
Di ruang tengah rumah, empat orang duduk berhadapan setelah menikmati makan malam ala kadarnya dari warga sekitar.
"Aslan, sekarang waktunya kami kembali ke dunia kami," ujar Dokter Chandra membuka pembicaraan.
"Apa kalian ajan neninggalkan kami?" tanyanya sedih.
"Tidak. Kau bisa ikut dengan kami dan kembali ke sini kapan saja," jawab Dokter Chandra.
"Aku merasa ada syarat yang harus kupenuhi, bukan?" tebaknya.
"Yah ... seperti yang dikatakan ibumu. Kau harus bisa memegang rahasia, baru bisa menjadi bagian kelompok kami," ujar Dokter Chandra terus terang.
"Bukankah tugas seorang cucu memang menjaga kakek dan kerabatnya?" ungkap Aslan.
"Pintar. Kau memang cucu adikku. Maka kau pun cucuku juga." Dokter Chandra diam sejenak.
"Jika kita pergi beberapa hari, apakah orang-orang di sini akan mencari dan memasuki rumahmu?" tanya dokter Chandra hati-hati.
"Emmm, kurasa begitu. Tanpa ibu, mungkin mereka akan lebih khawatir denganku," duga Aslan.
"Kalau begitu, untuk sementara kau tak bisa ikut. Tapi jangan khawatir, kami akan lebih sering ke sini menjengukmu dan membantu anggota kelompokmu," jelas Dokter Chandra.
"Bagaimana aku tau kalau itu bukan cuma janji?" Aslan melontarkan ketidak percayaannya.
"Nah, akhirnya kita sampai di bagian itu. Kau memang pintar." Dokter Chandra tersenyum.
Aslan melihat tiga orang yang tersenyum itu dengan wajah bingung. Dia tak mengerti maksud perkataan Dokter Chandra.
"Kita akan buat jalur penghubung dari sini menuju ke dunia kami. Jadi kita bisa bertemu kapan saja!" terang Dokter Chandra sambil menganggukkan kepala.
"Jalur penghubung? Sebuah jalan ke dunia lain? Mungkinkah?" tanyanya masih tak percaya.
"Aku sebenarnya ingin langsung membawamu pergi. Tapi karena ibumu baru saja meninggal, khawatirnya orang-orang di sini masih akan datang menjenguk dan menghiburmu. Jadi, kau harus tetap di sini sementara waktu. Tunggu kami kembali dan membawa beberapa hal yang mungkin kalian butuhkan di sini."
Dokter Chandra telah bicara panjang lebar. Dia berharap Aslan tak lagi banyak bertanya.
"Baiklah. Aku tak berhak melarang Kakek melakukan sesuatu. Aku hanya perlu mempercayai, bukan?" ujarnya sambil menunduk.
"Kau sangat cerdas. Jangan bersedih. Semuanya akan baik-baik saja," Dean menepuk pundak Aslan.
"Bagaimana aku memanggilmu?" tanya Aslan
__ADS_1
"Kau boleh memanggil namaku, Dean," jawab Dean hangat.
"Bukankah itu akan terlihat tidak sopan? Aku akan memanggilmu Paman Dean saja. Bagaimana?" tanyanya meminta persetujuan.
"Hahahaha ... kau langsung jadi tua!" ejek Robert.
"Aku juga harus memanggilmu Paman Robert," Aslan langsung menimpali.
"Hahahaha ... kalian langsung tua!" Dokter Chandra terkekeh geli, sementara Dean dan Robert hanya bisa tersenyum canggung.
"Bagaimana kita berani menentang cucu penguasa?" keluh Dean pada Robert lewat transmisi suara.
"Penguasa, sudah waktunya kita kembali!" Robert mengingatkan. Dokter Chandra mengangguk.
"Penguasa?" tanya Aslan heran.
"Agar kau tau, Kakekmu adalah Penguasa Bangsa Cahaya. Dunia kami terletak diantara bintang-bintang di langit," jelas Dean sambil menunjuk ke langit malam yang gelap.
"Apa?" Pemuda itu sangat terkejut mendengarnya. "Nenek ... nenekku ... juga?" ujarnya tak percaya.
"Ya! Bukankah kau sudah melihat sedikit hal yang ditinggalkan nenekmu di tanda bintang yang ada di dadanya?" Dokter Chandra menunjukkan lambang bintang itu pada Aslan.
"Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kau akan mengerti secara perlahan. Kami dan yang lainnya akan mengajarimu, apa yang kami tau," ujar Robert bersemangat.
Aslan hanya mengangguk. Dia telah menjadi cucu seorang Penguasa. Perubahan yang tak disangka-sangka.
"Mari ke kamar ibumu," ajak Dokter Chandra. Keempatnya berpindah ke depan kamar yang kumuh itu.
"Dean, bisa kau bereskan ruangan ini?" tanya Dokter Chandra.
"Oke!"
Dean segera mengeluarkan apa saja yang memenuhi ruangan sempit itu. Semua itu ditumpuknya di ruang tengah. Sekarang kamar itu terlihat lebih lega.
Dean membuka jendela kamar dan menarik semua debu, keluar melalui jendela. Dean terbang ke depan halaman, dimana air laut naik hingga ke jalan setapak menuju rumah. Air laut itu ditariknya menuju rumah.
Disiraminya perlahan dinding dan lantai kamar dengan air laut, untuk menghanyutkan debu yang menempel. Air di lantai batu itu dengan segera menelusup masuk ke celah-celah batu. Dean mengulangi hal itu sekali lagi. Sekarang kamar terlihat sangat bersih dan bau apek menghilang.
Aslan melihat itu dengan takjub. "Apakah nenek juga sehebat itu?" batinnya. Pantas saja ibu tak pernah mengatakan kehebatan nenek. Selain untuk menjaga rahasia, jika dikatakan pada orang lain pun, belum tentu orang percaya.
Dean menutup lagi jendela dengan rapat, lalu memasang tirai dari kain seprai yang diambilnya di pusat penelitian.
__ADS_1
"Aslan, jendela ini jangan pernah dibuka. Setelah kami pergi, pintu kamar juga harus kau tutup. Jangan ijinkan siapapun masuk! Mengerti!" tegas Dean.
"Aku mengerti. Kalian ingin menjadikan kamar ini sebagai jalur penghubung dengan dunia sana, bukan?" terkanya.
"Bagus! Kau memang pintar!" puji Dean. Aslan tersenyum bangga.
Robert mengeluarkan pintu teleportasi dari penyimpanan, dan meletakkannya di sudut kamar. Ruangan itu kini diterangi cahaya biru terang.
"Bukankah itu sangat terang? Apakah tidak akan terlihat oleh orang lain di luar?" tanya Aslan cemas.
"Setelah kami pergi, kau tutup pintu itu dengan kain ini. Hati-hati, kau jangan sampai melewati garis pintu. Atau kau akan terhisap ke dalam. Dan aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi denganmu di dalam sana." ujar Dean.
"Ingat, jangan coba-coba untuk masuk sendirian tanpa salah satu dari kami. Bisa berbahaya! Taruhannya nyawamu!" Robert memperingatkan dengan tegas.
"Baik, aku akan mengingatnya," sahut Aslan patuh.
"Baik. Sudah saatnya kita pergi. Semakin cepat pergi, semakin cepat kita kembali dan membawa bantuan untuk mereka," ujar Dokter Chandra.
"Baik, Penguasa," sahut Dean dan Robert.
"Jangan khawatir." Dean menepuk pundak pemuda itu.
"Sampai jumpa Aslan."
"Kakek pergi dulu," ujar Dokter Chandra.
"Iya, kakek." Aslan mengangguk.
Dokter Chandra segera menyelubungi Dean dan Robert dengan bola cahaya putih. Kemudian bola cahaya itu terbang dan memasuki pintu teleportasi. Lalu menghilang sepenuhnya.
Aslan terbengong sesaat. Sekarang dia bisa melihat sendiri keajaiban itu. Cepat-cepat ditutupinya pintu ajaib itu dengan kain seprai besar. Kamarnya tak lagi terang menyilaukan seperti sebelumnya.
Aslan keluar dan langsung menutup pintu kamar rapat-rapat. Kini dia mengerti kenapa dia tak boleh ikut sementara waktu. Dia harus menjaga pintu ajaib itu tetap aman.
Sambil memilih kain-kain lusuh yang dikeluarkan Dean, Aslan mengingat-ingat kejadian barusan. Bahkan Dean dan Robert saja tetap dilindungi kajeknya dengan bola cahaya sebelum masuk ke sana. Apakah jalan di balik pintu itu terjal? Atau ada jurang yang dalan? Atau angkasa luas seperti di luar itu? Jika tidak bersama, mungkin mereka bisa terpisah dan sampai di dunia bintang yang berbeda.
"Ada berapa banyak dunia di atas sana?" gumamnya sambil melihat bintang di langit.
"Di bintang yang mana dunia kalian?" lirihnya.
*******
__ADS_1