PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 240. Perawatan Luka Bakar


__ADS_3

Kang menyentuh kening Sunil. Lalu meraih tubuh Nastiti yang melepuh dimana-mana dengan hati-hati.


"Biarkan aku yang membawa mereka. Ayo," ujar Sunil.


Ketiga temannya yang pingsan itu diangkat keluar dari air. Tubuh mereka melayang di udara, mengikuti Sunil.


"Kalian kembali?" Suara Dokter Chandra yang cemas menyambut mereka.


Kang langsung merubah tubuhnya dan bergegas masuk rumah. Dengan kode tangan, diajaknya kedua orang itu ikut masuk ke dalam.


Kang menggeser meja kerjanya. Di bawah situ lantai terbuka dan menampakkan tangga menuju ruang bawah tanah. Kang turun, diikuti Sunil yang membawa ketiga temannya dengan hati-hati. Dokter Chandra menutup pintu rumah, lalu ikut turun juga.


Kang mencari-cari obat yang tepat dari atas rak. Sunil bisa melihat tempat yang seperti lumbung itu. Ada banyak ikatan gandum dan soba tergantung berjejer di langit-langit. Dan seluruh dinding dipenuhi rak yang entah apa saja isinya.


Kang sudah menemukan botol obat yang dicarinya. Didekatinya Sunil, menunjukkan botol di tangannya.


Sunil menurunkan ketiga temannya yang melayang, agar Kang lebih mudah melakukan pengobatan.


Dengan hati-hati, Kang memasukkan cairan obat ke mulut tiga orang yang sedang pingsan itu. Dokter Chandra hanya mengawasi.


Lalu Kang menggeser tangga yang otomatis menutup langit-langit yang terbuka. Kang membuka pintu lorong menuju ruang bawah makam. Diajaknya Sunil untuk ikut masuk.


Mereka menyusuri lorong panjang itu. Bagi Sunil dan Dokter Chandra, lorong itu terasa sangat panjang. Mereka tak tau pasti bagaimana Kang akan mengobati ketiga teman mereka. Ini adalah masa-masa kritis. Jika terlewat tanpa penanganan yang memadai, itu akan membahayakan nyawa.


"Sunil, jika Kang tidak berhasil, lebih baik cepat bawa kembali ke rumah di hutan. Gunakan air dari mata air abadi. Mudah-mudahan bisa tertolong!" saran Dokter Chandra.


"Jika ada tempat untuk membaringkan mereka, aku akan pulang dan membawa tempayan air itu ke sini," ujar Sunil.


"Baik. Aku akan menjaga mereka," sahut Dokter Chandra.


Kang kembali membuka pintu lorong. Sunil menyusul masuk dan terkejut melihat tempat yang seperti rumah itu.


Kang terus berjalan ke ujung ruangan. Dibukanya pintu. Itu kamar mandi dengan bak berisi air.


Sunil mengintip ke dalam untuk mengira-ngira apa yang akan dilakukan Kang.


'Kamar mandi?' pikirnya heran.


Kang mengamati tubuh ketiga orang yang tadinya melepuh kemerahan karena luka bakar, kini sudah terlihat lebih baik.


"Mereka mulai pulih!" seru Dokter Chandra takjub.


"Obat ajaib apa yang kau berikan tadi?" tanya Dokter Chandra lagi.


Kang menggeleng. Diraihnya tubuh Nastiti. Dibawanya masuk ke kamar mandi dan dimasukkan ke dalam bak air. Kang menuangkan sedikit cairan ramuan obat ke dalam air.


Dengan telaten, Kang menyirami sekujur tubuh Nastiti dengan air ramuan tersebut. Dokter Chandra memperhatikan dengan seksama. Keajaiban berikutnya kembali terjadi.


Tubuh Nastiti mulai pulih. Kulit yang melepuh itu perlahan memudar. Hanya menyisakan bekas kemerahan yang samar. Tapi Nastiti masih belum sadarkan diri.


Namun Kang sudah mengeluarkannya dari bak air. Sunil diminta memasukkan salah seorang ke dalam bak. Kang menuangkan lagi sedikit ramuan obat ke dalam air. Dokter Chandra membasahi seluruh tubuh Robert. Jangan ada yang ketinggalan kena air ramuan obat.


Sementara itu, Kang membopong tubuh Nastiti menuju kamarnya. Dibaringkannya gadis itu dengan hati-hati. Pakaian Nastiti basah kuyup. Tapi itu tak mengganggu Kang. Diamatinya bahwa Nastiti sudah mulai bisa bernafas dengan teratur. Kang merasa lega. Dibiarkannya Nastiti beristirahat sejenak.


Kang sedang melangkah menuju kamar mandi, saat Sunil keluar dengan tubuh Robert yang basah kuyup, mengambang di udara.


Sunil membukakan pintu kamar lain. Agar Robert bisa istirahat. Kang kembali ke kamar mandi dan melihat Dean juga sedang diguyuri air oleh Dokter Chandra.


Kang menambahkan air ramuan obat lagi ke dalam bak.


"Terima kasih Kang. Obatmu membuat Nastiti dan Robert jadi pulih lagi dengan cepat," kata Dokter Chandra haru.


Kang tak butuh air abadi. Dia punya ramuan obat yang dahsyat. Ini sangat hebat.


Tak lama tubuh Dean juga mulai pulih. Sunil menerobos masuk ke kamar mandi. Ruangan yang tak seberapa besar itu, jadi terlihat sangat sempit.

__ADS_1


"Kang, tak ada tempat tidur lagi untuk Dean. Jadi kita bisa membawanya kembali ke atas," kata Sunil.


Kang keluar dan menuju kamar dimana Robert dibaringkan. Sunil dan dokter Chandra mengikuti.


Kang menyentuh dinding sebelah kiri. Dinding batu itu bergeser. Terdengar bunyi mekanis dan suara benda berat bergeser dari balik dinding. Tak lama keluar tempat tidur yang sama dengan yang digunakan Robert.


Sunil dan Dokter Chandra tersentak melihat itu. Pantas saja ruangan itu terasa sangat lapang. Kini terlihat, bahwa seharusnya ada 2 tempat tidur di situ.


Sunil cepat-cepat membaringkan tubuh Dean. Dikeluarkannya pakaian Dean dari kalung penyimpanannya.


Sunil, "Aku akan mengganti pakaiannya dulu. Kang, kau gantilah pakaian Nastiti yang basah. Nanti dia malah terkena flu karena kedinginan."


Kang mengangguk, lalu keluar. Pintu ditutupnya.


Sunil, "Dok, ini pakaian untuk Robert. Bisa tolong gantikan?"


"Tentu," jawab Dokter Chandra.


Tak butuh waktu lama, keadaan ketiga orang itu sudah pulih seperti sedia kala. Yang lebih dulu sadar adalah Robert. Dia terkejut mendapati dirinya berada di kamar batu bersama Dean yang terbaring di tempat tidur sebelahnya.


"Ini dimana?" gumamnya heran. Dia tak melihat seorangpun di situ.


Robert perlahan mengingat hal terakhir sebelum dia berakhir di tempat ini.


Vivian dan kelompoknya menyerang mereka di teras. Bahkan Robert melihat jelas seringai kejam Vivian dan Maya sebelum mereka meniupkan kabut merah magenta.


'Kabut itu!'


Mata Sunil membesar kini. Itu kabut yang biasanya dihindari Kang. Dia makin mengerti, kenapa setelah muncul kabut, Sinar di puncak kuil langsung menyala. Itu tanda bahaya. Karena kabut itu memiliki efek yang sama dengan cairan asam kimia.


Robert memeriksa tangan dan kakinya. Dia ingat saat diserbu kabut tebal merah itu, kulitnya terasa panas mrmbakar. Begitu menyakitkan!


Melihat dia dan Dean berakhir di sinj, artinya mereka tadi pingsan setelah diserang. Nastiti! tadi Robert juga mendengar jeritan pilunya sebelum tak sadarkan diri.


Robert bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju pintu.


Terdengar suara obrolan yang dikenalnya. Dibukanya pintu lebar-lebar. Di sana, di bangku itu duduk Sunil dan Dokter Chandra.


"Ahh, kau sudah sadar! Syukurlah."


Senyum Dokter Chandra yang hangat terkembang.


"Bagus, karena Kang berhasil menyelamatkan kalian bertiga. Bagaimana dengan Dean?" tanya Sunil.


"Dia belum sadar. Nastiti bagaimana?" tanya Robert ingin tau.


"Kang sedang merawatnya. Semoga mereka berdua segera pulih." Dokter Chandra menyahuti.


Kemudian terdengar pintu kamar Kang terbuka. Kang keluar, diiringi Nastiti. Matanya memerah, seperti habis menangis.


"Duduklah di sini." Sunil berdiri dari duduknya, memberi tempat untuk Nastiti.


"Bagus kau segera sadar. Syukurlah," ujar Dokter Chandra lega.


Sunil, "Kita tinggal menunggu Dean sadar. Setelah itu segera kembali ke rumah besar."


"Kang, yang menyerang kami tadi, adalah Vivian dan kelompoknya!" lapor Robert.


Kang meletakkan jarinya di dahi Robert.


"Bagus! Kau sudah musnahkan mereka. Benar-benar keji! Mereka lupa pertolongan-pertolongan kita selama ini. Sialan!" umpat Robert emosi.


"Entah kenapa, tapi aku jadi makin tenang meninggalkan Nastiti di sini. Orang-orang jahat itu pantas mendapatkan balasan!" Dokter Chandra berkata dengan geram.


"Dan, kabut magenta itu... Aku lihat sendiri Vivian dan Maya meniupnya keluar dari mulut mereka. Sungguh gila! Ternyata itu senjata mereka. Pantas kau ingin kita berlindung di dalam sini setiap kali kabut turun."

__ADS_1


Robert berpikir keras.


"Apakah selama ini, mereka sengaja meniupkan kabut itu ke sini?" tanya Robert pada dirinya sendiri.


"Astagaaa...."


Robert menggeleng tak percaya, mereka telah tertipu wajah pura-pura baik Vivian.


'Pantas Dean memintaku waspada kemarin. Feelingnya lebih tajam dariku' batin Robert.


*


*


Sore hari, Sunil, Dean dan Dokter Chandra berpamitan untuk pulang. Kang dan Nastiti mengantar di bawah lubang celah. Tapi sebelum Sunil terbang, tangan Dean menahannya.


"Jangan naik dulu. Aku merasa ada yang sedang mengintip kita," ujar Dean lewat transmisi suara.


Lalu Dean bersikap biasa seperti orang sedang mengobrol santai pada Kang.


"Kalian jangan terkejut dan panik. Pura-pura saja tak ada apa-apa," ujar Dean dengan suara rendah.


"Apa maksudmu?" tanya Nastiti heran.


"Kang, bisakah kau pura-pura melihat sekeliling dengan matamu itu? Mungkin ada yang mengintai kita!" saran Robert.


Kang mengangguk dan tersenyum santai. Berpura-pura sedang ngobrol hal yang lucu. Matanya melihat, menembus kejauhan. Melewati ladang gandum yang cukup luas. Lalu ke hutan mapel. Kang tersenyum aneh. Wajah dan matanya memerah.


"Apa dia ada di hutan mapel?" tanya Robert. Kang mengangguk.


"Kau, bisa melihat sejauh itu?" tanya Dokter Chandra kagum.


"Dokter!" protes Nastiti gemas.


"Ada apa?" tanya Dokter Chandra heran.


"Kita sedang membicarakan pengintai! Kenapa Dokter membahas mata?" kata Nastiti keki.


"Apa tak bisa dibahas bersamaan? Mata Kang memang bagus. Itu penglihatan super namanya." kata Dokter Chandra tak mau kalah.


"Hah!"


Nastiti merasa sangat gregetan melihat sikap Dokter Chandra kali ini.


'Kenapa aku baru tau kalau sikapnya mirip dengan Alan?' pikir Nastiti keki.


Slassss!


Selarik cahaya biru keluar dari mata Sunil. Melesat menuju kedalaman hutan mapel.


"Aaaaaaaaaaaahhhh...."


Terdengar lengkingan pilu dari sana.


"Aku mendapatkannya!" ujar Sunil senang.


"Terima kasih kerjasamanya Dok," teriak Sunil sambil terbang ke arah hutan mapel. Dean dan Kang mengikuti.


"Tak masalah!" sahut Dokter Chandra santai.


Tinggallah Robert, Dokter Chandra dan Nastiti yang bingung.


"Jadi anda tadi berpura-pura?" tanya Nastiti tak percaya.


"Hahahaaa...."

__ADS_1


Robert dan Dokter Chandra tertawa melihat ekspresi Nastiti yang menggemaskan.


******


__ADS_2