
Kedatangan Robert dan Liam yang menuntun seekor kuda, mengejutkan teman-temannya.
"Aha! Kau berhasil menjinakkan kuda." Mereka tampak gembira.
"Ini kemajuan. Dengan kuda, perjalanan kita akan jauh lebih mudah." Leon ikut mengusap-usap punggung kuda itu.
"Dimana kalian menemukannya?" tanya Laras.
"Dalam perjalanan. Mereka sedang minum di sungai. Ada 4 ekor di situ. Aku dan Robert melempar tali untuk menjerat, tapi hanya hanya Robert yang berhasil. Yang lainnya kabur." Liam menggelengkan kepalanya kecewa.
"Hahaha.. Tidak apa. Mungkin ada cukup banyak kuda liar yang menunggu ditangkap di tempat ini," kata Niken memberi semangat.
"Bagaimana kalau besok kita coba tangkap lagi?" usul Gilang antusias.
"Baiklah, besok kita selidiki keberadaan mereka dulu sambil berburu." Robert mengikatkan tali jerat itu di batang pohon.
"Gilang, bisa kau ambilkan rerumputan untuk makanannya?" tanya Robert.
"Bisa. Tentu saja bisa." Gilang pergi ke arah sungai dengan semangat. Dia menyukai kuda cantik itu.
Robert mengambil minuman dari teko dan duduk beristirahat di balok kayu dekat perapian. Balok kayu itu dipasang di sekeliling perapian dan digunakan mereka sebagai bangku duduk saat makan.
Robert mengeluarkan gulungan tali kulit yang sudah dibuatnya dari dalam tas. Dia membuat ikatan dan simpul di beberapa tempat. Robert tenggelam dalam kesibukannya sore itu.
"Kau sedang buat apa? tanya dokter Chandra yang mengambil duduk di sebelah Robert.
"Buat tali kekang kuda. Kasihan jika kuda itu terus dijerat di leher. Nanti dia bisa tercekik," jawab Robert.
"Kau bisa juga membuat yang semacam ini? Hebat." puji dokter Chandra.
"Aku sebenarnya belum pernah buat ini. Tapi seorang kerabatku punya farm dan beberapa kuda. Aku berusaha mengingat bagaimana bentuk kekang kuda mereka." Robert tersenyum lebar.
"Yahh, tetap saja hebat. Aku bahkan belum pernah lihat kuda selain di kebun binatang. Hehehe," dokter Chandra terkekeh geli. Senyum Robert makin lebar mendengarnya.
__ADS_1
"Tapi kau termasuk hebat bisa menangkap kuda liar dan membawanya pulang," puji Laras yang mulai sibuk membersihkan sayuran untuk dimasak.
"Itu keberuntungan saja. Kuda itu terus berlari setelah terjerat. Aku menahannya sambil terseret. Dia mungkin tercekik dan sulit bernafas makanya jadi berhenti lari." Robert mengatakan kejadiannya.
"Kau terseret? Berapa jauh? Apa kau terluka?" tanya Laras khawatir.
"Tidak. Hanya beberapa goresan ranting di perjalanan. Gak apa-apa," Robert menenangkan Laras.
Dokter Chandra dan Laras memperhatikan tubuh Robert dengan seksama.
"Ini ku lihat banyak sekali luka baret. Cepatlah kau selesaikan ini lalu mandi agar lukamu bersih," kata dokter Chandra akhirnya.
Robert mengangguk mengiyakan.
"Hmm, oke."
*
Malam itu mereka kembali ngobrol dan diskusi sambil menikmati makan malam lezat yang dimasak Laras dan Angel. Niken menyiapkan teh harum untuk semua.
"Mungkin saja. Bagaimanapun, dengan adanya padang bunga yang luas begitu, pasti ada cukup banyak lebah yang hidup makmur," jawab Silvia.
Semua mengangguk setuju. Mereka mulai tertarik untuk mencarinya.
"Kita tinggal mencarinya saja. Tapi hati-hati. Takutnya lebah-lebah itu punya koloni besar," Robert mengingatkan.
"Aaahhh.. Sekarang kita punya rumah mungil, punya kebun, punya peternakan ikan alami dan juga kuda. Bukankah hidup di sini cukup lumayan? Tinggal tambahkan madu saja sebagai pemanis agar lebih nikmat," Silvia mulai asal bicara.
"Ngomong apa sih? Gak jelas banget," gerutu Angel bingung.
Tapi beberapa orang mulai memikirkan itu juga. Tidakkah hidup mereka saat ini lumayan bagus? Jika kebun itu ditingkatkan, maka kebutuhan makan tak perlu dipikirkan lagi. Mereka bisa menangkap dan menjinakkan kuda untuk dijadikan kendaraan jika ingin menjelajah atau berburu. Mereka juga bisa membangun rumah lain jika perlu. Apa masih perlu mencari jalan pulang? Sekian lama hilang, kemungkinan mereka semua sudah dianggap tewas bukan?
Robert dan dokter Chandra berpandangan melihat suasana ceria tiba-tiba jadi hening karena semua orang memikirkan kata-kata Silvia. Mereka tampak galau dan bimbang.
__ADS_1
"Sementara ini, kita mungkin lebih baik menetap dulu. Berdasarkan pengalaman kita mengeksplorasi wilayah ini, kita belum menemukan tempat dengan dinding cahaya ataupun jejak penduduk dan desa. Jika kita lakukan seperti saat di hutan salju yang bergerak tiap hari, kita mungkin akan cepat lelah. Jadi itu sebabnya kita bangun tempat tinggal yang lebih nyaman untuk menetap dalam waktu cukup lama."
Kata-kata Robert mendapatkan perhatian dan rasa terima kasih dari semua temannya yang sedang galau. Mata mereka cerah karena merasa bahwa Robert seperti mengerti isi hati yang tak mampu mereka terjemahkan.
"Jadi nanti kita coba jinakkan beberapa kuda agar beberapa orang bisa menjelajah lebih cepat dan lebih jauh. Sementara yang lainnya menunggu kabar di sini. Jika kita menemukan harapan jalan keluar, kita bisa berangkat bersama. Jadi tak ada salahnya juga jika bisa mendapatkan madu, agar hidup jadi lebih manis, ya kan Silvi?" Robert menyampaikan kesimpulannya pada Silvia.
Silvia tersenyum manis.
"Kau memang sangat cerdas Robert." Silvia mengacungkan kedua jempolnya yang disambut tawa gembira teman-teman mereka.
Malam itu kembali indah dan ceria. Harapan mereka kembali terpupuk tanpa membuat mereka harus kehilangan kenyamanan yang baru saja mereka nikmati ini.
Laras dan Niken masih duduk dekat perapian setelah beberapa teman mereka kembali ke pondok usai makan malam. Laras mengeluarkan buku catatannya dari tas. Dia ingin menulis ketika Indra datang ke arah mereka.
"Kalian lagi apa?" tanya Indra mengambil duduk dekat Niken.
"Tidak ada. Hanya belum ngantuk saja. Jadi ingin menikmati angin malam dulu," jawab Niken.
Laras mengangguk mengiyakan. Dia melihat Indra yang tampak kikuk memandang Niken dan matanya penuh permohonan pada Laras. Laras cepat tanggap.
"Niken, kutinggal sebentar. Robert memanggilku," kata Laras memberi kesempatan dan langsung bangkit dari duduk berjalan menuju tempat Robert yang sedang menyerut kayu.
"Kau sedang apa?" tanya Laras pada Robert.
"Membuat busur untuk berburu," jawab Robert.
Diangkatnya kepala ke arah Laras lalu menoleh ke perapian, karena tadi dia melihat Laras dan Niken masih di sana. Tapi kemudian Robert mengerti alasan Laras mengajaknya ngobrol setelah melihat Indra dan Niken yang saling menggenggam tangan dan terlihat malu-malu.
"Kau tak ingin jadi nyamuk di sana bukan?" Robert terkekeh.
"Yaahh.. berbahagialah mereka yang bisa menemukan cintanya dalam keadaan seperti ini" jawab Laras mengambang. Tiba-tiba dia teringat Dean. 'Bagaimama mereka disana?' pikirnya menerawang.
Robert mengamati ekspresi Laras dan terlihat seperti sedang tidak ada disitu. Robert segera menunduk menyembunyikan perubahan raut wajahnya. Dia mengerti bahwa Laras mungkin sedang mengingat orang yang dicintainya. Robert menghela nafas dan meredam rasa yang seketika membuncah dalam dadanya. Berusaha meredakan jantungnya berdegup kencang. Meski bukan yang diharapkan, tapi disini Robert masih bisa melindunginya. Jika tiba waktunya kembali, dan dia harus pergi, Robert akan melepaskannya.
__ADS_1
***
~~Cinta serupa rumpun mawar, suci harum indah memikat hati untuk meraihnya, lalu durinya memerangkap mengiris hati para pencinta, namun mereka tetap tersenyum bahagia sambil bercucuran air mata [Seruling Emas, 12 Jan 2022]