PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 126. Cerita Tabib Michfur


__ADS_3

"Jadi, apakah kita akan pergi ke wilayah kurcaci biru?" tanya Silvia setelah mendengarkan cerita dokter Chandra.


"Kita harus diskusikan ini dengan Robert dan yang lainnya," jawab dokter Chandra.


Silvia mengangguk mengerti. Tabib Michfur mengernyitkan keningnya.


"Aku ingat!" katanya tiba-tiba, mengejutkan yang lainnya.


"Ingat apa tabib?" tanya Silvia tak mengerti.


"Dulu saat aku masih belajar ilmu medis, guruku suka bercerita tentang pengembaraannya dalam mempelajari ilmu rempah-rempah dan teknik pengobatan. Dia juga kerap bercerita tentang kepercayaan beberapa klan dalam hal pengobatan. Semua yang ditemuinya itu diujinya, lalu metode terbaiklah yang diterapkan dan diajarkan padaku."


"Berarti guru anda sangat hebat. Menguji berbagai metode kesehatan dari berbagai tempat dan mengambil yang terbaik." Silvia memuji dengan tulus.


"Kakek guru bukan hanya hebat. Tapi sangat terkenal di seluruh klan yang ada di dunia ini. Itu juga sebabnya dia berumur pendek," asisten tabib menunduk sedih.


"Apa maksudnya?" Tanya dokter Chandra.


"Yah, guruku tewas saat perang melawan klan Orc. Mereka menargetkannya agar tak ada yang bisa menyembuhkan siapapun keluarga kerajaan klan Elf yang terluka dalam perang." Tabib Michfur menjelaskan.


"Aku bisa bayangkan bagaimana ketegangan saat perang itu. Tak heran banyak anggota kerajaan klan Elf yang tewas." Dokter Chandra mengangguk mengerti.


"Tapi anda termasuk hebat karena bisa mempertahankan nyawa tuan Felix," puji dokter Chandra.


"Saat itu aku sudah berusaha keras. Tapi keadaannya masih gawat. Putri Leonora meminta bantuan tabib Cyrill. Dengan bantuannya jugalah selembar nyawa pangeran Felix bisa dipertahankan." Tabib Michfur menepis pujian dokter Chandra.


"Hemm yah.. aku tau teknik penyembuhannya berbeda. Kolaborasi kalian berdua patut diacungi jempol." Dokter Chandra mengangkat jempolnya.


Tabib Michfur tersenyum tipis. Dia kini makin kagum pada dokter Chandra. Meski memiliki pengetahuan medis yang tinggi, tapi tak pernah merendahkan orang lain.


"Baiklah, kita kembali ke cerita guruku. Suatu hari, setelah pergi selama sebulan, dia kembali dan mengajar kami lagi. Ah, ya. Aku lupa mengatakan bahwa murid guruku ada 2 orang. Aku dan putrinya."


Dokter Chandra manggut-manggut dan serius mendengarkan.


"Hari itu setelah mengajarkan ilmu baru, dia menceritakan tentang kepercayaan aneh klan kurcaci biru yang tinggal di sebuah pantai yang dia kunjungi. Mereka mengatakan bahwa laut di tempat mereka itu dihuni monster raksasa yang bisa menelan kapal. Jadi guruku dilarang berlayar terlalu jauh dari pantai."


"Hemmm, ku rasa itu mungkin bisa mengacu pada bias cahaya yang dikatakan tetua klan penyihir tadi pagi. Tapi apa maksud mereka dengan menelan kapal?" Tanya dokter Chandra heran.


Tabib Michfurmemejamkan matanya. Keningnya sedikit mengerut. Dia sedang menggali ingatannya tentang cerita lama.


"Kalau tidak salah, kapal nelayan yang nekat melewati batas yang ditetapkan, tiba-tiba akan menghilang dan tak pernah kembali lagi. Penduduk mengatakan nelayan yang telah masuk jebakan monster laut raksasa itu tak ada harapan hidup lagi."


"Begitulah yang dikatakan guru. Tapi justru kepercayaan aneh itu yang membuatnya nekad pergi berlayar. Tak ada seorang nelayanpun yang mau mengantarnya ke sana untuk membuktikan ketidak percayaannya."


"Mereka menganggapnya gila saat guru nekat membeli perahu kecil untuk membuktikan bahwa mereka salah. Mereka hanya mengatakan, agar guruku segera menjauh jika melihat cahaya terang di tengah laut. Cahaya itu adalah jebakan untuk memikat para nelayan mendekat, lalu hilang ditelannya."

__ADS_1


"Kata guruku, dia hanya mengangguk, tapi tak mempercayainya sama sekali. Dia lalu turun ke laut siang itu. Dan sebelum nelayan lain pergi mencari ikan petang hari, dia sudah kembali."


"Semua orang di pantai terheran-heran. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mengantar nyawa pada monster laut bisa kembali. Tapi guruku mengatakan bahwa dia ternyata tak seberani itu berperahu terlalu jauh dari pantai, jadi dia kembali. Mereka semua menertawainya."


"Tapi guru mengatakan padaku, bahwa dia memang melihat cahaya indah di tengah laut. Dan mengingat karakter guru yang selalu ingin menguji sesuatu, jelas tujuannya ke laut bukan untuk bunuh diri. Jadi dia mencoba melempar tongkat yang selalu dipakainya untuk memukulku ke arah cahaya itu. Dan benar saja, tongkat itu lenyap dalam cahaya. Namun tak ada gejolak air laut yang mungkin bisa menunjukkan reaksi monster laut. Laut itu tetap tenang. Setelah mengamati cukup lama, dia kembali ke pantai. Lalu ditertawai orang-orang."


"Hemmmm... dokter Chandra berusaha mengambil kesimpulan cerita itu.


"Ketika kami berpindah dari hutan salju, kami melihat dinding cahaya kebiruan. Saat salah seorang dari kami melewatinya, mereka langsung hilang dari pandangan. Ku rasa, cahaya di tengah laut itu adalah dinding pembatas dunia lain." Dokter Chandra mengangguk gembira.


"Anda yakin? Apakah itu menuju dunia anda?" tanya asisten tabib.


"Aku tidak bisa memastikan itu benar batas dunia lain apa lagi meyakini bahwa itu menuju dunia kami. Kami hanya bisa mencobanya dan mengadu peruntungan." Jawab dokter Chandra.


"Dok, jika itu dinding cahaya seperti di hutan salju, maka mungkin itu juga menuju dunia lain. Hanya cermin portal yang digunakan tuan Felix lah yang jelas-jelas dapat membawa kita ke dunia kita yang sebenarnya. Meskipun kita mungkin keluarnya di negara eropa timur, itu masih lebih mungkin untuk pulang ke Indonesia kan." Silvia berargumen.


"Betul. Tapi seperti yang dikatakan tetua klan penyihir, kemungkinan cermin portal itu bukan hanya berpindah dunia, tapi juga berpindah waktu ke masa lalu. Bayangkan jika kita melewatinya, lalu ternyata berada di 10 atau 20 tahun sebelumnya?" tanya dokter Chandra.


"Hah! 10 tahun sebelumnya, aku masih sekolah menengah!" Silvia menunjukkan wajah bodoh.


"Bukan itu hal terpenting. Tapi... jika kita nekat kembali, maka kita akan melihat diri kita yang masih muda di sana. Bagaimana kau akan menjelaskan pada orang tuamu? Bagaimana aku mengatakan pada istriku bahwa aku adalah suaminya sementara aku yang lain ada di depannya?" Dokter Chandra mencoba memberi gambaran.


"Apakah menurutmu negara akan menjemput kita ke eropa timur jika kita katakan bahwa kita adalah korban selamat dari pesawat yang jatuh di 10 tahun yang akan datang?" Tanya dokter Chandra lagi.


Tabib Michfur dan asistennya akhirnya menyadari kegawatan jika mereka salah waktu saat kembali. 'Membuka kepala dan memeriksa otak? Betapa mengerikan!' batinnya sambil bergidik ngeri.


"Tapi dokter, bukankah tuan Felix bisa kembali kemari setiap kali pergi ke dunia itu? Anda juga masih bisa kembali jika memang salah waktu." kata asisten tabib Michfur.


"Yah, saat tuan Felix gunakan, cermin portal itu belum pecah. Segalanya berjalan lancar. Sekarang, siapa yang bisa menjamin bahwa jika semua pecahan disatukan tetap dapat mengirim kami pergi? Apa lagi untuk kembali kemari. Masa kami meminta para tetua untuk berjaga beberapa lama agar kami dapat memastikan apakah waktunya sama dengan saat kami menghilang? Bukankah itu sangat tidak sopan?" Dokter Chandra bertanya balik.


"Ah, an.. anda benar. Saya yang kurang berpikir." Asisten tabib itu menunduk malu dengan wajah merah.


"Tidak apa. Kau sudah menyampaikan pemikiranmu. Itu bagus. Seperti inilah harusnya sebuah diskusi. Kita beradu pandangan dan pendapat lalu mengambil kesimpulannya." Dokter Chandra menepuk bahu pemuda itu pelan.


Tok.. tok.. tok..


Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pelayan masuk. Keempat orang yang mengelilingi meja segera menoleh ke pintu.


"Tetua meminta anda semua untuk datang."


Pelayan berbalik dan keluar dari ruangan. Keempat orang itu mengikutinya. Mereka menuju kamar tetua klan.


"Salam tetua," sapa dokter Chandra hangat. Tiga rekannya ikut menundukkan kepala hormat.


"Kemarilah dokter." panggil tetua.

__ADS_1


Dokter Chandra mendekat ke sisi tempat tidur tetua.


"Aku ingin memberimu sesuatu. Sedikit ingatan tentang duniaku, agar masyarakat di dunia anda percaya bahwa ribuan tahun yang lalu, peradaban itu pernah ada di antara bintang."


Dokter Chandra mengangguk.


"Tapi jangan sampai membuat anda lelah."


Pria sepuh itu tersenyum samar.


"Dekatkan kepala anda."


Dokter Chandra menunduk ke arah tetua. Dilihatnya tangan tua dan lemah itu terangkat perlahan. Lalu telunjuknya menekan kening dokter Chandra. Dokter Chandra memejamkan mata dan merasakan kehangatan mengaliri kepalanya. Ada cukup banyak kilasan mengisi kepalanya.


"Sudah. huk.. huk.. huk.." Tetua terbatuk-batuk.


"Kakek buyut. Apa kau baik-baik saja?" Putri Leonora segera menghampiri dan mengusap-usap punggung ringkih itu.


"Aku tak apa-apa. Hanya sedikit lelah." Putri Leonora membantunya untuk kembali berbaring dengan nyaman.


"Bagaimana... dokter?" tanya tetua yang melihat dokter Chandra masih terpaku dan memejamkan mata.


"Ahh, anda benar. Tempat itu sangat hebat. Tak heran, meski tubuh anda sudah lelah, tapi kemampuan otak anda luar biasa. Andai manusia di bumi memiliki sepersepuluh kemampuan itu.." dokter Chandra benar-benar kagum.


"Saya hanya menunjukkan sedikit memory. Kemampuan lainnya akan saya wariskan pada Edric." Putusnya.


"Kakek buyut!" Pangeran Edric terlihat kesal.


"Kami masih membutuhkanmu di sini. Aku tidak mau menerima warisan apapun jika itu membuatku kehilanganmu" sanggahnya dengan wajah sedih.


"Bagaimana denganmu Leonora?" pria sepuh itu tersenyum licik.


"Tidak. Aku tak mau. Biarkan Edric saja. Dengan begitu aku bisa terus memaksanya untuk melindungiku," jawab putri Leonora sambil tersenyum jahil.


"Apa kau tak mau melindungi kakak sepupumu? Apa harus ku wariskan pada orang lain?" Aku sudah lelah minum obat. Sudah saatnya aku pergi." kata tetua.


Pangeran Edric mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Lalu dia mendekat ke sisi tetua.


"Baik kakek buyut. Aku akan menjaga klan dan kakak sepupu. Apakah perlu dilakukan sekarang?" tanyanya sambil menggenggam tangan keriput itu dan meletakkannya di pipinya. Matanya sendu menahan kesedihan.


"Nanti malam saja. Aku sudah meminta mereka untuk datang dan mengangkatmu menjadi raja di klan ini. Sudah waktunya. Kau sudah cukup berpengalaman. Sudah saatnya aku melepas semua beban ini."


"Aku sudah membesarkan kalian berdua sejak ayah kalian tewas dalam perang. Melihatmu tumbuh dewasa dan semakin kuat, aku sudah puas. Mengetahui Felix sudah sehat, maka satu kecemasanku juga hilang. Leonora kembali bahagia juga membahagiakanku. Aku tak ingin apa-apa lagi. Aku ingin menyusul nenek buyutmu." tetua itu memejamkan matanya. Seulas senyum manis tersungging di bibirnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2