
Seseorang berjalan terhuyung-huyung menuju arah pantai. Pasir yang panas dibawah siraman matahari membuat kakinya berjingkat-jingkat sesekali.
"Hilang kemana sepatuku sebelah lagi?" gumamnya sambil menahan rasa panas di telapak kakinya.
"Robert, Laras, dokter, siapapun.. apa kalian mendengarku? Halooo..!"
Teriaknya entah sudah berapa kali. Suaranya jadi serak. Rasa haus dan yang teramat sangat, membuat kepalanya pusing dan tubuhnya lemah. Sesekali dia menjilat bibirnya yang terasa kasar.
Dilihatnya hamparan pasir luas tak bertepi itu.
"Apa hanya aku yang terlempar ke dunia gersang begini? Harus kemana ini? Tak ada seorangpun di pantai itu, meski sudah seharian mencari. Apakah aku akan mati di sini?" Keluhnya putus asa.
"Ahh.. haus sekali. Di pantai ini tak tampak satupun pohon kelapa." Matanya nanar memandang ke kanan dan kiri.
Digalinya pasir dengan kedua tangan membentuk cekungan. Saat air mulai merembes, dia merapikan cekungan itu dengan hati-hati agar tak makin banyak butiran pasir mengotori air.
Digalinya lagi di tempat lain yang lebih rendah. Air berkumpul lebih cepat di situ. Dibersihkannya tangannya yang penuh pasir. Lalu mendekati lubang pertama. Air mulai menggenang sedikit demi sedikit.
Diciduknya air itu perlahan dengan sebelah tangannya. Dialirkannya ke mulut. Meski rasanya tidak enak dan masih ada rasa asin, dia tak punya pilihan lain selain meminumnya. Sejak kemarin hanya dengan cara ini dia bisa bertahan hidup. Meskipun dengan meminum air itu justru membuatnya makin haus, tapi dia tak tau harus bagaimana lagi.
"Aku sudah seharian kemarin mencari yang lainnya tapi tak ketemu. Aku tak mahir mencari ikan di laut, tak ada sumber air tawar. Bagaimana bertahan hidup di pantai ini? Lagipula, aku tak tau siapa saja yang selamat. Tabrakan dua perahu kemarin benar-benar fatal. Perahu Indra sudah dipastikan hancur berkeping-keping. Begitupun perahu kami."
Dia, terus saja bicara sendiri sambil menimbang apakah tetap menunggu di pantai, atau mencari sumber makanan lebih jauh lagi ke dalam.
"Haloooo.. Apa kalian mendengarku? Siapa saja, jawablah. Aku Silvia.!" Teriaknya lagi dengan suara serak menahan tangis.
"Aku takut sendirian di sini.. huhuhuuu.." Tangisnya akhirnya meledak juga.
Dia, Silvia... duduk di pasir di bawah sengatan matahari. Menangis merunduk sambil memeluk lutut.
"Laras, Robert, Liam... dimana kalian. Jangan tinggalkan aku sendiri.. huhuhuuuu.."
Silvia menangis hingga merasa lelah dan pusing karena kepanasan. Tak ada satupun tempat berlindung di sini.
"Aku harus terus berjalan dan mencari tempat yang lebih baik." Putusnya dengan tekad yang kuat.
Dicidukinya lagi air yang terkumpul makin banyak itu. Dia minum sampai puas.
__ADS_1
"Sayangnya tak ada botol untuk menyimpan persediaan air."
Dilepasnya ransel dan mengeluarkan 2 helai baju kaos. Satu digunakannya untuk menutup kepala hingga leher. Satu lagi untuk membelit kakinya yang telah kehilangan sebelah sepatu.
Dia minum sedikit air lagi sebelum bangkit berdiri.
"Let's go!" Ujarnya menyemangati diri sendiri.
*
*
Setelah entah berapa kali tumbang dan beristirahat, Akhirnya dia merasa tak sanggup lagi berjalan.
"Aduhh, lemes banget. Gue gak kuat lagi jalan." Keluhnya.
Dia menyibak sedikit pasir bagian atas yang sangat panas, lalu duduk di pasir lapisan bawah yang terasa lebih adem. Kembali digalinya lagi hamparan pasir itu untuk mencari sumber air.
"Ahh, syukurlah. Meski di sini hanya ada pasir, tapi sumber airnya tak terlalu sulit. Hemmm, makin jauh aku jalan, makin dalam aku harus menggali untuk mendapatkan air. Ini mungkin sudah sedalam 50 cm. Berarti permukaan tanahnya makin naik." Celotehnya.
"Ow waww.. air ini segar sekali. Ini air tawar!" Silvia kegirangan.
"Harusnya dengan adanya air tawar begini, pohon-pohon bisa hidup kan? Tapi kenapa tak ada pohon satupun di sini? Apakah karena mataharinya yang terlalu garang, membuat semua pohon mati?"
Silvia terus berbicara sendiri meski tau tak ada yang akan menimpali ucapannya. Itu dilakukannya agar tak merasa kesepian.
Setelah cukup istirahat dan mengisi perut dengan air, Silvia kembali melanjutkan langkah.
*
A few moments later..
*
"Ya Tuhan, tolong aku. Kasihani aku."
Silvia menggumam doa lamat-lamat. Dia merasa sangat kecil dan tak berdaya di tengah hamparan pasir luas yang entah berapa kilometer persegi lebarnya. Tungkai kakinya sudah gemetar. Tubuhnya terasa meremang dan kepala seakan melayang. Dia sudah berada di batas kemampuannya.
__ADS_1
Kembali dia jatuh terduduk di pasir yang terasa panas memanggang. Telapak tangannya sudah melepuh karena dipaksa menggali pasir panas untuk mencari sumber air.
Silvia kembali menggali dengan susah payah. kulit tangannya sudah mengelupas dan perihnya tak tertahankan. Dia mendesis dan menangis merasakannya. Tapi dia terus saja menggali pasir, karena tubuhnya butuh minum.
Setelah air terkumpul, Silvia minum dengan rakus. Dia ingin sekali berbaring untuk mengistirahatkan tubuhnya yang letih. Tapi pasir itu teramat panas. Dengan nanar diamatinya keadaan di sekitarnya, mencari arah tujuan yang lebih baik.
"Tidak, itu hanya fatamorgana!" tepisnya ketika melihat kumpulan kehijauan di ujung kanannya.
Dicucinya wajahnya untuk membuyarkan bayangan ilusi itu dari matanya. Dengan mengerjap-ngerjapkan mata, disapukannya lagi pandangannya ke sekitar. Namun siluet kehijauan itu masih di situ.
"Baiklah, kau menggodaku untuk ke sana bukan? Maka aku tak kan mendekatimu." Ejek Silvia
"Aku mulai gila nih.. hahaa.." Dia tertawa kecut.
"Baiklah, istirahat dulu. Kalau kau masih tetap di situ, aku akan ke sana. Dan kalau kau hanya ilusi, akan ku hajar kau!" Ocehnya tak jelas.
Setelah pusingnya hilang, Silvia mendongakkan kepala dan melihat bayangan hijau itu masih di situ. Dia mengamati dan mengira-ngira.
"Ku kira ada 1 km jarakmu itu. Kau tunggu aku. Jangan menghilang saat aku sampai."
Silvia menciduk air segar itu sampai memenuhi lambungnya. Lalu dia berdiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini lintasannya bergeser ke kanan.
Silvia berjalan dengan lebar langkah yang stabil. Tidak terlalu lambat, tidak pula buru-buru. Sebagai mahasiswa kedokteran yang telah melalui banyak hal sejak pesawat jatuh, Silvia tau bahwa di medan seperti ini, jika dia memforsir tenaga dari awal, maka bisa dipastikan sudah tumbang sejak tadi. Dia harus menghemat tenaganya jika harus melakukan perjalanan jauh dan sulit.
Matahari mulai condong ke barat. Bayangan kehijauan itu terlihat makin jelas. Ada kumpulan pohon palem dan mata air yang membentuk oase di situ. Silvia tersenyum pedih. Jarak itu tinggal 100 sampai 200 meter saja lagi. Tapi dia merasa tubuhnya sudah akan tumbang.
Dan...
Dia memang tumbang pada akhirnya.
"Sungguh ironi. Tuhan, jika masih ada waktuku, tolonglah aku," bisiknya lirih sebelum jatuh pingsan di pasir panas.
Langit senja yang indah di suatu tempat gersang. Beberapa ekor kuda berhenti. Terdengar orang-orang saling bicara dan berdebat. Lalu seseorang meraih tubuh lemah tak berdaya di atas pasir putih. Memeriksa pergelangan tangannya. kemudian mengangkat dan meletakkannya dalam gerobak kayu terbuka di atas setumpuk barang. Menutupinya dengan tikar jerami. Lalu kelompok itu berjalan pergi.
Hamparan pasir luas itu kembali sunyi. Gadis pejuang itu tak pernah mencapai oase yang diimpikannya. Nyanyian angin mengiringi kepergiannya.
*****
__ADS_1