
Dokter Chandra melihat dari jauh, desa itu sudah porak pranda. "Cepat cari Lo Sa!" perintahnya. Dia khawatir pria itu terkubur reruntuhan.
"Ada pertarungan di sana!" Naga Tua melaporkan keadaan.
Dokter Chandra langsung melesat menyusulnya ke bagian timur desa. Terdengar gelegar dentuman dua kekuatan yang beradu. Begitu kuatnya ledakan udara yang tercipta, hingga mampu melukai kulit Dokter Chandra dan membuatnya terdorong sejauh lima puluh meter.
Naga Tua itu berbalik mengejar Dokter Chandra. "Naiklah ke punggungku, dan pulihkan dirimu!" perintahnya.
Dokter Chandra naik ke punggung Kang Tua. Diambilnya satu pil dan meminumnya bersama air abadi. Dia kemudian duduk dan berpegangan pada leher naga sambil memulihkan diri dan menyembuhkan luka-lukanya.
Naga Tua itu kembali ke tempat pertarungan. Dia mengamati dari atas. Dokter Chandra juga menyaksikan pertarungan dahsyat di bawah itu. Sebuah panah ditembakkan ke angkasa. Melesat cepat dan nyaris mengenai mereka berdua.
"Panah itu—" Dokter Chandra terkejut.
"Ivy!" panggilnya melalui transmisi suara.
"Kakak! Apa kau juga di sini?" balas Ivy.
"Aku di atas, bersama Naga Tua ini!" sahut Dokter Chandra.
"Itu adikku!" ujar Dokter Chandra pada Naga Tua.
"Benarkah?" timpal Naga itu. "Apa dia membutuhkan bantuan kita?" tanyanya lagi.
"Bantu Indra mencari orang-orangku," pinta Ivy.
"Ada Robert dan Sunil yang mencari di sana. Apa kau butuh bantuan kami?" tanya Dokter Chandra lagi.
"Belum perlu. Menyingkir dari sana!" perintahnya.
"Ayo menyingkir!" Dokter Chandra mengingatkan Kang.
"Oh?" Naga Tua itu terbang menjauh dari arena. "Apakah adikmu itu hebat?" tanya Naga Tua itu.
"Yah, dia punya gelar Jenderal Panah Pembunuh!" jawab Dokter Chandra sedikit kecut.
"Wahh, gelar yang menakutkan. Kutebak, panah yang meluncur tadi adalah hasil kerjanya," ujar Kang Tua.
"Panah itu yang membuatku mengenalinya. Hanya dia yang bisa menggunakan panah itu!" sahut Dokter Chandra.
"Lihat! Dia mengendalikan arah panahnya!" tunjuk Kang Tua.
Keduanya melihat pertarungan sengit antara Ivy dan dua bangsa Demon. Sayap hitam legam mereka terlihat kuat dan salah seorangnya memiliki tangan api.
"Apa kau pernah bertemu Demon Api?" tanya Dokter Chandra pada Kang Tua.
"Belum," jawabnya. "Apa menurutmu itu dia?" tanya Naga Tua.
__ADS_1
"Entahlah. Mungkin saja." Dokter Chandra mengamati jalannya pertarungan sengit itu.
"Mereka membawa pertarungan ini menjauh dari desa. Kurasa, ada yang mere6lindungi di sana!" Dokter Chandra tersadar dengan seduatu.
"Ayo kita bereskan yang di desa!" ajaknya. Naga itu berbalik ke arah desa Demon.
"Apa kalian sudah menemukan Lo Sa?" tanya Dokter Chandra
"Kami tak menemukannya di manapun!" sahut Robert.
"Jangan berlama-lama lagi. Kita harus bongkar semua rumah desa ini!" katan Dokter Chandra.
"Baik!" Sunil, Robert, dan Indra menjawab serempak.
"Aku bisa meniupkan angin kencang!" Naga tua itu menawarkan bantuan.
"Baik. Lakukanlah!" Dokter Chandra mengangguk. Mereka menyingkir, memberi ruang bagi Naga itu beraksi.
Kang Tua langsung meniupkan ngin beserta uap panas dari mulutnya yang besar. Robert ingat bahwa temannya Kang juga bisa meniupkan udara saat di ruangan bawah tanah. Tapi udaranya dingin membekukan.
Atap-atap rumah itu beterbangan. Dinding-dinding kayu itu terdorong dan sebagiannya rubuh. Para penghuninya keluar berlarian. Tapi Dokter Chandra sigap mengurung mereka di dalam kubah cahaya putihnya.
Robert, Sunil dan Indra mengangkat semua atap dan dinding kayu ke arah atas. Robert langsung membakarnya hingga menjadi debu.
"Cari Lo Sa!" perintah Dokter Chandra. Lima orang Suku Cahaya segera bergerak mencari. Seharusnya sudah tak ada lagi apapun yang bisa dijadikan tempat sembunyi. Namun mereka masih belum menemukan pria itu.
Indra mengarahkan jarinya yang memiliki sambaran petir. Kubah cahaya itu kini berubah jadi kubah petir. Tapi mereka tidak takut sedikitpun.
"Mereka melindungi sesuatu yang sangat berharga. Menurutmu apa?" tanya Dokter Chandra pada Kang Tua.
"Ratu yang mau melahirkan!" jawab Naga itu.
"Menurutku, mereka menyembunyikannya di bawah tanah!" tambah Naga itu lagi.
"Indra, menyingkir dari sana!" perintah Dokter Chandra. Indra menjauh. yang lain juga ikut menyingkir dari desa yang telah kosong itu.
Dokter Chandra membuka telapak tangannya ke arah kubah cahaya. Sedetik berikutnya, tangan itu menutup, dan rakyat Demon yang berada di sana, langsung mati.
Semua terpana melihatnya. Belum pernah mereka melihat Penguasa membunuh tanpa berkedip.
Keterkejutan mereka makin bertambah tatkala tanah bekas desa itu bergetar hebat, disertai lengkingan kemarahan. Beberapa kayu dan bebatuan beterbangan.
"Berlindung. Itu ratunya!" Dokter Chandra memperingatkan.
Dia pasti murka, anak-anaknya mati di tanganmu!" komentar Naga Tua itu.
"Mari kita hadapi dia!" Dokter Chandra. "Sunil, arahkan bola apimu ke sana!" perintah Dokter Chandra.
__ADS_1
"Baik!"
Sunil membuka tangannya. Satu bola api biru terang, muncul di dua telapak tangannya. Dia menyatukan keduanya hingga menjadi bola biru terang yang besar dan makin membesar.
"Menyingkir!" teriaknya.
"Ivy, lindungi dirimu!" Dokter Chandra mengirim transmisi suara.
"Tidaaakkk!"
Dua Demon yang mengepung Ivy kini berusaha melindungi Ratunya dan menghadapi Sunil. Mereka mengganggu konsentrasi Sunil untuk menciptakan serangan dahsyat. Tapi Robert dan Indra telah siap membantu di sisi Sunil.
Dua Demon itu Tak beranjak dari tempatnya meskipun diserang Robert dan Indra bertubi-tubi. Indra melukai kulit tubuh mereka dengan sinar lasernya.
Ivy juga melesatkan anak panahnya. Dan kedua demon itu tersambar dalam satu panah. Namun mereka masih teguh berdiri, seakan tidak merasakan sakit sama sekali.
"Sekarang!"
Sunil melepas bola cahaya biru terang yang dipegangnya.
Dokter Chandra langsung memasang kubah cahaya untuk mengurung kedua Demon serta ruang bawah tanah yang mereka jaga dengan nyawa.
Bola cahaya biru itu meledak dahsyat di dalam kubah. Tempat itu jadi terang benderang dan menyilaukan.
Lima orang Suku Cahaya benar-benar terkejut melihat kedahsyatan serangan itu. Sekarang mereka yakin bahwa Bangsa Cahaya adalah bangsa yang kuat. Mereka saja yang kurang berlatih.
"Apakah ada orang-orang yang bisa diselamatkan?" tanya Ivy pada Indra.
"Robert dan Sunil sudah menyelamatkan mereka lebih dulu," jawab Indra.
"Tapi ada satu orang yang tetap tidak ketemu. Kurasa Lo Sa dibawa ke ruang bawah tanah untuk dimanfaatkan oleh Ratu Demon itu." Dokter Chandra menyayangkan kehilangan satu lagi anak bangsanya.
"Mungkinkah mereka sudah mengetahui cara pemindahan jiwa bangsa kita?" tanya Robert.
"Mungkin saja. Itu menjelaskan kenapa Demon itu bisa memiliki tangan api!" ujar Dokter Chandra.
"Kau benar. Aku juga terkejut saat dia menyerangku tadi," ujar Ivy.
"Aku sudah memeriksa di sekitar. Tak ada apapun lagi di sini," lapor Naga Tua.
Dokter Chandra mengangguk. "Bumi hanguskan tempat ini. Kita harus yakin tak ada dari mereka yang selamat! Atau itu akan jadi bencana di kemudian hari!" perintahnya.
Robert, Indra dan anak muda Suku Cahaya ikut menambahkan api di sekeliling kubah cahaya yang masih menjaga radiasi cahaya biru Sunil.
Siang hari, tempat itu sudah hangus terbakar. Bahkan hutan di sekeliling desa juga tak luput dari pembersihan.
Mereka lalu pergi menuju gunung, untuk beristirahat.
__ADS_1
********