
Tambahan chapter untuk menikmati hari libur bersama keluarga.
*
*
Dean sampai di pondok pada sore hari. Dia sudah menyiapkan diri untuk diomeli karena pergi dari pagi hingga sore. Tapi dia harus kecewa, karena tak ada seorangpun yang dijumpainya di pelataran.
"Kemana mereka semua?" Gumamnya heran.
Dean menjejakkan kaki di halaman, lalu menurunkan kucing besar itu. Dilangkahkannya kaki ke kamar. Si kucing besar mengekor di belakang.
"Marianne, apa kau ditinggal sendirian di sini? Kemana yang lainnya?"
Dean melihat Marianne masih duduk di dekat Sunil. Ada sebuah mangkuk gerabah di atas meja. Kelihatannya Sunil baru disuapi semacam sup atau bubur encer.
Dean tertegun memandang Sunil. Denyut nadinya sudah teratur, detak jantungnya stabil, fisiknya sudah pulih seperti sedia kala. Dia tak seperti orang koma karena sakit sesuatu. Sunil bisa bernafas dengan baik tanpa alat. Dia terlihat seperti sedang tidur saja. Tidur yang amat nyenyak. Tak heran Widuri mengira dia sedang hibernasi.
"Sunil, ayo bangunlah. Semua orang menyayangimu dan menunggumu bangun. Para wanita merindukanmu. Dan Alan sudah menyesali kenakalannya. Sementara Michael sangat rajin membersihkan tubuhmu. Dan aku, juga sudah capek mengomelimu setiap hari."
Suara Dean tercekat di tenggorokan. Matanya berembun. Marianne mengerti. Dia bangkit, menepuk-nepuk pundak Dean lalu berjalan keluar. Dean masih termangu, diusapnya setetes air di sudut matanya.
"Aaaaaahhhh..."
Terdengar Marianne berteriak ketakutan. Dean segera lari keluar kamar, mengira ada penguntit masuk area pondok. Di luar memang tak ada siapapun.
"Ada apa?"
Dean menatap nyalang ke hutan di depan sana, mencari-cari keberadaan makhluk yang tak juga bisa ditangkapnya.
"Ii...itu.. Haa... harimau. Bu... bukan.. Ma.. macan tutul."
Marianne yang bersandar pada dinding kamar, menunjuk dengan jari bergetar hebat. Wajahnya sangat ketakutan.
"Harimau?" Dean mengulangi perkataan Marianne dan mengikuti arah jarinya.
Dean tertegun sejenak, tak tau harus berkata apa. Dia lupa tentang kucing besar itu. Binatang itu melihat Dean dengan ekspresi senang. Dia melompat ke arah Dean.
Tapi itu membuat Marianne panik. Tubuhnya merunduk dan menyembunyikan kepalanya. Dia mendengar suara teriakan kecil Dean dan suara benda berat jatuh. Binatang itu menyerang Dean, bukan aku. Marianne mengumpulkan keberaniannya. Diambilnya sepotong kayu bakar yang disusun di dinding kamar. Dia harus menolong Dean.
"Hahahaa.. Stop, jangan menjilatiku terus. Kau belum sikat gigi." Terdengar omelan Dean yang khas.
Marianne mengangkat kepalanya untuk melihat apa yang terjadi. Dean sedang menutupi wajahnya dari jilatan macan tutul itu. Marianne menatap bingung. Sebelah alisnya terangkat melihat dua makhluk berbeda jenis itu bercanda gembira. Dengan kesal diketukkannya potongan kayu bakar yang digenggamnya ke tumpukan kayu.
Brakk!
"Hei.. Kalian sangat bahagia ya, setelah menakutiku."
Dean membeku mendengar omelan Marianne. Dan wajahnya kena jilatan si kucing besar lagi. Dean meraih dua kaki depan binatang itu, memeluk punggungnya, diarahkannya wajah kucing besar itu pada Marianne.
"Kau sudah mengangetkan Marianne, ayo minta maaf. Sudah ku katakan kau tak boleh nakal di sini."
Dean berkata lembut, seperti sedang mengajari anak kecil. Marianne yang masih jengkel menatap Dean dengan aneh. Matanya berkedip-kedip.
"Apa kau benar-benar Dean?" Tanya Marianne.
"Apa kau membentur sesuatu saat terbang? Kau tidak gegar otak kan?"
"Marianne! Apa maksudmu?"
Dean terkejut dengan asumsi Marianne. 'Apakah bercanda dengan kucing besar terlihat berlebihan?' pikirnya.
__ADS_1
"Ah, ya.. kucing besar. Ini kucing besar yang ku temukan di hutan kelapa di pantai sana. Aku lupa memberitahukannya." Ucap Dean dengan rasa bersalah.
"Ayo, kau harus bersikap baik pada semua orang di sini." Dean mengangkat tubuh hewan itu dan membawanya ke arah Marianne.
"Dia sangat manis dan penurut. Kau bisa mengelusnya seperti kucing rumahan." Kata Dean menenangkan rasa takut Marianne.
Dengan takut-takut, Marianne menjulurkan tangannya untuk menyentuh bulu binatang itu. Bulunya tak sehalus atau selembut bulu kucing angora, tapi itu lumayan halus juga. Dan bersih, ada aroma laut di tubuhnya.
"Apa dia tinggal di pantai yang berair asin?" Tanya Marianne.
"Ya. Pantai di sisi itu airnya asin. Kami mandi di laut tadi." Jawab Marianne.
"Pantas tercium agak amis. Sebaiknya kalian pergi mandi ke bawah tebing. Alan membawa yang lainnya bermain air di sana." Kata Marianne.
"Oke. Kita bau amis. Jadi harus mandi lagi." Kata Dean pada si kucing besar.
"Kau tak apa ditinggal sendiri?" Tanya Dean.
"Tidak. Katakan saja agar Alan segera membawa para wanita kembali. Kami harus menyiapkan makan malam." Sahut Marianne.
"Oke."
Dean memeluk kucing besar itu dan membawanya terbang ke arah tebing. Dia bisa melihat teman-temannya sedang asik bermain air. Dean turun.
"Dean!" Seru Widuri senang.
"Woaaa.. Apa yang kau bawa itu?" Alan melihat kucing besar berwarna abu-abu dengan totol hitam dilingkari warna putih.
Dean melepaskan pelukannya setelah sampai di air. Kucing besar itu berenang dengan lincah. Widuri mendekati Dean ingin tau.
"Ini calon istriku. Kau harus menjaganya saat aku tak ada. Kau mengerti?" Dean memeluk Widuri.
Kucing besar itu menatap dua orang di depannya tanpa berkedip. Dia seperti sedang berusaha memahami sesuatu. Dan akhirnya matanya terlihat senang saat melihat Dean mencium kening Widuri.
"Di pantai yang kemarin kalian tunjukkan." Jawab Dean.
"Namanya siapa?" Tanya Nastiti.
"Aku belum memberinya nama. Aku ingin memberikannya pada Widuri. Jadi terserah dia mau memberinya nama apa." Sahut Dean.
"Hemm, nanti ku carikan nama yang keren untukmu." Widuri mengusap-usap tubuh si kucing besar.
Bersama Nastiti, Widuri memandikan binatang itu dengan seksama. Bahkan daun telinganya juga tak luput dari pemeriksaan.
"Dean, ambilkan rerumputan di tebing. Giginya perlu dibersihkan." Perintah Widuri.
"Segera nyonya," sahut Dean. Dia keluar dari air dan mengambil segenggam rumput. Lalu diserahkan pada Widuri.
"Alan, bawa Nastiti dan Michael kembali. Marianne sendirian di atas." Kata Dean.
"Nastiti, Michael.. sudah saatnya kembali." Teriak Alan.
Di bawah tebing kini hanya ada Dean, Widuri dan si kucing besar yang tak kuasa menolak jari-jari Widuri yang sedang membersihkan mulutnya. Dean tertawa melihat mata binatang itu terlihat putus asa dan minta pertolongan padanya.
"Kau miliknya sekarang. Jadi baik-baik padanya. Atau kau tak kan dapat makanan."
"Kau jahil." Widuri menyipratkan air ke arah Dean.
Tapi Dean justru makin senang dan membalas menyipratkan air. Si kucing besar ikut senang karena sudah bebas dari pemeriksaan gigi. Dia ikut menyiprat-nyipratkan air. Ketiganya bermain air sedikit lebih lama lagi.
Dean membawa keduanya kembali ke tepi tebing saat sinar sore membayang jelas di langit.
__ADS_1
Dean menurunkan Widuri yang sedang memeluk kucing besar itu di dekat pelataran. Widuri melepas binatang itu lalu menuju kamar untuk berganti baju. Dean juga melakukan hal yang sama.
Kucing besar itu mengikuti keduanya. Tapi dia terhenti di depan pintu-pintu kamar. Karena kedua tuannya memasuki pintu yang berbeda. Akhirnya dia menunggu di situ. Bulunya yang basah kuyup meneteskan air membasahi pelaran batu, mengalir ke arah Michael duduk.
"Air dari mana ini?" Michael mengikuti asal air dan menemukan biang keroknya.
"Hei, apakah kau tak tau caranya mengeringkan tubuh? Digoyang-goyang.. Begini.."
Michael menggoyangkan tubuh si kucing besar tapi tak berhasil. Dia menyerah. Tapi tiba-tiba percikan air menyerbu wajahnya saat kucing besar itu menggetarkan tubuhnya ke kanan kiri.
"Ahh.. huft.. puh.. puh.."
"Kau sengaja ya? Aku ini sudah berganti pakaian tau." omel Michael yang terkena cipratan air dari tubuh kucing besar itu.
"Salahmu. Kenapa mendekati kucing yang sedang basah kuyup." Kata Nastiti tanpa perasaan.
"Hei, kau harus tau, wanita di sini galak galak. Jadi kau harus hati-hati." Ucap Michael dengan suara keras.
"Apa katamu?" Nastiti memburu Michael dengan sendok teracung.
"Hei, kucing besar, kau lihat kan. Mereka bahkan bisa memburumu hanya bersenjatakan sendok." Michael masih terus menggoda Nastiti.
"Kau sedang apa? Jangan pedulikan mereka." Widuri keluar kamar. Dia segera membantu Marianne di dapur.
*
*
"Jadi kau akan memberinya nama apa?" Tanya Alan sambil menyuap makan malamnya.
"Hemm.. Bagaimana kalau Cloudy, Smokey, atau Jet, Conor?" Widuri mengajukan beberapa nama.
"Cloudy bagus." Kata Dean.
"Smokey juga pas. Warna bulumu memang seperti asap dapur. Hahahaa.." Michael terus mengganggu si kucing besar yang diam tak peduli.
Kucing besar itu sibuk mengunyah tiap potong ikan bakar yang disodorkan Marianne padanya.
"Dotty juga bagus. Cocok untuk totol-totol hitamnya." Saran Nastiti.
"Sebenarnya ini ras kucing besar apa?" Alan terus memperhatikan binatang itu dengan cermat.
"Tidak tau. Aku belum pernah melihat yang jenis ini di kebun binatang yang pernah ku kunjungi." Sahut Dean.
"Tidak penting ras apa. Yang penting dia kucing besar. Sudah ku putuskan, nama Cloudy saja untuknya." Kata Widuri.
Mereka mulai mengajari kucing besar itu untuk mengenal nama panggilannya. Dean juga menceritakan pemeriksaannya di sisi lain pulau hari itu.
"Jadi kau akan memeriksa lagi besok?" Tanya Alan.
"Bisakah kau yang melakukannya besok? Aku ingin ke rumah ketua kota. Ku rasa kita sudah harus mencari tau tentang penyakit Sunil. Mungkin saja ketua kota tau tabib yang bagus di tempat itu." Jawab Dean.
"Baik. Biar aku yang lanjutkan pemeriksaan di sana. Kau terakhir sudah memeriksa hingga tebing kan?" Tanya Alan mengulangi.
"Ya, aku memeriksa hingga tebing. Kau bisa lanjutkan dari situ." Jawab Dean.
"Andai saja ada dokter Chandra. Dia mungkin bisa segera mengetahui apa yang salah pada Sunil." Celetuk Marianne.
Yang lainnya segera terdiam. Entah bagaimana kabar teman-teman mereka itu.
"Semoga mereka baik-baik saja. Robert adalah orang yang penuh tanggung jawab. Mudah-mudahan kita bisa bertemu mereka lagi secepatnya." Dean berusaha tetap optimis.
__ADS_1
"Yeahh, selama mereka tetap bertujuan mencari jalan pulang, maka suatu saat kita akan bersinggungan jalan dan bertemu lagi." Kata Alan.
*****