
Ternyata, meski sudah sampai pun, tetaplah tidak mudah untuk menjelaskan tentang kedatangan mereka. Terutama karena lokasi akhirnya yang tak masuk akal.
"Aisshhh kenapa juga topan badai itu melempar kita begini jauh?" keluh Niken.
"Sudahlah ... istirahat dulu. Besok pagi pikiran segar, kita bahas lagi. Pinggangku sakit berjalan seharian di hutan," ujar dokter Chandra mengakhiri diskusi malam itu.
Akhirnya kabin itu tenggelam dalam senyapnya malam.
*
*
Pagi yang cerah dan ramainya kicauan burung pagi hari. Kabut yang masih menggantung, menimbulkan sedikit rasa malas untuk bangun. Meski tidur hanya beralas kain di atas lantai kayu, tapi terasa seperti di kasur empuk.
Kayu di perapian hanya tinggal bara, Dean bangkit untuk menambahkan kayu agar ruangan kembali hangat. Dilihatnya Robert sudah bangun dan memasak air di teko.
"Aku ke toilet sebentar," ujar Dean sambil melangkah keluar kabin.
"Ya," sahut Robert.
Ketika keharuman teh menyebar, satu persatu anggota tim, terbangun. Sunil menggeliat, meregangkan tubuh.
"Aahhh rasanya nyaman sekali bangun di dalam rumah seperti ini," lirihnya.
"Tenang ... tak lama lagi kita akan pulang ke rumah masing-masing. Tapi, aku sendiri sudah tak sabar," ujar Niken sambil tertawa kecil.
"Aku ingin berjalan-jalan di luar, sebentar," kata dokter Chandra.
"Hati-hati, Dok. Jangan terlalu jauh!" Sunil mengingatkan.
"Ya, aku akan hati-hati." Dokter Chandra berjalan ke pintu. Udara dingin menyeruak masuk tatkala pintu dibuka.
"Berrrrrr ... dinginnya. Kau memilih lokasi yang tepat untuk membangun kabin. Udaranya sangat segar."
Dokter Chandra merapatkan jaket untuk melindungi tubuh dari terpaan angin dingin. Dia berjalan menuruni anak tangga, dan terus melangkah ke arah depan, tempat bunga-bunga dibiarkan tumbuh liar.
__ADS_1
Ruangan sudah dirapikan ketika Robert membawa nampan berisi teh dan irisan roti hangat. Semua diletakkan di lantai.
"Ada roti juga? Kau bangun sejak jam berapa?" tanya Widuri.
"Tidak tau. Tapi tadi itu aku terbangun karena suara binatang liar di sekitar. Karena tak bisa tidur lagi, akhirnya membuat adonan roti dan menunggu pagi.
"Kau pasti banyak pikiran," tebak Marianne.
"Yahh ... aku memikirkan bagaimana cara melaporkan keberadaan kita di sini?" Aku tetap tak bisa menemukan cara yang tepat. Ku pikir aku akan coba turun dan melihat apa yang bisa dilakukan." Robert terlihat tidak yakin.
"Apakah rumahmu dulu dekat dengan tempat ini?" tanya Marianne.
"Bukan rumahku. Tapi Mary. Dia memang berasal dari daerah pegunungan sini. Dia sangat mencintai alam. Itu sebabnya dia tak terlalu bahagia sejak pindah ke DC." Robert termenung sebentar.
"Tapi, biar besok ku lihat, apakah mungkin dia ada di Oakridge sini, atau di DC. Di kota itu juga ada lapangan terbang kecil, menuju kota terdekat. Kita mungkin bisa—"
"Tidak. Kurasa kau sebaiknya tidak pergi ke manapun," larang Sunil. "Jika ada orang yang mengenalmu, lalu melihat kau masih hidup dengan baik di sini, bukankah akan aneh?"
"Lalu, siapa yang mau turun ke bawah dan mencari informasi?" tanya Robert. "Kalian tak mengenal hutan ini. Hutan lindung ini sangat luas. Orang awam, mudah sekali tersesat.
"Baiklah. Tapi karena kita tak ada mobil, berarti kau harus jalan kaki. Itu cukup jauh hloo," ujar Robert."
"Katakan saja," balas Dean.
Dean, Robert, Sunil dan dokter Chandra berdiskusi di teras. Para wanita segera menyiapkan sarapan. Jadi Dean bisa sarapan dulu, sebelum berangkat.
Saat sedang duduk di teras dan tangga depan kabin, seorang pria dengan senapan di punggung, melewati tempat itu.
"Hai, Robert. Kukira kau sudah turun, kemarin," sapanya ramah.
Robert dan teman-temannya terkejut mendengar sapaan itu.
"Ah, aku kembali lagi. Ada teman-teman yang ingin menikmati suasana hutan. Apa kau mau berburu, Jack?" tanya Robert lagi.
"Yah, sedang musim babi hutan sekarang kan?' jawabnya.
__ADS_1
"Ya. Tadi malam aku mendengar suaranya. Sepertinya memang sedang ramai," Robert menimpali.
"Mungkin sedang musim kawin. Hahahaha ...."
"Bye!" teriak pria itu berlalu ke tengah hutan.
Setelah pria itu hilang dari pandangan, keempat orang itu saling berpandangan.
"Apa tadi dia mau bilang bahwa kemarin dia melihatmu turun?" Bagaimana bisa? Kita kan baru sampai kemarin," ujar Sunil bingung.
"Mungkinkah dia salah sangka?" tebak dokter Chandra.
"Kita harus pastikan hal ini. Aku akan ke bawah nanti. Untuk sementara kau jangan ke mana-mana dulu," larang Dean.
"Ahh ... baiklah. Ini terasa aneh."
Empat orang itu termenung bingung.
"Hei, sudahi dulu diskusinya. Mari sarapan biar kuaaatt," seloroh Niken.
"Kuat menghadapi kenyataan," jawab Robert lesu.
Niken yang awalnya bercanda, jadi terdiam.
"Kenapa dia?" tanyanya pada Widuri.
"Mana Aku tau. Kita kan sama-sama memasak di sini," kilah Widuri.
Sarapan itu terasa janggal. Karena para pria tampak bersikap aneh sepanjang waktu makan.
"Apa yang kalian sembunyikan?" todong Marianne.
"Nanti kamu pastikan dulu. Setelah itu, baru kita diskusikan lagi. Jawab Dean tegas.
Mendengar itu, tak ada lagi yang bertanya macam-macam. Semua menikmati sarapan dengan tenang.
__ADS_1
*******