
"Pa, sekarang sudah hampir sore. Dyah pulang dulu. Ini ada uang, kalau papa mau beli sesuatu di luar. Ada roti, mie dan snack buat ngemil kalau lapar. Besok Dyah datang lagi. Jangan pergi dulu yaa," ujarnya.
"Iya, Nduk, pulanglah ... biar mamamu enggak khawatir. Kamu hati-hati di jalan," pesan Dokter Chandra.
Setelah mencium tangan, gadis itu keluar rumah. Mobilnya meluncur pergi setelah menutup pagar dengan rapat.
"Kalian bisa beristirahat sekarang, jika lelah. Tapi jangan keluar teras atas. Orang di sini tidak mengenal kita," pesan Dokter Chandra.
"Ya, Dok." Robert dan Sunil naik ke lantai dua.
Dokter Chandra berjalan ke taman mungil yang ada di belakang rumah. Tempat itu sangat berantakan. Sudah tak terlihat lagi bentuk tamannya, karena dipenuhi segala barang tak berguna.
Dokter Chandra menggerakkan dua tangannya, memisahkan barang-barang itu lalu memindahkan sebagiannya ke garasi yang kosong. Semua dirapikan di satu sudut, agar tidak memakan tempat.
Kemudian taman belakang itu kembali dibenahi. Barang-barang yang tersisa, disusunnya rapi di satu sisi yang tak terlihat. Sisa lahan yang masih ditumbuhi rumput dan tanaman liar tak teratur, dirapikannya.
Dalam satu jam, aktifitas di taman belakang itu selesai sudah. Sekarang penampilan taman itu sudah bisa memanjakan mata.
Dokter Chandra beristirahat sejenak. Tapi pikirannya terus berputar tak sabar melihat keadaan rumah itu. Seakan pikirannya sudah diambil alih oleh Penguasa Cahaya yang tidak bisa diam melihat taman tak terurus.
Penguasa bahkan ingin membereskan halaman depan yang memang sangat kacau. Tapi Dokter Chandra menahannya. Tak mungkin mereka keluar saat putrinya tak ada. Pria paruh baya itu khawatir, mereka disangka pencuri oleh tetangga.
"Besok saat Dyah datang, kau bisa membereskan taman depan," kata hati Dokter Chandra.
Akhirnya penguasa memuaskan rasa penasarannya dengan menata ulang ruang tamu, ruang tengah dan ruang makan. Bahkan kamar tidur di lantai satu juga tak luput dari pengamatannya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dokter Chandra kelelahan. Tapi rumah itu memang sudah terlihat lebih baik. posisi sofa, bufet, meja makan, telah berpindah tempat.
Dokter Chandra memasak mie instans untuk mengganjal perut laparnya. Robert dan Sunil tidak turun lagi sejak naik sore tadi. Jadi diapun pergi beristirahat. Pintu teleportasi diletakkannya di kamar lantai bawah, dan menerangi tempat itu.
*
*
Azan subuh terdengar. Robert dan Sunil langsung terbangun. Mereka langsung ingat bahwa sekarang ada di rumah Dokter Chandra. Keduanya turun ke bawah. Ruangan di bawah terlihat remang-remang. Hanya ada penerangan redup dari lampu dinding di ruang tengah.
"Kurasa, rumah ini berubah," komentar Sunil.
"Pasti penguasa yang melakukannya!" jawab Robert. Dia menuju dapur. Memeriksa kulkas yang sudah terisi. Membuat kopi dan mengambil roti untuk mengganjal perut yang lapar. Keduanya telah melewatkan makan malam karena tertidur lelap.
Dokter Chandra keluar kamar saat hari sudah terang. Sunil dan Robert sedang berolahraga di taman belakang yang sudah teratur rapi.
"Pagi, Dok. Tempat ini sangat menyenangkan. Terima kasih!" ujar Robert.
"Kalian sudah sarapan?" tanya Dokter Chandra.
__ADS_1
"Makan roti subuh tadi!" sahut Sunil.
"Kita punya bahan makanan apa? Masak itu saja untuk sarapan," ujar Dokter Chandra.
Sunil dan Robert mengeluarkan daging asap dan sayuran dari penyimpanan mereka. Kemudian sibuk membuat sarapan.
Ketiganya sedang sarapan saat terdengar suara pintu pagar dibuka. Sunil mengintip dari jendela. "Dyah datang," ujarnya. Dia mengenali mobil gadis itu. Jadi dia melanjutkan sarapannya di meja.
Dyah masuk dan langsung berteriak. "Papa, aku bawa Dimas!"
Tiga orang itu langsung berhenti makan dan mengalihkan pandangan ke ruang tengah. Di sana berdiri kakak adik putra dan putri Dokter Chandra.
Anak lelaki itu terus berusaha melepaskan tangannya dari cekalan kakaknya. "Mbak mulai enggak waras. Mau saja dibohongi orang lain!" katanya marah.
Dokter Chandra hanya diam dan tersenyum. "Papa belum sempat cukuran kumis, Le," ujarnya.
Anak itu menoleh ke arah Dokter Chandra. Matanya menyorot tajam, hingga dua alisnya bertautan. "Siapa kau! Aku akan berteriak dan lapor pak RT!" ancamnya.
Kakaknya langsung membekap mulutnya dan berkata marah. "Kau pendek akal. Lihat dulu. Dengar dulu, perhatikan dulu. Kalau masih tak percaya, kau boleh berteriak ... di gunung!" Dahi Dimar berkali-kali kena toyor jari Dyah.
"Apa sih, bela-belain orang asing. Papa belum jelas keberadaannya, Mbak kok sudah bisa ketipu!" katanya pedas.
"Lihat dulu! Nanti kamu malu sendiri!" sentak kakaknya emosi.
"Ini hari ke-lima, bagaimana orang berjanggut berkumis dan berambut panjang itu bisa papa? Hahahaha." Dimas mengejek kakaknya.
"Tapi Pa, ntar kalau dia kabur dan berteriak manggilin orang-orang, gimana?" bantah Dyah.
"Ya biar saja. Papa tinggal pergi dan kembali ke dunia kecil itu," ujar Dokter Chandra.
"Jangan! Papa jangan pergi lagi!" larang Dyah.
Dokter Chandra mengulurkan tangannya. Dimas langsung diselubungi dengan cahaya putih kemilau. Anak remaja itu terkejut dan berteriak. Tapi tak ada yang mendengar suaranya.
Dyah menjauh dari adiknya dan mengejek. "Rasain!" katabya sambil memeletkan lidah.
"Ayo makan, Nduk. Robert dan Sunil membuat sarapan tadi," panggil Dokter Chandra.
Dyah meninggalkan adiknya yang terkurung dan menghampiri meja. Dia ikut duduk di sana, tapi tidak mengambil piring.
"Kau tidak makan?" tanya Robert.
"Sudah sarapan nasi goreng tadi," jawabnya.
"Ini apa?" tunjuk gadis itu ke arah piring makanan di meja.
__ADS_1
"Tumis sayur dan daging asap!" sahut Sunil.
"Kalian pergi belanjake pasar?" tanyanya heran.
Sunil menggeleng. "Kami membawa persediaan makanan, jika ingin pergi ke suatu tempat!" jelasnya.
"Tapi aku tak melihat kalian membawa tas atau sesuatu!" selidik Dyah.
"Ini!" tunjuk Robert ke kalung di lehernya. "Kami menyimpannya di sini. Tidak perlu tas lagi!" jelasnya.
Gadis itu membulatkan matanya tertarik. "Tunjukkan padaku bagaimana cara kerjanya!" katanya antusias.
Robert menyentuh kalungnya, dan dia mengeluarkan kendi air abadi dari sana.
"Woww! Kendi! Kau menyimpan benda sebesar ini di dalam situ? Hemat sekali!" puji Dyah.
Tangan Dyah ingin membalikkan kendi air, untuk memeriksa isinya. Tapi kendi itu segera terbang melayang.
"Hei, aku mau lihat isinya!" protes Dyah.
"Isinya air yang sangat berharga. Tak ada sumber air di sini yang bisa menandingi manfaatnya!" Robert menggeleng dan menyimpan lagi kendi itu.
"Kau—" Dyah mengatupkan mulutnya. Tak ingin memperpanjang urusan. Dia menoleh ke arah Dokter Chandra.
"Apa Papa juga punya yang seperti itu?" tanyanya masih penasaran.
Dokter Chandra mengangguk. Sebuah kendi milik Dokter Chandra melayang di depan Dyah.
"Kau bisa meminumnya. Itu sangat menyegarkan. Itu air dari mata air abadi yang berhasil diselamatkan oleh Dean. Sejauh ini, itulah satu-satunya mata air abadi yang tersisa!" jelas Dokter Chandra.
Dyah mengambil kendi air yang melayang di depannya itu. "Apa khasiatnya jika aku meminumnya?" tanya Dyah.
"Kau rasakan saja sendiri!" celetuk Robert. Dyah langsung menoleh ke arahnya dan mendelik kesal.
Dari jauh, Dimas melihat hal-hal aneh yang terjadi di depannya. Dia tertegun melihat kendi bisa muncul dan hilang tiba-tiba. Dia juga terkejut melihat benda itu melayang. Tapi kakaknya tidak takut sama sekali.
"Apa rumah tua ini berhantu? Apa mereka sejenis makhluk halus? Dan Mbak Dyah sudah dipengaruhi penghuni rumah ini?" pikirnya cemas.
Dan yang lebih mencemaskan adalah, dia terkurung dalam sebuah selubung transparan yang cahayanya kemilau. Upayanya menyobek selubung cahaya yang teksturnya lembut itu, sia-sia. Bahkan suaranya seperti tak didengar oleh Dyah.
Ketika orang-orang ramai berbincang di meja makan, Dimas sepenuhnya terabaikan. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menunggu Dyah kembali mengingatnya. Matanya melihat ke teras belakang yang asri dan cantik. "Sejak kapan ada taman di situ?" pikirnya.
Kemudian dilihatnya seluruh area rumah. Dia ingat pernah menumpuk beberapa kardus di ruang tengah, dengat jendela ke taman. Tapi semua itu sudah tak ada. Rumah itu sangat bersih, rapi dan teratur.
Apakah mereka sudah lama disembunyikan Mbak Dyah di sini?" batinnya. Jelas Dimas semakin cemas melihat keakraban saudarinya dengan tiga pria asing itu.
__ADS_1
*******