
"Apakah kau roh orang mati itu?" Sunil menunjuk ke arah bak batu.
Mata Dean mengikuti arah yang ditunjuk Sunil. Dia berusaha bangkit dengan susah payah. Berjongkok, berdiri dan melihat sosok yang terbaring itu dengan kening berkerut.
Dean melangkah mendekat, memegang tubuh yang terbaring kaku itu dengan panik.
"Apa aku sudah mati?" tanyanya sendiri.
Dean lalu melihat ke sekeliling, untuk mengenali tempat itu.
"Kalian mencuri semua senjata di situ." Kata-kata itu bukan pertanyaan, tapi kesimpulan dan Dean tidak membutuhkan jawaban.
"Kau juga mencuri tubuh teman kami Dean," Sunil menjawab dengan berani.
Dean tampak bingung mendengar kata-kata Sunil, tapi dia tak terlalu memikirkannya. Disentuhnya tubuh di meja batu dan mengambil sesuatu di balik bajunya.
"Kenapa aku masih di sini? Ku kira aku sudah pulang." Dean kembali bicara sendiri.
Semua omongan Dean membuat Widuri dan Sunil makin khawatir.
"Dean benar-benar dirasuki roh orang itu," bisik Widuri pada Sunil yang dibalas anggukan.
"Apa yang harus kita lakukan?" Widuri kembali berbisik.
"Aku gak tau. Kita lihat saja dulu dia mau apa." Sunil merasa pikirannya buntu sekarang.
Dia terlalu lelah dan ngantuk. Banyak hal yang terjadi malam ini membuatnya merasa ini sudah diluar batas penerimaan otaknya. Sunil benar-benar ingin tidur saat ini.
"Aku ingin tidur," kata Sunil tiba-tiba dan melangkah keluar. Widuri mengikuti.
"Mau kemana kalian? Tetap di situ!" Perintah Dean tegas.
Matanya tampak bersinar keemasan, membuat kedua temannya tak bisa menggerakkan kaki.
Widuri dan Sunil makin takut, tapi kaki mereka seperti diikat. Sunil akhirnya memilih untuk duduk di lantai dan bersandar ke dinding gua. Dalam sekejap, dia sudah tertidur pulas.
Widuri menatapnya dengan kesal. Dia ingat bagaimana Sunil juga bisa langsung tertidur lelap setelah menyelamatkan semua orang dari gua disaat gempa.
"Dasar kebluk. Tidur gak lihat sikon," omelan Widuri hilang di udara. Dia juga tak punya pilihan lain. Jadi mengikuti Sunil untuk istirahat sejenak dan mengisi batere tubuhnya yang sudah sangat lelah. Keduanya segera tertidur pulas sambil duduk bersandar.
Dean yang sedang memeriksa benda yang diambilnya dari balik baju sosok itu, menoleh saat mendengar dengkuran halus Sunil. Dilihatnya keduanya tidur sambil bersandar.
Dean melangkah ke sisi tembok lain. Keningnya mengeluarkan cahaya berbentuk bintang keemasan. Dinding di depannya langsung bergeser. Dean masuk ke dalam dan dinding itu kembali menutup.
Dean masuk ke ruang tersembunyi yang hanya bisa dibuka dengan cahaya di keningnya. Diletakkannya benda yang diambilnya tadi di sebuah meja batu. Benda itu memancarkan cahaya ke arah langit-langit ruang. Dean memeriksa informasi yang ada dalam cahaya itu. Dia akhirnya mengingat hal-hal yang sebelumnya terlupakan.
Diarahkannya telapak tangannya pada sisi lain meja. Serentak keluar cahaya dari kening dan telapak tangan yang terpantul pada satu titik di langit-langit. Namun tak terjadi hal yang diharapkannya.
__ADS_1
"Transmisinya gagal. Apakah koordinat pusat berpindah?" gumam Dean.
"Bagaimana dengan Z dan O sekarang? Apakah mereka berhasil mengatasi makhluk itu?" Dean berpikir keras.
Dia harus segera memberitahukan keadaan di sini ke markas pusat, tapi tak bisa membuat sambungan transmisi. Dean kembali mencoba membuat sambungan transmisi, namun masih gagal.
"Ughh... kepalaku sakit sekali."
Dean memegang kepalanya dan berjalan keluar ruangan rahasia itu. Dibukanya pintu dengan cahaya dari keningnya. Dean berjalan menghampiri bak air. Ditampungnya tetesan air dengan kedua telapak tangan dan langsung meminumnya. Dilihatnya tubuh kaku yang terbaring disitu.
"Apa aku benar-benar mati di tempat ini?"
Matanya terlihat sedih. Tubuh Dean merosot dan duduk bersandar pada dinding bak batu.
"Bi.. maafkan aku," bisiknya lirih sebelum kehilangan kesadaran lagi.
Pagi berikutnya
Alan, Dewi dan Nastiti bangun kesiangan. Suara domba mengembik ribut membangunkan ketiganya.
"Ahh, tampaknya matahari sudah tinggi. Kita pasti tidur sangat pulas." Suara Dewi memecah keheningan.
Dewi dan Nastiti menuju pancuran.
"Alan, tolong nyalakan perapian untuk memasak sarapan," pinta Nastiti sambil lalu.
"Dimana Dean, Widuri dan Sunil? Apa mereka benar-benar tidur di sana?" Alan bicara sendiri.
Alan menuju pancuran saat Nastiti kembali ke dalam. Dewi sudah sibuk memerah susu domba.
"Aku mau lihat keadaan Dean di dalam," kata Alan pada Nastiti.
Nastiti mengangguk.. "Hemm."
Tak lama Alan menemukan Widuri dan Sunil tidur sambil duduk bersandar berdampingan. Dengkur mereka masih terdengar. 'Pulas sekali' batin Alan.
Lalu dilihatnya Dean juga tertidur sambil duduk bersandar pada bak batu. Alan merasa aneh melihat itu. Bukankah Widuri mengambil alas tidur untuk Dean? kenapa dia tidur di situ sementara alasnya di sini. Lalu kenapa Widuri dan Sunil tidur di sana? Alan tak bisa mengerti.
"Pintu apa ini? kemarin malam tak ada pintu di sini." Alan tak berani mendekat apa lagi masuk. Dia ingat pengalaman terlempar saat mencoba menarik Dean tadi malam. Akhirnya Alan memutuskan membangunkan Widuri dan Sunil lebih dulu.
"Hei, bangun. Sudah siang. Tidur kalian nyenyak sekali." Alan menggoyang tubuh Sunil.
"Ahh, iya. Ada apa?" Sunil menjawab masih dengan mata terpejam.
"Bangun. Widuri, bangun.. sudah siang." Alan ganti menggoyang tubuh Widuri.
"Heemmm, bentar.. 5 menit lagi. Aku masih ngantuk," Widuri justru merebahkan tubuhnya di lantai.
__ADS_1
"Aahh..! Dingin!" Jerit Widuri tak lama setelah punggungnya menempel di lantai. Dia beneran duduk sekarang.
Sunil langsung membuka mata mendengar jeritan Widuri.
"Ada apa?" tanyanya waspada.
Alan terkekeh melihat keduanya.
"Bukankah tadi malam kalian mau menemani Dean yang pingsan? Kenapa malah tidur bersandar berduaan sementara Dean sendirian di sana?" tuduh Alan.
Widuri dan Sunil segera melihat ke arah Dean yang masih tidur sambil duduk.
"Dean." Widuri beranjak berdiri ingin ke tempat Dean.
"Tunggu, dia bukan lagi Dean. Tapi orang itu." Sunil menahan tangan Widuri, membuat Widuri ragu-ragu.
"Apa maksudmu dia bukan Dean?" Alan meminta penjelasan.
Sunil dan Widuri menceritakan kejadian tadi malam pada Alan. Alan tak bisa mempercayai telinganya.
"Biar ku coba membangunkannya." Alan tak percaya dengan cerita kerasukan begitu.
"Hati-hati. Ingat, cahaya matanya bisa mengikat kaki kami tadi malam." Sunil kembali mengingatkan Alan.
"Dean, Dean. Bangun.. sudah siang." Alan menggoyang tubuh Dean.
"Ahhh," Dean meringis.
"Apa kau sakit?" tanya Alan.
"Kepalaku sakit sekali," Dean mencoba membaringkan tubuhnya di lantai.
"Baik, kau berbaringlah dulu di sini." Alan menyambar alas tidur di tengah ruangan itu, melipatnya dan meletakkan di bawah kepala Dean.
"Widuri, apa kau tau obat herbal untuk sakit kepala?" tanya Alan.
Widuri menggeleng. Tapi tak lama matanya terbuka lebar.
"Tunggu ku cari dulu. Apakah masih ada parasetamol di tas." Widuri bangun dan meninggalkan Sunil dan Alan.
"Menurutmu ruangan apa itu? Kau tak mempercayai ceritaku dan Widuri, tapi lihat ruangan yang sebelumnya tak ada itu. Pasti makhluk itu yang membukanya." Sunil masih dengan pendapatnya bahwa Dean kerasukan roh orang di atas meja itu.
Tapi Alan tak menggubris.
"Baiknya kau cari suasana baru dulu di luar. Apapun yang terjadi, Dean tetap teman kita. Lagi pula, dia tidak melukai kalian berdua meskipun kalian tertidur di depannya. Menurutku, dia tak ada niat jahat. Kitalah yang masuk ke rumahnya dan mengambil barang-barangnya." tandas Alan.
Sunil merenungi kata-kata Alan. Itu ada benarnya. Selama Dean tidak mencelakai anggota tim, maka dia tetaplah teman mereka. Sunil bangkit berdiri.
__ADS_1
"Aku keluar dulu," katanya.