PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 148. Menyongsong Cahaya Harapan


__ADS_3

Dibawah langit sore mereka mendayung makin jauh ke tengah laut. Hembusan lembut angin laut petang itu tak terlalu mampu meredakan degupan jantung mereka yang gugup.


Bahkan Robert sendiri sangat gugup. Andaipun bidang cahaya di laut itu adalah celah dunia lain, rasanya lebih beresiko memasukinya dari tengah lautan ketimbang di daratan. Terlebih lagi jika ternyata itu bukan celah dunia lain. Entah apa yang akan mereka hadapi nanti.


"Apa kalian sadar bahwa kita selalu berjudi dengan nasib?" Suara Laras yang tiba-tiba, membuat ketiga temannya kaget.


"Astaga kau mengagetkan saja," gerutu Silvia.


"Aku tau perjalanan ini menegangkan, makanya ku ajak bicara, biar santai." Laras melebarkan senyumnya.


"Apa kau tau arah ke cahaya itu Robert?" Tanya Liam.


"Ketua desa bilang, kita harus terus berlayar ke tengah. Nanti kita akan melihat pulau pertama di sebelah kanan. Setelah itu kita arahkan perahu ini ke kiri. Lalu ikuti jalurnya hingga bertemu cahaya itu." Jelas Robert.


"Instruksi yang singkat. Tidak rumit." Komentar Liam.


"Instruksinya memang tidak rumit. Yang jadi tantangan adalah kita harus menahan pegal di tangan karena mengayuh jauh ke tengah laut." Potong Silvia.


"Apa lagi kita bukan nelayan yang biasa mendayung perahu." Sambung Laras.


"Setelah ini, tangan kita akan kekar seperti atlet binaraga."


"Hahahaa.."


Kata-kata Silvia membuat mereka tertawa berderai.


"Kita harus adu panco setelah ini. Buktikan lengan siapa yg lebih kuat." Liam nimbrung.


"Aku akan mengalahkanmu," Jawab Laras percaya diri.


"Jangan sombong dulu. Nanti kalah malah nangis." Ejek Liam.


Robert membiarkan saja mereka ribut. Itu akan membuat suasana jadi kondusif. Jauh dari stress.


Mereka terus mengayuh. Kelompok Indra mengikuti perahu robert di belakang. Tawa Laras, Silvia dan suara keras Liam terdengar hingga ke tempatnya. Di perahunya suasana tak seramai yang di depan sana. Niken sibuk mengamati laut sambil mendayung, seperti sedang merekam pemandangan ke dalam otaknya. Dokter Chandra tampak sedang berpikir serius. Sementara Leon dan Indra tak punya ide mau membicarakan apa.


Di langit mulai muncul semburat warna tembaga. Sapuan angin di pipi mulai terasa kuat. Kayuhan perahu harus dijaga agar tak melenceng karena dorongan angin. Mereka mulai konsentrasi. Mendayung sekuat tenaga agar tak tertinggal jauh dari Robert.


Tiba-tiba terdengar Leon menyanyikan soundtrack film Titanic. Dia sangat menghayati dan seolah tenggelam dalam lagu itu.


Saat lagu itu sampai di refrain, Niken terhenyak.


" Stop! Kau membuatku merinding! Ganti lagu lain. Bikin sial saja," Teriak Niken.


"Aku hanya ingin menyanyi. Dan lagu itu keluar begitu saja." Leon membalas karena tak merasa bersalah.


"Bikin sial. Lagu untuk kapal karam kamu nyanyiin saat mendayung ke tengah laut." Niken ngotot dengan pendapatnya.


"Kau masih percaya tahayul? Hahahaa.." Leon terpingkal-pingkal. Niken memelototinya marah.


"Sudah.. sudah.. Tapi kau terlalu menghayati lagu itu. Jika di atas panggung itu pasti terlihat bagus. Tapi karena kita kan sedang mengadu peruntungan di tengah laut. Maka terasa seperti menggiring pemikiran buruk."


Dokter Chandra berusaha menjabarkan yang mereka rasakan.


"Iya. Suaramu dan nyanyian itu membuat bulu kudukku berdiri. Jadi terasa seram jika mendengarnya di tengah laut." Indra juga membela Niken.


"Ahh, kalian keroyokan bertiga aku sendiri. Baiklah kalian menang. Aku akan cari lagu lain." Leon cemberut.


Perahu itu kembali tenang. Mereka terus mendayung. Kembali terdengar suara Leon mengudara..


🎼🎵Aku seorang kapiten


Mempunyai pedang panjang...🎶


Ketiga temannya awalnya membiarkan Leon mengulangi lagu itu sesuka hatinya. Tapi akhirnya Niken tak tahan lagi.


"Berisiiikkkk!" Teriak Niken gemas.


"Apa lagi salahku?" Leon menunjukkan wajah tak bersalah.


Dokter Chandra dan Indra kembali fokus mendayung. Tapi Niken mengangkat jari telunjuknya memperingatkan Leon. Leon akhirnya diam, tak protes lagi.


"Leon, kenapa di lagu kapiten itu suaramu jadi cempreng? Kupingku jadi sakit mendengarnya." Tanya Indra dari arah depan.


"Itu bukan cempreng. Itu namanya bersemangat. Lagu itu harus dinyanyikan dengan bersemangat." Leon ngotot.

__ADS_1


"Sudahlah.. Lebih baik tak usah nyanyi lagi. Berdoa saja agar perjalanan ini berakhir baik." Nasehat dokter Chandra.


Perahu itu kembali sunyi. Tapi kemudian Indra melihat perahu Robert berhenti.


"Kenapa mereka berhenti? Apakah kita sudah dekat dengan cahaya itu?"


"Ayo bergegas. Susul mereka." Dokter Chandra memberi aba-aba.


"Ada apa?" Tanya Indra pada Robert setelah kapal mereka berhampiran.


"Tidak ada apa-apa."


Robert mengatakan petunjuk arah yang diberikan ketua desa.


"Jadi itu pulau yang dimaksud ketua desa?" Dokter Chandra memandang pulau yang terlihat kecil dan sangat jauh itu.


"Itu pulau pertama yang terlihat di sebelah kanan." Kata Robert.


"Oke. Jadi sekarang kita arahkan perahu ke kiri, lalu terus saja sampai kita menemukan cahaya itu." Indra menyimpulkan.


"Ya." Jawab Robert.


"Aku mau minum dulu. Bolehkah?" Tanya Niken. Tangannya pegal sekali. Dan merasa haus.


"Istirahatlah dulu. Kami juga sudah minum sambil menunggu kalian sampai." Kata Laras.


Mereka beristirahat sejenak. Langit terlihat semakin menyala, tanda petang telah menjelang. Pantai yang tadi mereka tinggalkan sudah tak kelihatan lagi. Hanya tampak garis dan lengkung bukit yang kehitaman di sana. Mereka sudah sangat jauh.


"Ayo kita lanjutkan." Terdengar aba-aba Robert dari perahu yang kini sudah berada di depan.


Indra mengayuh mengikuti perahu di depannya. Gelombang laut seakan mengerti, perahu mereka kerap terayun mengarah ke tujuan. Menggerakkan dayung jadi lebih ringan dibantu dorongan gelombang laut.


"Kenapa ombak mengarah ke sana?"


Gumaman Indra terdengar samar oleh Niken.


"Apa maksudmu?" Tanya Niken tak mengerti.


"Bukan apa-apa. Ombak membantu kita mendorong perahu. Mendayung jadi lebih ringan." Jawab Indra


Tapi tidak dengan Indra. Dia terus bertanya-tanya kenapa perahu mereka terus terdorong ombak. 'Apakah cahaya itu ada di dekat pantai pulau lain? Ataukah ada pantai dibalik cahaya itu?' pikirnya.


Malam sudah turun sepenuhnya. Hanya tebaran bintang yang memandu arah perahu. Robert sudah merasa salah pilih waktu. Dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk menghitung uang kembalian di kotak.


"Ini sudah malam dan gelap. Apakah tidak sebaiknya kita kembali ke desa saja? Besok pagi kita bisa berangkat lagi." Robert menanyakan pendapat 3 teman di kelompoknya.


"Kita sudah dua pertiga jalan. Tanggung balik lagi." Kata Liam.


"Iya. Lagi pula, bukankah saat malam kita bisa menemukan cahaya itu lebih mudah?" Kata Laras.


"Laras dan Liam benar. Kita lanjutkan saja mendayung. Jika sudah dekat, maka pasti kita akan segera tau dari cahayanya." Silvia mendukung pendapat Laras dan Liam.


"Baiklah kalau begitu. Mari lanjutkan." Robert mulai mengayuh lagi.


Beruntung langit terang malam ini. Jadi lautan itu tidak sepenuhnya gelap juga. Lagi pula mata mereka akhirnya terbiasa dalam gelap.


*


A few moments later..


*


"Robert, apa kau lihat cahaya di sana?" Laras menunjuk ke arah kiri di depan sana.


"Ya, disana terlihat terang. Mungkinkah itu dia?" Silvia menebak.


"Mari kita ke sana. Tapi jangan terlalu dekat dulu. Bagaimana pendapat kalian?" Tanya Robert.


"Ya, kita lihat dulu, tapi jangan dekat-dekat." Liam setuju. Mereka kembali mengayuh penuh semangat.


"Adduuhhh, kapan sampainya? Aku lelah dan lapar." keluh Niken.


"Sabar," kata dokter Chandra.


"Itu, mereka melambaikan tangan." Indra menunjuk ke depan.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa lihat orang melambaikan.." Leon tak meneruskan kalimatnya. Dia sendiri bisa melihat jelas perahu kelompok Robert berhenti dan diterangi cahaya.


"Kita sampai. Kita sampai. Hahahh.." Leon gembira sekali.


"Syukurlah kalau sudah sampai." Ucap Niken.


Indra dan kelompoknya mengayuh lebih cepat untuk mendapati Robert.


"Akhirnya kalian sampai juga." Wajah Silvia berseri-seri.


"Apa ini tempatnya? Tanya dokter Chandra.


"Tak ada cahaya lain di tengah laut ini." Jawab Robert.


"Baiklah, kita bisa masuk sekarang." Leon sangat tak sabaran.


"Tapi perutku sangat lapar. Kita hanya makan pagi hari ini." Niken sangat sedih.


"Baiklah, kita istirahat dan makan dulu." Robert menyetujui Niken.


Mereka mengeluarkan bekal ikan bakar yang sudah disiapkan istri ketua desa. Minum air kelapa dan beristirahat sejenak hingga tenaga mereka kembali pulih.


Indra mengambil satu tempurung kelapa kosong yang sudah habis diminumnya. Diperhatikannya arus air memang mengarah ke cahaya yang berjarak sekitar 30 meter dari perahu mereka. Dilepaskannya tempurung kelapa itu di air. Didorongnya sedikit ke arah cahaya. Selanjutnya arus laut yang mengantarkan tempurung kosong itu ke sana.


Semua memperhatikan benda itu berayun-ayun di air laut. Perlahan dibawa ombak menuju ke cahaya. Mereka seperti menonton film horor dan ikut merasa deg-degan hanya dengan melihatnya hanyut. Ketika tempurung itu mencapai batas cahaya, semua menahan nafas, ingin tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


Detik-detik hingga ke menit berlalu. Tak ada apapun yang terjadi. Tempurung itu hilang begitu saja setelah melewati cahaya. Tak ada kegemparan ataupun fluktuasi gelombang air laut. Mereka masih menunggu dengan sia-sia.


"Arus air laut mengarah ke sana. Asumsiku yang pertama, mungkin dibaliknya adalah air terjun. Tapi saat tempurung kelapa tadi setengah hilang, tak ada perubahan tarikan ke arah bawah. Harusnya asumsi air terjun bisa kita hapus." Indra menjelaskan alasan tindakannya tadi.


"Lalu asumsi berikutnya apa?" Tanya Liam.


"Asumsi kedua, dibalik itu adalah area pantai atau mengarah ke pantai. Seperti umumnya gelombang air laut yang akan berakhir di pantai." Jelas Indra.


"Pantai? Pulau lagi?" Kata Laras.


"Itu tidak tepat." Bantah Leon.


"Jika dibalik itu adalah area pantai, selain gelombang masuk, harusnya ada gelombang balik bukan? Ini tak ada."


Semua orang kini mengamati riak gelombang di depan cahaya. Leon benar. Tak ada gelombang balik dari arah cahaya menuju ke perahu. Mereka saling pandang.


"Sudahlah. Bahkan dunia inipun tidak logis bukan? Apa kalian pernah berpikir bahwa ada bangsa peri, bangsa elf, bangsa kurcaci yang benar-benar hidup? Bahwa mereka bukan sekedar rekaan para pengarang dongeng?" Robert menghentikan semua spekulasi.


"Sekarang kita sudah di sini. Masih belum terlambat untuk kembali ke desa kurcaci biru bila merasa ragu untuk melanjutkan perjalanan." Kata Robert tegas.


Semua diam. Robert benar. Dari awal mereka terdampar saja sudah tidak logis. Tapi mereka bertahan dan terus maju mencari jalan.


"Aku lanjut." Kata Laras yakin.


"Sudah di depan mata. Masa mau menyerah? Aku lanjut." Liam ikutan.


"Aku juga."


"Ya, lanjut."


Akhirnya semua orang sudah kembali membulatkan tekad untuk melanjutkan perjalanan.


"Kita tak tau apa yang ada di seberang sana. Robert sudah berkali-kali mempersilahkan kita mundur jika takut. Jadi jika terjadi hal yang tidak diinginkan, hendaknya tidak saling menyalahkan." Dokter Chandra mengingatkan.


"Kami mengerti."


"Kita semua adalah orang dewasa yang bertanggung jawab atas keputusan masing-masing."


Yang lainnya mengangguk.


"Baik. Mari kita lanjutkan perjalanan. Berdoalah agar semua berakhir baik." Saran Robert.


Dua perahu itu dikayuh kembali. Diarahkan menuju cahaya di tengah lautan luas itu.


Bintang-gemintang menjadi saksi keberanian mereka menghadapi ketidak pastian. Hanya demi satu harapan, pulang ke rumah masing-masing. Cahaya di tengah laut adalah manifestasi cahaya harapan yang tak redup meski menghadapi kesulitan.


Perlahan-lahan dua perahu dengan 8 orang itu lenyap dalam bidang cahaya. Angin berhembus seperti biasa. Seakan tak pernah terjadi apa-apa. Bintang di atas sana tetap menatap dingin dari ketinggiannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2