PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 270. Benteng atau Penjara?


__ADS_3

Sunil melesat cepat ke arah teman-temannya. Satu persatu mereka lenyap ke dalam ruang penyimpanan milik Sunil.


Tapi makhluk raksasa itu berlari sangat cepat. Dia sedang dikejar makhluk lain di belakangnya.


Di sana masih ada Michael yang terus mengacungkan pedang dan membelakangi Sunil.


Tak membuang waktu lagi, Sunil melesat secepat kilat meraih Michael. Michael segera lenyap dari genggamannya. Tapi, dengan jarak dan kecepatan itu, Sunil tak dapat lagi menghindari tubrukan dengan makhluk yang juga berlari ke arahnya.


"Akhhh!"


Tubuh Sunil menabrak bagian atas kaki makhluk yang sedang berlari itu. Tubuhnya terlontar ke samping. dengan derasnya. Mata Sunil segera mereka-reka dimana dia mungkin akan mendarat.


"Siallll!" rutuk Sunil. Dengan sekuat tenaga dia membelokkan arah jatuh.


Swuiiiiiiing....


Sunil berhasil menghindari dua makhluk lain yang sedang saling menggigit. Dia terbang persis setengah meter di samping mulut makhluk yang terbuka lebar hendak menggigit mangsanya. Sunil lalu terbang menjauh.


"Ya Tuhan...."


Sunil sibuk mengatur deburan jantungnya yang seperti mau loncat.


Untuk menghindari masalah, Sunil melayang lebih tinggi. Dia meninggalkan arena pembantaian itu. Melesat ke satu titik di depan sana.


Titik yang entah apa, dia tak tau. Tapi titik itu memberikan respon pantulan lemah yang masih dapat ditangkap oleh matanya.


Sunil merasa lelah. Dia belum istirahat. Tapi hati kecilnya menyuruhnya terus pergi ke arah sana.


Tempat itu ternyata sangat jauh. Lebih setengah jam Sunil terbang. Dia akhirnya bisa melihat. Titik kecil itu adalah bangunan benteng tua yang masih berdiri kukuh.


'Siapa yang membangun benteng di sini?' pikir Sunil heran.


Peradaban seperti apa yang mampu bertahan hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk buas di sekelilingnya?


Selarik cahaya yang muncul di ufuk, mengejutkan Sunil. Sudah dini hari. Dan berdasarkan pengalaman kemarin, maka pagi akan segera menjelang.


"Apakah Dean dan Alan sudah sadar?" tanya Sunil lewat transmisi suara, ke ruang penyimpanan.


"Aku sudah sadar. Tapi Alan mungkin masih butuh waktu untuk pulih," kata Dean.


Sunil mengeluarkan Dean.


"Coba kau lihat benteng itu. Bagaimana caranya agar kita bisa masuk dan berlindung di sana?"


Mata Dean melihat benteng besar itu tak berkedip. Dia mendekatinya. Mereka lalu memeriksa berkeliling sambil mencari pintu masuk.


"Bagaimana bisa, benteng dibangun tanpa pintu masuk?" gerutu Sunil.


Dia sudah kelelahan. Sementara matahari sebentar lagi akan terbit. Mereka belum punya tempat berlindung dari ganasnya matahari dunia ini.

__ADS_1


"Kau istirahat dulu. Biar ku lihat bagian atasnya."


Dean menyadari keadaan Sunil. Jadi dia akan memeriksa bagian atas benteng itu sendirian.


Dean terbang lebih tinggi. Benteng ini benar-benar tinggi. Dean mengira-ngira, tinggi benteng sekitar 100 meter. Mungkin sengaja dibangun begini agar makhluk raksasa dunia ini tak bisa melompat untuk memasukinya.


Dengan bantuan sedikit cahaya dini hari, Dean akhirnya bisa melihat bahwa seluruh bagian atas benteng itu juga tertutup rapat. Keningnya mengerut.


"Bagaimana sistem ventilasi mereka?" gumamnya heran.


Setelah memeriksa seluruh bagian atas benteng dan tak menemukan celah, Dean turun. Dia menemukan Sunil yang sedang beristirahat. Pria itu tertidur sambil duduk bersila.


Dean meraih sedikit pasir dengan kedua tangannya. Mencoba mencari tau sensor yang mungkin diterapkan di bagian luar. Dia menaburkan sedikit pasir ke arah dinding bangunan itu.


Benar saja! Ada bayang-bayang bidang bercahaya saat pasir-pasir itu mengenainya. Dean tersenyum.


"Kau tak kan bisa mengecohku. Mengira hanya bangunan kukuh saja bisa selamat dari serbuan makhluk buas di sini!" ejek Dean.


Tapi senyum Dean segera menghilang. Cahaya tipis transparan tadi mulai menebal. Mengelilingi seluruh benteng hingga tinggi ke atas. Dean masih bisa menyadari bahwa ada percikan-percikan listrik di seluruh dinding cahaya itu.


Dean segera menyadari posisi Sunil tidur. Dengan cepat diangkatnya Sunil dan melayang menjauh sedikit dari tempat itu.


"Hemmm... ternyata tak ada senjata yang diaktifkan. Mungkinkah setruman listrik di dinding itu mampu menjatuhkan musuh?"


"Bagaimana menurutmu?" tanya Dean pada Sunil.


Dean menyentuh kalung Sunil.


"Bagaimana keadaan di dalam?" tanya Dean dengan transmisi suara.


"Kami baik-baik saja. Alan baru saja bangun." Robert melapor.


Dean mengeluarkan Alan.


"Kau menarikku tanpa aba-aba!" protes Alan.


Dean mengabaikan Alan. Dia melepas kalung Sunil dan memakainya di leher. Lalu Sunil dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan.


"Sekarang tinggal kita berdua. Hari sudah pagi. Jadi bagaimana menurutmu bangunan itu?" tanya Dean tak mau bertele-tele.


"Menurutmu ini apa?" Alan balik bertanya.


"Awalnya aku setuju dengan Sunil. Ini terlihat seperti benteng yang kukuh. Aku sudah memeriksa hingga atas. Seluruh bagian atasnya tertutup rapat. Aku jadi meragukan kesan pertama tadi. Tapi tak bisa memikirkan apa kira-kira."


Dean bicara jujur. Pikirannya blank. Dia tak bisa mengira-ngira, bangunan apa ini.


Alan mengangguk. Dia melontarkan sebuah ide tak terduga.


"Bagaimana jika bangunan ini ternyata sebuah penjara?"

__ADS_1


"Penjara?!" Dean mengulangi.


"Siapa yang dipenjara di tempat seganas ini?" gumam Dean.


"Penjara dengan keamanan maksimum, hanya untuk penjahat kelas berat!" ujar Alan.


Alan terbang mengelilingi dinding transparan yang percikan listriknya masih menyambar-nyambar tersebut. Sesekali disentuhnya percikan listrik itu dengan mata petirnya. Lalu akan terjadi petcikan besar diikuti sedikit ledakan. Alan akan menikmati setruman itu sambil tertawa senang.


Dean menggeleng. Alan bisa bermain dengan dinding listrik itu seharian jika tak segera diingatkan.


"Alan! Kita harus mencari tempat perlindungan. Sebentar lagi siang!" seru Dean dari kejauhan.


Dia tak ingin ikut tersetrum ataupun disambar petir jika mendekati Alan.


"Alan!" teriak Dean lagi. Dia mulai kesal.


"Siapa kalian?"


Dean terdiam. Sebuah suara masuk ke kepalanya. Itu sebuah transmisi suara.


"Apa kau dengar itu?" tanya Dean pada Alan yang juga berhenti bermain.


"Siapa kau?!" tanya Alan.


"Suaramu terdengar sangat dekat. Apa kau berada di dekat bangunan tinggi di gurun?" Suara itu kembali terdengar.


"Bagaimana kau tau?" tanya Alan lagi.


"Aku penghuni bangunan ini," katanya bernada bangga.


"Oh ya? Apa kesalahanmu hingga dipenjara di tempat terasing begini?" tanya Dean menguji.


"Ah, kalian ternyata berdua. He... he..." Suara itu terkekeh.


"Apa yang lucu?" tanya Dean.


"Tidak ada. Hanya kasihan. Sebentar lagi kalian berdua akan mati terpanggang. Hahahaaa...."


"Brengsek!" umpat Alan emosi.


"Apa kau tau cara masuk ke sana? Kami perlu tempat perlindungan." Dean meladeni suara itu dengan sabar.


"Aku hanya bisa membiarkan seorang dari kalian masuk."


"Jangan menipuku. Aku sudah memeriksa seluruh bangunan ini. Tak ada celah sedikitpun. Bahkan di bagian atapnya. Semua tertutup rapat," ujar Dean.


Suara itu berhenti. Hening yang terasa lama bagi Dean dan Alan.


******

__ADS_1


__ADS_2