
Malam itu udara terasa sangat sejuk. Pulau yang haus kepanasan itu mendingin setelah diguyur hujan selama satu jam.
Dalam acara makan malam itu, dokter Chandra angkat bicara.
"Sudah waktunya kita melanjutkan perjalanan. Bersiaplah."
Itu bukan diskusi, tapi perintah!
"Bagaimana dengan pulau-pulau lain? Kita belum memeriksanya," tanya Robert.
"Itu sebabnya kita harus melanjutkan perjalanan. Periksa sambil jalan. Karena pemeriksaan akan semakin jauh, lebih efektif jika kita terus maju, ketimbang bolak-balik kembali ke sini. Lagipula kita juga memang harus memeriksa sampai Jakarta, kan?"
"Ya, aku mengerti," jawab Robert.
"Kalau begitu bereskan urusan antar kalian. Besok pagi kita berangkat."
"Baik, Penguasa."
Mereka menjawab serempak.
Selesai makan malam, mereka membagi stok makanan yang ada untuk bekal perjalanan tim itu.
"Nanti kalian kurang, di sini," tolak Dean ketika Leon mengangsurkan lebih banyak sayur untuk mereka.
"Jika kurang, aku akan meminjam punya Sulaiman dulu. Lagi pula, pulau ini sudah cukup basah dan bisa ditanami kembali. Beruntung kita punya cukup bibit. Nanti aku akan meminta bibit lain pada Sulaiman," balas Leon.
"Oh iya ... sebelum lupa."
Robert mengeluarkan sangat banyak tiram mutiara. Yang masih kecil-kecil, jelas untuk dipelihara oleh Leon. Lalu yang lainnya dibuka dan hasilnya dibagi rata untuk bekal masing-masing.
"Memang beruntung saat itu kita mengambil semua tiram yang ada," ujar Leon.
Robert mengangguk. "Jika tidak, mereka semua pasti akan mati terpanggang."
Marianne mengeluarkan semua stok benang dan alat jahitnya. Dia menyerahkannya pada Jane. Diajarinya sedikit wanita itu cara memotong baju untuk si kecil, dan menjahitnya.
Widuri dan Niken juga memberikan beberapa kain dan selimut yang dimilikinya untuk Jane. Mereka pasti akan kesulitan mendapatkan bahan pakaian dan selimut untuk beberapa waktu, karena bencana panas ini.
Dean, Sunil dan Alan memberikan sebagian pakaian untuk Leon.
"Lalu kalian bagaimana kalau semuanya ditinggal di sini?" Leon tak enak hati menerima pemberian itu.
"Kami kan mau ke kota. Kami bisa membelinya lagi," jawab Sunil yakin.
"Oh ya, perahu di pantai dekat dermaga itu untukmu. Pergi periksalah. Moga-moga tak ada yang rusak," ujar Robert.
"Wahh, terima kasih!"
Leon sangat gembira. Dengan berperahu, dia bisa mendapat lebih banyak hasil laut nantinya.
"Kristal cahaya ini, untuk kalian saja. Rumah ini butuh penerangan saat malam. Juga kristal api, Jane akan membutuhkannya untuk masak."
Alan menyerahkan kristal api warna merah yang disimpannya. Diajarinya Leon menggunakan dua kristal agar memantulkan api untuk membakar kayu.
"Dengan kristal ini, jauh lebih mudah memantik api, ketimbang batu biasa."
Leon mengagumi kristal-kristal yang didapat kelompok Dean di dalam gua hutan salju.
"Apakah sudah selesai semua urusan? Jika sudah, sebaiknya kita tidur. Perjalanan besok akan sangat panjang."
"Oh, ada yang terlupa!" ujar Alan.
__ADS_1
Dia mengeluarkan sebuah kotak.
"Waktu kita mencari kalung Penguasa dan pisau Robert, Dean mengambil kalung itu di sini. Dean membiarkan kotak ini. Tapi aku memungutnya."
Alan membuka dan menuangkan semua isinya ke lantai. Mata mereka membesar melihatnya. Banyak sekali aksesoris berkilau dalam tumpukan itu. Dan juga beberapa kalung yang seperti milik mereka.
Dokter Chandra ikut memeriksa semua benda yang dikumpulkan Hu Da si pengkhianat itu. Dia mengenali beberapa diantaranya.
"Pengkhianat itu! Sepertinya dia mengumpulkan koleksi dari setiap orang yang ditangkapnya. Dia menjadikan benda-benda ini piala atas keberhasilannya menaklukkan orang lain. Dasar sakit jiwa!" ujar dokter Chandra geram.
Diraihnya salah satu dari tiga kalung yang ada. "Ini milik para pengawalku. Mereka tewas disiksa olehnya!"
Dokter Chandra masih terlihat sangat murka. Tapi bagaimana pun, pengkhiat itu sudah mati dan mendapatkan balasan atas perbuatannya.
Dokter Chandra mengambil ketiga kalung tersebut. Dan membiarkan isi kotak lainnya dibagi rata.
"Bawa putramu ke sini," perintahnya pada Jane.
Jane menyodorkan Khandra ke hadapan dokter Chandra. Anak laki-laki itu tergelak lucu. Tangannya terangkat ke atas ke arah dokter Chandra.
"Kau minta digendong? Baiklah ... ini jadi gendonganku yang terakhir. Kami akan pergi, jadi kau jangan nakal. Ini ku hadiahkan kalung salah satu pengawal terbaikku. Kau juga harus seteguh dan sesetia dia."
"Penguasa, bukankah kalung itu hanya bisa diakses oleh bangsa kita?" tanya Alan.
"Dia sudah mendapat berkatku. Dia bisa mengaksesnya," jawab dokter Chandra.
Yang lain mengangguk mengerti. Sekarang semua urusan antara mereka, sudah selesai. Sudah saatnya beristirahat.
Malampun berlalu dalam kedamaian. Di langit, bulan dan bintang menyaksikan perjalanan satu pulau yang telah bertumbuh dan jadi permata hijau di tengah lautan.
*
*
"Ah ... burung-burung ini berisik banget. Masih pagi juga!" gerutu Alan.
Tapi tiba-tiba matanya membuka lebar. "Burung?" pikirnya.
Tapi memang benar itu suara burung dari halaman. Alan langsung bangun untuk melihat burung dari mana yang berimigrasi ke sini.
"Astaga!" teriakannya mengganggu Sunil.
"Ada apa?" tanyanya dengan mata mengantuk.
"Kau takkan percaya apa yang ku lihat!" ujar Alan.
"Hahahaha ... indah sekali! Ini jauh lebih indah dari sebelumnya!" Alan berlarian di teras dan halaman.
"Apa sih?" Sunil bangkit dari tidur sambil memeluk kedua lengannya.
Udara begitu dingin dan lembab. Pandangan juga sedikit buram. Fix pulau ini diselimuti kabut. Mungkin akibat guyuran hujan ke tanah kering dan panas. Uap air jadi naik dan berubah menjadi adi kabut di dinginnya udara malam.
Tapi kejutan lain menunggu Sunil saat dia keluar rumah. Alan berlarian di halaman. Burung-burung beterbangan seperti karena diganggunya.
"Burung?" batin Sunil. Dia melihat berkeliling dengan pandangan tak percaya.
"Astaga!" ujarnya dengan mata terbelalak.
"Dean, bangunkan yang lainnya dan lihat ini!" panggil Sunil lewat transmisi suara.
"Ada apa sih?" tanya Indra.
__ADS_1
"Buka mata kalian. Lihat ke sekeliling!" ujar Sunil dengan rasa bahagia.
"Hahahaha ...."
Sunil berlarian di halaman bersama Alan. Keduanya berputar-putar berpegangan tangan dengan gembira.
Yang lain mengamati dengan jelas. Di antara kabut, terdengar riuh kicauan burung. Dan di balik kabut, seperti ada bayang-bayang tinggi di halaman.
Widuri berlari ke halaman di mana empat makam berada.
"Aku tak percaya ini!" serunya bingung.
Dean mendekat dan melihat apa yang dilihat Widuri. Dean pun tak percaya melihatnya. Sebatang pohon apel, berdiri tegak tak jauh dari makam. Lebih mengejutkan lagi, pohon itu penuh dengan buah yang matang dalam semalam. Dean terbang dan meraih satu buah yang sudah memerah. Digigitnya untuk meyakinkan diri, bahwa itu bukan ilusi.
"Manis," ujarnya bingung.
"Petikkan satu untukku," pinta Widuri. Dean memetikkan satu untuk istrinya.
"Apakah Penguasa yang melakukannya?" pikir Dean takjub.
Yang lain juga sama heran dan gembiranya. Mereka tak mengerti bagaimana pulau gersang itu berubah hijau penuh pepohonan dalam semalam. Tapi mereka mensyukuri hal itu. Dengan begini, pulau akan lebih nyaman untuk ditinggali.
Widuri dan Marianne gembira karena bibit lemon dan blueberry yang ditanam Widuri, sudah tumbuh dan berbuah lebat. Mereka sibuk memetik beberapa lemon dan blueberry untuk dijadikan minuman segar.
Pagi itu suasana sangat ceria. Mereka sarapan dengan gembira. Bagaimana pun, sebentar lagi perpisahan akan tiba.
"Dokter! Dokter!"
Terdengar suara Sulaiman dari luar.
"Ya! Masuk saja!" jawab dokter Chandra.
Sulaiman masuk tergopoh-gopoh. Wajahnya gembira sekaligus heran. Dia langsung ikut duduk bersama yang lainnya. Marianne menambahkan satu piring lagi, agar pria itu bisa ikut sarapan bersama.
"Mataku sudah terang. Tadi malam aku masih merasakan perih. Lalu turun hujan. Dan aku memilih tidur saja. Ku pikir akan kutanyakan pagi ini tentang rasa perih di mataku."
Sulaiman menjeda kalimatnya dengan menarik nafas panjang. Dean menyodorkan minuman sari buah blueberry.
"Minum dulu. Bicaralah pelan-pelan," ujar Dean.
"Terima kasih."
Sulaiman meneguk minumannya.
"Minuman apa ini? Enak sekali," ujarnya senang. Dean hanya tersenyum.
"Ah, tentang mataku. Ketika aku bangun, pandanganku sangat jernih. Ah, tidak! Awal mulanya masih sangat kabur dan lengket. Jadi aku pergi mencuci muka. Setelah itu, semua terlihat jernih dan jelas. Mataku telah terang kembali."
"Aku mengucapkan terima kasih banyak untuk pengobatan Anda, Dokter."
"Katakan bagaimana aku harus membayarnya," ujarnya hormat.
"Tidak perlu. Kami akan berangkat hari ini. Tapi Leon, istri dan putranya akan tinggal di sini. Tolong ajari dia hal-hal yang tak diketahuinya," kata dokter Chandra.
"Tak perlu dikatakan lagi. Dia bersedia tinggal di sini saja, sudah sangat menyenangkan. Akhirnya saya bisa punya tetangga lagi," balas Sulaiman.
"Dan Kau, aku tak tau kau punya putra. Bukankah tempat ini akan semakin ramai? Aku bahagia sekali. Kau harus punya putri juga. Dia akan jadi bunga di pulau kita."
"Hahahaha ...."
Kata-kata Sulaiman membuat yang lain jadi tertawa. Sementara Leon dan Jane saling lirik dengan jengah.
__ADS_1
*******