"Hah?!" Alan terkejut.
Michael, "Saranku, kau bujuk Z agar kembali. Kau butuh kekuatannya untuk bertahan hidup!"
"Apa maksudmu?" Alan tak mengerti.
"Maksudku, kita mungkin akan dipanggil dan diinterogasi satu persatu. Apa kau tau bagaimana interogasi untu para penyusup? Yang jelas itu bukan undangan makan!" Ujar Michael.
Alan diam. Dia tau maksud perkataan Michael tadi.
"Dean bagaimana? Sudah kau kabari?"
Michael menggeleng.
"Keadaannya masih misteri."
"Tapi kita harus mencari cara untuk menghubunginya!" Alan ngotot.
"Sssttt! Pelankan suaramu. Nanti kau juga dibawa pergi baru tau rasa!"
"Aku lelah. Ku pikirkan besok saja. Tapi kau.... Saranku, Berbaikanlah dengan Z. Jangan lagi bicara sembarangan. Bujuk dia demi keselamatanmu sendiri."
Michael menaiki bed atas untuk kembali tidur. Dia sangat mengantuk dan berharap malam berlalu dengan damai. Dan dua temannya yang lain dalam keadaan baik.
Alan berbaring sambil berfikir. Bagaimana caranya membujuk Z?
"Z! Keadaan kita sedang genting sekarang. Kau memilih waktu yang buruk untuk ngambek."
Alan bicara dalam hatinya. Berharap Z dapat memahami. Setelah menunggu hampir 5 menit, Alan masih belum merasakan kembalinya Z.
"Apa kau tidur Z? Baiklah... kau boleh beristirahat sebentar. Tapi, jika keadaan buruk... kau harus segera kembali. Atau kita berdua akan mati bersama!" ujar Alan.
Alan tak pandai membujuk. Dia mengatakan yang ingin dikatakannya. Z bisa berpikir lalu mengambil keputusan yang dirasanya tepat. Sementara Alan akan melanjutkan tidur.
*
*
Pagi tiba.
__ADS_1
(Pemberitahuan melalui pengeras suara)
^^^PENGHUNI BARU PERGI MELAPOR! AMBIL TUGAS PERTAMA!^^^
Alan dan Michael terbangun karena suara gaduh orang-orang. Pintu sel terbuka. Mereka bergerak ke satu arah.... Pintu keluar!
"Hei, ayo cepat!"
Suara yang mereka kenal memanggil di depan pintu.
"Dean!"
Seru keduanya gembira.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alan tak sabar.
"Aku baik. Kita bicarakan itu sambil jalan. Kita harus melapor. Cepat!" ujar Dean.
"Eh, dimana Robert?" tanyanya heran.
"Dia dibawa petugas sejak malam. Kami mengirim pesan transmisi padamu, tapi kau tak pernah merespon!" lapor Michael.
???
Dean memiringkan kepalanya sedikit. Dia bingung.
"Ayo, sambil jalan. Atau kita tak bisa makan!" ujar Dean.
Ketiganya berjalan beriringan menuju pintu keluar.
"Aku terus mengirimkan pesan. Tapi kalian tak pernah menjawab," kata Dean dengan suara rendah
???
Alan dan Michael saling pandang. Ini mengherankan.
"Dean, kami bisa berkomunikasi dengan Robert. Tapi tidak denganmu! Artinya, ada yang salah dengan ruanganmu." Michael membantah.
"Hemmm....?"
Dean berpikir keras tentang hal itu.
Jadi, apakah teman satu selnya yang jadi sasaran pemblokiran? Apakah dia penjahat besar? Tapi dia sangat pendiam dan tidak peduli.
"Arah sini!"
Alan menarik tangan Dean agar tidak salah jalan karena melamun.
"Dean, keadaan ini tidak baik. Bagaimana dengan teman-teman lain yang ada di ruang penyimpanan?"
Suara Michael bergema di kepala Dean.
"Kau benar. Kita harus cari cara untuk keluar dari sini!"
"Maafkan aku Alan. Kau benar saat itu. Kita tidak seharusnya terlalu mempercayai orang lain." Kata Dean lewat transmisi suara.
"Sudah terlanjur. Kita tinggal cari cara untuk kabur dari sini." balas Alan.
"Lalu Robert bagaimana?" tanya Michael.
"Apa kau bisa menghubunginya sejak dia dibawa?" tanya Dean.
"Tidak! Komunikasi terputus sejak dia pergi," jawab Michael.
"Alan, kau harus membujuk Z untuk kembali. Kita butuh bantuannya!" Perintah Dean tegas.
"Z, kau dengar itu? Keadaan gawat sekarang. Sebelum semua tercerai berai, kau harus kembali. Aku tak takut mati untuk menjaga teman-temanku. Tapi kau sendiri juga akan ikut mati."
"Tapi setidaknya, kembalilah sebentar saja. Agar aku bisa mengeluarkan yang lain dari ruang penyimpanan. Dan memindahkan mereka ke tempat Dean. Setelah itu kita bisa mati bersama!"
Alan sudah membulatkan tekad. Dia tak kan mengemis kekuatan dari Z, jika dia tak mau. Apapun yang terjadi, Alan akan tetap berjuang bersama Dean dan teman-temannya
"Kalian! Ke sini!"
Seorang penjaga memanggil.
__ADS_1
Dean, Alan dan Michael mendatangi petugas dengan tongkat itu. Dia menscan gelang di tangan ketiga orang itu.
"Boleh bertanya? Dimana teman kami yang dibawa tadi malam?" tanya Alan.
Bugh... bugh!
Alan tersungkur di lantai. Dia merasa punggungnya hampir patah digebuki dengan tongkat oleh petugas.
"Kriminal tak punya hak bicara!"
"Cuih!"
Petugas itu meludah ke lantai. Lalu berjalan pergi
"Ayo ikut! Jangan macam-macam. Atau hukumannya adalah sel isolasi!" ancamnya garang.
Dean dan Michael mengangkat tubuh Alan dan membantunya berdiri.
"Minum ini."
Dean menyodorkan secangkir air dari ruang penyimpanan.
"Ahhh... aku merindukan air abadi," ujar Alan lirih.
Dia minum dengan cepat sambil berjalan terbungkuk-bungkuk.
"Dean aku juga mau!" kata Michael.
Dean berpura-pura membantu Alan yang jatuh bersama Michael. Dengan cara itu dia bisa menyerahkan secangkir air abadi untuk Michael.
"Kalian lambat sekali! Cepatlah. Atau tongkat ini akan bergerak lagi!'" Penjaga itu berteriak tak sabar.
Dean dan Michael melangkah lebih cepat sambil menyeret Alan.
"Tinggalkan saja dia jika terlalu lemah. Yang lemah akan dibuang ke ngarai. Biarkan dia menghadapi kerasnya dunia luar!" kata penjaga itu sinis.
"Ayo, kau pasti bisa. Tegapkan tubuhmu." Michael pura-pura membujuk.
Alan berusaha menegakkan badannya dan berjalan terseok-seok diapit kedua temannya.
Mereka masih melewati satu lorong lagi. Petugas itu akhirnya membuka sebuah pintu di ujung lorong.
Bau tak sedap langsung menyergap hidung. Michael langsung mual dan ingin muntah.
Petugas itu tersenyum mengejek.
"Bersihkan dalam satu jam! Atau kalian tak bisa ikut sarapan!"
Ketiga orang itu didorongnya ke dalam. Lalu terdengar suara kunci diputar. Tak lama suara siulan dan hentakan sepatu terdengar menjauh.
"Ini... tempat apa? Busuk sekali!"
Suara Michael terdengar aneh. Dia bicara sambil menutup hidungnya.
Tapi bau busuk itu justru menyergap masuk ke dalam mulutnya.
"Huekkk... huekkkk!"
Michael akhirnya memuntahkan cairan perutnya. Dan itu rasanya pahit, karena tidak ada makanan apapun yang tersisa di lambungnya.
Dean, "Ku rasa, ini toilet."
"Alan, bantu aku menerangi tempat ini," kata Dean.
"Z tak mau keluar. Aku tak bisa membantu hal seperti itu lagi. Tapi kita masih bisa mengerjakannya secara manual," ujar Alan yakin.
Mata Dean bersinar keemasan.
"Z, jika kau sudah tak ingin bersama kami, maka aku akan memindahkan mu ke tubuh Cloudy!" ujar Dean lewat transmisi suara.
"Ya... ya! Aku keluar. Aku hanya sebal pada si brengsek ini!" ujar Z kesal.
"No debat! Sekarang waktunya kerja!" Dean berkata dengan tegas.
'Oke!" jawab Alan.
__ADS_1
*******
1 Chapter 🙏