PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 35. Kematian Lena


__ADS_3

Sementara itu Indra membuka lubang pintu dan mengeluarkan rekannya satu-persatu. Kini tinggal Indra dan Lena di situ menghadapi Alex yang mulai kehilangan kesadaran manusianya. Suara bujukan Lena sudah tak digubrisnya.


Di luar Robert menunggu semua orang yang keluar dapat berlindung di shelter lain sebelum bisa mengalihkan perhatian Alex.


"Aahhhhhh..! Tidak!" Jeritan Lena terdengar memilukan membuat yang mendengar tiba-tiba merinding.


"Hentikan!" Indra melompat menerjang dengan mata tombak yang runcing mengarah tepat ke punggung makhluk yang sedang mencabik-cabik tubuh Lena. Makhluk itu menggeram marah dan menendang Indra hingga terpental jauh setelah tombak itu menusuk punggungnya.


Robert berlari kembali ke shelter setelah mendengar jeritan Lena. 'Itu jeritan kematian' batinnya. Robert menjadi lebih marah lagi saat melihat Indra terlempar jauh dari shelter.


"Indraaa!" Robert berlari kembali ke arah tubuh Indra yang tergeletak dan memeriksanya.


"Hei, kalian para lelaki ayo keluar bantu aku selesaikan dia!" Teriakan Robert sangat keras untuk bisa didengar semua orang.


Para pria akhirnya keluar dengan memegang tombak masing-masing. Mereka melihat Robert meletakkan kepalanya pada tubuh seseorang. Dokter Chandra segera menghampiri keduanya. Robert memanggil seorang lagi untuk membantu dokter Chandra memindahkan Indra. Toni mendekat dan membantu menggotong tubuh Indra ke dalam shelter.


Robert dan pria lain di tim berjalan pelan-pelan ke arah shelter yang sudah tak utuh itu. Suara geraman dan kunyahan makhluk itu membuat kaki sebagian orang gemetar. 'Apakah makhluk itu memakan Lena?' pikir mereka dengan perasaan ngeri.


Robert meminta rekan-rekannya mengelilingi shelter itu dan bersiap dan menunggu aba-aba untuk menyerang. Robert makin mendekati pintu shelter dan terperangah melihat Alex berubah menjadi makhluk buas yang bahkan memakan kekasihnya dengan rakus.


Robert memukul tiang shelter dengan tombaknya. Makhluk itu menggeram dan menyeringai dengan marah karena merasa terganggu. Mulut serigala jadi-jadian itu berlumuran darah. Sekeping sobekan daging merah diantara giginya masih belum ditelan.


"Kau sudah sepenuhnya berubah menjadi makhluk buas. Aku tak bisa lagi menganggapmu manusia." Robert berkata dingin.


"Kau harus mati! Serang dia sekarang!" Teriak Robert sambil melompat ke arah makhluk besar yang menatapnya dengan mata bersinar merah.


Teman-temannya yang lain ikut menyerang bersamaan dengan mengayunkan tombak ke arah tubuh makhluk itu. Beberapa tusukan mengenainya membuatnya berbalik menghadap para penyerang dan meninggalkan tubuh Lena. Makhluk itu sangat marah dan bersiap menyerang balik.


"Hati-hati jangan sampai kena gigitannya!" Robert mengingatkan teman-temannya.


Mereka terus menyerang dan mendesak hingga akhirnya makhluk itu melompat tinggi dan berhasil keluar dari shelter dengan tubuh penuh darah. Dia mendapat banyak luka tusukan dari tombak dan pisau Robert. Dia berlari ke arah hutan. Robert mengejar diikuti pria lainnya. Mereka berlari hanya dengan mengandalkan cahaya bulan dan mengikuti suara teriakan Robert di depan. Mereka bahkan sudah tak dapat melihat Robert.


"Akhh! Sial!"


Suara makian Robert mengiringi suara berdebumnya sesuatu yang jatuh. Para pria itu berlari mendekati asal suara. Mereka melihat Robert setengah duduk berusaha beringsut menjauh dari makhluk yang ada di dekatnya. Makhluk itu mengawasi Robert dengan pandangan tajam. Dia berdiri tak jauh dari tempat seberkas cahaya kekuningan dan asap keluar dari bawah tumpukan kayu dan salju.

__ADS_1


"Dean? Apa kau mendengarku?" Teriak Robert dengan keras. Yang lain jadi ikut cemas. Mereka tau bahwa di bawah sana adalah gua tempat Dean dan Widuri berada. Akan berbahaya jika makhluk buas ini jatuh ke sana, karena jika hanya Dean seorang, belum tentu akan sanggup menghadapinya.


"Dean! Dean! Kau dengar kami? Bangun dan berhati-hatilah. Alex sudah berubah dan sekarang ada di sini. Dia membunuh Lena!" Teriakan teman-temannya terdengar oleh Dean.


"Ya, aku dengar." Teriak Dean sambil menyambar 2 tombak miliknya dan milik Widuri.


"Widuri, bangun. Bersembunyilah di termpat yang lebih gelap, jangan mengeluarkan suara apapun." Dean menggoyang tubuh Widuri memaksanya bangun. Widuri dituntunnya ke arah cekungan kecil di sudut gua.


"Pegang ini. Jika bukan aku yang mendekat, pukul saja sekerasnya." Dean memberikan sepotong kayu bakar yang cukup besar ke tangan Widuri.


"Hmm.." sahut Widuri pelan. Dean berjalan ke dekat lubang gua, menanti apakah ada yang jatuh ke bawah. Dia bersiap siaga.


Sementara itu di atas, makhluk itu mewaspai semua orang di sekelilingnya. Robert sudah berdiri kembali dan berusaha mengusirnya menjauhi lubang gua. Tapi makhluk itu hanya berputar-putar mewaspadai orang di sekelilingnya, yang justru membuatnya makin mendekati mulut lubang. Robert makin cemas.


Robert melompat ke arah makhluk itu dan mengumpankan diri agar makhluk itu menerjangnya dan menjauhi lubang.


"Robert!" teriak semua orang melihat tindakan nekad Robert.


Tapi Robert salah perhitungan, mengira makhluk itu akan langsung melompat menerjangnya menjauhi lubang. Ternyata dia hanya maju selangkah untuk menyambar tubuh Robert yang akan jatuh di depannya. Tetapi kakinya terperosok diantara kayu-kayu penutup lubang. Dia berusaha melepaskan diri dengan bergerak liar. Makin dia bergerak, tubuhnya masuk makin dalam karena jarak kayu-kayu jadi makin renggang.


"Dean, dia terperosok ke lubang. Bersiap!" teriak orang-orang. Mereka maju sambil mengangkat tombak dan menusuk tubuh makhluk itu lagi berkali-kali. Makhluk itu meronta dan melolong, tapi mereka tak memberinya ampun hingga tubuh penuh luka itu jatuh dan berdebum di lantai gua.


"Dean!" teriak mereka berbarengan berlari mendekat dan melihat ke dalam gua.


'Makhluk ini sungguh kuat' pikir Dean. Sudah jatuh dengan keras pada punggungnya, tapi tak lama dia segera berdiri lagi dengan dua kaki belakangnya. Dean ternganga melihatnya. Tapi saat teriakan di atas ramai terdengar, Dean menyadari keadaan.


Makhluk ini sangat kuat, tubuhnya terluka dengan banyak darah keluar, tapi sikap berdirinya masih kokoh. Dean tau dia tak akan mampu menghadapinya berkelahi sendirian. 'Jadi hanya ada satu cara untuk menyelamatkan diri' Dean memutuskan.


"Hei, kau makhluk jelek jenis apa?" Dean memukulkan kedua tombaknya satu sama lain sampai mengeluarkan bunyi untuk menarik perhatian makhluk itu.


"Kau jelek sekali. Bulumu sudah tebal, untuk apa lagi kau masih memakai baju Alex?" Dean berjalan menyamping ke arah pintu lorong. Dia ingin membawa makhluk itu kesana. Dia sudah hafal jalannya. Jikapun sial, paling hanya jatuh tersandung.


"Kau bukan manusia, tapi serigala juga bukan. Kau kemanakan Alex?" Dean terus menarik perhatian makhluk itu hingga dia mencapai pintu lorong.


"Mana ada serigala berdiri dengan dua kaki sepertimu, jelek." Suara Dean menggema dari dalam lorong memancing makhluk itu mengikutinya masuk. Makhluk itu menggeram marah tapi dia terlihat sangat waspada melihat lorong gelap di depannya.

__ADS_1


"Heh.. Apa kau sekarang mulai takut? Dasar lemah..!" Teriak Dean dari lorong sambil memukul dinding gua untuk memancingnya masuk. Tapi dia tetap tak mau masuk. Akhirnya Dean berjalan mendekat dan menusuknya lalu kembali menjauh. Dean melakukan hal itu sekali lagi dan sukses membuatnya marah.


"Dasar pengecut. Lawan aku kalau kau berani!" Teriak Dean sambil menusukkan tombaknya lebih kuat sekali lagi. Dean membiarkan tombak itu menancap di bahu makhluk itu dan itu benar- benar membuatnya melolong marah dan melompat menerjang ke arah Dean.


Dean berlari sambil menggenggam tombak di tangan kanan dan batu kristal ungu di tangan kirinya.


"Ku kira sehebat apa makhluk jadi-jadian sepertimu..!" Dean berbalik saat tak lagi mendengar langkah serigala mengejar di belakangnya.


"Baru lari segini kau sudah lelah? Lemah!" teriak Dean sambil melompat dan menusuk dada serigala itu yang kemudian meraung marah. Dia kembali melompat mengejar Dean.


Dean tiba di mulut gua yang petang tadi ditelusurinya bersama Widuri. Ditunggunya sejenak makhluk yang mulai tertatih-tatih di belakangnya. Darah mengucur keluar dari luka robek besar di pinggangnya. Tombak Dean yang sebelumnya menancap di bahunya sudah jatuh entah dimana.


"Kalau kau jantan, ayo bertarung hidup dan mati denganku." Suara Dean terdengar sinis. Dia melompat untuk menusuk perut makhluk yang sudah mulai lelah itu. Dean harus menuntaskan ini. Saat Dean melompat, makhluk itu menghalau tongkat Dean dengan cakarnya. Dean akhirnya mengelak dan memukul kepalanya dengan keras lalu melompat ke belakang. Suara raungan dan lolongan kembali terdengar. Kali ini lolongan itu terdengar menyedihkan.


Dean yang berada di belakang, mendorong tubuh makhluk itu ke arah mulut gua dengar menusuk punggungnya menggunakan tombak. Makhluk itu menggeliat marah, tapi dia tak dapat menjangkau tombak itu. Dia bergerak liar dan akhirnya jatuh menggelinding ke ruang di bawah.


Dean melihat dari atas menggunakan kristal cahaya tapi tak cukup jelas. Yang terdengar hanya geraman binatang dan lolong kesakitan. Dean turun dengan berpegangan pada tali. Tepat di bawah tebing itu Makhluk itu meringkuk. Darah mengucur deras dari luka di seluruh tubuhnya. Kepalanya yang membentur batu masih berusaha diangkat dengan gemetar. Dean mendekat.


"Jika masih ada Alex di dalam situ, maafkan aku. Kehadiran makhluk sepertimu tidak dapat diterima. Aku menyesal kau berakhir seperti ini." Dean mendekat dan bermaksud mengakhiri semua penderitaannya saat ini juga. Tapi makhluk itu ternyata masih bisa berdiri dan menatap Dean dengan nyalang. Seringaian dengan gigi taring yang runcing ditunjukkan pada Dean.


"Hah! Tak mau menyerah sampai akhir rupanya. Bagus, serang aku jika kau masih punya tenaga." Dean bersiaga memegang tombaknya sambil mundur ke arah mulut gua yang bercahaya putih di belakangnya.


Makhluk itu berjalan mendekat dengan kaki goyah akibat begitu banyaknya tusukan di kedua kaki itu. Tapi matanya tampak semakin menyala merah karena marah. Sementara Dean berhenti sejarak tiga langkah dari mulut gua bercahaya itu. Dia bersiap menunggu serangan datang.


***


*Dear Readers,


Silakan tinggalkan like, komen dan vote setelah membaca karya ini yaa. Pun boleh banget jika ingin difavoritkan, dikasih gift apalagi rate 5 bintang. 🤩


Kritik dan saran sangat ditunggu untuk mengasah ilmu menulis saya.


Thanks alot.


Lope lope lope untuk para readers 💜💜💜*

__ADS_1


__ADS_2