PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 348. Tujuan akhir


__ADS_3

Hari sudah siang, saat Penguasa selesai membuat obat. Ada cukup banyak obat karena bahan yang dikumpulkan penjaga pintu teleportasi itu juga banyak. Dokter Chandra menyimpan obat-obatan itu dalam botol-botol kaca kecil yang dimilikinya. Setiap botol diberi label peruntukannya.


"Ini penguat untuk janinmu. Bisa mulai makan satu butir hari ini. Cukup hingga seminggu ke depan." Dokter Chandra menyerahkan satu botol kecil pada Widuri.


"Terima kasih, Dok," ucap Widuri.


"Ini juga untukmu. Sebenarnya ini nanti untuk anakmu. Tapi dari pada lupa, lebih baik kuberikan sekarang saja." Dokter Chandra menyerahkan kalung penyimpanan penjaga pintu teleportasi ke tangan Widuri.


"Kenapa tak diberikan pada Dean saja?" tanya Widuri.


"Dia sudah punya kalung sendiri. Jadi lebih baik kau kenakan saja, agar tak diambilnya nanti," kelakar dokter Chandra.


"Baiklah. Akan kukenakan." Widuri memasang kalung itu di lehernya.


"Bagus sekali. Putramu bisa menggunakannya, setelah dia cukup umur untuk membaca, nanti," kata dokter Chandra tersenyum.


Dokter Chandra mengarahkan pandang pada Niken. "Ini untukmu." Dokter Chandra menyerahkan botol obat kecil lainnya.


"Apakah bisa kuminum sekarang?" tanya Niken.


Dokter Chandra mengangguk. "Ya."


"Marianne, ini untuk meringankan rasa nyerimu," ujar dokter Chandra. Ada dua botol obat diserahkan pada Marianne.


"Minum sebutir setiap selesai makan malam," tambah dokter Chandra lagi.


"Baik, terima kasih, Dok," balas Marianne.


"Dan ini juga. Jika Sunil belum bangun sore ini, maka berikan satu pil ini untuknya. Tidak usah ditambah air. Biarkan meleleh sendiri di mulutnya." Dokter Chandra juga menyerahkan sebutir obat di mangkuk kecil, ke tangan Marianne.


"Hanya satu?" tanyanya heran.


"Sebaiknya dia bisa segera bangun. Atau aku tak dapat mengobatinya lagi," jawab dokter Chandra.


Marianne mengangguk mengerti. "Semoga kalian bisa segera menemukan rumah sakit di luar sana," harap Marianne.


Dokter Chandra mengangguk dan tersenyum. Lalu berbalik ke arah Indra. "Ini untukmu. Kau harus tetap sehat selama kami pergi. Ingat, saat itu ... kaulah satu-satunya pelindung tempat ini."


"Apakah harus diminum tiap hari?" tanya Indra.


"Tidak perlu. Itu persediaan jika kau merasa sangat letih dan sakit," jawab dokter Chandra.


"Baik, Dok. Terima kasih," imbuhnya senang.


"Apa kita akan berangkat sekarang?" tanya Dean.


"Kau tak sabar sekali!" tegur Widuri. Makan sianglah dulu."


"Benar. Karena orang itu menyimpan banyak banget persediaan makanan, maka sebagian kami masak untuk siang ini," timpal Niken.


"Baiklah. Kita makan siang dulu."


Dokter Chandra menengahi. Kemudian duduk dengan manis di depan meja makan.


"Apakah kalian mau bekal untuk malam dan sarapan besok?" tanya Marianne.


"Boleh, jika tak merepotkan," sahut dokter Chandra. "Oh ya, jangan lupa siapkan air abadi juga."


"Akan kusiapkan."


Marianne sangat senang dan segera menyiapkan bekal untuk dibawa Dean, Robert dan dokter Chandra.


Suasana makan siang itu terasa hangat. Dokter Chandra banyak tersenyum mendengar cerita anggota tim lainnya. Terutama cerita Indra yang sedang bersemangat mempelajari tentang tanaman obat.

__ADS_1


"Aku tadi mencoba membuat satu obat sederhana. Tapi hasilnya tak memuaskan. Padahal sudah mengikuti petunjuk di buku," keluh Indra.


"Mana hasil percobaanmu?" tanya Robert ingin tahu.


"Seperti ini." Indra menunjukkan sesuatu di telapak tangannya dengan tampang murung.


Dokter Chandra hanya tersenyum melihat itu. "Itu hasil yang cukup bagus, untuk percobaan pertama."


"Berlatihlah terus, hingga mendapatkan hasil yang sempurna." Dokter Chandra menyenangati.


"Seperti itu bagus?" celetuk Niken tak percaya.


"Hehehehe." Dokter Chandra terkekeh. "Biar kukatakan. Pertama kali aku mencoba membuat pil, hasilnya gosong!" tutur dokter Chandra geli.


"Benarkah?" Indra terbelalak tak percaya.


"Kau dengar itu? Jangan mengejek lagi. Suamimu ini akan terus belajar agar kau bisa mengandalkanku," ujar Indra dengan tampang lucu.


"Hah. Lihatlah ... belum apa-apa sudah bertingkah sombong!" cela Niken pedas.


*


*


"Indra, ke sini!" panggil dokter Chandra.


"Ya!" jawab Indra cepat.


"Mungkin dengan ini, kau bisa mendapatkan gambaran cara membuat pil lebih baik."


Dokter Chandra menyentuh dahi Indra dengan ujung jari telunjuknya. Seberkas cahaya putih kemilau, menelusup memasuki dahi Indra yang matanya tiba-tiba melebar dan mulutnya terbuka.


"Waahh ... aku seakan bisa melihat saat Anda membuat pil!" seru Indra gembira. "Terima kasih!" ujarnya tulus.


"Ayo!" sahut Robert.


Dean memeluk Widuri. "Berhati-hatilah di sana!" pesan Widuri cemas.


Entah kenapa, hatinya cemas. Tapi Dean selalu mengatakan bahwa hal ini sudah dilakukan Robert berulang kali. Dan melintasi jalur teleportasi bukanlah hal baru untuk Dean.


"Kau juga berhati-hatilah. Jangan terlalu banyak pikiran. Doakan kami segera menemukan kota besar. Serta rumah sakit yang memadai untuk Sunil," ujar Dean tersenyum.


"Ya, aku akan berdoa untuk kalian." Widuri mengangguk dan memeluk Dean lagi, sebelum melepaskannya.


"Oke, kami berangkat. Sampai jumpa!" Dokter Chandra melambaikan tangan, lalu terbang menuju gua. Diikuti oleh Robert dan Dean.


"Aku antar mereka dulu," ujar Indra ikut melesat pergi ke gua.


Marianne, Widuri dan Niken, masih memandang empat pria yang menghilang di mulut gua, di dinding bukit.


"Hari sangat panas. Ayo masuk," ajak Niken.


Widuri mengikuti langkah dua temannya, memasuki rumah panggung. Dia banyak diam.dan termangu. Hatinya sangat tidak tenang.


"Kau kenapa? Sejak Dean pergi, mendadak jadi pendiam," goda Niken.


"Aku mulai merindukannya," sahut Widuri.


Niken menatap tak percaya. "Oh, ya ampuun. Belum lima menit yang lalu di hilang di pintu gua, tapi kau sudah rindu?"


Widuri hanya menunduk. Dia juga merasa tak masuk akal.


"Jangan mengganggunya. Perasaan orang hamil itu memang bisa berubah-ubah," tegur Marianne.

__ADS_1


"Aku sudah siapkan asinan buah untukmu!" Marianne menyodorkan semangkuk buah dengan kuah asam pedas ke hadapan Widuri.


"Terima kasih, Marianne," ucap Widuri lirih.


"Tak adakah jatah untukku?" tanya Niken.


"Lihat di dapur," jawab Marianne.


*


*


"Kami berangkat, Indra. Jaga diri kalian baik-baik selama kami pergi," ucap Robert.


"Ya, aku akan menjaga mereka. Kalian juga hati-hati," balas Indra.


Sebuah bola cahaya putih menyelubungi Robert dan Dean. Kemudian bola cahaya itu memasuki pintu teleportasi yang ada di samping jalan menuju kebun obat.


Di dalam lorong teleportasi, bola cahaya itu tersedot dengan kuat. Beberapa kali bola cahaya itu membentur lorong yang tidak membentang lurus.


"Pintu transportasi yang satu lagi, ada pada siapa?" tanya Dean.


"Ada padaku," jawab Robert.


"Di tempat kita mendarat, jangan kurangi kewaspadaan," pesan dokter Chandra.


"Ya, karena titik kordinatnya telah kita rubah. Jadi kita masih belum tau, akan tiba di negara mana." Robert menambahkan.


"Baik!" Dean mengangguk mengerti.


Perjalanan di lorong teleportasi itu sangat lama dan terasa membosankan, bagi Dean dan timnya. Mereka duduk bersila berhadapan, menunggu waktu berlalu.


"Ah, aku lupa, kalau tadi juga membuat pil untuk kesehatan kalian. Semacam multivitamin." Diserahkannya masing-masing sebutir untuk Dean dan Robert.


Dokter Chandra meminum pilnya lebih dulu. Setelah itu, diikuti Dean dan Robert.


"Pil ini meleleh di dalam mulut, dan terasa agak manis. Tidak terasa sebagai obat," puji Dean.


"Kau benar." Robert setuju dengan Dean.


"Hei, lihat cahaya terang di ujung sana!" seru dokter Chandra.


"Sudah hampir tiba," kata Robert.


"Kuharap, ini tujuan akhir kita," harap Dean.


Dean tak tega melihat Sunil sakit terlalu lama. Sudah dua kali Sunil mengalami kejadian seperti itu. Dean khawatir yang kali ini dapat membahayakan nyawa.


Ketiganya kemudian berdiri dan bersiap menyongsong segala kemungkinan.


Semakin dekat dengan cahaya itu, tarikan di lorong makin kuat.


"Aaaaahhhhh!" teriak ketiganya kencang.


********


Note:


Kita sudah memasuki chapter-chapter akhir. Silakan tulis saran, kesan, kritik, omelan di kolom komentar yaaa.. ๐Ÿ™


Author yang bahagia memiliki pembaca setia dan cerdas di sini. โค๏ธ๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿ’™ Jangan tinggalkan author hanya karena novel ini tamat yaa.... Boleh migrasi ke novel Spionase ANGEL K05. ๐Ÿ‘๐ŸŒŸ


Tunggu Season dua dari kisah PARA PENYINTAS. Ada yang kangen Leon, Silvia, Laras, Liam, Gilang, dan Nastiti?

__ADS_1


Ayo komeennn.. ๐Ÿ‘‡


__ADS_2