
"Dean, aku mau bicara denganmu dan Widuri!" Dokter Chandra mengirim pesan transmisi.
"Baik, penguasa!" jawab Dean.
Dokter Chandra masuk rumah dan duduk di meja makan. Wajahnya tak terlihat ramah sama sekali. Aura dingin menyebar di bawah. Bahkan Marianne yang sedang menyiapkan makanan pun, menoleh dan mencari-cari penyebab rasa dingin di tengkuknya.
Robert duduk diam tak jauh dari Dokter Chandra. Dia menggeleng samar pada Marianne, berharap wanita itu mengerti isyaratnya, untuk tidak bertanya apa-apa saat ini.
Sekarang Marianne tahu dari mana rasa dingin mengerikan itu datang. "Apakah Dokter Chandra sudah mengetahui apa yang terjadi?" pikirnya khawatir.
Indra dan Niken menyusul datang dengan wajah gembira. Tapi kemudian terdiam melihat suasana dingin di sana. Keduanya segera tahui, bahwa itu akibat laporan Sunil di kolam. Meski merasa marah dengan tindakan Widuri saat itu, tapi Niken juga tak tega jika Penguasa memarahi Widuri.
Indra menggenggam tangan Niken erat. Dia bisa melihat gelagat Niken yang akan membuat ulah. Dipandangnya Niken dengan tajam. "Jangan berasumsi dan melakukan tindakan bodoh!" Indra memperingatkan.
Niken tersenyum tenang dan menggeleng. "Tenang saja ... percaya padaku," ujarnya menenangkan.
"Dok, aku sudah menunggu-nunggu kedatangan Anda," sapa Niken.
Dia duduk di sebelah Dokter Chandra. "Aku merasa perutku mulai berisi. Bisakah Anda memeriksanya?" harap Niken.
"Apa? Kau tidak mengatakan apa pun soal itu padaku," protes Indra terkejut.
"Aku tidak yakin. Jadi untuk apa mengatakannya? Tapi sekarang ada Dokter Chandra. Bukankah lebih baik ditanyakan? Daripada penasaran," sahut Niken.
Suasana dingin mulai berkurang setelah obrolan Niken dan Indra. Robert dan Marianne menyadarinya. Keduanya bersyukur, Niken dapat mencairkan suasana.
"Biar kuperiksa," Dokter Chandra tersenyum senang.
Niken duduk menghadap Dokter Chandra. Membiarkan pria itu memeriksa perutnya. Semua yang ada di ruangan, menunggu dengan tak sabar.
Cahaya putih menyelubungi tangan Dokter Chandra. Bersinar di atas perut Niken. Sedikit cahaya putih menyelinap masuk ke perutnya untuk memeriksa. Dan ... senyum di wajah pria tua itu terkembang lebar.
"Kita akan menyambut lebih banyak anggota keluarga. Sepertinya kembar!" ujar Dokter Chandra puas.
"Apa? Benarkah?" Indra terbengong tak percaya.
"Selamat In, kau akan jadi ayah! Langsung punya anak kembar, hebat sekali! Kau sudah bekerja keras yaa." Robert berdiri dan memeluk Indra hangat.
"Siapa bilang ini karenanya? Ini berkat dari Penguasa!" bantah Niken.
"Kalau bukan aku yang bertindak, ya gak mungkin juga terjadi, kan?" sanggah Indra.
"Ya, kalian sudah bekerja keras," lerai Dokter Chandra.
Apakah sudah bisa diketahui jenis kelaminnya Dok?" harap Niken.
"Tunggu beberapa minggu lagi, biar lebih jelas. Karena kembar, ukuran bayinya lebih kecil dibanding kehamilan satu anak. Jadi belum terlihat bedanya," jelas Dokter Chandra sabar.
"Oke. Terima kasih Dok, sekarang aku akan mulai berhati-hati," janji Niken.
__ADS_1
"Kau dengar itu?" ujarnya pada indra. "Aku mau dimanja mulai hari ini. Aku membawa dua anakmu, di sini!" Tunjuk Niken ke perutnya.
"Hahahaha...." Semua tertawa mendengar kata-katanya.
"Ramai sekali. Ada cerita bahagia apa?" Dean dan Widuri turun dari tangga dan bergabung bersama.
Dean mendudukkan Widuri dengan hati-hati. Tampak matanya yang sembab habis menangis.
"Kabar baru Dean, anggota keluarga kita akan bertambah lebih banyak lagi," Robert tersenyum lebar.
Dean sedikit tidak mengerti, tapi Widuri menyadarinya dengan cepat. "Apa kau sedang hamil?" tanyanya pada Niken. Wanita itu mengangguk-angguk senang.
"Oh ... aku ikut senang mendengarnya." Widuri memeluk Niken hangat.
"Sekarang giliranmu untuk diperiksa," ujar Dokter Chandra serius.
Suasana kembali tegang. Semoga tak terjadi hal buruk dengan kandungan Widuri. Atau Penguasa marah dan udara dingin yang mengerikan, kembali menyelimuti rumah ini.
Widuri mendekat. Duduk di tempat tadi Niken duduk. Dibiarkannya Dokter Chandra memeriksa. Dia harus menerima konsekuensinya jika hal buruk menimpa bayi itu.
Dokter Chandra meletakkan tangannya di atas perut Widuri. Cahaya putih menyelubungi tangannya. Matanya terpejam dan berkonsentrasi. Seberkas cahaya putih kecil, menyelusup masuk ke perut Widuri. Wajah Dokter Chandra terlihat berubah-ubah. Dari dingin, jadi terlihat buruk. Kemudian berubah dingin lagi.
Pemeriksaan itu sedikit lebih lama dari memeriksa Niken tadi. Ini membuat Dean merasa cemas. Di lantai atas, Widuri telah menceritakan apa yang terjadi. Wanita itu menyesalinya. Dean juga menyesal telah terlambat pulang. Dia tak mungkin marah pada Widuri.
Dokter Chandra menyelesaikan pemeriksaannya. Wahahnya datar dan tak terbaca. "Kau harus lebih hati-hati lagi sejak sekarang. Atau bayimu tak bisa dipertahankan lagi!" Dokter Chandra memberi penekanan pada kalimatnya.
Dokter Chandra mengangguk. "Kau harus ekstra menjaga istrimu. Aku harap semuanya berlangsung mulus hingga saat kelahirannya!" pesan Dokter Chandra.
Widuri menunduk sedih. Itu semua akibat kecerobohan dan kebodohannya. Dia merasa sangat menyesal sekarang. Dean mungkin akan membencinya jika sampai kehilangan bayi ini.
"Ibu akan menjagamu dengan lebih baik. Maafkan ibu, Sayang," batinnya sambil mengelus perut yang membuncit.
"Aku akan menjaganya, Dok." Dean memeluk Widuri hangat. Bersyukur bayi itu masih dapat dipertahankan.
"Karena ibu hamil butuh nutrisi, maka mari kita sarapan," sela Marianne.
"Ya, kami sudah lama kehabisan bahan makanan. Sudah merindukan masakanmu yang lezat, Marianne," sanjung Robert.
Sunil membantu Marianne mengangkat masakan ke meja. Mereka menikmati sarapan sambil mendengarkan kisah perjalanan Dean, Robert dan Dokter Chandra.
"Bagaimana kordinat itu bisa melenceng jauh?" pikir Sunil.
"Kita harus memeriksanya kembali!" ujarnya. "Aku penasaran bagaimana hal seperti itu bisa terjadi."
"Nanti saja. Karena hal terpenting adalah kembali melihat cucuku dulu. Menbantu kelompok mereka agar bisa hidup lebih baik dan mampu bertahan saat kita tinggalkan nanti!" kata Dokter Chandra.
Robert mengangguk. "Menurutku, banyak hal yang harus diperbaiki di pulau kecil itu, agar memadai untuk ditinggali."
"Ya, menurutku juga begitu," sambung Dean. "Selain itu, kita masih harus mencari uang agar bisa membeli berbagai keperluan di kota itu."
__ADS_1
"Benar. Tujuan awal kita ke sana adalah untuk itu. Tapi tak disangka justru bertemu dengan kelompok kecil yang dilindungi adikku serta keluarga yang ditinggalkannya," tambah Dokter Chandra.
"Jadi, kapan kita akan melakukan pemakaman?" tanya Sunil.
"Tunggu keadaan di sana kondusif, jadi kita bisa membawa Aslan ke sini untuk menghadiri pemakaman ibu dan neneknya," putus Dokter Chandra.
"Jadi sekarang ini apa yang akan kita lakukan?" Indra ikut bicara setelah dia menyelesaikan makannya.
"Apakah kita masih punya cukup gandum? Mereka sangat membutuhkannya di sana," tanya Dokter Chandra.
"Lihat itu!" Sunil menunjuk ke langit-langit rumah panggung itu. "Masih sangat banyak. Dan gandum di ladang juga tak lama lagi akan kita panen."
"Daging dan sayuran. Mereka juga butuh itu!" tambah Dean.
"Kita punya cukup banyak daging kering. Bawa saja itu sebagian. Sambil menunggu para pria menyembelih sapi atau domba lagi." Marianne menjelaskan persediaan di dapur.
"Mari kita kumpulkan yang ada dulu, lalu pergi ke sana. Atau cucuku akan kelaparan!"
Lalu apa yang akan kita lakukan agar bisa mendapat uang?" tanya Dean.
"Kita punya banyak sekali domba. Coba saja jual dua atau tiga ekor," cetus Niken.
"Kau benar. Uang penjualan domba harusnya cukup untuk menbeli berbagai keperluan!" Dean terlihat gembira. Dia ingin membelikan persediaan untuk kelahiran para bayi di dunia kecil ini.
"Indra dan Sunil, siapkan berbagai keperluan itu dulu. Ikut aku ke sana!" perintah Dokter Chandra.
"Siap, Penguasa!" sahut Indra dan Sunil serempak.
"Biar aku yang memilih domba," ujar Sunil pada indra.
Dia langsung melesat ke padang rumput untuk mencari domba yang sedikit agak tua dan sedang tidak punya bayi. Dia mendapatkan empat domba gemuk. Keempatnya langsung menghilang ke dalam penyimpanan.
Kemudian dia melesat lagi dengan cepatnya ke hutan untuk memetik buah-buahan yang sudah matang. Sunil mengambil semua buah yang sudah matang. Sebagian harus ditinggalkan di rumah untuk para wanita hamil.
Kemudian dia melewati kebun sayur. Memetik beberapa sayuran untuk tambahan bahan makanan.
Sunil kembali dalam setengah jam. Dikeluarkannya sebagian buah-buahan yang tadi dipetiknya.
Indra telah menyimpan berikat-ikat gandum, potongan daging kering, serta air abadi beberapa kendi.
"Baik, semua sudah siap. Mari kita berangkat!" ajak Dokter Chandra.
"Kembalilah lebih cepat," pesan Marianne. "Berhati-hatilah di sana. Mungkin saja orang dari pulau yang menahan kalian, mencari ke pulau-pulau terdekat!" pesannya khawatir.
"Kami akan berhati-hati." Dokter Chandra mengangguk.
Kemudian ketiganya melesat pergi ke gua, untuk kembali ke tempat Aslan.
*******
__ADS_1