PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 359. Rahasia Adik Penguasa


__ADS_3

Ibunya menggeleng. "Jika dia jahat, dia takkan datang ke sini," jelas si ibu tua.


"Dia pasti langsung tahu aku tak punya hubungan darah dengan nenekmu. Tapi dia tetap memberiku obat."


Wanita tua itu ternyata memiliki pemikiran yang masih sangat jernih, di usianya.


"Aku lega, bisa bertemu bangsa yang sama dengan nenekmu. Kau juga harus bersikap baik, pada orang yang baik. Jangan membalas budi dengan racun!" pesan ibunya.


Anak muda itu hanya menunduk. "Ya, bu. Aku akan ikutin pesanmu," jawabnya.


"Siapa namamu?" tanya dokter Chandra.


"Aslan," jawabnya singkat.


"Waktu ibumu tak lama lagi. Kalian berbincanglah. Kami pergi," pamit dokter Chandra.


"Tuan ... tolong, bawalah dia bersamamu. Dia tak punya kehidupan di sini," pinta wanita itu.


Dokter Chandra menggeleng. "Kami hanya pengembara yang tak tentu arah," tolak dokter Chandra.


Tampak jelas kekecewaan di mata ibunya. Aslan langsung membujuk. "Ibu jangan khawatir padaku. Aku akan bekerja semampuku agar bisa bertahan hidup. Tubuhku kuat, untuk bekerja keras di pasar," hiburnya.


"Dok, mungkin Aslan bisa membantu kita mendapatkan keperluan di kota ini!" cetus Robert lewat transmisi suara.


"Apa idemu?" balas dokter Chandra.


"Dia mungkin bisa jadi perantara untuk menjual mutiara yang kita punya. Dia pasti tau orang-orang yang mungkin bisa membeli." Tobert membeberkan pemikirannya.


"Atau, Anda mengobati orang yang sakit parah, dengan obat pil yang ada," usul Dean


"Keinginanmu itu merepotkan!" sungut dokter Chandra.


"Mari kita keluar dan kembali ke kota!" ajak dokter Chandra.


Ketiganya melangkah keluar dari rumah. Tapi dengan segera mereka tertegun. Bagian pantai pasir dan berbatu di bawah sana, sudah digenangi air. Bahkan hempasan ombak telah mencapai batas pagar halaman.


"Air sudah naik. Kita tak bisa ke mana-mana sampai air laut ini kembali surut." Dean menatap pulau besar yang kini terpisah dengan tempat mereka berada.


Robert melihat ke sekitar. Tak lama dia kembali. "Rumah di bukit batu ini, tak lebih dari sepuluh," lapornya.


"Desa kecil dan terpencil," komentar dokter Chandra.

__ADS_1


"Oh, sudah pasang naik. Kalian tak bisa kembali ke kota, saat ini." Aslan muncul dari dalam rumah.


"Baiknya istirahat di sini saja malam ini," tawarnya sopan.


Dokter Chandra, Dean dan Robert berpandangan, lalu mengangguk. "Baiklah. Kami akan menumpang istirahat di rumahmu, malam ini," Dokter Chandra menerima tawaran itu dengan sopan.


"Di mana dapurmu?" tanya Dean.


"Itu, disana!" tunjuk Aslan ke samping rumah.


"Terima kasih," sahut Dean. Bersama Robert, keduanya pergi ke dapur. Saatnya menyiapkan sesuatu untuk keluarga ini.


"Dean, kupikir ... kita bisa gunakan tempat ini sebagai dasar perjalanan kita." Robert mengutarakan penikiran liarnya lagi.


"Apa maksudnya itu?" tanya Dean sambil memotong-motong daging jadi potongan kecil untuk direbus hingga empuk.


"Maksudku, kita letakkan pintu teleportasi di rumah Aslan, jadi bisa pulang pergi ke dunia kecil dari sini. Toh Aslan itu paham tentang bangsa kita. Kurasa...."


Dean melihat Robert yang tak lagi melanjutkan kata-katanya. "Kau sendiri merasa ragu begitu hloo," tegur Dean.


"Kita harus bicarakan dulu dengan Penguasa," sambung Dean lagi.


"Kalau pendapatmu sendiri, bagaimana?" tanya Robert ingin tahu.


"Tetapi, hal itu tak bisa selamanya. Jika kita ingin kembali ke Indonesia di tahun asal kita, maka pintu teleportasi akan dibawa lagi. Lalu Aslan bagaimana?" sambungnya lagi.


"Kukira, dia bisa diajak bersama kita. Bukankah tadi wanita itu menitipkan putranya pada Penguasa? Tapi ... langsung ditolak." Robert sepertinya tidak sependapat dengan tindakan Penguasa.


"Penguasa pasti punya pemikiran sendiri yang kita tidak dapat memahaminya."


Dean sudah mengeluarkan butiran gandum yang kemudian dicuci dan dimasak bersama daging. Dia ingin menbuat bubur gandum berisi daging. Kelihatannya keluarga Aslan sudah lama tak menggunakan dapur. Entah bagaimana mereka bertahan hidup selama ini.


"Tambahkan sayuran ini!" Robert . meyerahkan semangkuk sayur yang sudah diiris-iris pada Dean.


"Kalian memasak apa?" Aslan menghampiri.


"Bubur gandum. Kukira, ibumu butuh tenaga. Dan bubur yang lembut cocok untuk perutnya," jawab Dean.


"Itu apa?" tunjuk Aslan ke arah mangkuk.


"Ini sedikit sayuran, agar lebih bergizi." Dean tersenyum.

__ADS_1


"Ada apa?" Robert cepat tanggap.


"Emmm, itu ... maksudku, seperti kata ibuku...."


"Kami menghormati keputusan Dokter Chandra sebagai yang tertua," poyong Dean.


"Apa kau ingin ikut mengembara bersama kami?" tanya Robert, mengabaikan ucapan Dean tadi.


"Yang memberatkanku untuk pergi adalah kondisi ibu. Dia tak punya sanak saudara lain. Sama sepertiku, Ibu juga diadopsi oleh Nenek. Sering ibu berharap Nenek masih hidup dan akan kembali lagi ke rumah yang dibangunnya ini," beber Aslan.


"Jadi, rumah ini dibangun oleh Nenekmu?" tanya Robert.


"Ya. Menurut cerita Ibu, rumah ini sudah ada sejak Dia dibawa kesini. Nenek bilang, rumah ini dibangunnya sendiri, sebelum ada satu rumahpun di pulau kecil ini. Enam rumah lain di sini, dibangun nenek untuk para pengikutnya. Tapi mereka juga telah tiada. Tinggal anak cucu yang menempati."


Aslan menyambung ceritanya lagi. "Sesekali, mereka membawakan makanan ke sini karena menghormati ibu, sebagai putri angkat nenek. Tapi aku juga tahu, hidup mereka sulit. Aku ingin sekali bisa membantu, tap—"


"Kau bisa membantu mereka dengan beberapa syarat!" Suara dalam dokter Chandra mengagetkan tiga orang yang sedang asik.


"Apa syaratnya?" tanya Aslan penuh harap.


"Biar kukatakan dulu. Ibumu tidak begitu jujur tentang adikku yang diakuinya sebagai ibu. Dia harus mengatakan seluruh cerita yang dia tahu, jika ingin aku membantumu!" tegas dokter Chandra.


"Apa? Benarkah? Aku tidak tahu jika ada yang dirahasiakan. Tetapi, seperti itulah cerita yang selalu dikatakan ibu padaku," jawab Aslan.


Dokter Chandra menggeleng. Sekarang Dean dan Robert mengerti kenapa tadi dokter Chandra langsung menolak permintaan wanita itu. Penguasa dapat mendeteksi ketidakjujurannya.


"Biar aku bicara dengan ibu." Aslan segera berbalik menuju rumah.


"Apa kalian pikir, aku bersikap jahat karena menolak permintaan seseorang?" tanya dokter Chandra.


Dean dan Robert menunduk. "Anda pasti punya pertimbangan yang tidak kami pahami. Itu yang aku yakini," jawab Dean.


"Masfkan aku. Aku memang sedikit kecewa tadi," Robert mengakuinya. "Tapi sekarang aku mengerti. Pengetahuan Penguasa memang lebih unggul dari kami," ujarnya menyesal.


"Hemmm...." Dokter Chandra mengangguk dan menepuk pundak Robert. "Tak apa," ujarnya.


"Apakah bubur itu sudah matang?" Tunjuknya ke arah panci.


Dean segera mengaduk lagi bubur di panci. "Sudah hampir matang," ujarnya.


"Robert, mari kita bereskan ruang dalam, agar bersih dan nyaman digunakan untuk makan," ajak dokter Chandra.

__ADS_1


"Ya, Penguasa." Robert berlari mendahului ke arah rumah, untuk bersih-bersih ruangan.


*******


__ADS_2