PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 183. Memasuki Portal


__ADS_3

Makin jauh berjalan, pepohonan makin rapat. kabut tipis menguar, menyelimuti seluruh area hutan. Membuat jarak pandang semakin pendek.


"Banyak kabut. Tetap berpegangan." Liam mengingatkan.


"Akan kemana kita?" tanya Kenny sambil berjalan tertatih-tatih disangga oleh Mattew.


"Aku tidak tau." jawab Liam jujur.


"Yang ku tau, kita harus mendapat sumber makanan untuk semua orang. Itu sebabnya kita mencari." tambah Liam.


"Tapi makin ke depan, hutannya makin gelap. Padahal tadi di luar hari masih siang dan terang." Kenny merasa ragu.


"Bagaimana jika anak-anak dan wanita kita biarkan tetap di perbatasan? Di sana masih bisa mendapat cahaya matahari. Mereka tidak akan ketakutan." Saran Mattew.


"Hem, itu ide bagus. Tapi.. jika kita pergi mencari makanan dan tersesat lalu tak pernah bisa kembali, bagaimana? Bagaimana dengan mereka?" Liam mengemukakan alasan yang juga masuk akal.


"Liam benar. Dengan begini, kita akan tetap bersama. Meskipun jadi bergerak lebih lambat." Bela Laras.


"Baiknya kita buat obor untuk penerang jalan." usul Kenny.


"Kau benar." Mattew membantu mencari ranting dan batang pohon yang banyak berserakan di tanah.


Orang-orang desa ini sangat mahir membuat api. Tempat itu jadi lebih terang sekarang.


"Oke, kita bisa melanjutkan perjalanan." Kata Liam.


"Tetap bersama. Pegangi anak-anak agar tidak ada yang tertinggal." Kenny mengingatkan.


Rombongan itu melanjutkan perjalanan menembus hutan lebat. Mereka tak lagi dapat melihat sinar matahari dari balik dedaunan.


"Aaarhhh..!" teriak seorang gadis muda.


"Ada apa?" tanya Laras.


Rombongan itu kini berhenti.


"I.. itu.." Jarinya menunjuk jauh ke depan.


Ada suatu bayangan melayang di udara di depan sana. Laras juga terkejut melihatnya.


"Kalian tunggu di sini. Biar ku lihat." ujar Liam.


Dia berjalan maju dengan hati-hati. Kini bayangan hitam itu menjadi 3. Liam masih terus berjalan mendekat. Bayangan itu kini jadi 5. Tapi benda itu bukan melayang. Sebenarnya mereka digantung pada tali menjadi sebuah rangkaian. Saat ditiup angin akan tetlihat seperti melayang-layang di udara.


"Itu hanya kain hitam digantung pada tali yang membentang dari pohon itu ke pohon di sana." Jelas Liam.


"Siapa yang menggantung ini? Apa tujuannya? Menakut-nakuti pendatang baru?" Sungut Laras kesal.


"Mungkin sebuah peringatan?" ucap Kenny.


"Bisa juga sambutan selamat datang." timpal Mattew.


"Hah. Sambutan yang teramat hangat." Laras berkata sinis.


"Sebentar aku tes. Apakah di bawah gantungan ini berbahaya atau tidak."


Liam menjangkau sepotong kayu kecil. Lalu melemparnya melewati bawah gantungan tersebut. Namun tak terjadi apapun.


"Sepertinya aman," ujar Laras.


"Ayo anak-anak. Kita lanjutkan perjalanan." Kenny menyemangati anak-anak yang sudah terlihat lelah.

__ADS_1


Mereka kembali berjalan. Lelah dan lapar membuat mereka kehilangan semangat.


"Aduh!"


"Huwaaaa.. Ibuuu.."


Tangisan seorang anak yang jatuh dengan segera menular pada anak lainnya. Mereka sedih, takut, lelah dan lapar. Laras dan ketiga gadis remaja itu hanya bisa memeluk dan membujuk mereka. Rombongan itu kembali berhenti untuk memberi anak-anak kesempatan beristirahat.


Mereka kembali berjalan tak lama kemudian. Makin jauh ke dalam hutan.


"Itu apa?" Mattew menunjuk sebatang pohon hitam yang bercabang banyak.


Dalam bayang-bayang cahaya obor, mereka bisa lihat ada banyak benda tergantung di seluruh dahan pohon. Mereka tak mengerti itu apa.


"Mungkinkah tempat berdoa?" cetus Laras.


"Hem.. mungkin juga. Ayo kita lanjut jalan." Ajak Kenny.


"Aku lapar." keluh seorang anak.


Liam ingat tempat airnya yang sudah diisinya di sungai.


"Ini. Sementara kalian minumlah dulu. Sabar yaa.." bujuknya lembut.


Liam menyerahkan tempat airnya pada para gadis remaja untuk dibagikan pada semua anak.


Setelah semua orang mendapat seteguk air, mereka kembali berjalan. Kabut makin menebal. Perjalanan menjadi makin sulit. Jika bukan karena saling berpegangan, maka merekapun tak kan bisa mengetahui keberadaan anggota kelompok lainnya.


Tiba-tiba suara geraman binatang terdengar. Liam segera waspada.


"Binatang buas! Buat lingkaran. Lindungi anak-anak di tengah!" instruksinya cepat.


Para gadis yang menggandeng anak-anak segera ditarik Laras dan Mattew ke arah tengah. Mereka harus melindungi yang paling lemah.


"Sepertinya ini serigala." bisik Mattew.


"Kita harus bisa mendapatkannya untuk makan malam kita." tekad Liam.


"Hem." Sahut ketiga temannya.


Sosok binatang itu makin jelas setelah berada sekitar 3 meter dari cahaya obor yang dipegang oleh salah seorang gadis.


Seringaiannya mengerikan. Menampakkan barisan gigi yang runcing tajam. Mata merahnya makin berkilat garang terbias cahaya obor.


Kaki depan binatang itu sedikit menekuk. Diiringi geraman dan lengkingan, serigala hitam itu melompat menyerang ke aras Kenny.


Jenny menunggu dengan waspada, lalu mengibaskan pisau tajamnya saat lompatan binatang itu mulai jatuh ke arahnya.


Tak ayal kibasan pisau itu melukai kaki depan serigala. Membuatnya jatuh di depan Kenny. Liam dan Mattew segera merubung dan menghujaninya dengan tusukan-tusukan pisau. Serigala itu hanya mampu melawan sebentar. Sebelum kalah dan merelakan nyawanya, dia masih sempat melontarkan lolongan terakhir ke angkasa. Liam dengan cepat menggorok lehernya. Membungkam suara panggilan terakhirnya.


Serigala itu terkulai tak berdaya. Darahnya membasahi.tanah gersang kehitaman. Liam, Kenny dan Mattew duduk di tanah sambil mengatur nafas yang tak beraturan sehabis pergumulan.


"Kita harus cepat mengulitinya." Ujar Laras.


"Oke." Ketiganya kembali fokus pada tubuh serigala yang masih mengeluarkan darah. Mereka menguliti bulunya. Membuang isi perutnya. Lalu memanggang dalam potongan-potongan kecil agar cepat matang.


Para gadis itu bersemangat membalik-balik daging panggang agar matang merata.


"Ku kira, harusnya sekarang sudah petang. Apa tak lebih baik kita mencari tempat istirahat dulu?" Tanya Kenny saat semua anggota rombongan tengah asik makan.


"Ya. kita bisa berjalan sedikit lagi untuk mencari tempat ideal untuk tidur." Liam setuju.

__ADS_1


Mereka segera berkemas setelah selesai mengisi perut. Sisa daging bakar yang tidak habis, disimpan oleh para gadis. Itu sedikit persediaan untuk diberikan pada anak-anak jika mereka lapar nanti.


Rombongan itu kembali berjalan memasuki hutan. Makin dalam, makin gelap oleh pekatnya kabut. Semua berjalan hati-hati. Tidak ada yang terburu-buru. Khawatir anak-anak tertinggal dan lepas dari pengawasan.


"Liam, lihat." Tunjuk Laraa ke arah depan.


"Apakah itu seperti yang ku pikirkan" tanya Laras pelan.


"Rumah. Itu bayangan rumah."


Liam merespon berlebihan. Membuat pandangan anggota rombongan itu kembali penuh harap.


"Horee.. kita bisa istirahat sebentar." Seorang anak berteriak gembira.


Kenny menatap Liam. Matanya ertanya tanpa suara.


"Kita harus memeriksanya lebih dulu. Apakah ada penghuninya atau tidak." Ucap Liam.


Mereka makin mendekat. Tapi rumah itu tetap sunyi. Tak ada respon dari arah kediaman. untuk meyakinkan bahwa kediaman itu berpenghuni.


Sekarang semua orang sudah naik ke teras. Tak terlihat ada intimidaai ataupun kemunculan penghuni.


"Sunyi sekali di sini. Kata Laras.


"Sepertinya rumah ini memang ditinggalkan." sahut Mattew.


Liam mencoba mengetuk pintu beberapa kali, sebelum membuka pintu masuk.


Ada sinar membias terang saat pintu utama dibuka. Semuanya jadi takjub. Tapi tidak Laras dan Liam.


"Ternyata portal dunia lain berada di balik pintu podok." gumam Liam.


Kenny yang berdiri di sebelahnya terkejut.


"Seperti inikah pintu menuju dunia lain?" tanya Kenny tak percaya.


"Indah sekali cahayanya. Seperti pelangi berbaur menjadi satu." timpal salah seorang gadis.


"Tapi kita tak tau apapun di balik itu. Bisa jadi ada pemandangan indah. Atau mungkin juga dunia yang lebih buruk dari hutan angker." Laras mengingatkan.


"Kita tak punya pilihan selain masuk ke sana." Bantah Mattew.


"Ya. Kami mau masuk ke sana." Kata gadis lain.


"Aku juga mau."


"Ya, aku juga mau ke sana."


Suara-suara itu sudah menjelaskan kebulatan tekad mereka. Liam menghela nafas.


"Memasuki portal itu sama seperti mengadu nasib. Kalian harus meyakinkan diri lebih dulu. Agar nanti tidak menyalahkan kami." Ujar Liam.


"Tidak. Kami tidak akan menyalahkan kalian berdua." Kenny dan Mattew bicara hampir berbarengan.


"Baiklah. Mari kita masuk. Aku dan Laras lebih dulu. Anak-anak di tengah. Kemudian Kenny dan Mattew."


Liam mengatur barisan agar dapat saling menjaga jika harus menghadapi hal buruk di dunia sebelah sana.


"Jangan lepaskan pegangan kalian."


Liam mulai melangkahi pintu cahaya. Diikuti oleh Laras, kemudian seluruh rombongan itu lenyap dalam pintu cahaya.

__ADS_1


Kemudian daun pintu rumah tua itu kembali menutup rapat. Dan dia hilang perlahan-lahan. Seakan tak pernah ada bangunan berdiri di situ.


*****


__ADS_2