PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 177. Pengobatan Silvia


__ADS_3

Semua orang di pondok itu terkejut sekaligus lega melihat Sunil sudah sadarkan diri. Meski jalannya masih dipapah Alan, tapi melihatnya bangun, sungguh membahagiakan.


"Sunil, kau sudah sadar." sapa dokter Chandra gembira.


Sunil tersenyum tipis dan membalas pelukan hangat dokter Chandra.


"Berkat kemampuan adik Yoshi. Terimakasih." Sunil tersenyum pada adik Yoshi yang bersembunyi di belakang Yoshi.


Semua orang melihatnya dengan pandangan kagum. Mereka sudah sebulan lebih mencoba berbagai cara, namun Sunil tak kunjung bangun. Tapi adik Yoshi hanya melakukannya sekali, sudah berhasil. Sungguh punya kemampuan tinggi.


"Ini kursi rodamu. Duduklah. Jangan paksakan untuk berdiri atau jalan dulu." Indra mendorong kursi roda Sunil lebih dekat.


Sunil duduk dan mengistirahatkan tubuhnya yang seperti sedang dirayapi banyak semut dimana-mana.


"Dean bisa minta minum?" tanya Sunil yang melihat Dean hanya tersenyum lebar.


"Siap!" Dean mengambil cangkir dan mengisinya dengan air tempayan.


"Ini. Minumlah." Dean menyodorkan cangkir yang dipegangnya.


"Kau hanya Sunil atau bangun bersama O?" Tanya Nastiti penasaran.


"Aku juga bangun." Mata Sunil mengeluarkan sinar kebiruan.


"Syukurlah," Ujar Nastiti dan Marianne hampir bersamaan.


"Mata birumu sangat indah," puji Niken.


Alan tertawa mendengarnya.


"Indah namun mematikan," celetuknya.


"Benarkah?" Niken tak percaya.


"Percayalah. Dan jangan membuat dia terpaksa mengeluarkan cahaya birunya itu." Widuri mengingatkan.


"Kenapa?" Niken masih tak percaya.


"Karena tempat ini akan berubah jadi gurun tandus." Kata Dean meyakinkan. Widuri, Nastiti dan Alan mengangguk mengiyakan.


"???"


Niken tak bisa membayangkannya.


"Paman, bibi, kami harus pulang. Aku khawatir dengan keadaan ayah." ujar Yoshi.


"Aku akan mengantar kalian." ujar Alan. Dia mengisi sebuah kendi dengan air abadi dari tempayan. Yoshi mengangguk.


"Sampaikan terimakasih kami pada adikmu." Kata dokter Chandra. Yoshi tersenyum dan menganggukkan kepala. Mereka bertiga segera pergi.


"Sekarang tim kita lengkap. Nanti tim Robert juga akan berkumpul lagi." Ucap Dean optimis.


"Ya. Kita akan bertemu mereka lagi." Niken berkata dengan yakin.

__ADS_1


Mereka harus optimis bisa berkumpul bersama dan kembali lagi ke Indonesia.


Acara pernikahan Dean dan Widuri menjadi sempurna dengan sadarnya Sunil dan berjumpanya ketua kota dengan putranya. Kebahagiaan mengisi hati tiap orang.


*


*


Alan menceritakan semua proses yang diketahuinya. Lalu dia meninggalkan satu kendi air abadi jika ketua kota ingin memastikan bahwa jasad itu adalah istrinya.


"Sudah sore. Aku akan kembali ke pondok." Alan berpamitan.


Yoshi dan ketua kota saling bertukar pandangan. Memikirkan banyak hal yang tiba-tiba muncul di depan mata.


"Kita urus adikmu dulu." Kata ketua kota. Yoshi mengangguk.


*****


Sudah 2 minggu, kondisi Silvia sudah kembali pulih. Hanya di beberapa bagian tubuhnya yang masih menyisakan bekas luka bakar. Selain itu, kondisinya sudah sangat bagus. Tapi tabib itu mengatakan perawatannya belum selesai, hingga kondisi kulitnya pulih sepenuhnya.


Selama menjalani perawatan, Silvia banyak bertanya tentang bahasa mereka. Itu memudahkannya berkomunikasi dengan pelayan dan sang tabib.


Silvia berjalan-jalan di taman di depan kamarnya jika bosan. Di lain kesempatan pelayan wanita sang tabib akan menceritakan tentang banyak hal. Tentang kota kecil mereka yang dikelilingi gurun pasir. Tentang para pengelana ataupun pedagang yang singgah saat menuju kota lain. Mereka berdua menjadi akrab dengan cepat.


Silvia tak sabar menunggu perawatannya berakhir dan bertemu dengan orang yang telah menolongnya. Dia ingin segera melanjutkan perjalanan untuk mencari jalan pulang. Entah bagaimana nasib teman-temannya setelah malam penuh badai itu. Silvia khawatir tak bisa bertemu mereka lagi.


"Nona, waktunya mengolesi obat." Suara pelayan wanita terdengar.


"Apa kau sudah punya calon suami?" tanya Silvia memecah keheningan.


Wajah wanita itu bersemu merah. Dia menggeleng malu. Bukankah tabib punya beberapa pelayan pria. Apa kau tak menyukai seorangpun diantara mereka?


"Pelayan pria di sini semua sudah menikah." jawabnya.


"Carilah pria lain di kota. Masa tak ada?" Silvia kembali menggodanya.


Wanita itu hanya tersenyum sambil terus mengoles obat dengan telaten.


"Jangan terlalu pemilih. Masa keemasan wanita tak berlangsung lama." nasehatnya.


Tangan wanita itu terhenti di udara. Ditatapnya Silvia dengan serius.


"Benarkah? Bagaimana nona mengetahuinya?" Tanyanya tak percaya.


"Di tempat asalku aku belajar ilmu medis. Hal-hal seperti itu kami pelajari."


"Jadi kau calon tabib?" wanita itu makin terkejut.


"Hemm, di tempat kami sebutannya bukan tabib, tapi dokter" jelas Silvia lagi.


"Apa kalian juga mempelajari obat-obatan untuk menyembuhkan luka bakar seperti ini?" tunjuk wanita itu pada kotak obatnya.


Silvia menggeleng.

__ADS_1


"Dokter hanya memeriksa penyakit. Mengambil tindakan seperti operasi jika perlu. Lalu memberi resep obat. Yang boleh membuat obat hanya farmasi."


"Berarti aku adalah bagian farmasi?" tanya wanita itu. Silvia tersenyum.


"Istilah yang bagus." ujarnya senang.


Silvia jadi tertawa kecil melihat teman barunya begitu bahagia mendapat sebutan baru ketimbang pelayan.


"Nona. Tadi aku tak sengaja mendengar tabib bicara dengan seseorang. Sepertinya tuan penyelamat anda akan datang minggu depan." Wanita itu memberi kabar.


"Benarkah? Bagus sekali. Aku harus berterima kasih padanya." Silvia tersenyum lebar.


"Jika nona sembuh, nona akan kemana?" tanya wanita itu sambil merapikan kotak obatnya.


"Aku ingin mencari jalan pulang." sahut Silvia.


"Tapi sepanjang aku tinggal di sini. Tak ada sedikitpun berita tentang dinding cahaya seperti yang pernah nona ceritakan."


"Kenapa tak tinggal di sini saja? Dengan kecantikan nona, saya rasa akan mudah mendapatkan suami terpandang dan kaya." Wanita itu terus saja bicara. Silvia hanya mendengarkan sambil tersenyum.


"Orang tuaku di sana. Aku merindukan mereka," Pandangan Silvia menerawang, membayangkan keluarganya.


Wanita itu terkejut. Buru-buru dia membujuk.


"Jangan khawatir nona. Jika aku ada mendengar informasi itu, aku pasti akan segera mengabarimu." janjinya.


"Terima kasih. Kau temanku satu-satunya di dunia ini." Setetes air mata bergulir jatuh di pipinya.


"Maafkan aku. Aku tak kan bicara seperti itu lagi. Jangan menangis. Obatnya bisa luntur." Wanita itu dengan cepat menyeka air mata Silvia.


"Tidak apa-apa. Kadang airmata bisa menyembuhkan luka, melegakan kerinduan kita." Silvia memaksakan senyum.


"Aku menunggumu sejak tadi. Tapi kau malah asik ngobrol di sini." Tabib memasuki kamar Silvia.


"Aku baru selesai mengolesi obat." jawab wanita itu pelan.


"Nona, waktunya aku memeriksamu." Tabib menghampiri meja.


Silvia mengangguk dan menyodorkan tangannya untuk pemeriksaan denyut nadi.


Dokter meraba pergelangan tangan Silvia. Lalu memeriksa beberapa bagian luka yang sudah sembuh total dan yang masih menunggu pemulihan.


"Semua bagus. Anda sangat sehat. Kecuali beberapa bekas luka yang masih sangat kentara." Tabib mengangguk puas.


"Tapi saya masih akan terus memberi obat oles, hingga bekas-bekas luka bakar itu hilang." ujarnya yakin.


"Seperti ini juga sudah tak apa-apa." balas Silvia.


"Tidak. Tuan penolongmu memintaku untuk memulihkan kesehatanmu seperti semula." bantah tabib.


"Apa?" Silvia benar-benar tak percaya.


'Berarti aku masih akan lama di sini dong' batinnya lesu.

__ADS_1


__ADS_2