
Tak lama terlihat asap membumbung dari arah gedung kediaman yang bersebelahan dengan gudang senjata.
Semua tahanan yang berada di luar, terkejut melihat asap hitam membumbung tinggi. Dan itu bukan hanya satu, tapi dari dua tempat yang berbeda.
Keadaan itu membuat para penjaga penjara langsung bereaksi untuk memasukkan kembali para tahanan ke dalam gedung. Dan itu sukses menjadi pemicu kerusuhan di dalam penjara.
Para tahanan itu protes dan menolak untuk kembali masuk setelah dikurung selama tiga hari. Para penjaga mulai bersikap kasar dengan memukuli tahanan yang melawan. Tapi para tahanan juga tak tinggal diam.
Setelah dua kali kejadian tak terduga di basecamp itu, mereka yakin bahwa ada kelompok lain yang sedang menyerang camp. Dan ini adalah kesempatan bagus untuk melarikan diri.
Penjara kesulitan mendapatkan bantuan karena penjaga lain juga sedang berupaya memadamkan kobaran api yang tengah membakar dua gedung lainnya.
"Wahh, apa itu tandanya?" tanya Alan dengan mata berbinar.
Dean tersenyum.
"Bagaimana kau melakukannya?" Michael terheran-heran.
"Kalau begitu ayo jalan. Tunggu apa lagi?" kata Alan tak sabar.
Tapi Dean tampaknya sedang menunggu. Dan benar saja. Dua lantai di bawah, di sayap kiri gedung penjara itu juga mulai mengeluarkan asap tebal. Itu makin menguatkan pemikiran para tahanan, bahwa ada yang sedang menyerang tempat ini. Mereka harus keluar dari penjara itu secepatnya.
"Ayo!"
Dean melesat secepat kilat ke arah atas. Alan dan Michael yang masih mengawasi sekitar, terkejut melihat Dean sudah pergi lebih dulu. Keduanya segera menyusul. Alan mengeluarkan Robert dan Sunil.
"Ke mana kita?" tanya Sunil.
"Penguasa mengatakan, kalungnya disimpan Hu Da di kediamannya. Aku sudah mencarinya td malam. Ayo!"
__ADS_1
Dean melesat cepat ke arah gedung yang berasap tebal. Empat temannya mengikuti dari belakang.
Di halaman gedung itu para penjaga dan penghuni sibuk memadamkan api dengan alat penyemprot. Tapi sumber api yang banyak dan sudah membesar, menyulitkan mereka memadamkan dengan segera.
Tiba-tiba mereka terkejut melihat lima bayangan melesat cepat ke dalam gumpalan asap.
"Apa itu?"
"Apa kalian melihatnya?"
Beberapa orang kebingungan melihatnya. Tapi tidak Hu Da. Dia juga dengan cepat menyusul lima bayangan yang telah menghilang dalam asap.
"Lihat! Hu Da ternyata bisa terbang!" seru yang lain heran.
"Apa mereka makhluk yang sama denganku? Atau si tua itu mewariskan kekuatannya pada makhluk rendahan? Tck!" Dia tampak tak senang.
Tapi kemudian dia ingat sesuatu. Benda milik Penguasa yang tak pernah bisa dibukanya, ada di dalam kamarnya. Dengan panik dia nekad masuk ke dalam kepulan asap pekat.
Di dalam sana, Lima sekawan itu mengikuti arah terbang Dean. Mereka terbang menghindari titik-titik api.
Di depan, mata Dean bersinar cemerlang seperti kilauan berlian. Kemudian dia berhenti di depan sebuah pintu tertutup. Ditendangnya pintu hingga terlepas dan terbang. Dean masuk. Yang lain berjaga di depan pintu.
"Alan, bantu aku!" teriakan Dean menggema di pikiran Alan.
"Ya, aku datang!"
Alan melesat masuk ke ruangan. Dia menemukan Dean yang kesulitan membongkar kotak besi penyimpanan.
"Awas."
__ADS_1
Alan memotong besi yang mengikat kotak itu dengan sinar lasernya. Tak butuh waktu lama baginya untuk memotong besi itu. Dean segera menariknya keluar dari tembok. Kemudian Alan membantu membuka kotak besi itu.
Keduanya terkejut melihat isi yang begitu banyak. Orang ini pastilah sudah kaya sejak lama. Dean menyibak isi kotak yang bermacam-macam itu, lalu menemukan kalung Penguasa yang dicarinya. Dean segera menyimpannya.
Dan ingin segera pergi. Tapi tiba-tiba dia ingat pisau besar Robert yang belum mereka temukan.
"Kita cari pisau Robert. Harusnya juga ada di sekitar ini," ujar Dean.
Alan yang melihat ada begitu banyak harta di kotak itu, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kotak itu disimpannya ke dalam ruang penyimpanan.Tangannya dengan gesit, menarik setiap benda yang menarik perhatiannya.
"Ketemu!"
Suara Dean terdengar girang. Pisau Robert ada di laci meja kerja. Dean mengambil dan melangkah ke luar kamar..
Di luar, ternyata tiga anggota tim itu sedang berkelahi dengan seorang pria.
Michael menghunus pedangnya. Sementara Robert dan Sunil berkelahi dengan tangan kosong. Pria itu berkali-kali jatuh tersungkur kena tinjuan Robert. Michael juga berhasil menusukkan pedangnya satu kali. Sunil dengan gemas menendang wajah pria itu dengan kakinya.
Orang itu sudah babak belur. Tapi masih menatap orang-orang di depannya dengan keheranan. "Kenapa mereka tak bisa ditaklukkan?" pikirnya.
Dean menggelengkan kepala. Dia melemparkan tali yang segera mengikat tubuh pria itu. Teman-temannya yang terkejut dengan perlakuannya meminta penjelasan.
"Kami belum puas menghajarnya!" ujar Michael.
Dean menggeleng.
"Tak lama lagi tempat ini ambruk. Ayo pergi!"
Dean melesat cepat keluar dari gedung yang mulai dilalap si jago merah. Dia membawa serta pria yang telah terikat tali. Di belakangnya menyusul, empat orang lagi.
__ADS_1
******