PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 233. Kota Rawa


__ADS_3

Siang itu Yoshi datang ke rumah besar di tengah hutan larangan.


"Paman Dean dimana?" tanyanya pada Niken yang sedang duduk di pelataran


"Pergi ke tempat Kang bersama Widuri, Sunil dan Nastiti," jawab Niken.


"Baiklah... aku tidak menunggu. Katakan kalau ayah memintanya datang ke rumah sore ini," ujar Yoshi.


"Apakah sangat penting?" tanya Alan.


"Bisa penting, bisa juga tidak," jawab Yoshi asal.


"Biar ku susul saja ke tempat Kang." kata Alan berinisiatif.


"Paman, boleh aku ikut? Aku ingin tau letak dunia kecil itu," tanya Yoshi sambil tersenyum.


"Ayo, kalau ingin tau."


Alan segera melayang naik.


"Kami pergi dulu!" teriaknya ke arah Niken.


Keduanya melesat cepat ke arah tengah pulau.


A few moments later.


"Kau yakin tak ingin melihat ke dalam?" tanya Alan sekali lagi.


"Aku akan menunggu di sini. Jadi cepatlah!" didorongnya tubuh Alan menjauh.


Alan memasuki celah dunia kecil Kang. Dan beruntungnya, dia bisa langsung melihat teman-temannya sedang berada di ladang gandum yang tak jauh dari padang rumput.


"Dean!" teriak Alan.


Widuri dan Nastiti menoleh ke arah suara terdengar.


"Ada apa?" tanya Widuri.


"Yoshi mencari Dean. Ketua kota ingin bertemu," kata Alan.


"Mereka sedang panen," ujar Nastiti.


"Dean! Ketua kota memanggilmu. Ada hal penting!" Alan mengirim pesan transmisi.


Aktifitas Dean terhenti sejenak, karena suara Alan mengganggu konsentrasinya. Dean segera menghentikan pekerjaannya.


Dihampirinya Robert yang sedang mengikat batang-batang gandum, menjadi ikatan besar. Itu untuk memudahkan menggantungnya di ruang penyimpanan.


"Robert, Ketua Kota memanggilku. Aku harus pergi sekarang."


"Oh? Baiklah. Bereskan dulu urusanmu. Terima kasih sudah membantu di sini. Pekerjaan jadi lebih cepat jika dikerjakan ahlinya," puji Robert.


"Sampaikan pada Kang dan Sunil," pesan Dean.


"Oke!" Robert mengacungkan jempolnya.


"Kau mau disini atau ikut pulang?" tanya Dean pada Widuri.


"Biar ke temani kedua wanita ini di sini," tawar Alan.


"Tidak!" tolak Dean.


"Di pondok harus ada yang standby. Antisipasi jika terjadi sesuatu," sambung Dean.

__ADS_1


"Baiklah...." sahut Alan lesu.


"Nastiti, kau mau ikut pulang, atau tinggal?" tanya Widuri.


"Aku tunggu Sunil saja," jawab Nastiti cepat.


"Oke. Aku ikut pulang," ujar Widuri. Dean mengangguk.


"Robert, kami pulang!" seru Dean.


"Yaa..." Robert menoleh dan melempar senyum.


Alan, Dean dan Widuri keluar dari celah dunia kecil.


"Paman Dean!"


Sebuah suara familier menghentikan rencana mereka untuk melesat cepat.


"Kau menunggu di sini?" tanys Dean pada Yoshi. Yoshi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ayo!" ajak Yoshi. Dis melesat cepat mendahului Dean dan Alan


"Yoshi, kau curang! Tak memberi aba-aba sebelum terbang!" protes Alan sambil mengejar Yoshi.


"Tck!... Alan itu selalu saja menganggap segala sesuatu sebagai perlombaan," kata Widuri pelan.


"Asal tidak sampai merugikan orang lain, maka biarkan saja," ujar Dean kalem.


Dia fokus untuk menyusul kedua rekannya yang sudah tak terlihat. Sementara Widuri memeluknya erat agar tak jatuh.


"Kira-kira, Ketua Kota mau membicarakan apa ya?" gumam Widuri.


"Jangan berfikir terlalu rumit. Temui dulu, lalu lihat apa yang akan dibicarakannya.


Dean melihat Yoshi berhenti terbang.


"Aku tunggu paman," kata Yoshi tanpa basa-basi. Dean mengangguk.


"Ku turunkan kau dulu."


Dean menurunkan Widuri di depan pelataran. Lalu dia berbalik ke arah Yoshi. Kefuanya melesat cepat menuju kediaman Ketua Kota.


*


*


"Yoshi, ambilnya minuman untuk pamanmu," tegur Ketua Kota yang melihat Yoshi ikutan duduk di sebelahnya.


Yoshi bangkit dengan bersungut-sungut. Lalu menghilang di balik pintu.


"Dean, aku mendapatkan berita dari anak buah kapal yang bersandar. Entah ini penting atau tidak untukmu." Ketua kota memulai pembicaraan.


Ini adalah kejutan bagi Dean. Dia memang kesulitan menggali informasi yang berasal dari kota atau pulau lain. Dean tak punya link untuk bisa mendapatkan info-info penting dari anak buah kapal.


"Berita apa? tanya Dean tenang.


"Pagi tadi, seorang staffku pergi memeriksa kapal barang yang masuk tadi subuh." Ketua Kota memulai cerita.


"Saat memeriksa barang-barang masuk, dia mendengarkan para crew kapal membicarakan sesuatu yang ajaib. Dinding bercahaya atau semacamnya," urai Ketua Kota.


"Benarkah? Di kota mana kejadiannya? tanya Dean penuh minat.


"Mereka menyebutnya Kota Rawa. Kota itu dibangun di atas rawa-rawa. Termasuk juga lokasi pelabuhannya," jawab Ketua Kota.

__ADS_1


"Apakah kapal ini biasa bolak balik ke sini? Atau hanya sekali jalan saja?" tanya Dean sedetail mungkin.


"Kapal ini selalu datang ke sini setiap 3 bulan. Dia terus melewati rute yang sama selama bertahun-tahun. Pemilik kapal adalah pebisnis yang menjual dan membeli barang dari satu tempat ke tempat lain. Usaha mereka berpusat di kota Cahaya," jelas Ketua Kota lagi.


"Kota Cahaya?" tanya Dean bingung.


"Yaahh, mungkin bukan seperti bayanganmu. Menurut mereka, asal mula nama kota itu dikarenakan banyaknya cahaya kunang-kunang yang berpendaran di malam hari. Tapi kini cahaya kunang-kunang itu telah digantikan oleh banyaknya lampu di seantero kota.


"Ohh, itu sebabnya disebut kota Cahaya." Dean menggumam.


"Aku harus mendapatkan informasi yang lebih meyakinkan lagi, baru bisa memutuskan pergi atau tidaknya. Karena, ketika kami putuskan pergi, maka kami tak bisa kembali lagi kemari." papar Dean.


Ketua Kota mengangguk mengerti.


"Jika salah mengambil keputusan, taruhannya nyawa, kan?" Ketua Kota menyimpulkan.


"Benar." Dean menganggukkan kepalanya.


"Aku mengerti. Itu juga yang dialami tim temanmu Robert. Berapa orang yang hilang dari timnya?" tanya Ketua Kota.


"Hilang dua orang," jawab Dean.


"Setidaknya aku sudah mengabarimu informasi ini. Mereka akan bersandar selama seminggu, sebelum berangkat lagi," jelas Ketua Kota.


"Apakah kota Rawa itu adalah kota yang akan mereka tuju, atau justru kota yang telah disinggahi?" tanya Dean sedetail mungkin.


"Besok akan kuminta salah satu orangku mengorek informasi rincinya."


Ketua kota menyadari bahaya besar yang akan dihadapi tim Dean, jika informasi tempat itu tidak lengkap.


"Baiklah.... Terima kasih banyak. Saya tunggu informasi lainnya besok. Saya pamit pulang dulu."


Dean bangkit dari duduknya. Menganggukkan kepalanya sedikit pada Ketua Kota sebelum berbalik dan melangkah ke pintu.


Dean membuka pintu dan terkejut melihat Yoshi berdiri di depan pintu. Dia memegang nampan berisi gelas ditangannya. Tubuhnya bergetar sedikit. Tapi Dean bisa melihat itu.


"Kau baik-baik saja? tanya Dean.


Diangkatnya dagu Yoshi yang menunduk untuk memastikan keadaannya.


Yoshi tak memedulikan Dean. Dia melangkah cepat ke dalam ruangan Ketua Kota.


"Apa maksud ayah mengatakan tentang hal itu? Apa ayah ingin menjauhkan aku dari paman?" tanya Yoshi protes.


Dean melangkah masuk kembali.


"Bukan seperti itu maksud ayahmu. Dia hanya menghargai harapan kami yang tak berhenti mencari jalan pulang. Kenapa kau selalu salah sangka?" Bujuk Dean lembut.


"Tak bisakah paman tinggal di sini saja?" tanya Yoshi.


Yoshi mengerjapkan matanya beberapa kali. Menahan air matanya agar jangan sampai tumpah.


Dean menggeleng pelan. Dia tak bisa menjanjikan apapun pada Yoshi. Dan sikap Dean membuat tanggul pertahanan Yoshi jebol. Dia benaran menangis sekarang.


Yoshi meletakkan nampan di tangannya lalu berlari keluar ruangan. Dean ingin mengejarnya. Tapi dicegah Ketua Kota.


"Beri dia waktu untuk berfikir dengan jernih," ujar Ketua Kota.


"Baiklah."


Dean mengangguk ringan je arah Ketua kota. Lalu segera keluar rumah besar itu. Dia harus pulang dan membicarakan hal ini dengan anggota tim lainnya.


******

__ADS_1


__ADS_2